Diskon

Salah satu promo diskon
Oleh: Yoga PS
Dua minggu setelah musim lebaran, saya mencoba berjalan-jalan kesalah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Lagi butuh sepatu jogging, sekalian mau ngecek, apakah perayaan ritual konsumsi pasca lebaran masih berlanjut. Karena Anda tahu, konsumsi masyarakat Indonesia mencapai puncaknya saat ramadhan.
Tibalah saya disalah satu tenant sepatu. Harganya masih sama, berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tapi yang menarik adalah masih adanya promo diskon yang bagi saya, cenderung “menyesatkan”.

Permainan Psikologis

Coba bayangkan, ada dua jenis sepatu. Yang di diskon, dan yang tidak. Sepatu tanpa diskon berharga, anggap saja, rata-rata 500ribu rupiah. Sepatu dengan diskon, tertulis gede-gede 50% OFF, memiliki harga gross rata-rata 900ribu. Harga netnya? Silahkan dibagi dua = 450 ribu rupiah. Koq hampir sama aja dengan yang ga diskon sih?
Mungkin hal inilah yang sempat dikeluhkan YLKI saat perhelatan Jakarta Great Sale beberapa waktu lalu. penjual memberikan diskon setelah menaikkan harga base barang tersebut. Sehingga diskon sebenarnya tidak sebesar yang digembar-gemborkan. Diskon hanya berperan sebagai sweeter, pemanis, yang sayangnya terbuat dari gula buatan. Sehingga tidak baik bagi kesehatan keuangan.
Hal yang sama juga berlaku bagi industry travel. Baik pesawat, kereta api, dan kapal laut. Anda tahu kan maskapai penerbangan yang sering memberikan diskon promo, bahkan ada yang sampai seharga NOL rupiah. Apakah mereka rugi? Oh, jangan salah. Mereka justru mendapatkan keuntungan berlipat.
Karena pricing tiket pesawat menerapkan system floating real time yang terus berubah. Tidak ada harga pasti. Ada asymmetric information. Semakin jauh hari booking, harga semakin murah. Semakin mepet, semakin mahal. Tapi terkadang, selang beberapa jam jika seat masih kosong, harga bisa murah.
Yang jelas, tiket promo mampu meningkatkan awareness. Orang berlomba-lomba membuka website untuk mencari informasi. Mereka tergiur dari promosi tiket murah, yang meskipun dari 100 seat, mungkin yang di-promo hanya dua seat (itu rahasia perusahaan sih hehehe).
Secara psikologis, setidaknya ada beberapa peran diskon:
1. Feel good factor
Mendapat harga lebih murah itu sungguh menyenangkan. Perasaan “nyaman” inilah yang membuat konsumen selalu tergiur dengan kata diskon. Ada semacam rasa “kemenangan” saat mendapatkan diskon. Terkadang saya lebih merasa puas membeli barang seharga 1 juta dengan diskon 20%, daripada barang tanpa diskon senilai 800 ribu. Padahal endingnya sama.

2. Opportunity loss effect
Jika kita membeli sekarang dengan harga 1000, sedangkan besok harga menjadi 1200, maka ada opportunity loss yang hilang sebesar 200. Perhitungan “beli sekarang mumpung murah” ini membuat kita merasa aji mumpung dan menjadi alasan untuk membeli. Tapi kita harus ingat, konsumsi bukanlah investasi.

3. Sense of urgency
“Hari Senin, harga naik”. Salah satu bunyi warning iklan property di televisi. Kondisi ini memicu rasa takut kehilangan di dalam otak (entah amigdala atau hipotalamus?). yang jelas harus ada time limit. Jika diskon diberikan tanpa batasan, maka konsumen akan menanggapinya secara biasa saja. Seperti toko buku diskon Toga Mas, yang memberikan diskon minimal 20% for all item and all time (demi bisa membaca buku baru gratis, saya pernah bekerja sebagai pelayan di toko buku ini saat masih mahasiswa)
Kombinasi feel good factor, opportunity loss effect, dan sense of urgency inilah yang mendorong orang untuk terus berbelanja, terkadang dengan utang, dan mengoleksi barang yang tidak mereka butuhkan, untuk dipamerkan ke orang yang tidak mereka kenal. Saya punya teman perempuan yang selalu merasa “berdosa” jika window shopping di mall. Karena pasti ada aja tas belanjaan yang ia tenteng jika melihat papan diskon yang dipajang. Jika ditanya kenapa membeli, jawabannya enteng: mumpung lagi diskon!.
Eits, tapi bukan berarti diskon itu buruk ya. Justru bagus donk jika kita bisa mendapat harga murah. Tujuan saya menulis tentang ini agar kita jangan mudah diperdaya oleh kata diskon yang melekat. Karena bisa saja itu hanya permainan psikologis para pemasar.

Srigala Eskimo
Masyarakat Eskimo memiliki cara tradisional untuk berburu srigala menggunakan pisau. Di malam hari, mereka mengolesi pisau itu dengan darah dan menancapkannya di tanah dengan ujung tajam berada diatas. Srigala yang memiliki killer instinct dan haus darah akan mendatangi umpan pisau berselimut darah itu.
Srigala yang lapar akan mulai menjilat pisau , dan secara tidak sadar (ditengah hawa beku), melukai lidahnya sendiri. Lidah yang tersayat pisau akan mengeluarkan darah dan terus melumuri pisau yang sebelumnya telah berlumuran darah. Srigala yang bernafsu tidak akan bisa membedakan darah yang mereka jilat. Dan semakin lama mereka menjilat darah, semakin haus mereka akan darah. Dan semakin lemas tubuh mereka. Srigala yang haus darah, pada akhirnya akan mati kehabisan darah.
Demikian juga dengan konsumen konsumtif yang terbujuk rayuan diskon. Mereka terkena efek impulse buying. Sebuah pseudo profit. Keuntungan semu dalam jangka pendek. Para konsumen konsumtif yang melihat diskon dan harga miring, tergiur tanpa berpikir panjang. Meski harus berhutang. Meski lebih besar pasak, daripada tiang.
Seperti srigala yang terus jilat.. jilat.. jilat.. karena lapar.. lapar.. lapar..
Mereka pun terus beli.. beli.. beli.. karena diskon.. diskon.. diskon..
Advertisements

Sensasi Pasar Tradisional

Ajegile tante, ada gitu sensasinya? Yang ada becek dan bau… Hahaha… ehm… coba deh ada yang mengklaim pasar tradisional sebagai budaya negaranya, jiwa patriot kita berkobar-kobar untuk merebut dan mengakui kembali “Ini Hanya Ada di Indonesia”, “Hanya Milik Indonesia”, dengan berbagai aksi patriotisme romantis abissss… Aaaah sudahlah kok jadi sentimen gitu, kalo mau curcol ya curcol aja gitu looooh…

Well, saya mau dari customer view aja banding-bandingin dikit, soalnya pengelolaan atau dampak perekonomian nggak ahli-ahli banget, apalagi akuntansi untuk pedagang pasar saya tidak menguasai dan nggak tau nyari di mana. Xixixi… Dalam perbandingan ini tentunya dengan modern market (supermarket dan hypermart, berbeda dengan makna pasar tradisional yang well organized yang pernah dibahas EG).

See, Ask, and Go

Inilah kepraktisan yang saya cintai dari pasar tradisional. Datang, lihat, dan kalo nggak kelihatan tanya “jual xxx ga?”, bahkan kalopun ga ada jual masih saya tanyain “yang jual xxx di mana ya?”, kalo udah ada barangnya dan sesuai dengan yang dikamsud tinggal tanya harga, mulailah aktivitas menawar (walaupun beda 1000 atau 500 itu nggak signifikan bagi saia, entah mengapa selalu minta turunin harga… hahaha…), terus bayar, barangnya jangan lupa dibawa, dan pergi. *Hidup pecinta kepraktisan!*

Simple! Ga bikin laper mata (seperti belanja di modern market)! Mau beli apa, ya beli then go! Nggak beli yang nggak perlu dan hemat waktu.

Berasa Ratu

Pembeli adalah raja, katanya orang. Well, berhubung cewek ya ratu dong ya, hahaha… gimana sih tuh rasanya jadi ratu? Coba aja ndiri! Saya sih sedikit-banyak merasa jadi ratu beberapa menit sewaktu belanja di pasar tradisional.

Baru terlihat “kayak mau beli doang” saya ditanyain mau beli apa, kalau ada ditunjukkan ke tempat barang tersebut berada, kalau nggak ada diberi referensi tempat lain yang menjual. Mau beli boleh pakai gaya suka-suka, mau milih sendiri or dipilihin, mau berebutan dan dorong-dorongan juga hayuk… wakakakaka…

Senyuman selalu menghiasi wajah penjual, sambil menyebutkan harga dan menerima bayaran. Udah bayar terus nanya-nanya lagi masih diladenin dan beli yang kelupaan nggak usah pake antri lagi, langsung serobot… Hahaha… senang saia!

Kesepakatan 

Mungkin saya memang lemah dalam memilih dan menawar. Dalam memilih, maklom saja hanya mengandalkan insting dalam memilih soalnya seumur-umur nggak pernah milih sayuran ataupun buahan, kalau daging dan ayam *aiiiiih…* menyentuh saja nggak berani. Kalau menawar yaaa hanya sekedar nawar (formalitas biar ga terkesan oon dan tajir… bedeeeeh…) dan parahnya nggak kekeh nawar… hahahay… gimana seh ini?

Yang saya lihat adalah kesepakatan harga sebagai suatu solusi. Mungkin untuk orang seperti saya yang tergolong newbie berbelanja di pasar tradisional, membuat kesepakatan harga dengan saya adalah perkara mudah bagi penjual! Saya nggak punya referensi harga sih, tapi bukan nggak mungkin kalau saya nantinya tau (semakin kecil asimetri informasi) dan saya berjiwa getol, masih bisa dinego. 

FYI saya price senstive loh kalau belanja di modern market! Saya liat yogurt Cimory dijual 9000 aja saya nggak mau beli, setau saya sih biasanya 6000 lah, dan coba deh kalaupun saya mau nawar, manager G***** nggak bakal nurunin harga Cimory, got it? Di modern market, ada kesepakatan tidak tertulis: Penjual menetapkan harga, dan pembeli beli aja!

Kenyamanan Berbelanja 

Yang menjadi faktor psikologis dan kenyataan bahwa modern market lebih diminati, dikarenakan kenyamanan berbelanja di sana, bersih dan adem. Kalau saya rasa-rasa, ada satu lagi sih: karena nggak ada rasa segan kalau-kalau nggak cocok harga terus nggak jadi beli. Harga telah tertera, pembeli hanya memutuskan. Bahkan ngeliat-liat 1 jam dan megang semua barang tapi nggak beli apa-apa juga boleh, definisi saya: kenyamanan cuci mata!

Memang, kelemahan terbesar dari pasar tradisional adalah kenyamanan berbelanja. Mengapa harus malu untuk sesuatu yang memang nyata-nyatanya benar: pasar tradisional nggak jauh dari kesan jorok! Kita masih bisa memilih yang sesuai dengan mood kok, lagi mau praktis (ini mah tergantung orangnya sebenarnya), memuaskan hasrat nawar or mencari kenyamanan dan cuci mata ;)

***

Ya, gitu deh… sekedar curcol dan berbagi. Lebih suka yang mana, ehm… sensasinya beda-beda sih!

Cantik Itu Mahal

Cantik itu nggak harus mahal? Itu kan kata iklan. Rambutnya lurus banget, dengan bermodal shampoo. Saya sudah coba sih, namun tidak ada pengaruhnya meskipun pada awalnya rambut saya sudah lurus, tapi nggak bisa selurus itu! Kalau di-smoothing (bedanya tipis dengan bonding) baru deh hasilnya seperti ‘iklan itu’, dan masih belum sebagus iklan itu. Nggak lama efeknya juga hilang dan balik deh lagi ke rambut jelek. Akhirnya saya memutuskan saja untuk berbahagia dengan rambut lurus yang ujungnya lengkung-lengkung.

Beranikah Anda Menghitung Budget Kecantikan Anda Sebulan?
Ha? Saya ternganga membaca judul artikel pada cover majalah FEMINA yang tidak sengaja terbaca oleh saya lantaran tulisan bold dengan warna cerah yang kontras dengan warna cover majalah yang sejajar dengan mata saya. Yang benar saja, itu terasa seperti tantangan untuk mengetahui seberapa-besar-dosa-anda-di-dunia. Saya berlalu dengan alasan mengingat-ingat tujuan saya ke sini adalah untuk menyewa komik bukan majalah, jadi biarlah ada artikel menggelitik begitu saya nggak mau liat!
Namun, tetap saja teringat terus di pikiran – tentang budget itu. Jadi, saya pingin juga tuh baca itu artikel, sayangnya lagi nggak ada yang dicari. Gambaran umumnya sudah ada dong: budget kecantikan sebulan means uang untuk satu bulan yang telah kita persiapkan untuk mencapai “penampilan yang cantik menurut umum”.
Sedikit saya modifikasi menjadi “cantik menurut saya” yang beda tipis doang dengan cantik menurut umum, karena saya mencoba hanya berfokus kepada 1 hal (wajah saja, karena ini saja yang saya pusingkan -> bagaimana bebas dari jerawat, kilap, dan nggak iritasi kemerahan bila kena matahari). Mari kita hitung.
Memberanikan Diri Menghitung 
Seperti yang saya bilang, ini seperti mengetahui seberapa-besar-dosa-anda-di-dunia bagi saya. Apakah maksudnya menggelontorkan budget besar demi kecantikan itu adalah sebuah dosa besar? Ya, sepertinya. Karena dengan demikian ikut membenarkan bahwa cantik itu HARUS mahal.
Sebagai pemilik wajah dengan genre kulit sensitif, seharusnya saya menjalani perawatan ekstra di bawah ahli kecantikan kulit (misalnya: erha atau natasha). Tapi memang dasar saya mempunya mindset nggak bener: nanti ketergantungan dan parahnya saya nggak mau memakai produk yang hanya botol biasa diberi label (memang aneh). Saya lebih merelakan diri dalam aksi trial and error dengan produk kecantikan untuk wajah!
Hampir semua produk yang ada di supermarket telah saya coba, kemudian produk yang ada diisukan ada merkuri, dan terakhir saya menetapkan hati pada produk yang saya akui mahal untuk kantong saya, tapi saya bela-belain! (bagi Anda para pria yang sulit membayangkan, bayangkan saja bagaimana mencari pacar yang cocok, dan kalau udah ketemu berapapun kocek yang harus dirogoh Andapun rela).
Terlepas dari promosi, ini hanya sekedar curhat sambil mengajak merenung. Mari kita menghitung (hanya untuk wajah) dengan sangat mudah. Sebagai perfeksionis merek, saya hanya menggunakan satu merek untuk kebutuhan wajah, kecuali maskara karena belum habis yang lama sehingga belum beli untuk merek yang ini. Caranya: point di kartu member saya sejak Agustus 2010 hingga sekarang = 121 point. Sebelum punya member wajib belanja 500 ribu. Setiap kelipatan pembelanjaan 25 ribu berhak atas 1 point, artinya secara kasar saya sudah menghabiskan 3,525,000 untuk 9 bulan. Rata-rata 391 ribu sebulan. Nggak salah kan kalau saya menamakan rangkaian perawatan wajah dari The Body Shop ini sebagai “bikin kere collection”.
Untungnya, saya nggak ada perawatan khusus lain atau bawel soal merek untuk kebutuhan sabun mandi dan sebagainya. Saya juga bukan pelanggan salon. Jadi, kemungkinan besar maksimal saya menghabiskan rata-rata 500 ribu per bulan. Huah, saya menghirup nafas lega. Paling tidak nggak melebihi budget makan sebagai kebutuhan yang lebih utama.
Jadi, apakah Anda para wanita juga ingin menghitung budget kecantikan sebulan? Benarkah cantik itu harus mahal? Ekonom sekalian pasti dapat melihat bahwa secara efektifitas saya benar, tetapi secara efisiensi saya salah. Terus gimana dong?