Jungkat – jungkit Ekonomi 2

Ekonomi adalah permainan.
Bahagia ada dalam proses dan tujuannya.

Dalam permainan, ada menang, ada kalah. 
Kalau di olah raga, hal ini sulit ditebak. 
Tapi, kalau di ekonomi…

Hidup makmur berarti menang, 
hidup miskin berarti belum pernah menang.

Dasar permainan dan daftar pemain besar, 
sudah dibabar di Jungkat-jungkit 1.

Seorang Maha Suhu Trading pernah berkata:

kalau kita berbicara tentang uang pada 1000 orang
1000 orang akan paham

kalau kita berbicara tentang harga pada 1000 orang tersebut
hanya 100 orang yang paham

kalau kita berbicara tentang ekonomi moneter pada 100 orang yang sama
hanya 10 orang yang bisa memahami

saat kita berbicara tentang bank pada 10 orang tersebut
hanya 1 orang yang akan memahami 

Kutipan di atas bicara soal tugas dari Bank Sentral: Mengatur jumlah uang beredar; Mengontrol pergerakan hargaMenjaga kestabilan moneter negaranya; serta Mengawasi aktivitas perbankan di negaranya.
Hal seperti ini ada hampir di seluruh dunia.


USD adalah “bos” dari semua mata uang di dunia sejak 1944 -mid 1970. Dalam sistem Bretton Woods ini, nilai mata uang di seluruh dunia dipatok pada USD, lalu nilai USD dipatok pada emas.

Pada tahun 1971, sistem pematokan nilai tukar sebesar $35 untuk setiap ons emas ini dicabut. Nilai mata uang selain USD pun mengambang. Aksi Presiden Nixon ini dikenal dengan sebutan:

Kebijakan ini ditentang keras oleh berbagai aliran ekonomi non-mainstream, contohnya Austrian School.
Bahkan akhir-akhir ini banyak pelaku ekonomi menyalahkan kebijakan ini sebagai pemicu munculnya fenomena seperti: nyangkutergagalnya usaha 2 negara Asia menyaingi USA; makin pendeknya jeda antar krisis finansial; serta pertumbuhan ekonomi semu memanfaatkan siklus boom and bust.

Walau demikian, bumi berputar, waktu berlari, bisnis terus bergerak, show must go on

Meski tidak lagi dipatok pada emas, posisi USD sebagai world reserve currency tidak goyah.
Bahkan krisis terhebat setelah Great Depression, yaitu Krisis perumahan USA 2008 kemarin pun tak mampu menggantikan posisi USD sebagai cadangan devisa utama.

Lagipula, coba bayangin, kalau USD melemah atau collapse, negara-negara berkembang juga yang apes, cadangan emas dan peraknya tiris, tiwas selama ini ngotot nimbun USD buat gemukin cadangan devisa
(ini juga salah satu syarat meraih gelar “investment grade”  looh).

Tapi tetep si alasan utama negara-negara tetap nimbun USD ya biar hemat biaya konversi, pas beli commo, yang label harganya ditulis dalam USD.

 Pada suatu ketika, ada negara yang berniat untuk menjual hasil produksi vitalnya, HANYA dalam EUR ataupun emas.        Tak lama berselang, ada patung yang diturunkan di negara itu.

Cukup soal sejarah, saatnya main !!!

Perhatikan ilustrasi berikut ini:

Ketika Rupiah menguat, maka jika:
Indonesia beli  (import) : Harga produk made in China makin murah, lebih banyak commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri yang dijual ke luar negeri, makin mahal.

Giliran Rupiah melemah, maka ketika:
Indonesia beli (import)  : Harga produk made in China makin mahal, lebih sedikit commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri, yang dijual ke luar negeri, makin murah.

*Saya memakai istilah “made in China” sebagai penghormatan atas kemampuan negara itu memenuhi rak-rak pusat perbelanjaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Walaupun memang masih ada made in…, made in… lainnya.

Mari kita gali efek pembelian barang dari luar negeri (import):

Dari sisi konsumsi, kemiskinan membuat rakyat Indonesia lupa kualitas dan menggemari barang murah. Produk made in China pun jadi solusi, selain itu produk jenis ini juga membuka peluang usaha bagi banyak pengusaha pemula, karena akses dan persyaratan modal yang dirasa lebih ringan.

Dari sisi produksi, produk made in China memicu kreativitas dan efisiensi badan usaha lokal (efisien bukan berarti potong gaji, kadang geser posisi mesin dan colokan listrik bisa jadi solusi).

Ada keuntungan, ada pula risiko, yaitu: pembunuhan industri lokal. Begini kira2 reka ulangnya:

.Oversupply produk made in China (udah tu barang aslinya murah banget, eh, jumlahnya juga banyak bener)

2. Memicu perang harga (lomba nurunin harga, yang penting barangnya abis).

3. UMKM yang gk bisa bertahan akhirnya bangkrut
(namanya juga usaha kecil, duit seret coy ! daripada potong gaji pegawai ngamuk, ya mending tutup sekalian)

4. Para pekerja UMKM yg tutup pun nganggur, dan ketika tangis anak mulai ngalahin raungan knalpot bajaj, putus asa pun menyerang (neosep kagak bisa jadi obat ! lah duit buat beli juga kagak ada !).

5. Maka sang pengangguran pun berpotensi jadi penjahat dan lingkungan a’la Gotham pun jadi nyata
(tinggal nunggu pahlawanan bertopeng deh, yg pas doi baru muncul aja, langsung pada ngibrit tu penjahat).

Sekarang kita liat efek pas jual barang ke luar negeri (eksport):

Para eksportir berjasa menyumbang USD ke cadangan devisa negara.
Selain membuka lapangan kerja (yg relatif besar, terlepas urusan modal), mereka juga menjadi “duta” bagi nama dan kualitas Indonesia di dunia internasional.

Gak cuma eksportir maupun importir yg terlibat, pengusaha yg ngandelin pasar lokal juga bisa kena, kalau ada bahan baku-nya yang dibeli dari luar negeri.
Harga bahan baku import ini nanti ngaruh ke ongkos produksi, yg ujungnya ngaruh ke laba, dimana kalo ngambil untungnya aja udah dikit (profit margin), mau gk mau para produsen akan naikin harga jual.

Kalo banyak pengusaha yg naikin harga jual,  maka inflasi akan naik, peristiwa DOMPET JEBOL pun akan marak terjadi.

Apalagi, kalau demi nyelamatin pasokan bahan baku, si pengusaha terpaksa “merumahkan” pegawainya, ya gak asik tu judulnya (pahlawan bertopeng juga ni ujung2nya)

Maka, secara garis besar, 
Fundamental ekonomi suatu negara, tergambar dari nilai tukar mata uangnya, Vice Versa.
Q: Dari tadi yg disebut tu pengusaha sama penggangguran. Nah, kalo kita bukan pengusaha, masih karyawan (baik di swasta maupun negara), dan gaji masih jalan, apa pengaruhnya ???

A: Pengaruhnya banyak, cuman biar gk ribet. Intinya mau gimana pun Kamu bisa ambil untung dari aksi Bank Sentral.

Q: Kok bisa ? Gimana caranya ?

A: Cekidot:

* Aksi pada Suku Bunga
Kerjaan Bank Sentral tu fokus ngatur Bunga, makanya Kamu wajib catat ni jadwal rapat Bank Indonesia.
Bunga itu, ibarat pengatur kecepatan ekonomi (cek lagi Bagian 1 klo bingung).
– Saat ekonomi gerak terlalu lambat, BI akan nurunin suku bunga –
Kalau suku bunga turun, ini saatnya ambil utang !
  • Buat buka usaha
  • Buat beli rumah
  • Buat beli mobil
  • Buat beli mesin cuci, dan jangan utk beli hp (ya kali beli hp sendiri ngutang, malu lah !)

Itu aja ? Masih banyak… bunga turun tu berarti BI ingin ekonomi bergairah, berarti…
  • Beli saham produk branded, saham produsen alat berat industri, alat berat di rumah tangga, mobil, motor, dan benda2 mahal dan gede lainnya.
  • Beli saham penghasil energi untuk ngasih tenaga pembangunan ekonomi (gas, batu bara, minyak)
  • Beli saham produsen teknologi dan elektronik 

– Saat ekonomi gerak terlalu cepat, BI akan naikin suku bunga –
      Ini saatnya pilih2 berbagai aset investasi:
  • Kalo kamu pemula dalam investasi, ini waktu yg enak banget untuk ambil deposito. Mau milih 1, 3, 6 bulan atau setahun ? liat prospek ekonomi… (kalo kira2 bunga bakal naik terus, ya ambil aja yg per 1 bulan sekalian, biar compound interest-nya)
  • Bunga naik berarti laba bank (minimal, secara nominal) akan naik. Jadi kamu bisa beli saham Bank.
  • Selain saham Bank, semisal keadaan mulai menyerempet krisis, segera beli saham kebutuhan sehari-hari (mau krisis tetep mandi plus ngerokok dong) atau kebutuhan dasar (telpon, listrik, air).
  • Bunga naik berarti ekonomi melambat, kalo ternyata bunga udah beberapa kali naik, dan ekonomi keliatan akan terus melambat, Kamu bisa beli emas atau USD.

Pada masa ini, semua orang akan hati-hati sekali menggunakan uang, karena BI sendiri pengen memperlambat ekonomi. Karena kalo ekonomi jalan kenceng terus2an, itu yg namanya inflasi bisa naik tinggi dan otomatis bikin kantong Kamu dan orang2, jebol sejebol jebolnya…

Q: Udah, itu aja ?
A: Masih ada 1 lagi, inget2 kalimat di bawah ini:

Dalam jungkat-jungkit ekonomiThe Federal Reserve adalah pemain terpenting. 


Setiap hasil pertemuan The Fed wajib diperhatikan!

 Segala kebijakan The Fed akan memengaruhi keputusan pada  dan bank sentral lainnya, termasuk BI.

Q: Ok, terus ada lagi ?

A: Iya, klo ada waktu, tolong baca buku bikinan Si Bapak Ekonomi di bawah ini:


Judulnya “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations”,  
Minimal, baca Chapter IV yg udah ada di link di atas, dari situ niscaya dapet pencerahan lebih lanjut soal uang.

Q: Ada lagi ?

A: Ada sih, coba mulai sekarang rutin baca berita sama liat
chart IHSG,
Chart USD/IDR, sama
chart harga emas.

setiap hari,-

Udah, itu aja,

sekian.

Advertisements

Jungkat-jungkit Ekonomi 1

Yang Kaya Makin Bergaya Yang Miskin Makin Aking

Main jungkat-jungkit harusnya menyenangkan
Gak kaya’ duo gajah di atas…
Ekonomi juga begitu, menyenangkan walau melelahkan, makin cerdas menuju tujuan.

Interaksi antar pelaku ekonomi, mirip gambar hand car di bawah ini:

Sewaktu bocah, John Lennon ditanya, “Kalo udah gede mau jadi apa?” Lennon jawab: BAHAGIA.
Nah, kalo menurut saya, namanya bahagia, paling terasa pas main.
Terutama main jungkat-jungkit !









Ekonomi + Jungkat-jungkit =


Main jungkat-jungkit dalam ekonomi kudu tau hal dibawah ini:
Aturannya >>  Ada yang naik, ada yang turun. Vice Versa.
Trik              >> Tahu & ngerti isi pikiran, tujuan, dan keinginan temen main kamu.
Tips              >>  Ciptakan & jaga selalu, keseimbangan diri sendiri ! 
Sekarang mari kita liat, para pemain besar jungkat-jungkit ekonomi:

Bank Sental

Pemain yg satu ini banyak mau. Gak suka kalau hand car yg terlalu lambat, gak juga boleh terlalu cepat, maklum, beliau mudah mabuk (bayangin kamu naik jungkat-jungkit yang gerak sekenceng sayap lebah, gimana?).

Jadi, saat hand car dirasa terlalu lambat, maka beliau akan melakukan gerak ekspansi. Giliran isi perut mulai naik ke tenggorokan, beliau segera menyerukan kontraksi.

Btw, ECB itu Bank Sentral Eropa, The Fed punya Amerika Serikat, kalo BoJ itu Jepang. Indonesia punya juga, namanya Bank Indonesia.

Pemerintah

Kalo yg ini denger2 si pengayom banget sifatnya. Tapi yg pasti beliau sangat memperhatikan keseimbangan antara “pesona” dan sifat “disiplin”.
Pesona untuk menarik perhatian investor asing dan mengangkat martabat bangsa (katanya…), sembari disiplin menjaga kewibawaan dan kekuasaan di depan rakyat (gk pake jelata ya…).

Perusahaan

Perusahaan disayang pemerintah, karena nyerap banyak tenaga kerja. Perusahaan sangat menjaga keseimbangan neraca serta proporsi pengeluaran dan pemasukan. Perusahaan mengutamakan keberlanjutan usaha dalam setiap aktivitas, termasuk aktivitas main jungkat-jungkit ekonomi.

Bank

Bank asal Jerman ini, pemilik bursa saham di Amerika Serikat. Juga sempat jadi pemilik 67% rumah di suatu negara bagian, pas Krisis Perumahan di Amerika Serikat kemarin.

Kalo yg di atas ini, eksis pas jemuran derivatifnya sukses diterbangin oleh angin Boaz. 
Bank penemu intrumen derivatif saham ini, sekarang berstatus sebagai Bank terbesar di  AS.
Bank mungkin sering salah, tapi gak berarti jahat. Kerjaan mereka tu ngumpulin duit trus nyalurin tu duit ke tempat yang berpotensi ngasih cuan. Apalagi bank2 di negara maju sulit untung dari spread, karena suku bunga di negara maju tu udah rendah banget.
Jadi mereka masuk ke segala sub-pasar (yup, yg namanya pasar, cuma ada 1), 
demi meraih laba juga melayani krediturnya. 
Lebih dalam soal Bank, silahkan baca artikel pengupas pola pikir Bank ini.
Pasar cuma ada 1 (globalisasi menghapus segala batas). 
Ekonomi agak beda, karena tiap negara punya pemerintah dan bank sentral sendiri2.
Namun dalam hidup individual, kita gk cuma mainin satu jungkat-jungkit
*Kita main dengan pemerintah2 (kalau melancong ke luar Indonesia, otomatis berurusan dengan pemerintah setempat). 
*Kita main dengan Bank (ada orang yg rekening Bank-nya cuma 1 ?)
*Kita juga berurusan dengan berbagai Perusahaan (sebagai karyawan, sebagai investor di pasar modal, juga sebagai konsumen).
Yang penting, jangan sampe kita merasa selalu kalah, namanya jungkat-jungkit wajar kalo naik-turun.
Kadang di atas kadang di bawah. 
Tinggal cara kita mengatur diri (jaga keseimbangan, ngatur napas, suara, adrenalin) dalam menjalani pengalaman hidup.
Karakter pemain2 besar belum dijabarin,
Sabar… pahami yg ini dulu…
Baru nanti lanjut ke bagian 2…
Jungkat-Jungkit, Cita-citaku Selangit
Jungkat-Jungkit, Hilang Segala Pikiran Sakit
Jungkat-Jungkit, Dompet Makin Sempit
Jungkat-Jungkit, Hore ! Ekonomiku Bangkit !

Kalau Banyak yang Kaya’ Aku
Apalah Guna Berseteru
Ketika Solusi Dunia Tergenapi
Awan & Api, Itu Urusan Nanti

By Petaniuang

                 sumber gambar
Sumber gambar lainnya: Google

Kemenangan Obama, Kemenangan Keynesian

Oleh: M Syarif Hidayatullah

Barack Obama memenangi Pemilu USA 2012 dengan perolehan 303 kursi Electoral College, sedangkan Romney hanya meraih 206 Electoral College. Kemenangan ini sebenarnya sudah dapat diprediksi, karena pada hakikatnya seorang incumbent lebih mudah dalam memenangi pemilihan karena masyarakat lebih menyukai calon incumbent daripada alternatif (Laver, 2009, Ashwort, 2006). Kemenangan ini juga mencerminkan kemenangan suatu mazhab ekonomi, yaitu Keynesian.

Satu hal yang paling menarik dari perdebatan yang terjadi selama masa kampanye adalah perbedaan pandangan ekonomi kedua calon Presiden. Dalam konteks ini, seperti yang sudah diketahui secara umum, Obama dari partai demokrat cenderung kepada mazhab ekonomi Keynesian, sedang Romney dari partai Republik cenderung pada neoklasik.

Saat ini, ada dua mazhab utama ekonomi, yaitu Keynesian dan Neoklasik. Perbedaan mencolok dari kedua mazhab ini adalah pada besar peran pemerintah dalam perekonomian. Mazhab Keynesian mendukung peran pemerintah dalam mengatur dan menstimulus perekonomian. Sedangkan neoklasik mendukung berjalannya mekanisme pasar dengan intervensi minim dari pemerintah.

Menurut Mankiw (2003), Presiden dari Partai Republik tidak menyukai inflasi, sehingga bersedia menahan resesi untuk menurunkan inflasi serta menjalankan kebijakan kontraktif. Berbeda dengan para Presiden dari Partai Demokrat yang cenderung ekspansif untuk menurunkan pengangguran dan bersedia menahan inflasi. Hal ini terlihat dari data tren GDP riil USA dari tahun 1948. Rata-rata GDP riil USA pada pemerintahan Presiden Partai Demokrat pada tahun kedua mencapai 5,9%. Hal ini berbanding terbalik dari GDP Riil presiden partai Republik yang hanya 0,6%. Hal ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan kebijakan Presiden Partai Republik untuk menahan pertumbuhan guna menekan angka inflasi (Mankiw, 2003).

Perbedaan pandangan ini sangat terlihat dari kebijakan pajak yang diajukan oleh Obama dan Romney. Corak dari kebijakan pajak Roomney adalah pemotongan pajak, perorangan dan bisnis untuk mendorong perekonomian.  Kebijakan utama Romney adalah memotong pajak penghasilan korporasi dari 35% menjadi 25%. Selain itu, pajak penghasilan akan dikurangi sebesar 20%, dimana pajak pada penghasilan tertinggi akan dari 35% menjadi 28%, sedangkan pada penghasilan terendah dikurangi dari 10% menjadi 8%. Romney memiliki visi pada penerapan keadilan pajak, sehingga tax cut akan diarahkan untuk semua pembayar pajak.

Berbanding terbalik dengan Romney, kebijakan Obama justru akan mempertahankan pajak korporasi dan pada warga berpenghasilan tinggi. Tax rate pada Obama adalah sebesar 10% pada penghasilan terendah dan 35% pada penghasilan tertinggi. Selain itu, Obama memiliki kebijakan untuk menetapkan pajak sebesar 20% untuk long term capital gains dan 39,6 % untuk deviden, dan tambahan pajak 3,8% untuk capital gains dan deviden pada rumah tangga berpenghasilan tinggi. Obama memiliki visi untuk memberikan tax cut hanya pada golongan berpendapatan rendah, yang berpendapatan US$ 200.000 (US$ 250.000 untuk pasangan), tidak akan mendapat potongan pajak. Semua kebijakan yang diajukan oleh Obama tersebut, dijanjikan oleh Romney akan dicabut.

Kedua kebijakan pajak tersebut mencerminkan perbedaan pandangan yang sangat mencolok. Kebijakan Romney sangat melindungi korporasi dan masyarakat berpenghasilan tinggi. Diharapkan, dengan adanya pemotongan pajak, maka korporasi akan lebih leluasa untuk berkembang dan pada akhirnya akan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Sedangkan Obama lebih condong untuk meningkatkan pajak untuk korporasi dan masyarakat berpenghasilan tinggi, karena dibutuhkan untuk mendukung program jaminan sosial dan kesehatan, serta menjaga defisit anggaran pada level rendah.

Kebijakan pajak di atas menjadi contoh pertentangan mazhab neoklasik dan keyenesian yang terjadi di Amerika. Masyarakat Amerika ditawarkan dua jenis obat mujarab bagi Perekonomiannya. Dari sinilah warga Amerika memilih pendekatan mana yang lebih dipercaya untuk meningkatkan kesejahteraan.

Kemenangan Obama

Kemenangan Obama memperlihatkan kemenangan Keynesian. Kemenangan ini menunjukkan bahwa rakyat Amerika membutuhkan Pemerintah dalam perekonomian. Krisis ekonomi yang melanda Amerika menyebabkan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan. Fenomena tersebut menyebabkan semakin banyak warga Amerika yang membutuhkan bantuan Pemerintah (berupa subsidi) untuk menjaga tingkat konsumsinya. Obama menjanjikan hal tersebut melalui kebijakan jaminan kesehatannya, disisi lain Romney justru “mengancam” akan mencabut semua hal tersebut. Hal ini yang menyebabkan warga Amerika lebih menyukai kebijakan ala Obama daripada Romney.

Pemerintahan periode kedua Obama diharapkan dapat menyelesaikan berbagai persoalan Amerika Serikat. Menurut penulis, kebijakan fiskal yang ditawarkan oleh Obama sudah tepat. Obama menjanjikan akan mengurangi belanja negara dan meningkatkan pajak untuk masyarakat berpenghasilan tinggi. Kebijakan tersebut berimplikasi pada peningkatan tabungan nasional (S), sehingga akan meningkatkan persediaan dana pinjaman. Semakin besar dana pinjaman yang ada, maka tingkat bunga equilibrium (r) akan menurun, dan pada akhirnya investasi domestik akan meningkat. Peningkatan investasi domestik inilah yang dibutuhkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga Amerika Serikat.

Kemenangan Obama ini menjadi cerminan bahwa ide-ide ala keynesian menjadi preferensi di hati masyarakat di saat krisis. Hal ini sangatlah normal, karena ketika krisis terjadi, masyarakat akan sangat bergantung pada Pemerintah. Bertolak belakang, ketika ekonomi sedang tumbuh pesat, maka ide anti intervensi pemerintahlah muncul.

Bagaimana dengan Indonesia

Pemilu Amerika Serikat menunjukkan kuatnya identitas dari Partai Politik. Bagaimana dengan Indonesia. Penulis dapat mengatakan bahwa partai politik di Indonesia tidak memiliki identitas dan mazhab ekonomi yang jelas. Kebijakan yang diambil tidak lebih dari pertimbangan politik semata. Contohnya adalah pada kebijakan bailout. Di Amerika, para kaum liberalis sangat menentang kebijakan bailout, karena mempercayai market akan memperbaiki kondisinya sendiri tanpa perlu campur tangan pemerintah. Di Indonesia, Partai Politik berhaluan Sosialis dan anti kapitalis, justru berbondong-bondong menolak kebijakan bailout. Kondisi sangat mencerminkan inkonsistensi ideologi yang dialami partai politik di Indonesia.

Pemilihan di Amerika Serikat dapat dijadikan pelajaran bagi Partai Politik di Indonesia. Platform dari setiap kandidat jauh lebih jelas daripada yang ditawarkan di Indonesia. Mazhab yang dianut tegas, pro pasar atau pro intervensi pemerintah, tanpa perlu takut dikatakan tidak pro rakyat. Partai Politik Indonesia terjebak dalam politik pencitraan yang semu sehingga kehilangan identitias pemikirannya. Hal ini yang harus direvisi dalam menyongsong Pemilu di 2014 nanti. Masyarakat menunggu Partai Politik yang memiliki identitas dan platform yang jelas.

Kapitalisme dan Ekonomi Pasar yang Membingungkan Rakyat

Oleh: Ekonudin Islam

Masih segar dalam benak semua orang berita di media masa mengenai prestasi ekonomi Pemerintah pada akhir tahun 2011 yang lalu. Walaupun pada saat itu kondisi geopolitik global sama seperti saat ini, dimana krisis nuklir Iran mengancam melambungkan harga minyak dan krisis Eropa yang menenggelamkan pertumbuhan ekonomi zona Eropa, namun fokus pemberitaan saat itu dibuat menjadi sangat manis dan membius sesaat.
Pada bulan desember 2011, harga minyak telah melampaui US$ 98.00 per barrel, dan minggu ke dua bulan Maret 2012 harga masih berkisar di US$ 106.00, yang masih jauh dari harga pada bulan Juli 2008 yang mencapai angka diatas US$ 145.00 per barrelnya.
Issue utama domestik saat ini bukanlah seberapa tinggi dan secepat apa harga minyak akan naik, namun lebih kepada seberapa besar harga bahan bakar akan dinaikkan oleh Pemerintah, dan kapan akan dilaksanakan. Bila dilaksanakan, apa kompensasi yang akan diberikan kepada rakyat miskin, karena rakyat sudah sering mendengar janji dari para penguasa bahwa mereka sangat peduli pada rakyat miskin dan ingin sekali mensejahterakan masyarakat akar rumput.
Kesejahteraan masyarakat adalah isue utama yang selalu dikumandangkan Presiden (SBY). Dalam kondisi ekonomi yang sama seperti ketika SBY menjalankan pemerintahan bersama Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid 1, dimana harga minyak dunia melambung melampaui target APBN, maka dengan persetujuan DPR Pemerintah sudah pasti harus menerapkan kenaikan harga BBM.
Namun sedikit berbeda dengan program yang dijalankan oleh KIB jilid 1, selain kenaikan harga, dalam program saat ini Pemerintah akan juga menerapkan pembatasan pengguna BBM bersubsidi dengan program konversi BBG bagi kendaraan roda empat. Rencana program tersebut dituduh tidak pro rakyat.
Dalam situasi ekonmi politik yang bergejolak, dimana korupsi dari para pejabat Pemerintah dan wakil rakyat di DPR sudah menggila diluar nalar manusia normal, keberpihakan Pemerintah pada masyarakat luas (terutama masyarakat akar rumput) menjadi pertanyaan yang tidak pernah dijawab melalui tindakan, melainkan dijawab dengan retorika.
Misalnya, dalam suatu ceramah umum, SBY mengatakan:

“Saya meyakini dan memilih jalan tengah barangkali itu yang cocok bagi Indonesia. Di satu sisi kaidah efisiensi pasar penting, tetapi peran dan intervensi pemerintah tetap diperlukan.”

Banyak pihak yang menganggap bahwa alternatif ekonomi yang diajukan SBY ini hanya sebagai jawabannya, yang menampik tudingan bahwa administrasi pemerintahan SBY-Budiono ini adalah administrasi yang mengacu pada pola ekonomi kapitalis ‘neolib.’ Dalam mekanisme neolib, kedok ‘efisiensi’ dalam perekonomian berorientasi pada maximum gain dan maximum satisfaction, dan bila benar, paham tersebtu menjunjung paham liberalisme yang beroperasi melalui laissez-faire, yang menihilkan peran pemerintah diatas kepentingan suasta. Kebebasan pasar yang dijunjung tinggi ini membuka jalan daulat pasar menggusur daulat rakyat dimana dipercaya bahwa kemiskinan hanya merupakan efek logis dari suatu keniscayaan ekonomi (dalam istilah perang dinyatakan sebagai collateral damage).
Tidak terlalu jelas apakah ekonomi jalang tengah versi SBY ini diadopsi dari pemikiran Anthony Giddens yang dituangkan dalam bukunya ‘The third way,’ atau dimodifikasi dari pandangan ‘ekonomi kerakyatan’ yang telah lebih dahulu dikumandangkan oleh saingan politik SBY-Boediono saat kampanya lalu, yaitu Mega-Prabowo.
Berkaitan dengan konsep ‘The third way,’ unsur utamanya menurut Giddens adalah: sadar akan peran aktif masyarakat, komitment pada kesetaraan peluang, menjunjung tinggi beban tanggung jawab, dan mempromosikan akuntabilitas pelaksanaan. Akan halnya ekonomi kerakyatan, ciri utamanya adalah: bertumpu pada mekanisme pasar dengan prinsip persaingan yang sehat, keadilan serta kepentingan sosial, pembangunan berkelanjutan, kesempatan yang sama, perlindungan yang adil bagi seluruh rakyat.
Hak dan Kedaulatan Rakyat
Ketika Indonesia merdeka, para pemimpin bangsa sadar bahwa kesejahteraan bersama harus diciptakan melalui mekanisme yang terwujud dalam Undang Undang Dasar 1945, yang dicantumkan pada bab 14 pasal 33 dan 34. Setelah habisnya periode Orde Baru, maka UUD’45 mengalami penyesuaian dimana kesejahteraan ekonomi yang tertera pada bab dan pasal tersebut diatas, mengalami penyesuaian dan penajaman.
Menilik kapitalisme dan ekonomi pasar, tidak ada yang salah dengan konsep dasar dari paham ekonomi tersebut, yang saat ini dianut dan dijalankan oleh hampir seluruh negara di dunia ini. Rakyat yang memiliki modal dan/atau keterampilan, dapat masuk ke pasar bebas dengan memanfaatkan keunggulannya yang pada akhirnya akan menonjol dibandingkan dengan masyarakat lain yang memang tidak terlalu menonjol, ataupun lebih tertarik pada pengembangan sosial.
Seperti kata Hashim S. Djojohadikusumo:
“Saya kapitalis, suka uang, kenapa membantah. Saya menjadi pengusaha untuk jadi kaya kok. Itu mulia. Kita harus bangga juga.” (BI 1/3/12)
Semenjak era administrasi Soeharto, secara prinsip, aktifitas ekonomi dijalankan berlandaskan azaz yang tertera didalam UUD’45. Ketika pemerintah orde baru menjalankan doktrin ekonominya yang dikenal dengan Widjojonomics (dinamakan dari Alm. Prof. Dr. Widjojo Nitisastro), yang dilanjutkan dengan Habibienomics (program lompatan teknologi), yang akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit dalam krisis moneter 1998, landasan dasarnya adalah ekonomi Pancasila. Walaupun konsep itu menitik beratkan pada kesejahteraan rakyat banyak dan keadilan sosial, tetap tetap mengacu pada ekonomi pasar yang melibatkan Pemrintah sebagai regulator yang menyeimbangkan pasar.
Seluruh metoda ekonomi yang disebutkan itu, termasuk pemikiran ‘jalan tengah SBY,’ mengacu pada mekanisme kapitalisme dengan pasar bebasnya. Harga BBM naik, jelas akan sangat memberatkan rakyat. Namun dalam suatu sistem ekonomi yang bersih, rakyat akan sangat dapat diajak berdialog dan mengerti serta mendukung realitas ekonomi, seberapapun konsekuensinya. Rakyat tidak dapat mengerti bila mereka harus menderita, sementara segelintir manusia berpesta pora diatas kontraksi ekonomi. Bila hal itu yang terjadi, kapitalisme dan retorika ‘jalan tengah’ tidak akan pernah dimengerti oleh rakyat.