Segelas Air Seharga 15 Juta

Oleh: Yoga PS
Sepulang dari meeting, saya menumpang salah satu angkot warna biru. Dan seperti biasa, macet menjadi paket tambahan yang tak terelakkan lagi. Tapi macet tidak selamanya menjadi bencana. Terkadang, ia justru membawa berkah didalamnya.

Didalam macet dimana gerak terbatas sekali. Waktu seakan berhenti. Jarak menjadi tak ada lagi. Ia membawa kembali nuansa kemanusiaan yang selama ini pergi. Lewat dialog sederhana tentang kehidupan sehari-hari. Teman dialog kali ini namanya Setiawan Jodi. Sang pengemudi taksi.
Saya memulai pembicaraan tentang macet. Obrolan lalu mengalir menjadi kehidupan berbangsa bernegara, pembangunan, pertumbuhan kendaraan, cerita sehari-hari, suka duka narik taksi, dan entah kenapa menjadi topic rezeki.
Awalnya hanya soal voucher taksi. Saya bercerita tentang salah satu supir taksi di kantor salah satu klien saya yang pernah mendapat durian runtuh dari langit: cek voucher 7 juta rupiah untuk argo seratusan ribu!
Jadi ceritanya supir taksi yang beruntung ini adalah langganan seorang manager di perusahaan FMCG multinasional itu. Kebetulan saat itu menjelang hari raya. Puasa. Menjelak mudik ke kampung halaman kita. Entah malaikat apa yang ada, sang manager dengan baik hati ingin berbagi tunjangan hari raya. Ia menuliskan angka 7 juta di voucher cek taxi. Sang supir tentu langsung terkejut dan berkaca-kaca dalam hati.
“Tapi ada teman saya yang dapat voucher 15 juta Mas”
“Wow, langganan juga pak?”
“Bukan”.
“Loh, koq bisa Pak?”
Segelas Air
“Jadi waktu itu ceritanya bulan puasa. Temen saya ini sedang nganter tamu. Terus kena macet. Karena udah maghrib, dia tanya ke tamunya: ‘maaf Bapak, sudah maghrib, Bapak mau sholat maghrib dulu mungkin?’ tawar teman saya itu”.
“Karena merasa sudah dekat, tamu ini nolak. Terus teman saya ngomong lagi: ‘Maaf Bapak, karena sudah waktunya buka, dibatalkan sama air ini dulu ya’ sambil menawarkan air dalam kemasan gelas.”
Mungkin karena tersentuh, saat sampai di tujuan, tamu yang ternyata seorang pengusaha ini menuliskan angka fantastis di voucher taksi itu: 8 juta rupiah!. Tentu sang supir terperanjat dan berterima kasih sedalam-dalamnya. Masalah belum berhenti disitu. Saat hendak mencairkan voucher di pool, voucher itu ditahan.
“Kita harus klarifikasi ke pemberi voucher”. Itu sudah peraturan perusahaan. Ditelponlah pemberi voucher. Meminta kejelasan. Jangan-jangan supir taksinya yang berbohong dan memanipulasi voucher.
“Loh itu hak saya donk mau ngasih berapa. Itu kan uang-uang saya” kata pengusaha tadi. Dan lebih hebatnya lagi, ia datang ke pool dan menuliskan satu voucher tambahan senilai 7 juta rupiah!. Sehingga total 15 juta.
Empati
Sekecil-kecilnya kebaikan, pasti akan dibalas kebaikan. Itu prinsipnya. Tapi entah kenapa, kita sering lupa, terlalu berfocus pada hal-hal besar. Kita beranggapan jika berbuat baik itu berarti menyumbangkan sekian juta rupiah, membantu sekian puluh anak yatim, menyantuni sekian ratus fakir miskin. Seolah-olah dunia hanya bisa berubah dengan kekuatan besar.
Padahal dunia bisa menjadi lebih baik lewat tindakan sederhana. Menyebut nama Tuhan ketika bangun di pagi hari, menyiram tanaman, memberi makan hewan kelaparan, menyapa tetangga, tersenyum kepada satpam, ceria ketika bertemu sejawat, atau berbagi sedikit rezeki yang kita miliki. Kebaikan-kebaikan kecil yang terakumulasi akan sama dengan kebaikan besar yang terfluktuasi.
Dan kebaikan yang disampaikan dari hati, akan sampai kedalam hati. Apa yang dilakukan pengemudi taksi tadi adalah tindakan yang sudah semakin jarang kita temui: melayani sesama dengan hati dan empati.
Daniel Pink dalam To Sell is Human menyebut bahwa empati akan semakin penting di dunia modern ini. Seorang negosiator yang memiliki empati terbukti memiliki kemungkinan untuk mendapatkan win-win negotiation. Penjual yang memiliki empati memiliki kemungkinan melakukan closing dan menjaga hubungan personal.
Saat hubungan antar manusia sudah menjadi hubungan penjual dan pembeli. Semua menjadi transaksi untung dan rugi. Kehadiran empati berarti kembali memanusiakan manusia. Menempatkan diri kita didalam posisi orang lain. Merasakan apa yang mereka rasakan. Dan membantu apa yang bisa kita bantu. Tanpa pernah memikirkan apa yang kita dapatkan sebagai balasan. Termasuk, hanya dengan memberikan segelas air.
Karena jangan pernah remehkan segelas air. Konon, Harun Al Rasyid bersedia menukar segelas air dengan separuh kerajaannya.

Anonymous

Oleh: Yoga PS

Apalah artinya sebuah nama? Shakespeare bertanya. Banyak, sangat banyak. Aristotle mengabdikan hidupnya untuk menghasilkan taksonomi nama-nama hewan dan tumbuhan. Para ahli pemasaran menghabiskan jutaan dollar untuk membangun sebuah nama. Merek. Brand bahasa kerennya.

Nama bukan hanya panggilan. Nama adalah penanda. Identitas. Penuh semiotika makna. Dalam kasus pemasaran, ada banyak cerita tentang sebuah nama. Toyota pernah menjadi bahan tertawaan karena masuk ke pasar AS dengan nama Toyopet. Mereka baru sukses di pasar AS setelah mengeluarkan brand dengan nama eksklusif: Lexus.

Tapi saya tidak akan berbicara tentang branding dalam marketing. Anda pasti lebih ngerti daripada yang nulis tulisan sampah ini. Saya hanya ingin menulis tentang pentingnya sebuah nama bagi manusia, dan betapa kita (terutama saya) sering melupakan makna dari sebuah nama.

Service Excellence
Ide tulisan ini lahir ketika saya mengikuti seleksi wawancara untuk menjadi tukang gali batu bara. Setelah 2x tes tulis, dan 3x wawancara (serius wawancara sampe 3x!), akhirnya saya bertemu direksi. Direktur perusahaan ini orangnya asyik, menyenangkan. Dan setelah satu jam ngobrol ngalor ngidul-kanan kiri disertai penuh tawa, tiba-tiba dia bertanya:

“Oh ya, siapa tadi nama saya?”

Mak Jleb!!!… Rasanya seperti kejatuhan kapas 100kg yang dilempar dari menara 100 lantai dengan kecepatan 100km/jam. Biarpun kapas, karena beratnya 1 ton, tetep sakit juga.

Saya lupa. Blank. Itulah kelemahan orang supel seperti saya. Sangat mudah membangun keakraban, tapi sering tidak memperhatikan detail. Sangat sering, saya disapa orang yang sudah tidak saya ingat lagi namanya. Bahkan pernah, saya bertemu seseorang ditoko buku, dia mengenal saya. Kami mengobrol dengan akrab selama setengah jam, dan setelah berpisah saya masih tidak tahu siapa dia!. Saya terbiasa terfokus pada tujuan, dan bukan hubungan. Selama tujuan terpenuhi, tidak terlalu penting hubungan dengan partner kita akrab atau tidak.

Padahal nama seseorang adalah kunci penting terciptanya service excellence. Para customer service dan marketer sangat dilatih untuk mengucapkan nama konsumennya dengan baik dan benar. Jangan sampai salah, dan harus diucapkan dengan penuh hormat sekaligus akrab.

Anda pernah dihubungi pihak bank yang menawarkan produk baru? Apakah di saluran telepon dia berkata:
a. “Halo… konsumen” (Halo polisi sekalian)
b. “Halo… cowok” (Godain kita donk?)
c. “Halo-halo Bandung” (Ibukota perjuangan…)

Pasti nama Anda! Untuk urusan ini, Melinda Dee jagonya dengan layanan private banking. Karena dalam layanan ini, pihak bank akan memberikan service yang sangat personalize.

Ibu Kue
Untuk urusan nama dan service excellent yang personalize, saya punya idola: Ibu kue deket kampus. Tuh kan, saya lupa namanya! Pokoknya dia jualan kue deket fakultas ekonomi (sekarang pindah ke FISIP) kampus saya dulu (sudah sebulan jadi mantan kampus).

Apa hebatnya? Weihh… jangan salah. Dia hapal konsumennya one by one! Dia tahu nama setiap pelanggannya, jurusan kuliah, daerah asal, background keluarga, sampai status relationship!. Naksir seseorang? Gampang, tanya saja ama Ibu kue. Selama si doi beli kue di Ibu kue, pasti ada databasenya. Hahaha.

Ibu kue tergolong connector. Tipe orang kedua yang dibutuhkan untuk melakukan penyebaran wabah (tipping point) ala Malcolm Gladwell. Orangnya ramah dan terbuka. Setiap saya lewat, dia pasti akan menyapa, sekedar berbasa-basi, dan ngobrol sana-sini. Bahkan saya suka beli kue ditempat dia hanya untuk cari teman mengobrol.

Yang bikin saya kagum adalah kemampuan dia mendengarkan dan mengingat apa yang ia dengar. Jika Anda bercerita sesuatu, dia pasti mengingatnya dan mampu menceritakan ulang. Padahal setahu saya, dia tidak pernah mencatatnya.

Mendengarkan
Sejak kelupaan nama interviewer tadi, saya jadi sadar. Betapa selama ini saya tidak mendengarkan. Betapa selama ini, saya tidak menghormati lawan bicara. Saya masih memberikan label profesi, dan bukan esensi kemanusiaan yang sejati.

Saya melihat anonymous, manusia yang tidak bernama. Saya hanya melihat cap: tukang parkir, direktur, teller, pelayan, manager, salesman, koki, cleaning service, supir, dll. Saya belum melihat mereka sebagai makhluk Tuhan dengan sebuah nama dan segudang cerita. Mencoba menghargai pilihan hidup mereka, belajar untuk menghormati jalan kehidupan yang diberikan Tuhan untuk mereka.

Saya teringat nasihat Vasudeva dalam novel Siddharta karya Herman Hesse. Siddharta (bukan Gotama) yang kebingungan akhirnya mendapat pencerahan setelah belajar seni mendengarkan.

Vasudeva si tukang perahu berkata:
“Sungai telah mengajarkan padaku bagaimana cara mendengarkan. Kamu juga akan belajar dari sungai. Sungai mengetahui segala sesuatu; segala sesuatu dapat dipelajari darinya. Lihat, kamu sudah belajar dari sungat tentang kebaikan memiliki tujuan sederhana, tenggelam, mencari dasar. Siddhartha yang kaya dan termasyur telah menjadi penolong tukang satang; ini juga merupakan nasihat dari sungai. Kamu juga akan belajar hal lain darinya.
Diatas semuanya engkau akan belajar bagaimana cara mendengarkan, bagaimana mendengarkan dengan hati yang damai, dengan sebuah harapan, jiwa yang terbuka, tanpa nafsu, tanpa keinginan, tanpa penilaian, tanpa pendapat.”

Sekarang saya sedang belajar mendengarkan. Manusia bukanlah anonymous. Mereka memiliki nama dan cerita. Kisah-kisah sederhana yang sarat makna. Saya sedang belajar untuk mendengarkan tanpa keinginan, tanpa penilaian, tanpa penghakiman. Saya akan menyambut semua cerita mereka dengan hati terbuka, mata bercahaya, dan senyum yang sederhana. Tak lupa, jika sempat, saya akan bertanya tentang nama mereka.
Karena saya percaya, sebuah nama adalah sebuah doa.

sumber gambar

*minta doanya donk biar pak direktur ga ngambek :D