"Pause" Paus

*pencet* tombol “pause > *bunyi -klik-* >  pause


*Tarik napas…*
*rasain alirannya,-*
*buang napas…*

Hehehhe… saya belum tau (lebih tepatnya, malas mencari tahu) padanan kata yang tepat untuk kosa kata dari bahasa Inggris, yaitu: “pause“, dalam bahasa Indonesia.

*Tarik napas lagi…*
*rasain alirannya,-*
*buang lagi napasnya…*

Lalu berhubung kata “pause” mirip dengan model pengucapan nama hewan “paus”, 
Saya malah merasa 2 kata ini memang ditakdirkan untuk bersanding & saling menemani dalam kolom judul tulisan ini.

*Tarik napas lagi…*
*rasain alirannya,-*
*buang lagi napasnya…*

— selanjutnya lanjut sendiri ya, gak perlu saya komando, yg penting rasain dengan sadar aliran napasnya… —


Kenapa Paus ?

Tentu bukan karena Saya suka Paus, tapi lebih tepatnya karena suatu momen yg mirip jawaban,
 atas pencarian Saya akan ide untuk ditulis dalam blog ini dalam beberapa hari terakhir, berkaitan erat dengan pemicu awal mula rasa suka saya terhadap paus ini

^^^ sumpah, kalimat di atas itu, bener2 rumit, gw sendiri heran kok bisa muncul berentet gitu, mungkin itu efek suasana jam 3 pagi…

>>> Kuncinya: “London Whale“, selanjutnya, biar komik yg berbicara:



Paus ini berasal dari salah satu awak Big Boys terbongsor yang bahkan CEO sekaligus Chairman-nya sering dianggap sebagai “perwakilan” dan “juru bicara” tak resmi dari kaum sejenisnya.

Naaah, yang seru (Saya tadi nyebutnya “momen”)kemarin pagi muncul berita kalau Bank peternak paus ini (ingat, kerugian yg diceritakan di komik itu disebabkan dari 1 trader) berencana untuk menerapkan “pause” sejenak dari suatu unit operasinya…

Berikut beritanya:

J.P. Morgan Aims to Trim Ties to Foreign Banks

“It’s important for us to pause and assess our business, particularly in select markets, to ensure we are well-positioned to meet our responsibilities for the long term,” a spokesman said.

 Sumber WSJ

Menarik sekali menurut Saya, bagaimana organisasi yang bergerak di suatu bidang yang terbilang amat riuh, sibuk dan juga (dibikin) vital bagi perekonomian dunia masih berniat atau menyempatkan diri untuk “pause“.

Soal kenapa riuh?
karena Peternak paus ini bukan bank biasa, mereka punya divisi brokerage, M&A, Asset Management, dan Trading juga. Liat aja keadaan di trading floor NYSE, gk kurang riuh tuh…

Soal sibuk, ya orang si kalo udah kerja nyari duit pasti sibu tong…

Soal kenapa sektor perbankan vital, Saya juga belum bisa mengolah jawabannya, tapi ngeliat gimana hebohnya BLBI
(kehebohan di tanah air sendiri gk cukup cuma 1sumber, nih ane tambahain:
definisi asli BLBI
kronologi BLBI
berita2 BLBI ;
Pak Kwik bahas BLBI ;
bonus bacaan soal TARP di USA)
nampaknya sektor perbankan ini dipandang berisiko tinggi dan amat dilindungi
(bank gak jelas aja ditombokin Pemerintah pake duit pajak rakyat, apalagi Bank gede…;)

Nah,kenapa “pause” ?
Tebakan Saya si, bisa jadi sang Penangkar Paus ini merasa malu karena masuk daftar tombokan Pemerintah negaranya, sehingga mutusin untuk “pause” sejenak dan melihat ke dalam diri, yang tujuannya menurut jubirnya:
meraih penempatan posisi terbaik dalam usaha mencapai tanggung-jawab2 jangka panjang organisasinya.

Bicara “penempatan posisi” berarti berada di posisi / melakukan hal, yang tepat dalam suatu keadaan, demi meraih / menjadi lebih dekat dengan tujuan (semisal: profit).

Gimana taunya kita sedang di “posisi” mana / apa ?
Pastinya kita kudu tau big picturedari keadaan terkini.

Gimana caranya tau latest real big picture ?
Kita kudu selalu in-tune dengan market dan semua aspek kehidupan di dunia.

Kalo udah gini, kita jadi bisa ngeliat apa yg dibilang orang “kesempatan emas” atau “opportunity” serta “jebakan betmen” aka “thread”.

Nah, tapi kan itu kalau  “kata orang”, gimana caranya kita bisa tau mana yg “bener-bener” atau “asli” berbentuk kesempatan atau bahaya untuk diri kita ?

Ada yg bilang gak ada hal yang terjadi secara kebetulan, jadi urutan segala kejadian itu sudah terjadi secara apa adanya dan sebenarnya banyak banget artinya (kalau digali).

Pak Dosen Audit II pernah berkata:
Gak ada gunanya itu semua ilmu-ilmu dari luar, mau dari buku mau dari Ortu, mau dari Saya. Kalau kamu gak tau apa itu S&W kamu sendiri.

Ternyata gak cuma soal penginderaan akan O&T yang kurang maksimal,
melainkan input-inputbernutrisi tinggi pun bisa berisiko jadi mubazir.
Gak enak lagi kalo ngalamin yang namanya, “information overload”, dimana kita gak tau input mana yang sebenernya berguna untuk diri kita.

Nah, yang namanya belajar itu kan pake beberapa aksi, seperti:
cari, baca, dengar saring, dan tanya.

Kalau yang digali itu S&W, yang terutama ya…
kamu harus sadar sepenuhnya,
dan aksi yg dipake itu adalah:
sendiri, nutup mata, relax, fokus ke dalam (misal: napas, denyut2) dan sadar(jangan jebol tidur).

Jadi demikian dulu,
Saya udah klenger dan mau pause dulu.

Temet Nosce,-
if it isn’t wide spread into the folk
then it is not worth called as hoax

if not much cash has come from making firework
then let’s make love, even if it only were transmitted via plurk
badger hibernate, life’s escalate, human does it trough “pause”
my Mom loves noodle, so do I, but I love doodle a bit more
so go have your google, cause lots of info are false
or just sit back and relax, do feel the air & your pulse

by Petaniuang

Advertisements

Roundabout Roundabout

Ada yang kenal manusia di samping ? Ini gambar dari film Into The Wild,

isinya tentang kehidupan pasca wisuda seorang Chris McCandless.

Banyak orang komentar, film ini bener2 menggugah, tapi menurut saya si biasa aja. Saya tenang-tenang kuliah sehabis SMA dan seiring berjalannya waktu, film ini pun melapuk dan hilang dari ingatan. 
Sampai kira-kira 3 minggu yg lalu, film ini kembali muncul dan mengusik pikiran.
Pemicunya ada 2:
dp bbm temen & quotes dari dialog film tsb di tumblr (tuh quotes-nya ada di gambar di atas).
FYI, sebentar lagi saya lulus kuliah (setahun lagi sih :p)

Keberanian si McCandless untuk lepas dari hidup a’la peradaban modern memang menggugah.
Tapi itu tetap terdengar mustahil untuk saya. Pikiran saya jauh lebih tertarik menyoroti pandangan pendapat McCandless soal karier (liat gambar Emile Hirsch di atas), dan apa pemicu lahirnya pendapat tersebut.

Bicara karier, ingatan saya langsung lompat ke buku dibawah ini:
                                           Judulnya,“Your Job is Not Your Career”. Buah karya Pak Rene Suhardono inilah yg pertama kali memperkenalkan saya perbedaan antara karier dan pekerjaan. 
Kalo saya gak salah, karier itu lebih mirip “alur jalan” atau “path”, sedangkan pekerjaan adalah titik langkah yang dilalui selama meniti “path” tersebut.
Buku itu juga sukses menjabarkan soal passion. Sesuatu yang sepengertian Saya berarti:

Sesuatu yang sangat kita minati, hingga sering tanpa sadar kita latih dan pelajari secara mendalam. Jadi pendorongnya murni karena kita menyukai aktivitas / pekerjaan tersebut. 

Klimaks buku itu kalo saya gak salah, ketika kita sampai pada suatu titik, dimana passion itulah profesi kita (full time job)

Saya gk tau bener gk itu yg dimaksud sebagai pesan dari penulis buku itu. Abis bacanya udah lama bgt si, hehehehe…

Setelah buku itu, pikiran saya lompat ke sebuah analogi atas kehidupan rata-rata manusia, era sekarang:
Yup, 2 kata: rat race

Penjelasan soal istilah ini bisa didapat melalui komik dibawah ini:
tak ketinggalan curcol bernutrisi tinggi dari Bang Tyler Durden :
Kalo masih gak paham, berarti katro… atau mungkin, tanpa sadar 
anda telah sukses terjebak dalam rat race“.
(kok kalo selip dikit bisa mirip ama death race ya hehehehhe…)
Ok ok, cukup soal resensi dan testi soal buku dan film. 
Let’s be original a little bit…
Setelah semua hal di atas, otak saya keinget sama kebijakan naiknya UMR Jakarta Desember lalu,
Waktu itu, saham Astra International terjun bebas saat isu mulai beterbangan dan penurunan terus terjadi sampai 2 hari pasca penetapan resmi aturan tsb.
Intinya pesan yg ingin disampaikan pelaku bursa saham adalah,
“Kami gk terlalu suka dengan hal ini.”
Ok, lalu pikiran saya mencoba mengaitkan hal ini dengan inflasi,
langkahnya kira-kira begini:
> UMR: Batas bawah gaji bagi pemangku jabatan terbawah

>> UMR naik, pekerja (employee) yg misalkan tadinya udah ngurangin belanja karena gajinya gak cukup, akan kembali “menormalkan” / menaikkan pengeluarannya.
Atau semisal sang pekerja tidak merasa perlu “menormalkan” pengeluarannya, maka dia bisa nabung atau investasi.

>>> UMR naik, pengeluaran gaji naik, maka HPP (COGS) naik.

>>>> kalau gak ada reorganisasi operasi atau kenaikan harga jual / kuantitas penjualan, profit perusahaan (employer)  tergerus.
gini ilustrasinya:
Jadi, kalau:
-b2 naik
-c3 naik
Maka ada ada 2 skenario:
 -Skenario A: Perusahaan menaikkan harga jual, karena beban produksi meningkat (perusahaan enggan memangkas profit margin. (cost push inflation).
-Skenario B: Para pekerja memilih untuk menaikkan standar hidup, dus membeli lebih banyak barang & jasa (demand pull inflation).
Jadi, kalo bener b2 & c3 sama2 naik, ya sama aja bohong.
Kenaikan upah pekerja langsung terhapus sama kenaikan harga barang & jasa di pasar,
dan jikalau si pekerja sempat menaikkan konsumsinya,
dan hal seperti ini terjadi secara agregat
(rata2 pekerja melakukan hal serupa),
maka kemungkinan tingkat konsumsi para pekerja akan turun lagi,
karena permintaan yg meningkat akan berpeluang menaikkan harga.
(mempertimbangkan sedikitnya lahirnya produk baru atau lapangan pekerjaan baru).
Berhari-hari saya mikirin, berharap dan ngebayangin, saya bisa ketemu semacam bukti ilmiah soal kemungkinan terjadinya hal di atas…
Sampai akhirnya post Suhu Kongming88 ini muncul di kaskus:

Penjelasan dari Suhu Kongming88:
kolom pertama (FCRPI) nunjukin IHK (indeks harga konsumen) / tingkat harga barang & jasa di pasar
kolom kedua (FCWI) nunjukin labor price index. (upah pekerja)
walaupun gak sangat kuat, tapi korelasi keduanya positif
(Jika IHK naik, LPI ikut naik dan bila IHK turun, LPI juga turun.)

kenapa?

karena kenaikan biaya tenaga kerja memaksa produsen menaikkan harga jual produknya 
(cost push inflation).

Doooorrrr !!!!!
 Akhirnya datang juga hal yg saya tunggu-tunggu…
Lo tuh tinggal bener2 spesifik ngebayangin apa yg lu mau dapetin !
layaknya orang lagi ngebidik sasaran tembak !
Maka yg lo bayangin itu datang / terjadi di saat paling tak terduga…
Ok, back to the topic,
Kalo UMR aja naik, otomatis gaji pekerja2 di tingkat lebih atas juga ikut naik.
Minimal liat kalo pegawai negara naik gaji, pasti rame-rame (serentak bareng-bareng).
Jadi kalo udah kaya gini, masih relevankah mimpi dalam bentuk kalimat,
Kapan ya naik gaji ?
Malah, kalau Saya boleh usul, kalimat di atas bisa diganti dengan kalimat,
Kapan ya saya bisa berkontribusi lebih ?
Kapan ya saya bisa handle lebih banyak tanggung jawab ?
Kapan ya saya bisa lebih pintar ?
Saya kira semuanya kembali ke awal,
kalo mau karier yang asik,
ya harus punya kerjaan yang asik juga.
Bayangin gini, kalo di rat race, bentuk rodanya tu tegak ke atas kan
(cek gambar tikus yg ber-hustlin‘ ria di atas)
Roda tegak itu kan perlambang harapan si tikus akan naik dia ke anak tangga berikutnya, yg berati nominal gaji yg lebih tinggi, yang kemudian diartikan sebagai  level kehidupan / kesejahteraan / kebahagiaan yg juga lebih tinggi
Namun sayang seribu sayang, semua itu hanyalah sebuah ilusi…
dan bahkan bisa dibilang cuma imajinasi yg tercipta akibat kekurang pahaman atas proses terjadinya inflasi !

Selanjutnya, mau gimana ?
Ada pepatah bilang, merubah kerjaan gk semudah membalik telapak tangan,
Ya memang iya, Saya juga setuju,
makanya sebelum merubah kerjaan, coba rubah dulu itu isi pikiran…
Sekarang bayangin aja, kalo roda di rat race itu jatuh, runtuh, dan tengkurep kaya roundabout di bawah ini:

Maka praktis yang anda kejar ya cuma mempercepat putaran roundabout atau beratraksi melewati pegangan / rintangan yg ada (tergantung cara pandang anda ini sih ;) )
Inget aja rasa seru / excitement waktu main kaya ginian semasa kecil dulu.
Selanjutnya soal menggapai sesuatu yg lebih tinggi, atau memberi efek positig bagi lingkup yang lebih luas.
Ya… anggap aja  roundabout-nya berbentuk kaya’ di bawah ini:

Jadi, selalu ada, yang harus dipanjat…

Soal apa dan gimana bentuk implementasi roundabout ini di alam kehidupan sadar anda,
Maka ada 1 hal yg harus anda temukan: passion.

Temet Nosce,-

Jungkat – jungkit Ekonomi 2

Ekonomi adalah permainan.
Bahagia ada dalam proses dan tujuannya.

Dalam permainan, ada menang, ada kalah. 
Kalau di olah raga, hal ini sulit ditebak. 
Tapi, kalau di ekonomi…

Hidup makmur berarti menang, 
hidup miskin berarti belum pernah menang.

Dasar permainan dan daftar pemain besar, 
sudah dibabar di Jungkat-jungkit 1.

Seorang Maha Suhu Trading pernah berkata:

kalau kita berbicara tentang uang pada 1000 orang
1000 orang akan paham

kalau kita berbicara tentang harga pada 1000 orang tersebut
hanya 100 orang yang paham

kalau kita berbicara tentang ekonomi moneter pada 100 orang yang sama
hanya 10 orang yang bisa memahami

saat kita berbicara tentang bank pada 10 orang tersebut
hanya 1 orang yang akan memahami 

Kutipan di atas bicara soal tugas dari Bank Sentral: Mengatur jumlah uang beredar; Mengontrol pergerakan hargaMenjaga kestabilan moneter negaranya; serta Mengawasi aktivitas perbankan di negaranya.
Hal seperti ini ada hampir di seluruh dunia.


USD adalah “bos” dari semua mata uang di dunia sejak 1944 -mid 1970. Dalam sistem Bretton Woods ini, nilai mata uang di seluruh dunia dipatok pada USD, lalu nilai USD dipatok pada emas.

Pada tahun 1971, sistem pematokan nilai tukar sebesar $35 untuk setiap ons emas ini dicabut. Nilai mata uang selain USD pun mengambang. Aksi Presiden Nixon ini dikenal dengan sebutan:

Kebijakan ini ditentang keras oleh berbagai aliran ekonomi non-mainstream, contohnya Austrian School.
Bahkan akhir-akhir ini banyak pelaku ekonomi menyalahkan kebijakan ini sebagai pemicu munculnya fenomena seperti: nyangkutergagalnya usaha 2 negara Asia menyaingi USA; makin pendeknya jeda antar krisis finansial; serta pertumbuhan ekonomi semu memanfaatkan siklus boom and bust.

Walau demikian, bumi berputar, waktu berlari, bisnis terus bergerak, show must go on

Meski tidak lagi dipatok pada emas, posisi USD sebagai world reserve currency tidak goyah.
Bahkan krisis terhebat setelah Great Depression, yaitu Krisis perumahan USA 2008 kemarin pun tak mampu menggantikan posisi USD sebagai cadangan devisa utama.

Lagipula, coba bayangin, kalau USD melemah atau collapse, negara-negara berkembang juga yang apes, cadangan emas dan peraknya tiris, tiwas selama ini ngotot nimbun USD buat gemukin cadangan devisa
(ini juga salah satu syarat meraih gelar “investment grade”  looh).

Tapi tetep si alasan utama negara-negara tetap nimbun USD ya biar hemat biaya konversi, pas beli commo, yang label harganya ditulis dalam USD.

 Pada suatu ketika, ada negara yang berniat untuk menjual hasil produksi vitalnya, HANYA dalam EUR ataupun emas.        Tak lama berselang, ada patung yang diturunkan di negara itu.

Cukup soal sejarah, saatnya main !!!

Perhatikan ilustrasi berikut ini:

Ketika Rupiah menguat, maka jika:
Indonesia beli  (import) : Harga produk made in China makin murah, lebih banyak commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri yang dijual ke luar negeri, makin mahal.

Giliran Rupiah melemah, maka ketika:
Indonesia beli (import)  : Harga produk made in China makin mahal, lebih sedikit commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri, yang dijual ke luar negeri, makin murah.

*Saya memakai istilah “made in China” sebagai penghormatan atas kemampuan negara itu memenuhi rak-rak pusat perbelanjaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Walaupun memang masih ada made in…, made in… lainnya.

Mari kita gali efek pembelian barang dari luar negeri (import):

Dari sisi konsumsi, kemiskinan membuat rakyat Indonesia lupa kualitas dan menggemari barang murah. Produk made in China pun jadi solusi, selain itu produk jenis ini juga membuka peluang usaha bagi banyak pengusaha pemula, karena akses dan persyaratan modal yang dirasa lebih ringan.

Dari sisi produksi, produk made in China memicu kreativitas dan efisiensi badan usaha lokal (efisien bukan berarti potong gaji, kadang geser posisi mesin dan colokan listrik bisa jadi solusi).

Ada keuntungan, ada pula risiko, yaitu: pembunuhan industri lokal. Begini kira2 reka ulangnya:

.Oversupply produk made in China (udah tu barang aslinya murah banget, eh, jumlahnya juga banyak bener)

2. Memicu perang harga (lomba nurunin harga, yang penting barangnya abis).

3. UMKM yang gk bisa bertahan akhirnya bangkrut
(namanya juga usaha kecil, duit seret coy ! daripada potong gaji pegawai ngamuk, ya mending tutup sekalian)

4. Para pekerja UMKM yg tutup pun nganggur, dan ketika tangis anak mulai ngalahin raungan knalpot bajaj, putus asa pun menyerang (neosep kagak bisa jadi obat ! lah duit buat beli juga kagak ada !).

5. Maka sang pengangguran pun berpotensi jadi penjahat dan lingkungan a’la Gotham pun jadi nyata
(tinggal nunggu pahlawanan bertopeng deh, yg pas doi baru muncul aja, langsung pada ngibrit tu penjahat).

Sekarang kita liat efek pas jual barang ke luar negeri (eksport):

Para eksportir berjasa menyumbang USD ke cadangan devisa negara.
Selain membuka lapangan kerja (yg relatif besar, terlepas urusan modal), mereka juga menjadi “duta” bagi nama dan kualitas Indonesia di dunia internasional.

Gak cuma eksportir maupun importir yg terlibat, pengusaha yg ngandelin pasar lokal juga bisa kena, kalau ada bahan baku-nya yang dibeli dari luar negeri.
Harga bahan baku import ini nanti ngaruh ke ongkos produksi, yg ujungnya ngaruh ke laba, dimana kalo ngambil untungnya aja udah dikit (profit margin), mau gk mau para produsen akan naikin harga jual.

Kalo banyak pengusaha yg naikin harga jual,  maka inflasi akan naik, peristiwa DOMPET JEBOL pun akan marak terjadi.

Apalagi, kalau demi nyelamatin pasokan bahan baku, si pengusaha terpaksa “merumahkan” pegawainya, ya gak asik tu judulnya (pahlawan bertopeng juga ni ujung2nya)

Maka, secara garis besar, 
Fundamental ekonomi suatu negara, tergambar dari nilai tukar mata uangnya, Vice Versa.
Q: Dari tadi yg disebut tu pengusaha sama penggangguran. Nah, kalo kita bukan pengusaha, masih karyawan (baik di swasta maupun negara), dan gaji masih jalan, apa pengaruhnya ???

A: Pengaruhnya banyak, cuman biar gk ribet. Intinya mau gimana pun Kamu bisa ambil untung dari aksi Bank Sentral.

Q: Kok bisa ? Gimana caranya ?

A: Cekidot:

* Aksi pada Suku Bunga
Kerjaan Bank Sentral tu fokus ngatur Bunga, makanya Kamu wajib catat ni jadwal rapat Bank Indonesia.
Bunga itu, ibarat pengatur kecepatan ekonomi (cek lagi Bagian 1 klo bingung).
– Saat ekonomi gerak terlalu lambat, BI akan nurunin suku bunga –
Kalau suku bunga turun, ini saatnya ambil utang !
  • Buat buka usaha
  • Buat beli rumah
  • Buat beli mobil
  • Buat beli mesin cuci, dan jangan utk beli hp (ya kali beli hp sendiri ngutang, malu lah !)

Itu aja ? Masih banyak… bunga turun tu berarti BI ingin ekonomi bergairah, berarti…
  • Beli saham produk branded, saham produsen alat berat industri, alat berat di rumah tangga, mobil, motor, dan benda2 mahal dan gede lainnya.
  • Beli saham penghasil energi untuk ngasih tenaga pembangunan ekonomi (gas, batu bara, minyak)
  • Beli saham produsen teknologi dan elektronik 

– Saat ekonomi gerak terlalu cepat, BI akan naikin suku bunga –
      Ini saatnya pilih2 berbagai aset investasi:
  • Kalo kamu pemula dalam investasi, ini waktu yg enak banget untuk ambil deposito. Mau milih 1, 3, 6 bulan atau setahun ? liat prospek ekonomi… (kalo kira2 bunga bakal naik terus, ya ambil aja yg per 1 bulan sekalian, biar compound interest-nya)
  • Bunga naik berarti laba bank (minimal, secara nominal) akan naik. Jadi kamu bisa beli saham Bank.
  • Selain saham Bank, semisal keadaan mulai menyerempet krisis, segera beli saham kebutuhan sehari-hari (mau krisis tetep mandi plus ngerokok dong) atau kebutuhan dasar (telpon, listrik, air).
  • Bunga naik berarti ekonomi melambat, kalo ternyata bunga udah beberapa kali naik, dan ekonomi keliatan akan terus melambat, Kamu bisa beli emas atau USD.

Pada masa ini, semua orang akan hati-hati sekali menggunakan uang, karena BI sendiri pengen memperlambat ekonomi. Karena kalo ekonomi jalan kenceng terus2an, itu yg namanya inflasi bisa naik tinggi dan otomatis bikin kantong Kamu dan orang2, jebol sejebol jebolnya…

Q: Udah, itu aja ?
A: Masih ada 1 lagi, inget2 kalimat di bawah ini:

Dalam jungkat-jungkit ekonomiThe Federal Reserve adalah pemain terpenting. 


Setiap hasil pertemuan The Fed wajib diperhatikan!

 Segala kebijakan The Fed akan memengaruhi keputusan pada  dan bank sentral lainnya, termasuk BI.

Q: Ok, terus ada lagi ?

A: Iya, klo ada waktu, tolong baca buku bikinan Si Bapak Ekonomi di bawah ini:


Judulnya “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations”,  
Minimal, baca Chapter IV yg udah ada di link di atas, dari situ niscaya dapet pencerahan lebih lanjut soal uang.

Q: Ada lagi ?

A: Ada sih, coba mulai sekarang rutin baca berita sama liat
chart IHSG,
Chart USD/IDR, sama
chart harga emas.

setiap hari,-

Udah, itu aja,

sekian.

Jungkat-jungkit Ekonomi 1

Yang Kaya Makin Bergaya Yang Miskin Makin Aking

Main jungkat-jungkit harusnya menyenangkan
Gak kaya’ duo gajah di atas…
Ekonomi juga begitu, menyenangkan walau melelahkan, makin cerdas menuju tujuan.

Interaksi antar pelaku ekonomi, mirip gambar hand car di bawah ini:

Sewaktu bocah, John Lennon ditanya, “Kalo udah gede mau jadi apa?” Lennon jawab: BAHAGIA.
Nah, kalo menurut saya, namanya bahagia, paling terasa pas main.
Terutama main jungkat-jungkit !









Ekonomi + Jungkat-jungkit =


Main jungkat-jungkit dalam ekonomi kudu tau hal dibawah ini:
Aturannya >>  Ada yang naik, ada yang turun. Vice Versa.
Trik              >> Tahu & ngerti isi pikiran, tujuan, dan keinginan temen main kamu.
Tips              >>  Ciptakan & jaga selalu, keseimbangan diri sendiri ! 
Sekarang mari kita liat, para pemain besar jungkat-jungkit ekonomi:

Bank Sental

Pemain yg satu ini banyak mau. Gak suka kalau hand car yg terlalu lambat, gak juga boleh terlalu cepat, maklum, beliau mudah mabuk (bayangin kamu naik jungkat-jungkit yang gerak sekenceng sayap lebah, gimana?).

Jadi, saat hand car dirasa terlalu lambat, maka beliau akan melakukan gerak ekspansi. Giliran isi perut mulai naik ke tenggorokan, beliau segera menyerukan kontraksi.

Btw, ECB itu Bank Sentral Eropa, The Fed punya Amerika Serikat, kalo BoJ itu Jepang. Indonesia punya juga, namanya Bank Indonesia.

Pemerintah

Kalo yg ini denger2 si pengayom banget sifatnya. Tapi yg pasti beliau sangat memperhatikan keseimbangan antara “pesona” dan sifat “disiplin”.
Pesona untuk menarik perhatian investor asing dan mengangkat martabat bangsa (katanya…), sembari disiplin menjaga kewibawaan dan kekuasaan di depan rakyat (gk pake jelata ya…).

Perusahaan

Perusahaan disayang pemerintah, karena nyerap banyak tenaga kerja. Perusahaan sangat menjaga keseimbangan neraca serta proporsi pengeluaran dan pemasukan. Perusahaan mengutamakan keberlanjutan usaha dalam setiap aktivitas, termasuk aktivitas main jungkat-jungkit ekonomi.

Bank

Bank asal Jerman ini, pemilik bursa saham di Amerika Serikat. Juga sempat jadi pemilik 67% rumah di suatu negara bagian, pas Krisis Perumahan di Amerika Serikat kemarin.

Kalo yg di atas ini, eksis pas jemuran derivatifnya sukses diterbangin oleh angin Boaz. 
Bank penemu intrumen derivatif saham ini, sekarang berstatus sebagai Bank terbesar di  AS.
Bank mungkin sering salah, tapi gak berarti jahat. Kerjaan mereka tu ngumpulin duit trus nyalurin tu duit ke tempat yang berpotensi ngasih cuan. Apalagi bank2 di negara maju sulit untung dari spread, karena suku bunga di negara maju tu udah rendah banget.
Jadi mereka masuk ke segala sub-pasar (yup, yg namanya pasar, cuma ada 1), 
demi meraih laba juga melayani krediturnya. 
Lebih dalam soal Bank, silahkan baca artikel pengupas pola pikir Bank ini.
Pasar cuma ada 1 (globalisasi menghapus segala batas). 
Ekonomi agak beda, karena tiap negara punya pemerintah dan bank sentral sendiri2.
Namun dalam hidup individual, kita gk cuma mainin satu jungkat-jungkit
*Kita main dengan pemerintah2 (kalau melancong ke luar Indonesia, otomatis berurusan dengan pemerintah setempat). 
*Kita main dengan Bank (ada orang yg rekening Bank-nya cuma 1 ?)
*Kita juga berurusan dengan berbagai Perusahaan (sebagai karyawan, sebagai investor di pasar modal, juga sebagai konsumen).
Yang penting, jangan sampe kita merasa selalu kalah, namanya jungkat-jungkit wajar kalo naik-turun.
Kadang di atas kadang di bawah. 
Tinggal cara kita mengatur diri (jaga keseimbangan, ngatur napas, suara, adrenalin) dalam menjalani pengalaman hidup.
Karakter pemain2 besar belum dijabarin,
Sabar… pahami yg ini dulu…
Baru nanti lanjut ke bagian 2…
Jungkat-Jungkit, Cita-citaku Selangit
Jungkat-Jungkit, Hilang Segala Pikiran Sakit
Jungkat-Jungkit, Dompet Makin Sempit
Jungkat-Jungkit, Hore ! Ekonomiku Bangkit !

Kalau Banyak yang Kaya’ Aku
Apalah Guna Berseteru
Ketika Solusi Dunia Tergenapi
Awan & Api, Itu Urusan Nanti

By Petaniuang

                 sumber gambar
Sumber gambar lainnya: Google

Ketika Juri Stempel Tak Lagi Kredibel

It’s scapegoating time…
Saatnya menunjuk sang kambing hitam…
Sang pesakitan
aka sang penjahat
alias pemeran karakter antagonis (a scenario, anybody ?)
Whatsoever,
Here is the story…
Alkisah, seorang trader nubi sedang berguru pada seorang trader kelas suhu, demi menghindari terulangnya pengalaman naas menjadi nyangkuters:
Semua bermula dari sebuah chart…
nubi: Apa chart ini termasuk fundamental (penting, akar suatu masalah / isu) ?
suhu: Ya, ini nunjukin interaksi antara psikologi pelaku pasar dengan suatu bentuk aset.
nubi: Maksudnya psikologi ?
suhu: Pelaku pasar tu lebih suka pegang cash (i.e saving) atau ngelepas cash demi dapetin rumah.
nubi: Kalo gk pake duit tabungan, tu rumah dibeli pake apa, ampe harganya bisa ngeroket ?
suhu: Pake utang (credit), lebih tepatnya kpr (mortgage). Nih chartnya, cekidot:

nubi: Yang biru itu apa, yang merah apa ?
suhu: Biru itu total kpr, merah itu jumlah orang kere yang ikut ngambil kpr (detail on subprime)
nubi: kok mendadak banyak bener orang beli rumah?
suhu: Pasca bubble internet, Fed nurunin suku bunga jadi rendah banget. Ya sisanya skema pasar jalan, faktor greed bermain. Muncul orang2, yg beli rumah utk investasi. Plus, muncul juga “ahli” investasi dan ekonomi yg ngomporin orang2 kere utk beli rumah, ngutang lagi !

nubi: Terus kok bisa ampe jadi krisis ekonomi ?
suhu: Rumah yg dibeli kan jadi agunan pinjaman, Namanya juga buat investasi (bukan ditempatin). Jadi ngarepin kenaikan harga rumah aja. Nah, saat harga rumahnya GAK NAIK LAGI DAN MALAH TURUN, apa mau tu pinjeman dilunasin ? mending rumahnya biarin disita kan… Nah, yg nyita rumah2 itu kan Bank2, regulasi bank ngelarang mereka pegang rumah kaya gitu lama, jadi ya kudu dijual-jualin juga. Makin banyak rumah dijual, padahal yg mau beli rumah udah gk ada, ya MAKIN ANJLOK harga rumah seluruh US. 

nubi: terus krisisnya kok sampe nyebar ke seluruh dunia ?
suhu: Karena Bank2 gencar ngebikin aset2 derivatif utang, terus dijual ke seluruh dunia. Lo pantengin ni:

nubi: itu CDO, ABS, apaan tu ?
suhu: itu singkatan jenis2 derivatif utang. Misal CDO (Collateralized debt obligations); ABS (asset backed security); CMBS (commercial mortgage-backed security); RMBS (Residential mortgage-backed securities). Klik aja nama2nya, biar liat apa itu yg Buffet bilang sebagai “senjata pemusnah masal “.

nubi: Buset.. untung di Indo gak ada ya..
suhu: Ada kok, cek: EBAKIK-EBA.

nubi: Instrumen2 derivatif utang ini siapa yg buat ?
suhu: pihak2 (Bank2 dan Lembaga Keuangan) yang ngasih duit / nerbitin utang buat para pembeli rumah
nubi: Tujuan ngebikin instrumen derivatif ini apa ?
suhu: Mengurangi risiko. Peminjam kan bisa aja telat bayar cicilan, meninggal, ampe ngaku gk mampu balikin tu duit pinjeman.
Nah, itu CDO dkk, kelar dibikin, dijual ke investor. Nah itu Bank dapet duit, si investor dapet CDO dan dapet kupon tiap periode.

nubi: Oooh… kalo di ALK, tu judulnya, mengamankan arus kas masa depan ya
suhu: iye
nubi: Yang jadi investor itu siapa ?
suhu: Macem2. Bank2 yg bikin & ngejual derivatif utang, beli juga produk2 sejenis dari Bank2 lain.

nubi: Bank menang banyak dong…
suhu: Yoi, saldo risky loan di sisi aset berkurang, ganti masuk aset berupa derivatif yg harganya bisa digoreng sesuka hati (waktu itu, belum ada regulasi soal tranparansi aset derivatif, as included in Dodd Frank Act) arus cash lancar (kagak beku berupa risky loan) plus… dapet fee hasil jualan CDO dkk ke investor perorangan.
nubi: Beuh… kaya cerita di negeri dongeng dong, CUAN TERRUUUSS…
suhu: Begitu si dari 2002 sampe 2007, sampai akhirnya…
nubi: Asset bubble goes BUST (nilai derivatif utang tadi anjlok, karena harga rumah anjlok)

suhu: Yup, namanya aja derivatif, artinya turunan.                        
Ada “aset dasar sebagai alas”.                                                                                                                Boso linggisnya, “underlying asset.                                                                                                       Liat chart yg ini ni:


nubi: Tadi katanya bisa digoreng, kenapa gk digoreng aja biar naik harganya tu MBS ?
suhu: Harga sesaat bisa aja naik, tapi Bank2 itu sendiri gk bodoh, ketika harga rumah turun, rumah pada disita trus dijual lagi, trus yg pada ngutang gk bisa lunasin utang.

Gimana kewajiban bayar kupon atas derivatif2 tadi bisa dipenuhin ?

Misalkan, lo pegang MBS, trus tu MBS mendadak kuponnya kagak ngalir (default, ibarat keran macet, gk keluar airnya).

Lo masih mau pegang tu MBS ?

nubi: Ya gak lah, gw bakal jual tu MBS, asap !
suhu: Nah itu, aksi jual masif bikin harga MBS terjun bebas, karena gk ada yg mau jadi pihak terakhir yg megang MBS paling banyak.
nubi: Gilani… apalagi yang beli MBS di Juli 2007 ya (liat kotak tengah, garis merah), fix jadi nyangkuter ya ?
suhu: Yoi, bayangin lo nyangkut di harga harga setinggi itu, dan lo pegang BUANYAK bgt MBS.
nubi: Ada yg begitu ?
suhu: Ada,Suatu Bank bernama Lehman Brother. 
Nyangkut paling parah,sampe bangkrut. Kalo Bank2 lain masih ditalangin sama pemerintah US.

nubi: Bentar… bentar… bentar… itu abjad BB, A, AA, AAA masih nama derivatif ?
suhu: Bukan, itu credit rating. AAA paling bagus, sisanya ngurut di bawahnya.
Yang konyol, kita liat nih, laba juri stempel-juri stempel ini:
nubi: Naik pesat ya… sejalan sama meningkatnya jumlah penerbita derivatif ber-rating AAA.
suhu: Yoi, cek juga ni, data dari intel gw (thx, agent Gugel!) :
nubi: Ckckckck….
suhu: Padahal, kalo diliat komposisi mayoritas derifatif yg terbit tahun 2005 (setahun sebelum puncak), gk pantaslah dapet AAA, liat ni:
nubi: Jadi, juri-juri stempel ini yg salah ?
suhu: Menurut media, iya.

nubi: Menurut suhu, siapa yg salah ?
suhu: Sama seperti prediksi dan ramalan, yang tidak berguna di pasar. Begitu juga pendapat dan kebenaran masa lampau, tak vital dalam mengusahakan cuan. Ikuti saja marketnya, konsisten. Lalu kalau sejarah, pelajari “gaya main” setiap juri, tinggal disesuaikan sama regulasi dan keadaan terkini.

nubi: Ok, thanks berat suhu.
suhu: Sama2, Tetap ingat, first thing first, temet nosce.





Salah pilih istri gak bakal bikin lo mati
Mag ama sakit gigi, kalah ama yg namanya makan ati
Investasi jangan  tergantung juri
Nilai kepangkas bikin ngeri
Istri gak dapet kocek makin seret
Spread currency enaknya yang peret
Tiap cuan kudu dibagi currency wars makin menjadi
Analisa kritis tak prediktif modal tangguh setiap pribadi
By: petaniuang



Ps: Lots of  credit to:
Maha Suhu gift_art
Maha Suhu Hirsch
Daftar Pustaka :