Migrasi Hati

Source Pict: Here
Oleh: Dyah Restyani

Di pembahasan mengenai ekonomi sumber daya manusia, ada tiga point yang menjadi fokus, yaitu persoalan fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Ketiga hal ini sama pentingnya dalam mempengaruhi perekonomian suatu wilayah atau negara.
Di tulisan kali ini, akan membahas tentang bagaimana migrasi dihubungkan dengan migrasi hati yang semu. Migrasi hati yang semu yaitu migrasi yang dilakukan karena dominan tertarik atau bahkan hanya tertarik pada hal-hal yang nampak bagus saja. Migrasi hati yang kerapkali menghiasi hubungan-hubungan antarmanusia.
Terkait migrasi, ada 2 penyebab utama seseorang melakukan migrasi, yakni:
1.      Daya tarik
Daya tarik sebuah kota atau negara lain seringkali menjadi alasan utama seseorang melakukan migrasi. Kota yang nampak lebih potensial, tampak lebih makmur dan penuh lapangan kerja tentu menjadi daya tarik sendiri bagi para pencari kerja. Kota yang cepat tumbuh, birokrasinya baik, masyarakatnya terbuka, juga menjadi magnet kuat bagi para pengusaha untuk berbisnis di wilayah tersebut.
Seperti halnya daya tarik sebuah kota, setiap orang juga punya daya tarik tersendiri bagi orang lain. Seseorang (sebut saja si X) akan melakukan migrasi hati (baca: memutuskan hubungan lama dengan si Y dan membina hubungan baru dengan si Z) ketika hatinya tertarik pada individu Z. Daya tarik individu Z mungkin saja nampak begitu cocok dengan apa yang diinginkan si X, sehingga si X berani untuk melepaskan / meninggalkan Y begitu saja hanya untuk mengejar Z. Misalnya saja karena si Z lebih kaya, sering memberi aneka macam hadiah kepada X, juga selalu mengajak X jalan-jalan ke tempat-tempat mewah nan bergengsi.
2.      Daya dorong
Daya dorong mejadi faktor kedua yang menjadi alasan mengapa seseorang bermigrasi. Ada beberapa hal yang menjadi faktor pendorong, yakni: a). Faktor ekonomi (berupa upah, kesempatan kerja, dan biaya hidup). Kurang mencukupinya upah, kurang tersedianya kesempatan kerja, serta biaya hidup yang tinggi di wilayah tempat tinggal seseorang seringkali menjadi faktor pendorong seseorang melakukan migrasi ke wilayah lain, ke wilayah yang kesempatan kerjanya lebih luas, upahnya lebih tinggi, dan biaya hidup yang terjangkau. Dikaitkan dengan migrasi hati, seseorang (X) berpindah hati ke dari Y ke Z karena Y miskin, tak pernah memberinya hadiah apa-apa, tak pernah mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat bergengsi.
Selain faktor ekonomi, faktor kedua yang menjadi daya dorong seseorang bermigrasi adalah faktor sosial. Ketika seseorang merasa tak berguna, tak punya status sosial yang baik di tempat tinggalnya, maka besar kemungkinan ia akan bermigrasi ke tempat lain yang lebih terbuka dan lebih menerimanya. Jika dihubungkan dengan migrasi hati X, maka X berpindah hati ke Z karena di hubungannya yang sebelumnya (hubungan X dengan Y) tidak direstui keluarga Y. Begitu pula keluarga X yang amat sulit menerima Y karena alasan bibit bebet bobot yang tak jelas.
Faktor ketiga yang menjadi daya dorong migrasi yaitu faktor politik atau keamanan. Para penduduk yang berada di wilayah-wilayah perang, yang tak terjamin situasi keamanannya, tentu saja mau tidak mau, suka tidak suka, mereka akan bermigrasi ke wilayah lain yang lebih aman. Sama halnya ketika X menjalani hubungan dengan Y, ketika ia kerapkali mendapatkan terror dari keluarga Y agar X menjauhi Y, maka mau tidak mau, X terpaksa harus memutuskan hubungan /  meninggalkan Y.

Brand Brain Migration = Selalu Ada Harga yang Harus Dibayar
Selalu ada harga yang harus dibayar, baik oleh migran yang bermigrasi, maupun oleh wilayah yang menerima migran tersebut, serta wilayah yang ditinggalkan.
Bila SDM yang bermigrasi itu bermutu (berpendidikan tinggi dan punya high skill), maka wilayah baru yang dimasukinya akan mendapatkan manfaat sebab SDM yang baru masuk tersebut berpotensi menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah. Seperti halnya hubungan X, Y, dan Z. Ketika X ternyata adalah pasangan yang dapat melengkapi Z, maka hubungan keduanya akan menjadi simbiosis mutualisme.
Namun bila SDM yang bermigrasi itu kurang bermutu, maka SDM tersebut hanya akan menjadi beban bagi wilayah baru yang dimasukinya. Untuk contoh konkretnya, lihat saja Jakarta yang penuh seabrek manusia yang ‘rebutan’ oksigen. Hehehe. Okay, begitu pula untuk hubungan X dan Z. Jika ternyata X cuman bisa menguras kantong Z sedalam-dalamnya, maka X hanya menjadi beban dan berpotensi ‘ditendang’ dari kehidupan Z.
Migran yang bermigrasi hanya karena daya tarik suatu kota tanpa menghitung cost dan benefit kesesuaian kebutuhan kota itu dengan dirinya, biasanya setiba di kota tujuan hanya bingung tak tahu hendak melakukan apa, hingga akhirnya hanya menjadi beban tanggungan sebuah kota.
Namun jika migran bermigrasi karena daya dorong, biasanya dia akan lebih struggle karena kondisi di wilayah asalnya lebih buruk daripada kondisi wilayah yang baru didatanginya. Tapi hal ini juga tidak bisa dipastikan sebab kondisi setiap migran tentu saja berbeda-beda.
Jadi, untuk yang galau tingkat dewa dan ingin bermigrasi hati, silakan dihitung-hitung dulu cost dan benefitnya sebelum mewujudkan migrasi hati. Kalau di migrasi nyata, seseorang bisa saja datang dan pergi sesuka hati bolak balik ke kota A lalu ke kota B tanpa ada yang dikecewakan mendalam. Sedangkan untuk migrasi hati, selalu ada potensi akan ada yang’terluka’. :D
Semoga bermanfaat!…

Buku Bodo

Oleh: Dyah Restyani


Bertemu dengan orang baru, seringkali menjadi pengalaman menyenangkan tersendiri. Karena selain bertatap muka dengan wajah baru, kita juga bisa mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru. Di acara Belajar Metodologi Penelitian Bareng DR_Consulting dan MIB yang diadakan Ahad 3 Maret 2013 lalu, saya berkesempatan mendapatkan pengetahuan baru dari salah seorang peserta kegiatan. Pengetahuan baru tersebut tidak ada tertulis di buku-buku, sebab hanya diperoleh melalui pendekatan kultural.
Namanya B, seorang alumni jurusan Akuntansi dari salah satu universitas di Makassar. Dia orang Maluku asli. Asalnya dari Maluku Tenggara, tidak jauh dari Kota Tual katanya. Dia cukup banyak bercerita tentang Maluku, sebuah wilayah yang saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana, tahunya cuman dari peta di atlas saja. Hehhee.
Dia bercerita tentang bagaimana keadaan transportasi di sana. Di Maluku, orang-orang dominan menggunakan sarana transportasi laut, dibandingkan dengan transportasi umum darat semacam angkot. Hal itu wajar karena memang wilayahnya terdiri dari pulau-pulau kecil.
Satu hal menarik yaitu ketika dia sedang asik bercerita, berkali-kali hp nya berbunyi karena rentetan sms-sms yang masuk.
“Heran saya ini, selalu saja ada sms-sms togel yang masuk di inbox.” Katanya sambil tersenyum lebar nyaris tertawa.
Saya hanya tertawa kecil dan berkata
“Kamu pakai nomor tel***sel ya? Kalau nomor-nomor provider itu memang sering penggunanya dapat sms togel-togel itu. Adik saya juga sering, sampai kesal dia dan mau ganti nomor. Hehhehee”
“Iya, aneh sekali ini. Togel ini di daerah saya lagi marak-maraknya.”
“Oh ya? Togel itu seperti apa si? Saya malah nggak tahu togel itu kayak gimana.”
“Togel itu semacam taruhan. Jadi tiap orang yang ikut, pasang minimal 1 nomor. Satu nomor itu harganya seribu, biasanya mereka pasang minimal 1000 nomor, jadi ya minimal 1 juta.”
“Terus? Nomor-nomor itu dikemanain?”
“Nomor-nomor itu dikumpulin ke Bandar, lalu diteruskan ke pusat, katanya pusatnya di Singapura. Tapi saya nda tau juga apa itu benar atau tidak, dan kalau benar, jauh juga di Singapura. Nah nanti tiap ada nomor yang menang, dapat kabar lewat sms dari Bandar.”
“O..terus itu sistemnya gimana? Maksudnya ngundinya gimana? Pakai mesin random kali’ ya? Hehee”
“Iya, dengar-dengar begitu. Jadi pusat input nomor-nomor mereka, lalu pencet tombol randomnya, yang keluar nomornya itu yang menang. Sepertinya kayak gitu, saya juga belum pernah lihat langsung”
“Wah, menggantungkan nasib dari hasil pencet tombol doang donk ya?  Hihihiii..lagipula, apa iya bener nomor-nomor mereka diinput? Mungkin aja di servernya itu sudah ada database nomor urut dari angka 1 sampai 1juta, jadi mo mereka pasang nomor 999.991 juga dah ada di database. Kalau mereka input nomor kan pastinya ribet. Beda kalau databasenya dah ada, lalu si ‘pusat’ tinggal tekan klik tombol random.”
“Iya, itu dia saya heran juga di kampung saya lagi marak-maraknya menggantungkan nasib pada undian begitu. Bahkan sampai ada yang bisa bangun rumah baru, dan bayar sekolah anak-anaknya hanya dari togel. Makanya yang lain jadi pada tergiur dan ikut-ikutan.”
“Wuiihh….gila juga ya.. Lalu mereka biasanya pilih nomornya gimana?”
“Nah, di kampung saya itu ada yang namanya Buku Bodo. Itu semacam buku petunjuk nomor togel. Hahaa.. tapi para pemain togel itu biasanya lebih percaya mimpi daripada Buku Bodo.”
“Buku Bodo? B-o-d-o?”
“Iya.. bodoh.. Tapi kalau di Maluku bilangnya ya cuma ‘bodo’.”
“Itu kenapa disebut buku bodo? Isi bukunya apa? Ukurannya kayak gimana?”
“Ukurannya kayak buku besar akuntansi. Isinya itu nomor-nomor yang pernah menang, terus ada hitung-hitungannya yang saya juga tidak paham, soalnya hanya pernah lihat langsung 1 kali. Buku itu disebut buku bodo karena kalau yang main togel ngambil nomor dari situ lalu dia gagal, maka nasib buruknya itu disebabkan karena buku bodo, maksudnya itu karena kebodohan si buku. Makanya disebut buku bodo.”
“O..begitu. Menarik juga ya. Itu maksudnya hitung-hitung apa mereka di buku itu?”
“Semacam hitung probabilitas-probabilitas gitu.. Nomor yang menang dikali apa gitu, bingung juga saya, yang jelas isinya angka-angka.”
“Yang pertama kali bikin buku itu siapa? Terus itu buku kuno atau sejak kapan adanya?”
“Tidak tau siapa yang pertama kali bikin buku itu. Hahaa..itu bukan buku kuno, dulu tidak ada buku semacam itu. Buku itu sepertinya baru mulai ada sekitar tahun 2009 atau 2010. Karena sewaktu 2008 saya di kampung, belum ada fenomena buku bodo itu.”
“O..begitu. Lalu yang soal mimpi tadi itu gimana ceritanya?”
“Jadi kalau ada orang mimpi melihat angka, nah, keesokan harinya angka itu dipakainya untuk pasang nomor togel.”
“Hanya dari mimpi?”
“Iya. Mereka lebih percaya mimpi daripada buku bodo. Mungkin karena buku bodo itu pakai dihitung-hitung dulu, jadi agak ribet, sedangkan kalau dari mimpi kan berbeda.”
Belajar Probabilitas tanpa Melalui Bangku Kuliah
Dalam cerita buku bodo di atas, kita dapat mengetahui bahwa masyarakat di wilayah tersebut sudah menggunakan konsep probabilitas. Mereka menggunakan konsep ‘learning by doing’ yang mereka tidak sadari.
Sekedar untuk mengingat kembali, di statistika, ada 2 macam probabilitas berdasarkan pengamatannya yakni:
– Probabilitas objektif
Yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dihasilkan dari sesuatu yang dapat dihitung. Misalnya: menghitung probabilitas munculnya angka 3 dari 1 kali pelemparan dadu. Probabilitas munculnya angka 3 dari 1x pelemparan dadu yakni 1/6. Contoh lainnya yaitu penggunaan buku bodo dalam menentukan pilihan nomor kemungkinan juga termasuk dalam probabilitas objektif ini (penulis masih menyebut “mungkin”, sebab penulis sendiri belum tahu bagaimana konsep hitung-hitungan yang dipergunakan dalam buku bodo tersebut).
– Probabilitas subjektif
Yaitu kemungkinan-kemungkinan yang disimpulkan dari hal-hal yang bersifat intuitif. Probabilitas ini didasarkan atas penilaian seseorang dalam menentukan tingkat kepercayaan, tanpa melibatkan pengalaman sebagai dasar perhitungan probabilitas. Contohnya ya menentukan nomor togel berdasarkan mimpi.
Nah, pada akhirnya kita jadi tahu bahwa ternyata beberapa orang dari masyarakat Maluku Tenggara bisa belajar probabilitas tanpa harus masuk kelas statistika. Pelajaran probabilitas yang mereka peroleh dari wilayah-wilayah kultural, pada kenyataannya membuat mereka lebih tertarik untuk mendalaminya, hal ini lebih cenderung karena mereka melihat adanya sisi manfaat dari pelajaran probabilitas sederhana tersebut.
Seperti itu pula lah sebenarnya ilmu. Makin kita mengetahui manfaatnya apa, makin kita menyadari ilmu tersebut nantinya untuk apa, maka makin bersemangat pula kita ingin terus mempelajarinya dan menggalinya lebih dalam.
Yuk, terus belajar dan berbagi!… ;)
Happy Monday!… ^_^

*tulisan ini juga diposting di blogpribadi Dyah.
** illustration pict modified from freedigitalphotos.net

Should I Accept the London School of Economics PhD Economics Offer?

Saya keterima di LSE? Aamiin. Hehehe. Bukannnnnnnn, judul ini memang berasal dari diskusi di sebuah forum bernama www.urch.com. Nggak tahu sih forum tadi terkenal apa nggak, cuman dapet dari google aja. Judul di atas ini saya dapat di laman ini setelah mencari-cari di google dengan kata kunci: [Ph.D in Economics LSE].

Image 

Beda Kelas Beda Pertanyaan

Nha, dalam diskusi itu ane kayak membaca Kompasiana, kadang yang lucu bukan artikel utama, tapi komentar-komentarnya. Dari sana ane melihat beberapa hal-hal sebagai bahan perenungan ane sebelum sekolah besok.

Pertama-tama, misal kamu ditanyain gitu jawaban Anda gimana? yang anak Ekonomi? Awalnya, kalo saya sih pengen nyakar-nyakar si penanya!!! (hehehe, selow selow).  Gimana nggak, dapat sekolah itu susah dan dapat satu beasiswa saja sudah alhamdulillah. Buat ane yang kecerdasannya di bawah rata-rata untuk masuk perguruan tinggi ternama, masuk LSE merupakan mimpi di siang bolong. Bagai pungguk merindukan bulan. Meskipun begitu, wajar bagi beberapa orang pertanyaan kayak gitu karena memang mereka sudah berada pada taraf bisa memilih.

Aye jadi inget, dosen aye pernah bilang, waktu awal sekolah S2 memang bukan pada kondisi belum bisa memilih, tapi suatu saat nanti jika sudah berada pada “kelas”-nya kita bisa kok kayak mereka. Uniknya, katanya ada fenomena menarik mahasiswa master pas sudah sekolah di luar negeri. Awal-awal punya ambisi bisa masuk di sekolah-sekolah top pas S3 entar. Eeee, akhirnya layu sebelum berkembang. Setelah ngalamin susahnya sekolah di master, lulus S3 di sekolah biasa-biasa aja udah syukurrrr  :D

Takut atau Over Expectation?

Perenungan lain setelah mbaca-mbaca diskusi kayak gitu, lama-lama ane mikirnya jadi beda gan. Iya sih si penanya pinter (Coba lihat profile-nya dan jika memang itu bener lho dia ngomongin profilenya. hohoho) dan pantes jika diterima di lembaga pendidikan bagus seperti di LSE. Tapi dia pun ternyata juga ditolak oleh 10 institusi yang lain yang menurut dia ok (Dia kebanyak ditolak sekolah Ivy League). Nah, pinter aja nyoba apply sekolah aja banyak apalagi kayak ane gan, dan mungkin agan-agan yang IPK-nya nggak cumlaude kayak ane kudu apply lebih banyak lagi (kite senasib). hehehe.

Selain itu, orang-orang dalam obrolan itu kok kayaknya mereka nggak takut ngomongin hal-hal yang gede. Misal dia si penanya udah daftar tuh ke rombongan top schools in economics. Lah, kenapa ane nggak nyoba kayak die? Bener apa nggak, katanya lulusan UGM itu nampa uga nrimo atawa gampang bersyukur. Belum tahu ada penelitian yang membuktikan sih, cuman dari beberapa pengamatan kayaknya seperti itu. hehe. Dan saya lulusan UGM :D Atau bisa jadi bukan karena nrimo  tapi karena takut nggak diterima? Haaaaa kalo ini sepertinya harus ane evaluasi, toh ane anak Ilmu Ekonomi UGM juga telah melewati persaingan ketat dengan ribuan calon mahasiswa buat lulus UM kemudian lulus skripsi hingga wisuda. Perenungan tahun kemaren sih yang ane dapat itu jangan terlalu jahat ama diri sendiri, PEDE dikit lah napa jadi orang. Hohoho.

Disamping minder, penyakit yang lain adalah tersering over expectation ama kampus atau institusi yang hendak kita masuki. Ane dulu mikirnya nggak bakalan lulus dari UGM, karena takut akan ekonometri, matematika dan statistika. Sampai aye pernah dapat E buat mata kuliah Ekonometrika II gan, sungguh ter-laa-luu. Eh eh lulus juga ternyata, meski pada akhirnya kemelut IPK-nya gan. Catatan lain, ane pernah nemuin dan kenal beberapa orang yang pernah kuliah di LSE, Cambridge, Harvard, Wharton, Boston, Cornell dll, dan kesemuanya masih makan nasi gan! So, kita yang masih sama-sama makan nasi, masih bisa kok  jadi mahasiswa di YuKe atau YuEs sono. [Jangan-jangan sama-sama nasi tapi beda lauk gan :P ]

Catatan redaksi: Jangan kalah sama Maudy Ayunda gan! Si eneng ini barusan diterima di dua universitas ternama untuk jurusan EKONOMI yaitu di Oxford University dan Columbia University dan konon akhirnya milih Oxford. Semangat Gan, jangan kalah! Stay Hungry Stay Foolish!

Note refleksi nggak jelas di tengah malam saat melawan masuk angin yang mendera …
Kwitang, 18 Februari 2013

Kurva Phillips

Masih pada ingat kurva Philips kan? Kurva Philips adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara tingkat pengangguran dengan tingkat inflasi di sebuah negara. Menurut Kurva Philips, hubungan keduanya adalah berbanding negatif. Jadi ketika inflasi naik, maka pengangguran turun. Dan ketika inflasi turun, maka pengangguran naik jumlahnya. Kedua poin dalam makroekonomi ini menjadi pilihan yang begitu rumit.

Kita ingin menurunkan inflasi, namun di saat yang sama hal itu akan menyebabkan jumlah pengangguran bertambah. Kita ingin mengurangi pengangguran, namun di saat yang sama hal itu akan menyebabkan inflasi menjadi tinggi. Lalu? Pilih yang mana dong?
Tiap negara punya prioritasnya masing-masing (sebab pola kurva phillips tiap negara juga berbeda-beda), meskipun kedua hal ini (inflasi maupun pengangguran) sama-sama penting. Mau contoh?
Indonesia: Inflation Targetting
Indonesia. Ya, negara kita ini cenderung memilih mengatur inflasi ketimbang pengangguran. That’s why setiap tahunnya pemerintah kita lebih gencar mengumumkan target inflasi tahun depan. Dan di akhir periode pula, keberhasilan perekonomian selalu diukur dengan tercapainya target inflasi atau tidak. Belum pernah saya mendengar kehebohan pemerintah kita mengumumkan target pengurangan tingkat pengangguran di awal tahun dan mengumumkan realisasinya di akhir tahun (meskipun laporan statistikanya memang ada). Mungkin pengangguran hanya sekedar data statistika yang urgensinya masih kalah jauh ketimbang inflasi.
Inflasi sebagai salah satu dinamika perekonomian adalah hal yang diprioritaskan pemerintah sebab dampaknya langsung terasa di masyarakat. Seperti itu yang sering kita dengar dan kita baca di berbagai media. Iya benar. Hal itu memang benar. Ketika inflasi tinggi, maka harga-harga barang yang tinggi akan menyebabkan masyakat kita semakin tercekik dengan sulitnya memenuhi berbagai kebutuhan pokoknya. Singkatnya, inflasi dirasakan dalam jangka pendek dan memiliki efek langsung (direct effect).
Lalu, bagaimana dengan pengangguran? Pengangguran seringkali tidak menjadi prioritas utama sebab efek pengangguran tidaklah dirasakan langsung oleh masyarakat (indirect effect). Dampak yang ditimbulkan dari banyaknya pengangguran pun tidak dirasakan dalam jangka pendek, melainkan dalam jangka panjang. Walaupun demikian, jangan dianggap dampak dari melubernya pengangguran tidaklah dahsyat.
Islandia: Unemployment Targetting
Dari apa yang saya baca di buku The Geography of Bliss, saya menemukan kejutan bahwa Islandia, negara yang langitnya selalu hitam kelam di musim dingin, ternyata lebih memilih memprioritaskan mengurangi jumlah pengangguran ketimbang inflasi. Maka jangan heran dengan harga-harga yang mahal di Islandia.
Menyarikan dari apa yang ditulis oleh Eric Weiner, bagi mereka (warga Islandia), inflasi merupakan cubitan kolektif. Cubitan itu dirasakan oleh semua warga negara tanpa terkecuali. Sedangkan pengangguran adalah cubitan selektif. Cubitan yang hanya dirasakan oleh orang tertentu saja. Bagi mereka itu adalah sebuah ketidakadilan. Maka jangan heran, di Islandia, jika tingkat pengangguran mencapai 5%, itu dianggap skandal nasional dan presiden harus diturunkan.

Bagaimana dengan Indonesia? Apa jadinya ketika unemployment targetting dijadikan indikator untuk mengukur keberhasilan pemerintah mengendalikan perekonomian setiap tahunnya? Mungkin nggak ada yang mau jadi presiden karena jumlah rakyat Indonesia ada ratusan juta (yang berarti bila ada 5% jumlah pengangguran, itu sudah termasuk dalam kategori sangat banyak). :D


***

Gilanya Infrastruktur Indonesia

Oleh: Muh. Syarif Hidayatullah*, 1110 kata
“Harus diakui, dibuatnya artikel ini sangat terpengaruh dari kenyataan bahwa penulis banyak berkecimpung dalam bidang infrastruktur setahun terakhir, sehingga pemikiran saya sedikit banyak terkotak dalam isu ekonomi infrastruktur. Tulisan ini saya dedikasikan kepada seluruh pembaca dan dibuat dengan maksud agar segenap pembaca bisa ada sedikit gambaran betapa buruk dan ribetnya infrastruktur yang ada di Indonesia. Dan tentunya tulisan ini penulis buat khusus untuk merayakan HUT Blog Ekonom Gila Tercinta. Selamat menikmatinya….”
Mana yang lebih murah, beli (mendatangkan) jeruk dari Medan atau beli (mendatangkan) jeruk dari China. Jawabannya jelas, mendatangkan Jeruk dari Mandarin jauh lebih murah dibandingkan mendatangkan jeruk dari Medan. Apakah hal ini disebabkan oleh rendahnya upah buruh di China?mungkin saja. Atau karena jeruk dari China adalah barang imitasi?itu bisa juga. Tapi, alasan sebenarnya adalah biaya logistik yang dikeluarkan eksportir dari China jauh lebih murah dibandingkan biaya logistik produsen Indonesia.
Medan-Jakarta tentunya jauh lebih dekat dibandingkan China-Jakarta. Tetapi, untuk membawa Jeruk dari Medan-Jakarta, distributor harus melewati 70 jenis pungutan (dari yang formal hingga liar) dan melewati jalan/pelabuhan yang kondisinya sangat jauh dari layak, sehingga biaya logistik di Indonesia menjadi sangatlah mahal. Contoh lainnya adalah, jika anda mengapalkan kontainer 40 feet dari Teluk Bayur (Sumatera Barat) menuju Jakarta, maka anda harus meronggoh kocek US$ 600, sedangkan biaya dari Singapura-Jakarta hanya membutuhkan US$ 185.
Jika anda mengapalkan jeruk anda dari Medan menuju Jakarta, maka harap bersabar ketika memasuki Pelabuhan Tanjung Priok. Waktu yang diperlukan untuk melakukan proses pemasukan barang di pelabuhan Tanjung Priok rata rata mencapai 7 hari, lebih lama dari proses kepabeanan yang memerlukan waktu 5,5 hari, sementara itu di Singapura hanya 1 hari, USA dan Jerman 2 hari, dan Jepang 3,1 hari.
Hal ini terjadi karena traffic di Pelabuhan Tanjung Priok sudah sangat tinggi dan kapasitas pelabuhan Tanjung Priok sangatlah terbatas. Sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia, ternyata Tanjung Priok hanyalah liliput di bandingkan pelabihan dunia. Kapasitas kontainer Tanjung Priok hanyalah 3,6 Juta teus. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 28 juta teus, Belanda 11 Juta teus, dan Malaysia 6,5 juta teus. Padahal Pelabuhan Tanjung Priok ini menopang 70% arus barang dan jasa di Indonesia.
Tidak selesai dipermasalahan pelabuhan. Buruknya infrastruktur di Indonesia juga meliputi akses jalan yang terbatas, Bandar udara yang sudah overloaded, dan rel kereta api yang sebagian besar masih peninggalan Belanda. Dan ironisnya lagi, banyak dari rel kereta api Indonesia yang tidak terpakai. Saat ini di panjang rel kereta api di Indonesia mencapai 7.883 Km, akan tetapi yang beroperasi hanya sepanjang 4.441 Km, sisa 3.442 Km dibiarkan menganggur.  
Masalah kemacetan, khususnya di Jakarta, juga disebabkan buruknya infrastruktur di Indonesia. Data menunjukkan bahwa kecepatan tempuh rata-rata kendaraan pada jam sibuk di Jakarta hanya mencapai 13-15 Km/jam, sangat jauh dibandingkan dengan kecepatan tempuh perkotaan di kota-kota di Jepang (20 Km/jam) ataupun di Inggris (40 Km/jam) (Parikesit, 2011).
Hal ini diperparah dengan kenyataan semakin menjamurnya kendaraan bermotor di Jakarta. Menurut data Polda Metro Jaya (2010), setiap tahunnya ada penambahan 364.810 unit sepeda motor dan 50.880 mobil baru di DKI Jakarta. Buruknya kualitas dan keamanan (maraknya tindak criminal di angkutan kota) menyebabkan masyarakat memilih untuk mengkonsumsi kendaraan pribadi dibandingkan naik kendaraan umum. Hal ini terbukti bahwa saat ini pangsa pengguna angkutan umum terus menurun. Pada tahun 2002, share penggunaan angkutan umum untuk pergi ke tempat kerja masih sebesar 38,3%, sedangkan pada tahun 2010 hanya 12,9% yang menggunakan jasa angkutan umum (JUTPI, 2010).
Buruknya infrastruktur Indonesia inilah yang selalu dikeluhkan oleh investor dan pebisnis Indonesia. Menurut hasil survey, 30% pebisnis Indonesia di 240 Kabupaten/Kota sepakat bahwa infrastruktur adalah hambatan utama dalam menjalankan bisnis di Indonesia. Permasalahan infrastruktur ini menyebabkan high cost economy yang pada akhirnya membuat konsumen tidak dapat menikmati harga barang yang murah. Diperkirakan biaya logistik di Indonesia mencapai 27% dari nilai GDP, padahal rata-rata negara maju dan berkembang hanya sebesar 10% dari GDP. Hal inilah yang membuat produk Indonesia sulit berkompetisi dengan produk dari negara lain.
2 Hambatan
Ada dua hambatan utama dalam pembangunan infrastruktur, pertama ketersediaan lahan, kedua keterbatasan anggaran. Masalah lahan menjadi momok utama dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Banyak proyek infrastruktur yang tidak bisa berjalan akibat ada salah satu bagian lahannya (yang bahkan hanya sebagian kecil) belum dapat dibebaskan.
Kedua adalah masalah pendanaan. Membangun infrastruktur tentunya butuh dana. Dan mustahil bagi pemerintah untuk menyediakan anggarannya. Menurut RPJMN 2010-2014, kebutuhan dana pembangunan infrastruktur mencapai Rp.1400 Triliun. Yang bisa disediakan oleh pemerintah (APBN) hanyalah Rp.600 Triliun. Sisa Rp.900 Triliun harus digantungkan kepada BUMN dan Swasta. Yang jadi pertanyaan, apakah sektor swasta bersedia untuk menanamkan modalnya di sektor infrastruktur Indonesia.
3 Harapan
Menyambut tahun 2012, ada harapan besar yang dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Pertama, adanya komitmen pemerintah melalui MP3EI. Kedua, disahkannya UU Pengadaan Lahan Untuk pembangunan Bagi Kepentingan Umum. Ketiga, dinaikkannya status Indonesia menjadiinvestment grade oleh Finch.
Pemerintah berkomitmen untuk melakukan percepatan pembangunan infrastruktur melalui MP3EI. Tidak tanggung tanggung, ditargetkan hingga 2014, nilai investasi untuk infrastruktur mencapai Rp.1700 Triliun. Komitmen inilah yang harus terus kita tagih ke Pemerintah.
Terselesaikannya UU Pengadaan Lahan diharapkan dapat menuntaskan permasalahan lahan yang menghantui Indonesia selama ini. Dalam UU ini diatur empat proses pengadaan lahan, yaitu perencanaan, pengadaan , pelaksanaan dan penyerahan hasil. Menurut hasil kalkulasi penulis, lama waktu yang ditargetkan oleh UU ini untuk membebaskan paling cepat 238 hari, dan paling lama (dengan estimasi ada keberatan dari pemilik lahan) mencapai 512 hari. Hal ini tentunya cukup melegakkan karena selama ini untuk pembebasan lahan untuk proyek jalan tol membutuhkan waktu 4-5 tahun.
Finch baru saja menaikkan grade Indonesia menjadi investment grade (BBB-). Diharapkan kenaikan ini dapat memperderas arus modal asing ke Indonesia. Derasnya arus modal asing ini bisa dimanfaatkan Indonesia untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Saat ini terdapat 79 proyek PPP (public private partnership) infrastruktur senilai US$ 59 Milyar di Indonesia, dimana 13 diantaranya dalam status “ready for offer projects” (PPP Book 2011, Bappenas). Jika modal asing bisa diarahkan untuk membiayai keseluruhan proyek ini, tentunya akan menopang upaya percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
2 pekerjaan rumah
Untuk mempercepat keseluruhan proyek infrastruktur di Indonesia, setidaknya ada dua pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Pertama, segera menyelesaikan PP (Peraturan Pemerintah) pelaksana dari UU Pengadaan lahan. Kedua, perbaikan dari skema PPP. Perbaikan skema PPP bisa dimulai dari memperbaiki pipeline creation (penyusunan daftar proyek) dari PPP. Dalam hal pipeline creation, komitmen pemerintah masih dipertanyakan. Contohnya, dalam PPP Book 2011 yang diterbitkan oleh Bappenas, proyek pembangunan Monorail Jakarta dicantumkan sebagai proyek yang “already tendered”. Tapi, seperti yang kita tahu, Gubernur DKI Jakarta justru membatalkan proyek tersebut. Hal ini tentunya harus dievaluasi pemerintah, agar penetapan proyek PPP dilakukan dengan lebih baik.

Infrastruktur selama ini menjadi hantu dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Dan hantu ini akan selamanya menggentayangi perekonomian apabila pemerintah tidak menjalankan komitmennya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Apabila percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia berjalan lancar, maka mimpi memiliki pendapatan perkapita US$ 14.500 di tahun 2025 dapat tercapai.




*kontributor EG.