Membangkitkan Prof Leontief dari Alam Kubur

Oleh A.P. Edi Atmaja
ABAD Industri telah membuat Bumi kian renta. Pembangunan ekonomi dan industri dijadikan dalih buat perusakan lingkungan hidup. Pohon-pohon ditebangi. Hutan-hutan digunduli. Sumber daya alam dikeruk dengan demikian rakusnya tanpa menyisakan ruang bagi berkicaunya burung-burung.
Pergolakan rakyat di beberapa tempat di Nusantara, sebagaimana yang telah dan tengah terjadi di Papua, Sumatra, dan Nusa Tenggara, adalah lantaran kerakusan kapitalisme dan penganut-penganutnya. Kelestarian lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal diletakkan di nomor sekian setelah laba. Kearifan lokal yang menghamba pada alam ditelikung. Cukong-cukong kapitalis bermain dengan bengis tanpa menyediakan ruang bagi kemanusiaan.
Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yang diperkenalkan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) sejak 1987, rupanya mentah di tataran pelaksanaan. Protokol Kyoto 1998 beserta trisulanya, emissions trading, clean development mechanism (CDM), dan joint implementation (JI), tak dicamkan secara serius, bahkan oleh negara pencetusnya, Amerika Serikat. Semua itu semakin meneguhkan bahwa ekonomi adalah faktor penentu yang mampu mengatasi faktor-faktor yang lain, seperti politik, hukum, dan, bahkan, moral.
Padahal, ada keterkaitan serius antara kegiatan ekonomi dan kerusakan lingkungan.
Wassily Leontief, penerima hadiah Nobel di bidang Ekonomi tahun 1973, menjelaskan tesis itu dalam sebuah model, yang dinamakan Tabel Analisis Input-Output. Model itu bisa digunakan untuk menganalisis dampak kegiatan ekonomi terhadap kerusakan lingkungan dan, sebaliknya, dampak kerusakan lingkungan terhadap kegiatan ekonomi.
Dampak penebangan pohon untuk pendirian pabrik, misalnya, dapat diprediksikan. Hilangnya pohon-pohon tentu bakal memperkecil daerah resapan air, sehingga dipastikan akan timbul banjir. Banjir bisa menghambat proses produksi: karyawan tidak bisa sampai ke lokasi kerja karena banjir. Belum lagi, ketika banjir bandang terjadi, tentu bisa merusak pabrik, yang lalu bakal mematikan proses produksi.
Dalam contoh Prof Leontief, dipaparkan pengaruh pengikisan tanah terhadap efektivitas sebuah dam dalam menghasilkan aliran listrik. Untuk itu, diperlukan beragam data yang lengkap soal kemiringan lahan, tingkat pengikisan tanah, dan sebagainya. Setelah data diperoleh, pendangkalan dam atau debit air bisa dihitung. Data itu juga bisa dipakai untuk mengukur voltase listrik sesuai dengan kekuatan turbin yang digerakkan listrik. Kemudian, akhirnya diperoleh dampak pengikisan tanah terhadap listrik yang dihasilkan. Pasokan aliran listrik jelas akan memengaruhi kegiatan ekonomi secara keseluruhan.
Semua pelaku usaha, apalagi yang berskala besar, semestinya memerhatikan model ekonomi ini. Kegiatan yang mereka lakukan akan berimbas pada keberlangsungan usaha mereka di masa datang. Sementara itu, buat Negara Berkembang semacam Indonesia, model ini tepat guna mengerem pembangunan yang jor-joran tanpa dipikir dan dianalisis masak-masak.
Dalam sumbangsarannya, Prof Leontief bilang, informasi (data) yang rinci menjadi suatu keharusan untuk menerapkan Tabel Analisis Input-Output. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama sangat mesra yang melibatkan seluruh disiplin ilmu, tak cuma ilmu ekonomi.
Prof Wassily Leontief lahir di München, Bayern, Jerman, pada 5 Agustus 1905. Dalam usia 19 tahun ia sudah menerima gelar Ekonom Terpelajar, yang kini setara dengan Master of Arts (MA). Pada 5 Februari 1999, ia meninggal di New York City, Amerika Serikat.
Semoga semua pelaku ekonomi negara ini, dan juga negara lain di dunia, segera sadar. Dan tak perlu menunggu Prof Leontief bangkit dari alam kubur untuk mengomeli kalian. [09022012, 13.15]
*) Teori ekonomi yang dipaparkan di sini mengacu sepenuhnya dari Simon Saragih, “Prof Dr Leontief: Dampak Polusi terhadap Ekonomi Bisa Diperhitungkan sejak Dini”, dalam Esai-esai Nobel Ekonomi, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008).