Pinter Milan


Oleh: Yoga PS
Kemarin saya berkesempatan menonton Inter Milan melawan Indonesia Selection. Alhamdulilah, dapet tiket gratisan dari kantor. Hehehe. Disuruh bayar sendiri? Ogah!!! Mana mungkin saya rela membayar 3,5 juta hanya untuk melihat pemain lapis kedua Inter mengajari pemain kita cara bermain bola.
Dan seperti sudah tertulis di kitab lauhul mahfuz, Inter KW 1 mengorak-arik (emangnya telor?!?) pertahanan Indonesia selection yang sempat menekan di awal-awal babak pertama. Skornya cukup 3-0. Hasil giringan Longo di babak pertama (eh beneran digiring doank ke dalam gawang kan!), tendangan Pazzini plus tusukan Luca Tremolda.
Terlepas dari permainan tak berimbang setengah lapangan (apalagi di akhir babak II), Andik yang udah empot-empotan lari tapi tetep kesusahan menjebol gawang Inter, Maicon yang lupa daratan karena ga pernah menghuni posisi bek kanan, dan kiper Inter Rafaelle Di Gennaro yang saking nganggurnya lebih sering ngopi-ngopi daripada menjaga gawangnya sendiri, ada dua pelajaran yang bisa kita ambil.

Kelas Menengah
Segi positif pertamanya, saya bisa tahu tampang pemain yang selama ini hanya menghuni reserve team di game football manager yang biasa saya mainkan. Hehehe becanda. Yang pertama tentu saja soal kebangkitan kelas menengah Indonesia.
Kedatangan tim sekelas Inter hanyalah puncak gunung es fenomena hausnya masyarakat Indonesia (Jakarta lebih tepatnya) akan hiburan kelas dunia. Karena itulah artis luar negeri dari yang brondong kaya Suju (kalo saya suka Suju syukur :p), bangkotan sekelas NKOTB, dan kontroversial seperti Lady Gagal (uda pasti ga jadi kan?) laku keras di negeri ini.
Banyak interisti yang berbondong-bondong datang dari luar kota. Teman saya dari Cirebon rela cuti 3 hari demi Inter. Interisti bahkan sudah stand by menyambut pemain di bandara Soetta. Lalu di spanduk stadion terpampang jelas spanduk Interisti dari seluruh penjuru tanah air. Ada yang dari Tomohon, Tegal, sampai.. KEDIRISTI… saya sampe ngakak waktu pertama kali baca.
Sesuatu yang tidak bisa dipungkiri, tumbuhnya kelompok masyarakat dengan buying power yang semakin kuat membuat mereka membutuhkan entertainment yang berkualitas. Lebih tepatnya, mereka haus akan ritual konsumsi untuk menegakkan eksistensi. Mengutip Yuswohady dalam Consumer 3000, jika kita menggunakan standar Asian Development Bank (ADB), maka kelas menengah adalah masyarakat dengan pengeluaran perhari sebesar USD2-20. Dan saat ini jumlah mereka telah mencapai sekitar 135 juta atau hampir 60% masyarakat kita. Kelas ini tumbuh pesat sekitar 8-9 juta orang pertahunnya. Tapi masih tetap termasuk kelas mamalia koq. Hehehe.
Kelas menengah ini datang ke stadion bukan hanya untuk menonton 22 orang rebutan satu bola. Mereka juga tidak sekedar mendukung kesebelasan favoritnya. Lebih dari itu, mereka butuh pengakuan dan sarana mengekspresikan diri. Maka jangan heran, jika sebelum mereka datang ke stadion, wall dan timeline mereka penuh dengan screenshot ticket pertandingan.
“Otw ke GBK nih..”
“Zanetti.. tunggu gw ya…”
Begitu kira-kira bunyi tweet atau status mereka. Lalu seperti ritual beribadah, mereka datang dengan kostum “peribadatan” hitam biru. Menyanyikan “pujian” berupa lagu-lagu dukungan dan tak lupa memasang “bendera kebangsaan” Inter. Saya melihat interisti di tribun utara yang paling fanatik. Mereka juga yang memulai Mexican wave di stadion.
Penonton kelas menengah ini sungguh modis. Menonton dengan aksesoris sporty, gadget terbaru, dan foto narsist di stadion. Setelah pertandingan, mereka tak lupa untuk ganti profpic BBM biar gaul. Bahkan penonton wanita cukup banyak. Ada yang lengkap dengan hot pants dan tank top biru hitam. Pakaian yang bisa membuat mereka kehilangan kehormatan jika dipakai untuk nonton Liga Indonesia di tribun ekonomi (lebayyy :p).
Penonton memberikan dukungan dengan tertib. Karena memang ini hanyalah laga eksebisi untuk hiburan. Tidak ada tekanan. Tidak ada lemparan air kencing dalam air botol plastik yang pernah saya saksikan waktu nonton final Liga Super Indonesia (untung ga kecipratan). Tidak perlu juga pakai helm ke stadion. Dan tidak perlu menghubungi agen asuransi kendaraan ketika pulang. Hehehe.

Potensi
Pelajaran kedua yang bisa diambil: betapa potensialnya dunia persepakbolaan kita. Lengkap dengan suporter yang fanatic, pasar yang gemuk ditunjang daya beli semakin kuat, dan berlimpahnya talenta pesepakbola dari Sabang sampai Merauke. Sepakbola Indonesia memiliki potensi untuk menjadi industry yang menjanjikan, jika dikekola secara professional.
Hal itu bisa terwujud kalau PSSI udah bosan gontok-gontokan dan sadar jika sepakbola itu cabang olahraga, bukan cabang politik, apalagi cabang korupsi!.
Sebagai pecinta sepakbola (sampai skripsi saya tahun lalu bertema sepakbola), keinginan kami sederhana: ada kompetisi berjenjang yang jelas dari usia dini hingga tingkat klub professional. Dan kami rela membayar lebih mahal untuk pertandingan berkualitas. Jangan dikira semua pecinta sepakbola itu ga modal, masuk ke stadion ga mau bayar tiket, dan bisanya hanya ngerusak kalau timnya kalah.
Kita tidak butuh dua kompetisi dan dua pengurus PSSI (terkadang malah saya berpikir jika kita tidak butuh PSSI sama sekali :p). Kita hanya perlu mengembalikan sepakbola ke ruh sepakbola itu sendiri. Sebuah cabang olahraga yang menjunjung sportifitas dan kolektifitas.
Jika tidak, kita selamanya hanya akan menjadi bangsa penonton. Bermimpi ikut Piala Dunia sambil hanya bisa menonton tim kesayangannya berlaga di layar kaca seminggu sekali, dan sekali-kali membayar mahal sekali untuk melihat tim kesayangannya “berlatih” di negerinya sendiri. Kita hanya dipandang sebagai Negara dengan konsumen sepakbola besar, bukan sebagai Negara dengan prestasi sepakbola yang besar.
Siapa yang diuntungkan dari pertandingan ini? Tentu saja promotor dan Inter Milan sendiri. Promotor untung karena dapet duit dari tiket dan sponsor. Sedangkan Inter untung karena sambil liburan ke Asia dapat bayaran mahal, perluasan ekspansi bisnis, bisa membuka sekolah sepakbola, hingga menambah jaringan talent scout (nama Andik masuk website resmi Inter).

Well, Inter memang pinter.

F-Biz (Football-Business, sok-sok ngikutin E-Biz or Show-Biz)

Oleh: Priyok

Sebagai olahraga yang paling digandrungi di seluruh dunia. Sepakbola kini telah berubah sepenuhnya dari sekedar olahraga yang berurusan dengan tending-menendang bola, menjadi pertarungan memperebutkan utang, investasi, sponsorship, dan hal-hal yang berkaitan dengan uang lainnya. Mungkin kita hanya melihat bagaimana Messi memainkan bola, Ronaldo dengan liukannya, Eto’o yang menceploskan bola ke gawang lawan, atau Jimmy Napitupulu yang dalam pertandingan yang dipimpinnya, disuruh berhenti oleh Kapolda Jateng.

Namun dibalik itu semua, sosok seperti Sensi, David Gill, Peter Kenyon, Florentino Perez, ataupun Umuh Muchtar sedang melakukan pertandingannya yang lain. Bagaimana caranya klub yang mereka kelola bisa selamat secara keuangan. Karena belum tentu klub yang secara prestasi menggembirakan, mempunyai daya going concern yang cukup. Masih ingat ketika Lazio mendapat scudetto tahun 1997?Tak lama kemudian, nama-nama seperti Crespo, Veron, Sergio Conceicao, dan legenda mereka, Nesta, dijual untuk menutupi utang mereka. Dan Lazio pun dalam kancah persepakbolaan dewasa ini hanya menjadi tim medioker.

Lebih tragis lagi sebenernya menimpa klub-klub di Indonesia. Kita ambil contoh PSIS Semarang dan PSPS Pekanbaru. Tak terduga, PSIS yang sama sekali tak diunggulkan menjuarai Liga Indonesia di Manado dengan mengalahkan Persebaya lewat gol tunggal “Maradona” di akhir injury time. Di awal musim berikutnya, seretnya uang membuat klub ini menjual bintangnya, sehingga musim berikutnya mereka terdegradasi.

Kita di sini akan membahas sedikit tentang bisnis sepakbola. Basic pendapatan sebuah klub sepakbola biasanya terdiri dari kategori : marketing, tiket, dan television. Revolusi industri sepakbola dimulai awal 2000an. Dulu, semua klub hanya memiliki mindset bahwa untuk menggenjot pemasukan, maka tiket adalah panglimanya. Dari situlah inovasi-inovasi tentang dunia pertiketan dan pengembangan stadion secara besar-besaran dilakukan, pembangunan stadion baru tercatat melonjak di rentang tahun 1985-1995, era dimana tiket menjadi panglima (Data FA, 2007). Di era F-Biz modern, tiket, walau masih menjadi salah satu pilar pendapatan, tak lagi menjadi panglima. Mindset tentang bisnis klub sepakbola telah berubah. Para financial engineer di sepakbola telah menyadari kalau merek mereka ternyata memiliki nilai yang sangat luar biasa. Bahkan merek mereka lah sebenarnya generator pendapatan mereka. Mulai lah mereka mengeksploitasi merek mereka dengan cara inovasi merchandise, penguatan komunitas pendukung klub, dan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang walau tak nyambung dengan sepakbola, tapi dilakoni juga.

Masuklah kita hari ini ke dalam era marketing football. Di mana sepakbola bukan lagi menjual kemenangan demi kemenangan. Tapi menjual merek. Dengan merek tersebut pendapatan dari televisi pun mengalir. Tak hanya berjualan merek di apparel yang mereka buat. Merek-merek itu sekarang juga merambah pesawat, café, bahkan ketika anda membeli pulsa untuk hape anda. Joan Laporta pernah keceplosan. Biar lah klub ini tak menjuarai gelar apapun, karena itu siklus. Tapi tidak dengan neraca kami. Karena dialah kunci kebangkitan kami. So see…

Laporan dari Deloitte menunjukan bahwa sebagian besar pendapatan klub-klub besar dunia seperti Real Madrid, Barcelona, atau MU diperoleh dari pendapatan marketing (saya lagi malas hitung rata-ratanya, tapi FYI Real Madrid mencapai 48.3%). Ini mungkin menjawab kenapa klub-klub sepakbola dari Inggris sebagai kiblat industri sepakbola kini sering menjalani tur ke belahan negara lain tak lain dan tak bukan adalah untuk memperkuat merek mereka. Bahkan klub sekelas Everton kini sudah memulainya dengan menancapkan basis pendukung di Thailand. Sehingga pantas sepakbola masuk dalam kategori genre bisnis tersendiri : F-Biz. Gabungan dari kekuatan merek dan marketing yang massif.

Namun dibalik hingar bingar dunia sepak bola, sebenarnya F-Biz adalah bisnis yang tidak terlalu menguntungkan kecuali mendapatkan popularitas. Laporan Deloitte terbaru menempatkan Real Madrid sebagai klub dengan pendapatan tertinggi di dunia. Tahu berapa besar pendapatannya?hanya 438.6 juta Euro. Kok hanya?ya kalau dirupiahkan hanya sekitar 4,5 Trilyun. Pendapatan lho, bukan laba. Dengan segala glamour yang dimilikinya, klub dengan pendapatan tersebar di dunia tersebut masih kalah dengan PT Waskita Karya yang pemasukannya lebih dari 6 Trilyun!!!!Hebat juga BUMN kita yang satu itu, bisa ngalahin Real Madrid.hehehe. wajar sebenarnya kalau dibilang investasi di sepakbola dibilang tidak terlalu menarik

Saya sebenernya ingin bicara banyak tentang industri sepakbola dari berbagai sudut pandang, termasuk tentang sepakbola Indonesia. Tapi lain kali lah. Segini saja dulu berkenalan tentang F-Biz.