Feminisme

Oleh: Romadhani Hasan

Setelah membaca beberapa artikel di blog gila ini, menurut saya artikel yang paling laris dibahas kebanyakan mengangkat isu gender dan cinta. Isu-isu yang rada ga nyambung dengan ekonomi itu lalu dianalisis dengan teori ekonomi. Menarik sekaligus menggelitik, Nah.. dalam rangka ikut trend tersebut, ane berusaha untuk mengangkat isu serupa. Sebelumnya ane mohon maaf kalo ceweks (cewek-cewek) yang ada disini merasa tersinggung.

Asal-usul Feminisme menurut versi resmi
Gerakan feminisme dimulai pada abad ke-19 di Amerika Serikat dengan focus gerakan pada satu isu yaitu untuk mendapatkan hak memilih. Pada saat itu, kaum perempuan dianggap sebagai warga negara kelas dua yang disamakan dengan anak di bawah umur yang tidak boleh ikut pemilihan umum. Pada tahun 1948, sejumlah wanita berkumpul di Seneca Falls, New York untuk menuntut hak-hak mereka sebagai reaksi terhadap pelarangan pada wanita untuk bicara di depan umum. Pada pertemuan ini ada 4 hal yang menjadi tuntutan para wanita tersebut, yaitu : (1) mengubah Undang-undang perkawinan, yang menjadikan wanita dan hartanya mutlak berada di bawah kekuasaan suaminya, (2) memberi jalan untuk meningkatkan pendidikan wanita, (3) menuntut hak-hak wanita untuk bekerja, dan (4) memberikan hak penuh untuk berpolitik.
Asal-usul feminisme menurut dugaan ane
Gerakan feminisme muncul karena motif ekonomi. Pada zaman ketika para perempuan masih sibuk di dapur dan mengurus anak.. Perusahaan-perusahaan melihat bahwa para perempuan itu adalah potensi yang belum di”berdaya”kan. Potensi ini sangat besar karena kaum perempuan adalah setengah dari populasi manusia. Otak para bisnisman dan ekonom mengatakan “jika yang bekerja cuma laki-laki maka yang menghasilkan duit cuma mereka dan ini tidak cukup untuk memaksimalkan keuntungan”. Disamping itu laki-laki dalam berbelanja juga lebih rasional dan tidak emosional, sehingga advertisement yang dibuat terkadang gagal.
Maka dilakukanlah berbagai propaganda agar perempuan pergi bekerja. Propaganda itu dilakukan sedemikian halusnya sampai perempuan tidak sadar telah dicuci otaknya. Tabir kemunculan feminimisme dimulai ketika pecah perang dunia pertama dan kedua. Waktu itu para lelaki sibuk mengurus perang dan yang bekerja menjalankan roda perekonomian adalah perempuan. Mereka bekerja untuk memproduksi “aksesoris” militer dari makanan kaleng sampai pesawat terbang. Ketika perang usai, kaum perempuan enggan untuk kembali ke rumah mengurus anak. Kondisi demikian menjadi momentum yang paling tepat untuk meluncurkan gerakan feminimisme.
Dalam tahun-tahun awal feminisme. Perekonomian mengalami kemajuan pesat, banyak barang diproduksi (karena perempuan juga ikut dalam angkatan kerja) dan banyak barang dikonsumsi (istilah “perempuan suka shopping” mulai jadi trending topic). Peningkatan produksi dan konsumsi ini sekaligus meng”generate” profit para bisnisman. Feminimisme juga menjadi berkah dan ladang bisnis baru. Barang-barang kewanitaan banyak di”invent” dan diinovasi untuk memenuhi “syahwat shopping” kaum perempuan. Pada intinya semua senang dengan hadirnya feminisme. Bagi bisniman, mereka menjadi semakin kaya, Bagi laki-laki, mereka semakin bergairah keluar rumah karena banyak melihat perempuan cantik berkeliaran di muka bumi. Terlebih lagi bagi perempuan yang merasa terbebas dari kekangan dan jeruji penjara (baca: rumah n dapur)
Tapi apa yang terjadi pada masa sekarang? Perekonomian tidak melaju seperti dulu lagi, Hal ini terjadi karena generasi muda yang menjalankan perekonomian sedikit jumlahnya dan tidak sebanding dengan generasi tua yang kurang produktif. Sebabnya sudah jelas, karena kaum perempuan yang seharusnya melahirkan dan mendidik generasi baru, malah larut dalam euphoria feminisme.
Para ekonom yang dulu menilai feminisme sebagai berkah, sekarang menilainya menjadi musibah. Para ekonom dulu hanya melihat perempuan sebagai potensi yang terpendam untuk menjadi konsumen baru, tetapi tidak melihat bahwa potensi perempuan sebenarnya adalah untuk melahirkan generasi terbaik dalam mengelola kehidupan (termasuk ekonomi) di masa depan. Untuk mengatasi kemunduran ekonomi ini, para ekonom tersebut berubah menjadi “ekonom gila”. Mereka megeluarkan kebijakan “gila” dengan menaikan batas pensiun seseorang menjadi 70 tahun. Ada juga yang mengeluarkan kebijakan “gila” lainnya yaitu memberi insentif dan gaji untuk para perempuan yang mau hamil dan mendidik anak.
Ane cuma bisa tertawa melihat realita sejarah yang terjadi di barat sana, mereka yang dulu menyerukan agar perempuan keluar rumah dan melupakan urusan mendidik anak, sekarang malah menyerukan agar perempuan kembali ke rumah dan kembali mengurus anak. Ane cuma mau bilang “cape deh”
Ane jadi teringat perkataan Julia Delpy dalam film Before Sunrise (1995), dia berkata “mungkin feminisme diciptakan oleh laki-laki supaya mereka bisa bebas berhubungan dengan perempuan yang mana saja” dalam bahasa ekonomi perkataan Julia ini dapat diterjemahkan “perempuan yang dulu adalah barang private (terjadi karena ikatan pernikahan) karena feminisme berubah menjadi barang publik (budaya sex bebas dsb)”
Akhir kata ane cuma mau bersyukur, Alhamdulillah ane dilahirkan ketika ibu ane belum mengenal feminisme. Sehingga ibu ane rela resign dari pekerjaannya untuk mendidik dan membimbing ane. Padahal ibu ane lulusan pondok pesantren terkenal loh.. Alhamdulillah ane ga dididik oleh MTV atau X-Box kayak generasi sekarang.

Woman Loves Money

Oleh: Titoeyt Cherry*

Ketika berjalan kaki sepulang kuliah malam dan menuju halte bus, aku berbincang dengan temanku yang berasal dari Brunei. Aku iseng sekadar tanya tentang Sultan Brunei dan kedua istrinya. Temanku malah balik nanya, istri yang ke-berapa. Dan, ternyata temanku menceritakan kalau istri Sultan Brunei hanya satu semenjak beliau menceraikan kedua istrinya yang kebetulan orang Malaysia. Kutanya alasan kenapa Sultan Brunei menceraikan keduanya, karena kedua istri mudanya suka uang, jawab temanku. Dengan singkat, aku malah menimpali, “Woman loves money…
Singkat cerita, Sultan Brunei itu menceraikan istrinya setelah kedua istri muda itu rupanya mengambil harta suaminya secara diam-diam padahal Sultan bisa memberikannya dengan cuma-cuma jika mereka meminta secara langsung. Ini ilustrasi pertama.
Ilustrasi kedua, di acara keluarga, aku berkumpul dengan saudara-saudaraku dan ketika itu tiba-tiba tanteku berceletuk kepada ayahku untuk minta dicarikan jodoh tetapi inginnya suami yang kaya. Latar belakang tanteku ia adalah wanita yang independen, sudah kerja lebih dari tujuh tahun di kantor akuntan publik tetapi rupanya meski sudah mandiri secara keuangan, calon suami yang kaya menjadi prioritas utamanya.
Ilustrasi ketiga, aku pernah membaca sebuah artikel kalo tidak salah dari Reader Digest Indonesia. Meski kini hidup di jaman modern, simbol kejantanan dan kebetinaan dari kaum adam dan kaum hawa masih berlaku. Dulu, di jaman purba, laki-laki yang kasar, kuat dan keras identik dengan kejantanan di mata perempuan. Mengapa hal ini penting? Karena kehidupan alam di bumi dulu begitu keras dan dengan hidup bersama laki-laki yang kuat dan keras wataknya, perempuan merasa terlindungi. Jaman modern kini berubah, kejantanan tidak identik dengan laki-laki yang berotot, macho atau perkasa bahkan penampilan bisa dikatakan nomor sekian jika di kantongnya banyak pundi-pundi bergemirincing. Sehingga, laki-laki yang banyak uang terlihat jantan di mata perempuan karena dunia modern kini cenderung terkorup oleh materialisme atau apa-apa dilihat dari uang.
Laki-laki yang membaca tulisan saya, mungkin langsung melotot, wah gawat kalo semua perempuan kayak begitu atau ada perempuan yang protes, saya nggak gitu tuh. Analogi perempuan suka uang itu seperti laki-laki suka perempuan cantik. Secara naluriah, laki-laki kalo liat perempuan cantik lupa kalo dia sudah punya pacar atau istri untuk beberapa detik dan menit begitu juga dengan perempuan secara naluriah suka dengan laki-laki yang punya banyak duit.
Hal ini mungkin terlihat sepele, tapi bisa jadi realitas dan fenomena sosial yang ada. Bagi perempuan yang lahir di keluarga menengah ke atas tentu tidak masalah ketika sang ayah mampu memenuhi kebutuhan belanja anak perempuan mereka. Bagi perempuan berpendidikan dan memiliki karir, mereka juga tidak mempermasalahkan ketika pasangan mereka, tidak kaya-kaya amat soalnya mereka sendiri mampu kok. Hanya saja, bagi mereka perempuan yang miskin, atau hidup berkekurangan dan tidak memiliki skill, maka satu-satunya cara adalah menjual diri.
Terkadang kemiskinan membuat orang kufur nikmat, kata pepatah. Jika melihat kasus tahun 2009-2010 tentang pelacuran remaja usia dini dengan iming-iming uang beberapa juta di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, itu sungguh hal yang miris. Tetapi, jangan salah juga terkadang perempuan yang merupakan pekerja kantoran demi mendapat kehidupan yang lebih baik mereka menghalalkan segala cara seperti selingkuh dengan atasan atau merebut suami orang. Ini realitas di kehidupan kota besar seperti di Jakarta. Hingga pernah saya mendengar teman mengatakan hidup di Jakarta terkadang hanya membuat hidup demi uang, berkeluarga dan berusaha mempertahankan agar pasangan tidak selingkuh.
Hal yang menginspirasi saya menulis tentang perempuan dan uang karena beberapa hari yang lalu saya menonton You Tube tentang pelacuran di balik jilbab di Iran. Menyedihkan ketika seorang ibu yang ditinggal suaminya harus melacurkan diri di tengah malam sambil membawa bayinya hanya demi menghidupi dirinya dan bayinya. Ketika kaum hawa seperti saya sedang asyik belajar entah master atau PhD, atau sedang asyik berkerja, ada sekolompok perempuan yang harus terseok-seok di ujung jalan menanti pelanggan hanya demi segenggam uang. Ini realita!
*) Penulis Ekonom Gila (profilnya belum dibuat :P)

Wednomics

Nikah aja kok ribet?! Iya, bener itu… bukan saya loh yang nikah, tapi saya sedang mengamati dan (sedikit) mencari informasi tentang hal tak terlupakan yang ingin dicapai sebuah rangkaian pesta pernikahan yang ribet dan menelan biaya yang dapat membiayai berdirinya sepuluh bahkan lebih usaha kecil.
Lupakan soal makna, mari kita berbicara tentang komponen yang lebih kurang personal: uang. Banyak pasangan muda yang menunda pernikahan karena kendala belum mengumpulkan bekal (uang) yang cukup untuk rangkaian pesta pernikahan. Rangkaian, seperti kereta apa saja? Ya, rangkaian.
Rangkaian Pernikahan
Saat belum memiliki dana yang lumayan saya sudah menceburkan diri untuk mendatangi Wedding Expo yang mengharuskan saya membayar sekian puluh ribu rupiah. Saya termakan bujuk rayu seorang teman yang mengatakan kita bisa icip-icip gratis di dalam (tanpa mengatakan fakta bahwa kita harus berpura-pura akan memesan catering dari pengusaha catering yang kita icip-icip). Yang namanya expo, pasti lengkap dari A sampai Z, mulai dari: foto pra-nikah, perawatan pra-nikah, percetakan undangan, baju pengantin, baju keluarga, baju pengiring, make-up, wedding organizer, sewa gedung dan dekorasi, cincin kawin (kenapa bukan cincin nikah ya), kue pengantin, jasa video dan pemotretan, catering, florist, mc dan hiburan musik, paket honeymoon, bahkan sampai penjual e-frame juga eksis.
Terbayang kan, itu hanya hal-hal umum loh? Ada hal-hal lain yang saya rasa akan dilakukan oleh pasangan yang akan menikah (yang tentunya butuh biaya) seperti: membeli majalah yang membahas pernikahan, mencari tanggal baik, menyebarkan undangan, membeli mahar, mengurus surat-surat pernikahan, lamaran, dan biaya pulsa telpon untuk mengurus ini itu. Ada juga komponen yang free seperti: mengikuti penataran pernikahan (di gereja), membuat wedding blog, menyebarkan undangan melalui facebook.

Pernikahan Spektakuler 2011
Mari kita intip budget yang dihabiskan oleh pernikahan spektakuler di tahun 2011: Pernikahan Pangeran Willian dan Kate Middleton yang akan digelar akhir April 2011 memiliki budget 369 milyar, selengkapnya tentang pernikahan tersebut dapat dilihat dari official website.
Ternyata pernikahan spektakuler tersebut itu bukan hanya besar dari sisi expense, tetapi ada juga potential income yang bisa didatangkan dengan bantuan banyak kreatifitas (selain yang vendor untuk pesta pernikahan). Beberapa contoh:
  • Papa John’s mengeluarkan pizza dengan topping wajah kedua mempelai. Potential income untuk gerai pizza tersebut kan?
  • Fashion. Topi dan gaya berbusana Kate Middleton dijadikan trendsetter. Potential income untuk industri fashion kan?
  • Komik. Dua seniman Inggris Rich Johnston dan Gary Erskine berkolaborasi menghasilkan komik 60 halaman berjudul Kate & William – A Very Public Love Story“. dua seniman Inggris . Potential income untuk kartunis kan?
  • Hingga penjualan kondom dengan gambar pasangan itu di bungkusnya (ini menimbulkan kecaman) 
Memang, untuk cari duit kita harus kreatif ya seperti contoh-contoh di atas?
Tentang Pesta Pernikahan
Saya sempat berpikir untuk mendirikan sebuah wedding organizer di kota kelahiran, kota Padang. Tetapi saya berpikir lagi, apakah mungkin bisa terlaksana ya? Karena pernikahan di sana cenderung sederhana, biasanya diadakan di rumah atau di gedung perhimpunan, dengan gaun pengantin sewaan. Untuk mengurus ini itu nggak ribet. Namun, tetap saja membutuhkan uang yang seperti saya sebut-sebut: dapat membiayai usaha-usaha kecil. Daripada menabung bertahun-tahun atau berhutang untuk biaya pernikahan, apa nggak lebih baik digunakan untuk modal usaha?
Secara pribadi masih bingung dengan aspek ekonomis dan psikologis. Dari sisi ekonomis: toh, esensinya menikah, mengapa harus boros? Lagipula pernikahan saya juga nggak akan memberi inspirasi bagi orang untuk ‘cari-duit’. Dari sisi psikologis: untuk sekali seumur hidup apa nggak wajar untuk dirayakan? Jadi???
* ekonom gila yang sedang dalam dilema *