Pelajaran dari Senegal

Sebuah pelajaran berharga dari ASEAN Economic Summit 2012

Pada tulisan kali ini, mungkin tinggalkan dahulu sejenak segala analisa ekonomi, politik dan sebagainya, walau mungkin masih ada beberapa aroma hal tersebut. Lebih dari itu yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini.
“jangan Pesimis. Mengapa kalian melihat Negara kalian sejelek itu terhadap Negara lain dan terhadap integrasi ini (AEC), padahal kalian punya banyak kesempatan lebih dari pada kami”.
Pernyataan itulah yang dilontarkan oleh seorang sahabat yang berasal dari negeri jauh di tanah kaya, benua Afrika, tepatnya Senegal. Sebuah Negara nan jauh disana, tapi masih memiliki harapan untuk terus maju, ingin menjadi seperti Negara-negara di eropa, bahkan menjadi seperti Indonesia pun, mereka sudah bersyukur.
Senegal merupakan Negara bekas colonial asal Napoleon Bonaparte berkuasa, Perancis. Dari A hingga Z, Senegal diatur oleh Negara besar ini, bahkan hingga sekarang belum dapat lepas ketergantungannya dari Negara tersebut. Bagaimana dengan Negara kita, secara kasat mata, KITA BEBAS!
Pernyataan sahabat berkulit gelap ini mau tidak mau telah menusuk hati para pemuda Indonesia di konfrensi tersebut yang amyoritas menjadi peserta. Pemuda dari benua seberang pun masih mengakui kalau Indonesia punya banyak kesempatan dari mereka, lalu mengapa pemuda kita masih tidak yakin dengan Negara kita. Wah, takut nanti kita tidak bersaing, takut nanti kita bakal dikuasai dan diperalat oleh Negara lain, atau kita takut integrasi ini bakal mengarah pada hal-hal yang sebelumnya tidak bisa kita terima sebelumnya. Mari kita putar balik, bung.
“Pemuda tidak seharusnya pesimis, tapi harus menjadikan dirinya sebagai pilar pengembangan, jadilah lebih kompetitif”.
Sebuah kutipan lagi dari sang sahabat, pemuda haruslah optimis. Free flow of labor mengindikasikan aritnya kelak saat AEC 2015 dimulai, pemuda dari seluruh ASEAN akan dengan mudah keluar masuk Negara anggota untuk mencari pekerjaan. Pemuda Malaysia akan dengan mudah kerja di Yogyakarta, pemuda dari papua pun akan dengan lebih leluasa untuk bisa bekerja di Singapura. Siapa yang tidak ingin memperkerjakan atau bekerja sama dengan orang yang memiliki kualifikasi yang mumpuni. Jangan sampai pemuda Indonesia tidak lebih kompetitif dari pemuda Vietnam. Ya, seharusnya kita menjadikan AEC sebagai motivasi kita untuk bisa lebih baik dari pemuda yang ada di Negara anggota ASEAN, bukan malah menjadikan AEC sebagai momok dengan alasan kemampuan bersaing.
Lagipula, AEC adalah sebuah laboratorium yang akan mempersiapkan Negara- Negara ASEAN terhadap ekonomi global yang kelak akan makin terintegrasi seiring dengan perkembangan tekonologi, yang pasti perekonomian global akan jauh lebih kompetitif. Bagaimana Negara ini menjadi lebih maju adalah tugas kita, kurangi resistensi terhadap perubahan untuk kemajuan. AEC bukanlah hantu yang akan menakuti kita dengan ketidakberdayaan dalam menghadapi persaigan ini, tetapi AEC adalah sebuah batu loncatan untuk Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang lebih bisa menyatu dan saling berintegrasi.
“Never Complain with other country competitiveness, but make us, the youth and your country to be more competitive”.

Manajemen operasi Sebagai kunci utama Green Indsutry


Oleh: Ardhi Hiang Sawak
Green Industry yang selama ini diharapkan sebagai terobosan baru dalam industri dunia demi mendukung terciptanya keberlanjutan ekonomi serta perbaikan lingkungan menjadi sebuah topic terkini walau gagasan ini telah dijadikan sebagai bahan konfrensi dunia pada tahun 2009 di filiphina yang berawal dari harapan banyak orang pada tahun 1985. Banyak harapan yang ditumpahkan dalam gagasan ini, para ahli perekonomian serta ahli lingkungan berusaha menemukan konsep terbaik demi terwujudnya Green Industry yang dapat diterapkan diberbagai belahan dunia dan pada akhirnya di tahun 2009 pencarian itu menemui titik terang dimana beberapa Negara asia dan Amerika serta didukung oleh PBB lewat anak organisasinya UNEP (UN Environment Programme) mempersembahkan hasil awal demi terwujudnya hal itu.
Jika ditelaah, hasil dari konfrensi tersebut sebenarnya tidak membahas jauh dari apa yang telah diterapkan pada ilmu Manajemen Operasi, yakni EFISIENSI. Sumber daya perlu untuk diatur sedemikian rupa hingga terciptanya Green Industry. Karena konsep dasar dari Green Industry adalah efisiensi sumber daya, tanpa pengaturan yang baik dan system manajemen yang ketat, maka inisiasi ini akan menjadi sangat sulit untuk diterapkan.
Green Industry menitikberatkan pada penggunaan Resources yang baik, Efisiensi bahan baku, energy, sampah, pengelolaan karbon, bahkan transportasi menjadi hal yang utama pada konsep ini. Walau tanpa melupakan penggunaan energy alternative yang menghasilkan karbon lebih sedikit juga merupakan salah satu cara dalam green industry. Tetapi dalam bahasan kali ini, penulis akan menelaah usaha tercapainya green industry dengan pendekatan keilmuan Manajemen, Khusus Manajemen Operasi dan lebih spesifik pada Efisiensi.
Singkat tentang EFISIENSI
Efisien menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak membuang waktu, tenaga dan biaya) mampu menjalankan tugas dengan tepat dan cermat. Itu merupakan definisi dari efisien, bagaimana dengan efisiensi. Efisiensi adalah menggunakan sumber daya yang minimum demi mendapatkan hasil yang maksimum. Lebih bijaksana lagi, dalam imlu ekonomi, efisiensi dapat diartikan sebagai pemaksimalan input demi mencapai hasil yang maksimal pula, baik produksi barang atau jasa. Lebih terdengar seperti prinsip ekonomi, tetapi inilah ilmu manajemen operasi. Tetapi pada prakteknya, input dari resources tidak terlalu jauh baik dari segi kuantitas dari output yang dihasilkan. Jika kita lihat dalam formula, maka dapat dituliskan seperti ini.
Efisien = Output/Input
Secara sederhana dapat kita simpulkan sama seperti apa yang telah kita tuliskan diatas, bahwa dengan penggunaan input yang baik dan pemanfaatan yang maksimal, kita dapat mendapatkan output yang maksimal pula. Hal inilah yang menjadi kunci utama dalam Green Inndustry.
Efisiensi sebagai kunci Green Industry
Seperti yang telah kita ketahui, efisiensi adalah gagasan dasar terwujudnya industry yang berbasis kehijauan. PT Astra Agro Lestari merupakan salah satu contoh perusahaan yang mulai menerapkan efisiensi sebagai basis green industry mereka, berikut penggalan berita yang dilaporkan oleh http://www.greenradio.fm, jumat, 4 Maret 2011.
“Astra Terapkan Green Industry
Kelompom usaha Astra yang bergerak dalam berbagai bidang telah melakukan konsep green industry sejak tahun 90-an. Menurut M. Riza Deliansyah, Head – Environment & Social ResponsibilityDivision Astra Internasional mengatakan bahwa pihaknya selama ini telah berkomitmen melaksanakan konsep green industry lewat 3 aspek yaitu sosial, lingkungan dan ekonomi.”Ada 145 perusahaan di seluruh Indonesia yang sudah melakukan konsep itu. Dan kebijakan kami, mewajibkan setiap anak perusahaan untuk mengimplementasikan Astra Green Company, minimal peringkat hijau dan efisiensi sumberdaya alam dan energy minimal 5% persatuan produk,” tandasnya.
Apa yang disampaikan Riza Deliansyah diamini oleh Joko Supriyono, Direktur Astra Agro Lestari yang menjadi salah satu anak perusahaan Astra Grup. ”Social responsibility diterapkan dengan prinrip care to local people. Astra Argo Lestari telah mengembangkan 65.000 hektar plasma. Dari yang dikembangkan itu telah membantu 38.000 kepala keluarga,” kata Joko Supriyono.
Dalam perkebunan plasma ini, kata Joko, masyarakat lokal yang memiliki laham seluas 1-4 hektar mendapat bantuan untuk mengembangkannya agar mandiri dan menghasilkan. Program plasma ini berhasil mengangkat kualitas kehidupan petani local dengan cara berkelanjutan, dimana saat ini rata-rata petani dapat menghasilkan uang 5 hingga 10 juta rupiah per bulannya.
Soal penerapan ramah lingkungan PT Astra Argo Lestari kata Joko, bahkan secara khusus menerapkanenvironmentally friendly lewat prinsip care to planet. ”Kami secara khusus menggunakan bahan bakar produksi dari limbah cangkang dan serat sawit dan bahan bakar soalr kami gunakan pada instalasi awal saja. Selanjutkan proses composting limbah padat, water management dilahan gambut sehingga untuk menjaga tingkat air dan meminimalkan emisi. Hal lainnya adalah kami menggunakan agen biologi untuk hama seperti burung hantu dan ulat, konservasi mangrove di pinggir pantai Sumatra Barat, dan High Conservation Value (HCV). Itu semua dilakukan Astra Argo Lestarikan dalam mengelola kebun sawit yang sesuai dengan prinsip green industry sehingga kami mendapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup yaitu penilaian peringkat hijau pada 2010 lalu,” ujarnya.”
Pada contoh diatas dapat dilihat bahwa PT Astra Agro Lestari menerapkan kehijauan pada emisi dan renewable energy. Langkah tersebut mencerminkan penghematan sumber energy dimana mengindikasikan perusahaan menggunakan sumber energy seefiesien mungkin tanpa membuang-buang bahan bakar yang ada, apalagi kalau mereka masih menggunakan bahan bakar fossil.
Sebagai tindak lanjut dalam efisiensi sumber daya, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, yakni :
• Pemaksimalan pemanfaatan sumber daya (resource)
• Low-carbon Industry
• Good Transportation system
Pemaksimalan pemanfaatan sumber daya (resource)
Ketika bahan baku ditetapkan oleh perusahaan pada hilir proses produksi, perusahaan telah menghitung berapa sumber daya yang diperlukan untuk memroduksi sedemikian produk dengan kuantitas tertentu. Tetapi apakah sumber daya ini bisa digunakan sepenuhnya secara maksimal atau tidak tergantung pada midstream atau proses pembuatan.
Ketika proses pembuatan dilakukan, pada saat inilah konsep efisiensi harus diterapkan. Sebuah perusahaan pembuat otomotif akan memperhitungkan berapa jumlah bahan yang diperlukan untuk membuat 100 buah jenis kendaraan yang sama. Ketika perusahaan tersebut dapat memaksimalkan sumber daya yang dipakai, maka dengan membeli bahan yang berkecukupan pun tidak akan menyebabkan kekurangan bagi perusahaan dalam memproduksi jumlah kendaraan tersebut atau bisa disebut “Produksi Pasti Pas”.
Dengan adanya efisiensi dalam perusahaan mengindikasikan bahwa makin sedikitnya sampah yang dihasilkan dalam proses produksi sebelum akhirnya sampe ke hilir. Sumber daya dimanfaatkan sampai titik maksimalnya sedemikian rupa hingga mencapai output yang optimal. Bermula dari titik inilah Green Industry terbentuk, “Less Waste” berarti pencemaran dikurangi, yang berarti industri dapat membantu mempertahankan ekologi yang baik dan berkesinambungan tanpa mengindahkan pendapatan yang maksimal. Karena permasalahan yang timbul saat ini adalah pabrik masih belum mampu menanggulangi sampah hasil produksinya, sampah tercipta tetapi produksi kurang maksimal dan banyak barang produksi yang tidak terpakai. Alangkah sayangnya sampah ini terbuang tetapi produksi perusahaan tidak optimum. Lagipula, perusahaan memerlukan waste Management dalam proses produksinya, demi mendukung Green Industry.
Akan tetapi dalam prakteknya, perusahaan jangan sampai melupakan Total Quality Management (TQM). Walaupun perusahaan diharapkan untuk tetap mempertahankan efisiensinya, perusahaan juga diharapkan tetap mengacu untuk menghasilkan produksi tanpa kecacatan atau Zero Defect. Jangan sampai demi menggunakan sumber daya yang maksimal, malah melupakan mempertahankan kualitas produk. Just In Time merupakan salah satu solusi dalam pengadaan bahan baku sehingga bahan baku tidak terdepresiasi lebih besar nilainya di dalam Inventory.
Low-Carbon Industry
Perusahaan juga dapat melakukan Green Industry dengan melakukan manajemen dalam penggunaan bahan bakar dan energy. Bahan bakar sangat berperan penting dalam proses produksi atau midstream. Tidak ada produksi yang dapat dilakukan tanpa menggunakan bahan bakar sebagai penggerak mesinnya. Akan digerakkan dengan apa jika tidak ada bahan bakar sebagai sumber energinya.
Di Indonesia, masih banyak perusahaan yang masih menggantungkan produksinya pada penggunaan Bahan Bakar Fossil. Bensin memiliki oktan sebanyak 88 ikatan, hal ini menyebabkan makin banyak carbon yang akan terlepaskan dalam penggunaannya. Efisiensi dalam penggunaan bahan bakar disini juga menjadi sangat penting dalam proses di midstream.Bayangkan betapa banyaknya asap yang mengadung CO (Carbon Monoksida) jika perusahaan tidak mengatur dengan baik bahan bakar yang digunakkannya.
Selain pengaturan, perusahaan juga dapat melirik penggunaan bahan bakar terbarukan (renewable energy) untuk mengurangi ketergantungan terhadap Bahan Bakar Fossil dan penggunaan teknologi termuktahir untuk mengurangi volume asap akibat penggunaan bahan bakar fossil.
Good Transportation System
Efisiensi juga diperlukan dalam pengaturan jalur distribusi sebuah perusahaan. Efisiensi biaya pengiriman serta penggunaan bahan bakarnya pun harus diperhitungkan. Secara sederhana, semakin baik perusahaan dalam melihat jalur dan pemetaan yang baik dengan bantuan Center of Gravity serta Global Positioning System, pemilik keputusan akan sangat dibantu dalam pengaturan terbaik dalma proses trasnportasi. Biaya dapat diperhitungkan dan bahan bakar dapat diatur.
Jika perusahan tidak bijak dalam penggunaan biaya dalam transportasi, maka akan sangat merugikan perusahaan dalam penghitungan Income Statement. Jika tidak bijak dalam menentukan, maka penggunaan bahan bakar pun menjadi tidak bijak dan pada akhirnya hanya menambah emisi yang berdampak langsung pada alam. Kebijaksanaan perusahaan pun menjadi kunci penting dalam proses trasnportasi dari Up-Stream ke Down-Stream.
Kesimpulan
Green Industry merupakan hasil dari keberhasilan perusahaan dari menerapkan system manajemen operasi yang baik. Sehingga tidak menutup kemungkinan ketika ada perusahan yang ingin merubah diri menjadi sebuah green industry akan sangat menjadi mudah ketika ia telah memiliki manajemen operasi yang baik.

Marketing itu FUN : pemasaran ala kedai makan

Oleh : Ardhi Hiang Sawak

Terlintas dalam benak saya ketika sedang rapat bersama teman-teman satu organisasi kalau saat ini sedang dihadapkan dengan kebutuhan untuk mempromosikan sebuah program yang harus menarik banyak orang untuk berpartisipasi di dalamnya. Strategi apa yang tepat untuk diterapkan dalam masalah ini sehingga hasilnya sesuai dengan harapan banyak pihak. Memang yang akan menjadi sebuah titik ukur keberhasilan adalah bagaimana konsep marketing yang digunakan dapat memberi keuntungan bagi pengguna. Apalagi kalau bisa didapatkan dengan usaha seminimalnya dan hasil semaksimalnya.

Ketika kita sedang berjalan dengan kendaraan kesayangan kita, baik itu mobil, motor atau sepeda malah bahkan dengan kaki kita sendiri (penulis biasanya naik motor) sering kita akan melihat sepanjang jalan banyak sekali usaha atau bisnis yang sedang mencari peruntungannya di dunia fana yang keras ini. Sekedar mencari untung untuk membelikan anak mobil baru atau hanya mencari kesenangan belaka dalam sebuah bisnis. Tetapi mayoritas usaha yang dapat kita temui dengan mudah adalah usaha kuliner. 
Pikiran saya akan melihat usaha kuliner yang baru ditemui adalah saya akan bertanya makanan yang ditawarkan enak atau tidak. Cukup rasional sebagai seorang calon konsumen. Tetapi yang lebih rasional lagi adalah “Kedai Makan itu Ramai atau Tidak?”. 
Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penentu dari kesuksesan sebuah waurng makan dalam menarik perhatian para calon konsumen. Ya, orang akan merasa sangat penasaran dengan suatu yang dikerumuni oleh banyak orang. Sebagai contoh, jika ada gerombolan orang di tengah jalan dan itu sangat ramai, apa yang akan dilakukan oleh orang sekitar, sudah pasti ikut menghampiri gerombolan itu dan menjadi bagian dari orang tersebut atau bahkan hanya menyimpan rasa penasaran dan masih tetap menengok dan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Karena inilah sifat dasar manusia, Curiosity, ingin tahu apalagi jika banyak orang dalam komunitasnya yang menjadi bagian dari gerombolan itu.
Pada dasarnya, jika dikaji lebih dalam (walau disini penulis hanya menyampaikan secara singkat berdasarkan opini dan penelitian kecil), fenomena masyarakat seperti ini dapat dijadikan sebuah strategi marketing yang cukup ampuh untuk menarik para calon konsumen. Berdasarkan konsep kesetiaan -Brand Loyalty dengan pendekatan relasi antar manusia-(Reto Felix 59), behavioral loyalty atau kesetian yang hanya berdasar pada tingkah laku itu terjadi karena ketidaktahuan para konsumen akan keunggulan produk lain. Mereka kurang awaredengan yang lain, kemungkinan karena memang mereka belum tersadarkan. Cara menyadarkan mereka dengan memberikan semacam shock therapy agar mereka seketika melihat apa yang ada disekelilingnya. Gerombolan orang merupakan salah satu cara yang efektif.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menarik perhatian dan membuat sebuah gerombolan datang pada produk yang kita tawarkan, dalam kasus ini kita gunakan contoh kedai makan. Pertama, membuat memang produk itu unggul dan berbeda dengan produk lain pada kategorinya sehingga pasar memang harus merasakan pengalaman bersama produk tersebut. Dalam hal ini membuat produk memiliki competitive advantage sehingga akan meningkat awareness para calon konsumen terhadap produk tersebut. Sebagai contoh, kedai makan membuat sebuah menu dengan rasa yang bervariasi dengan tampilan yang menarik dan berbeda atau berinovasi dengan membuat makanan yang rasanya dapat berubah sewaktu-waktu. Hal ini akan membuat orang penasaran dan ingin mencoba.
Kedua, setelah menambahkan competitive advantage pada produkm seperti contoh menu yang menarik dan benar-benar berbeda, maka cara berikutnya adalah tak lain dan tak bukan yakni “beriklan”. Advertising atau yang sering kita sebut dengan iklan adalah cara ampuh agar orang semakin tahu apa yang sedang kita tawarkan ke pasar, tapi yang pasti beriklan akan memberikan tambahan biaya bagi produsen atau pelaku bisnis. Iklan yang efektif adalah iklan yang tepat sasaran dan biaya yang dikeluarkan mampu memberikan dampak positif bagi produsen, walau terkadang ukuran keberhasilan ini sulit dihitung secara kuantitas, return on advertising.
Ketiga, bayar gerombolan itu!
Memang terdengar ekstrem bahkan terdengar curang. Tetapi mengikat kontrak dengan orang-orang dalam menghadapi persaingan diperlukan. Tetapi jangan melihat sisi negative saja atau melihat pelanggaran masalah etika disini. Membayar gerombolan memang terlihat tidak etis, apalagi kalau beridealisme “fairness” dalam berbisnis. Membayar disini dimaksudkan adalah pelaku bisnis mengikat kontrak dengan beberapa orang untuk menggunakan produk mereka sehingga makin banyak calon konsumen yang makin tertarik. Mereka sengaja dibuat untuk menggunakan atau mengonsumsi sebuah barang atau jasa dengan harapan mereka dapat menyebarluaskan produk tersebut. Semakin massive yang dikontrak, semakin banyak kuantitas produk yang bisa dilihat dan semakin bear potensi pasar. 
Ini dapat diaplikasikan dalam kedai makan, memberi segerombolan orang yang telah diikat kontrak berupa makan gratis sampai beberapa periode untuk membuat orang penasaran apa yang disajikan di kedai tersebut. Semakin banyak orang, semakin penasaran para calon pembeli dan semakin besar pula kesempatan kedai makan untuk mendapat konsumen baru dalam usahanya. Tetapi yang harus menjadi catatan para pelaku bisnis adalah produk tersebut harus bisa memenuhi ekspektasi sesuai yang dijanjikan pada saat beriklan. Jangan sampai membuat kecewa para pembeli saat perdana mencoba produk atau menu. Selain membuat kecewa, semakin besar pula anggapan seseorang kalau gerombolan yang sebelumnya adalah kong-kalikong pengusaha. Intinya, berikan pelayanan dan produk yang terbaik, agar ekspektasi bisa terpenuhi.
Sebenarnya ide pemasaran kedai makan ini bisa diaplikasikan ke dalam banyak pemasaran produk. Karena ide ini memanfaatkan efek keingintahuan para konsumen terhadap hal baru dan kerumunan atau mass effect. Sebagai contoh, pengembang website bisa memberikan insentif khusus kepada sebanyak mungkin orang untuk menggunakan fitur di website mereka, untuk menghidupkan awareness konsumen terhadap website baru ini. Menang dalam kuantitas terlebih dahulu, khususnya jumlah pemakai atau pengunjung menjadi sangat baik disini, walau pada awalnya ada trik khusus yang dilakukan.
Intinya, gunakan gerombolan orang untuk menarik perhatian orang.

Pendidikan Organisasi dan Mark Up

Oleh: Ardhi Hiang Sawak


Banyak menyarankan kalau nanti sudah kuliah, jangan lupa untuk ikutan berorganisasi. Karena IPK katanya hanya mengantarkan pada meja wawancara, tetapi nanti yang mengantarkan kita ke meja direktur, ya, pengalaman kamu dalam berinteraksi dengan orang. Memang, pendapat seperti ini tidaklah salah, malah bisa dikatakan benar. Karena banyak sekali pengalaman juga yang telah mengatakan demikian, bahkan ayahku saja berkata demikian, karena beliau juga punya pengalaman mengenai hal ini.
Nah, sekarang yang menjadi duduk persoalan adalah bagaimana budaya kita dalam mengatur organisasi mahasiswa tersebut ketika sudah kuliah dan memiliki organisasi yang diikuti. Banyak yang akan kita rasakan, mulai dari hal yang biasa sampai yang luar biasa. Berterima kasihlah pada pak dekan karena kita telah diizinkan untuk berorganisasi, terima kasih pak.
           
Dalam kehidupannya, para mahasiswa aktivis kampus akan juga dihadapkan dengan banyak kegiatan dalam proses manajemen, dari planning, organizing, budgeting, controlling, hingga evaluating. Dari sekian proses tersebut, para mahasiswa ini pasti akan dihadapkan kepada proses membuat anggaran. Jangan bayangkan membuat anggaran mahasiswa akan serumit dan sekonfrontatif pembuatan anggaran di ruang badan anggaran DPR RI, sebuah ruang keramat bagi kelangsungan hidup bangsa. Dijamin mahasiswa tidak akan dibuat terlalu pusing dan sekelumit itu, karena semangatnya kan untuk belajar, walau belajar tapi tetap harus menjaga nilai-nilai moral pastinya.
Mahasiswa dituntut untuk membuat anggaran sebaik mungkin demi terwujudnya sebuah program kerja yang baik dan sukses. Mereka diminta untuk memprediksi dan memperkirakan berapa uang yang akan dikucurkan demi berlangsungnya sebuah program. Para kakak seniornya akan mengajarkan bagaimana mereka untuk mendesain sebuah anggaran. Pertama, tentang cara untuk menyesuaikan ide dengan dana, lalu yang penting adalah bagaimana untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, disini, pasti jurus dari gunung sebelah barat akan mengajarkan yang sering kita sebut dengan dana “Mark-Up”.
Risk averse adalah sebuah sikap yang diajarkan juga di mata kuliah manajemen, bagaimana sikap ini dalam menghindari yang namanya resiko. Lalu para senior akan mengajarkan kepada juniornya untuk membuat dana “mark-up” agar resiko yang tidak diharapkan bisa ditanggulangi dengan dana ini. Terdapat semangat yang mulia disini, untuk mengajarkan para aktivis muda agar selalu berhati-hati, tetapi berbahaya jika itu dilakukan dengan salah.
Banyak kasus yang saya temukan seperti melakukan mark-up terlalu tinggi. Padahal di manajemen kita diajarkan untuk melakukan budgeting seefektif mungkin dan serealistis mungkin, karena kita memiliki kendala, yakni dana. Hal ini bisa dikatakan sebagai siklus atau memang hanya kesengajaan dari pihak tertentu dalam melakukan anggaran. Bayangkan jika hal ini terus berlanjut sampai nanti mahasiswa tersebut beranjak dewasa dan duduk menjadi orang-orang penting. Mungkin sampai sekarang, kasus korupsi paling banyak adalah tentang pengadaan barang, ada hubungannya mungkin dengan praktek ini, tapi siapa sangka, tidak ada yang tahu bukan.

Sudah sewajarnya dan sepantasnyalah mahasiswa melakukan budgeting sesuai dengan kebutuhan, daripada nanti terdapat banyak uang terbuang karena mrak-up berlebihan dan sudah seharusnya semangat untuk efisiensi anggaran kita budayakan, mengingat tentang budaya efisiensi, barang siapa yang bisa efisien, ya cepat majunya. Toh, mahasiswa buat acara bukan untuk profit, tapi nilai apa yang harus ditanamkan pada acara-acara mahasiswa.



*** 

NB: Source pict: masternewsmedia.org