Peran Pa’gandeng (Tukang Sayur) dalam Penciptaan Titik Equilibrium

Sayur!.. Sayur!.. Sayur!.. Tiap pagi suara tukang sayur keliling selalu menghiasi hari yang baru dimulai. Biasanya mereka berkeliling dari kompleks perumahan yang satu ke kompleks perumahan lainnya. Di Makassar, mereka biasa disebut dengan istilah Pa’gandeng (bacanya ‘e’ nya seperti saat baca ‘e’ pada kata ‘dendeng’). Para pa’gandeng ini tidak berasal dari Kota Makassar lhoh!.. Mereka berasal dari wilayah-wilayah kabupaten yang ada mengelilingi Makassar, biasanya dari Kabupaten Maros, Gowa, atau bahkan Takalar. Jaraknya tidak tanggung-tanggung yang mereka tempuh tiap harinya. Total jarak pulang pergi bisa mencapai 100 KM!… Terbayangkah bersepeda sejauh itu? Bagi yang belum terbiasa, harap tidak usah mencobanya, soalnya di tengah jalan nggak ada tukang tambal betis :P
Ya…meskipun banyak juga yang sudah memakai motor, tapi sebagian besar pa’gandeng yang ada di Makassar masih menggunakan sepeda ketika berkeliling menjajakan sayur dagangannya. Dan kedatangan mereka selalu disambut ramai oleh ibu-ibu. Bahkan tidak jarang jadi tempat gossip. Makanya jangan heran kalau pa’gandeng adalah sumber informasi yang baik. Hihihiii..ngasal deh kalo yang ini!… :D
Btw soal belanja, tahu kan hobinya cewek kalo berbelanja? Apalagi kalau bukan nawar!… :D
Ya!.. Keriuhan tawar menawar antara pa’gandeng dengan ibu-ibu yang membeli sayurannya selalu menjadi cerita lucu tersendiri. Beda 100rupiah pun seringkali si ibu-ibu nggak mau ngalah dari pa’gandeng. Eitsss..jangan salah.. itu bukan cuma soal hemat-menghemat anggaran, tapi juga menyangkut psikologis dan bisa ditinjau dari sudut pandang ilmu ekonomi juga lho!… :D

Pa’gandeng dan Titik Equilibrium
Proses tawar menawar antara pa’gandeng dengan pembelinya itu merupakan salah satu contoh proses terjadinya titik pertemuan antara supply dan demand sehingga membentuk titik equilibrium ketika harga telah disepakati.
Perilaku Konsumen yang Tidak Rasional
Kita semua sepakat kan bahwa pa’gandeng (tukang sayur) adalah pedagang kecil. Bila dibandingkan dengan sayuran di supermarket jelas berbeda. Harga sayuran yang dijual oleh pa’gandeng dengan yang dijual di supermarket, benar-benar kompetitif. Masing-masing punya keunggulan tersendiri. Seringkali malah harga sayuran yang dijual pa’gandeng lebih mahal daripada harga sayuran di supermarket, meskipun bagi sebagian orang tidak material (hihihii..minjem istilah akuntansi :D).
Pa’gandeng memulai usahanya di dini hari ketika orang-orang masih terlelap. Dan mulai mengayuh sepedanya seusai shalat subuh. Datang ke satu kompleks ke kompleks berikutnya, seharian menjajakan sayuran yang harus dilariskan hari itu juga, sebab sayuran bukan produk yang tahan lama.
Satu hal menarik yang membuat saya tergelitik, yaitu ketika ada pelanggan pa’gandeng yang nawarnya sadis. Padahal secara finansial sangat berlebih. Huehehehe.. Nah..untuk yang dah tahu konsep ekonomi, menurut saya kalau mau nawar beli sayur di pa’gandeng ya nawar sewajarnya aja. Malah seharusnya nggak usah nawar lhoh!… :p itung-itung bagi rejeki gitu… Hhaaahaa..
Lhoh? Kenapa? Kok malah nawarin nggak usah nawar? :) iya..soalnya kalau belanja di supermarket aja kita bisa, ngapain nawar saat belanja di pa’gandeng? Kalau ke supermarket, kita harus keluar tenaga menuju ke supermarketnya, apalagi kalau masih pagi-pagi banget pasti belom buka. Bandingkan dengan pa’gandeng yang memudahkan kita membeli sayur dari depan pagar rumah kita sendiri. Kita nggak perlu repot, nggak keluar tenaga. Yang capek cuma pa’gandengnya. Ditambah lagi kita pesan ke pa’gandengnya untuk membawakan sayur tertentu di keesokan harinya. Nah.. karena semua alasan itu, bisa kan kita sedikit menghargai usaha para pa’gandeng? ;) Caranya? Ya itu tadi.. kalo nawar nggak usah sadis-sadis. Wkwkwkkwk…
:p
Melalui jasa pa’gandeng, satu titik keseimbangan terjadi setiap harinya. ;) Dunia itu harus balance seperti neraca dalam akuntansi. Dan keseimbangan makrocosmos hanya dapat terjadi ketika terjadi keseimbangan di mikrocosmos lebih dulu (waduh apa nih artinya? Artinya kalo belanja di pa’gandeng ataupun pdagang kecil lainnya nggak usah nawar sadis-sadis kalo emang mampu dompetnya). ^_^ :D
-*-
Advertisements