Cara Tergila untuk Indonesia 20 tahun ke depan: Ceker Ayam Sang Koruptor

Oleh: Alexander, 927 Kata
 
 
Zaman dulu – ketika Indonesia masih di perintah oleh presiden pertamanya. Inflasi tinggi sekali- karena pada zaman itu kebijakan fiskal dan moneter sama sekali tidak jelas alias kalau perlu uang- cetak saja. Makanya inflasi begitu gila-gilaan pada saat itu. Saking tingginya inflasi Indonesia saat itu- peribahasa yang seharusnya berbunyi
 
“capailah cita-citamu setinggi langit”
berubah menjadi 
“capailah cita-citamu setinggi inflasi”.
 
Dengan berangsurnya waktu- perekonomian Indonesia mulai membaik- meski tidak bisa di bilang oke ataupun “like this”. Di mulai dari zaman presiden Muammar Gaddafi- eh? (Muammar Gaddafi-nya Indonesia-red) – sampai zaman reformasi. Inflasi makin lama makin menurun- meski perekonomian indonesia sempat breakdance dan ter-poco-poco akibat krisis moneter dan terorisme yang terjadi di Indonesia. tetapi lambat laun mulai pulih dengan kebijakan pemerintah yang menugaskan Bank Indonesia untuk lebih fokus di dalam penjagaan nilai rupiah- tidak seperti pada masa orde baru di mana Bank Indonesia mempunyai tugas ganda- yaitu ganda campuran dan ganda-rawa (!!).
Kini dengan “setengah” pasti- perekonomian Indonesia mulai bangkit… Lho? koq setengah?? (setengahnya lagi berupa “halusinasi” – red).
 
Harusnya dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka harapan meningkatnya pendapatan nasional dan pendapatan per kapita akan semakin meningkat. Lalu tingkat laju inflasi juga dapat ditekan, dan suku bunga akan berada pada tingkat wajar yang akan mendorong semakin bergairahnya modal bagi dalam negeri maupun luar negeri. Namun karena regulasi yang tidak beraturan dan hobi reshuffle yang berkelanjutan- mengakibatkan pelaku ekonomi menjadi deg-degan- dan laju inflasi pun melaju seperti rollercoaster di dufan.
 
Meski laju tingkat inflasi tidak secepat valentino rossi dalam menggeber motornya- tetapi apabila kondisi keamanan negara tidak kondusif- maka tentunya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap negara akan berkurang- dan mengakibatkan perekonomian kembali menjadi lesu- dan ujung-ujungnya menaikkan inflasi itu kembali ke jaman cita-cita lama itu.
 
Cara untuk mengukur tingkat laju inflasi adalah dengan menghitung perubahan  tingkat presentase sebuah indeks harga- salah satu indikatornya adalah Indeks harga konsumen atau biasa di singkat IHK. Nah karena morat-maritnya negara ini- maka para ekonom dan analis kadang mengalami kerancuan dalam menghitung IHK ini. Mereka sering terjebak di dalam dua pengertian bias IHK ini, antara Indeks Harga Konsumen- atau- Indeks Harga Korupsi. Sungguh merupakan suatu proyek ilmiah- untuk menentukan indeks mana yang seharusnya di gunakan untuk menghitung tingkat inflasi negeri ini? atau hal ini sangat perlu di lakukan studi mendalam di negara-negara maju di eropa- tentunya akan di pilih negara-negara eropa tujuan wisata- yang pastinya hal ini akan di kemas dalam satu kemasan sebagai paket “studi banding”.
 
Nah dengan inflasi yang seperti elektrokardiogram dan korupsi yang sudah seperti pandemi di Indonesia- maka membuat negara tetangga- melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk mengambil “kesempitan” di sini.
 
Mulai dari pulau sipadan dan ligitan- di ambil alihnya. Meski sudah melewati jalur hukum Mahkamah Internasional. Akhirnya Indonesia harus merelakan ke dua pulau ini- jatuh ke tangan negara tetangga tercinta. Yang mana hasil keputusan Mahkamah Internasional untuk pulau sipadan dan ligitan ini tidak lagi “sepadan” dan “legit” untuk Indonesia.
 
Mungkin kalau kasusnya tidak di ajukan ke Mahkamah Internasional- melainkan ke Mahk-Erot Internasional ataupun Mahk-Lampir Internasional- tentunya kita masih bisa memiliki kedua pulau ini di dalam naungan ibu pertiwi.
 
Kemudian berturut-turut kebudayaan indonesia- satu persatu mulai di klaimnya- mulai dari tari reog ponorogo, tari kuda lumping, lagu rasa sayang-sayange dan lagu-lagu tradisional khas daerah indonesia yang lain, beserta alat-alat musik tradisional khas Indonesia, sampai makanan-makanan khas Indonesia, seperti rendang. Dan semoga suatu hari- bukan hanya rendang- tetapi nasi aking bisa di klaim juga oleh negara tetangga yang tergila-gila makanan Indonesia- karena negara ini memang tidak ada niat untuk mem-paten-kan nasi aking.
 
Itulah akibat dari carut-marut perekonomian negeri ini- sudah di hantam oleh cita-cita tinggi inflasi- di serang pula oleh beberapa kasus terorisme di negara ini- di tambah pula kasus-kasus korupsi yang kian mewabah- plus bonus satu-persatu pulau-pulau dan kebudayaan-kebudayaan mulai di klaim satu persatu oleh negara tetangga.
 
Belum lagi adanya pelanggaran-pelanggaran batas maritim di wilayah perbatasan Indonesia dan negara tetangga, entahlah sudah beberapa koordinat yang di sunat menjadi milik bangsa lain- yang membuat kredibilitas dan nama bangsa ini di pertaruhkan.
 
Juga adanya kasus akhir-akhir ini di mana ada penggeseran patok perbatasan- di wilayah Camar Bulan dan Tanjung Datu, Kalimantan Barat- yang berarti melanggar suatu kedaulatan.
 
Tentunya belum ada solusi pasti menangani masalah caplok-mencaplok dan geser-menggeser ini, belum adanya penetapan batas maritim dan kesepakatan batas laut dengan negara tetangga, paten mumpuni akan budaya-budaya khas Indonesia, kurangnya diplomasi dan negosiator ulung di kancah internasional- sehingga lepasnya sipadan ligitan, beserta virus korupsi yang semakin lama semakin susah di basmi, membuat negeri ini seharusnya masuk di dalam siaga 1.
 
Tetapi tentunya- cuman hanya ada suami siaga- dan para pramuka yang selalu siaga untuk negeri ini.
Oleh karena itu- 20 tahun lagi- kalau kiamat tak jadi datang- sesuai ramalan suku maya.
Ketika seorang suami siaga di tanya oleh anaknya yang menjadi pramuka siaga- dalam 20 tahun ke depan:
Pramuka Siaga: Pa, Ibukota Indonesia- masih Jakarta bukan???
 
Suami Siaga (a.k.a si Ayah): halah kamu masih belajar buku sejarah yang lama… Indonesia kan sekarang yang jadi Ibukota- ibukotanya negara kuala terengganu.
 
Seperti itukah yang akan terjadi 20 tahun mendatang?
 
Basmi korupsi- bukan hanya usus-ususnya- tapi sampai ke ceker-cekernya-  dan hukum para koruptor seberat-beratnya- cabutin sayapnya kalau perlu, lindungi aset negara ini- jangan gadaikan ke tangan perusahaan asing- apalagi sampai di klaim-klaim, kembangkan perekonomian di daerah-daerah dan berdayakan sumber daya daerah- jangan melulu tersedot ke pusat dan menjadi sumber pandemi- dan jangan biarkan para koruptor sempat mengais-ngais “rejeki” korupsi dengan ceker-nya yang kotor. Integrasikan segala elemen daerah dan pusat- kobarkan semangat Pancasila- dalam membangun dan mendidik bangsa- dari tetesan darah dan semangat pantang menyerah- sampai suatu hari- 20 tahun ke depan- negara ini menjadi kiblat perekonomian segala bangsa-bangsa- di dunia. SEMOGA!!
 
Profil:
Alexander – Blogger