CERITA TENTANG NAIK KELAS (Part 1)

By: Benjamin Ridwan Gunawan
Melanjutkan dari tulisan Mas Aul mengenai ‘Harga Barang dan Moral Manusia’, tapi tulisan ini bukan untuk meng-compare tulisan tersebut (ampun kakak) namun sebagai inspirasi saya untuk menulis tulisan ini. Tulisan ini menceritakan mengapa negara kita, Indonesia belum bisa bersaing secara optimal di kancah pasar globalisasi.
Ditambah inspirasi dari perkataan Hendri Sartiago, Chief Executive Oficcer (CEO) General Electric (GE) Indonesia dalam acara akademi berbagi yang saya kunjungi sebulan yang lalu. Beliau berbagi cerita mengenai keprihatinan dirinya atas lambatnya Indonesia dalam memaksimalkan potensi ekonominya. Cerita di mulai tentang harga (Naah, bagian ini saya mulai teringat tulisan mas Aul). Berdasarkan pengalaman profesional bung Hendri di GE, harga ditentukan dari tiga elemen; biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk hingga sampai ke tangan konsumen + Value + Kelangkaan.
Elemen pertama, mengenai cost, kita sudah tahu dalam memproduksi suatu produk barang ataupun jasa pasti memerlukan suatu biaya yang dikeluarkan hingga produk tersebut sampai di tangan konsumen. Dalam penentuan harga jual suatu produk, elemen costini yang paling utama untuk diperhitungkan sebagai dasar penentuan harga. Kemudian nilai nominal selisih dari harga jual dengan harga dasar dari cost tersebut yang biasa disebut margin. Besarnya margin dapat ditingkatkan berbanding-lurus dengan besarnya value yang dimiliki produk tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa harga teh kotak lebih mahal dari es teh spesial buatan bu Inem di warteg pertigaan.
Tulisan saya akan dibagi dan dijelaskan dalam 4 (empat) cerita sederhana mengenai value dan kelangkaan, selamat menikmati:
1. Cerita tentang pembuatan parfum
Di Institut Pertanian Bogor (IPB), mahasiswanya banyak yang membuat industri rumahan membuat ekstrak parfum. Dibuat dengan harga 75ribu per 8 (delapan) galon dengan cara menguapkan tanaman tertentu dan diambil ekstrak air bekas uapannya melalui pipa-pia kaca dan selang yang rumit. Hasil ekstrak parfum tersebut dibeli oleh singapura, disaring lagi 5 (lima) sampai 7 (tujuh) kali, dan dijual seharga 300ribu per galon ke Perancis. Di Perancis disaring sekali lagi, dan dikemas dengan apik, ditempeli brand Perancis dan dijual seharga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah per 50-100mili nya. Emangnya ada yang mau beli? Ironisnya, pembeli terbanyak parfum branded itu adalah kita, Indonesia (Hiks, saya terharu sekali).
Cerita di atas, khususnya pada bagian ekstrak parfum yang dibeli oleh Singapura dan disaring lagi, dijual lebih mahal dan dibeli kembali oleh Perancis, ditambahi label dan dijual (lagi-lagi) lebih mahal. That’s story tell about value. Pada titik inilah para produsen kreatif mengambil untung lebih besar. Dengan menambah proses kerjanya, ditangani oleh orang-orang ahli, packaging yang lebih elegan, ditambah cost nya. Dan menghasilkan value yang lebih bernilai. Value tersebutlah yang membuat harga produk parfum dari Singapura dan Perancis lebih mahal dari ekstrak parfum buatan Indonesia.
Nominal value tersebut memang belum ada takarannya. Konsumen sendirilah yang menakar nominal dari value, dengan cara membandingkan dengan produk lain. Apakah puas dengan value yang ditawarkan atau malah lebih puas dengan value yang ditawarkan oleh produk sejenis dari merk lainnya. Apakah puas dengan value yang diterima dengan membayar sekian harga (Saya kira di bagian ini tulisan mas Aul dapat menjelaskannya komplit).
2. Cerita Toko Jam Tangan di Swiss
Cerita tentang kelangkaan, ada sebuah toko jam tangan di Swiss yang pernah didatangi oleh bung Hendri. Ketika bung Hendri masuk ke dalam toko, dia bilang mau cari jam tangan yang bagus. Ditawarilah oleh penjaga toko, jam tangan-jam tangan keren yang memiliki banyak feature, fungsi yang keren-keren dan tampilan yang sangat menarik. Harganya berkisar  100-800 US dollar. Bung Hendri bilang, “This is not my level mister, give me the next level.”
Pejaga toko mengajak bung Hendri ke lantai dua, di mana di lantai ini lebih sepi pengunjung, dan desain lantainya lebih glamour. Penjaga toko memamerkan jam tangan-jam tangan paling branded di dunia. Bukan featureyang ditawarkan namun kelas. Sebuh tingkatan kelas elite yang hanya pantas mengenakan jam tangan ini. Harganya berkisar antara 900 – 5.000 US dollar. Namun bung Hendri masih mengatakan, “Noo sir, this is still not my class, I want the the best of the best.” (ngomongnya pake logat ala parlente yang mulutnya dimonyong-monyongin)
Setelah mendengar itu, penjaga toko langsung mengambil telpon dan memanggil seseorang dari seberang telpon. Setelah menutup telepon penjaga toko mengajak bung Hendri ke lantai bawah kembali, kemudian turun tangga lagi, dan menuju ruangan bawah tanah. Di sana sudah ada dua orang berjas eksklusif dan berkacamata hitam, menyambut bung Hendri dan mengajaknya masuk ke ruangan yang sangat rahasia. Di dalamnya sudah menunggu lagi orang berjas putih dan menyilahkan bung Hendri duduk di kursi. Pintu ruangan ditutup dari luar dijaga oleh dua penjaga tadi. Penjaga berjas putih mengambil koper besi dari brankas besi dan membukanya di hadapan bung Hendri, isi koper tersebut ada sebuah jam tangan tua antik.
Penjaga berjas putih mengatakan, jam ini hanya dibuat 4 (empat) buah saja di dunia ini oleh pembuat jam legendaris yang sudah meninggal dunia 50 tahun yang lalu. Yang memakai jam tangan ini yang pertama adalah raja Inggris, jam tangan yang kedua berakhir tenggelam di lautan Atlantik, yang ketiga terjatuh di kawah gunung merapi, dan jam tangan yang keempat, yang terakhir, yang paling berharga (bahasanya rada lebay) berada tepat di hadapan anda. Harga yang ditawarkan mencapai 250.000 US Dollar.
(Cerita ini semi-fiktif, fiktif tokonya namun riil teknik penjualannya)
That’s a Rare, Kelangkaan. Sama seperti lukisan. Mereka bukanlah barang inferior maupun superior. Atau mungkin barang giffen? (Silahkan kalau mau didiskusikan)
Kelangkaan inilah yang secara ajaib mampu menaikkan harga jual jauh di atas dari nilai cost nya, bagaikan langit dan bumi. Padahal bisa saja, cerita tentang jam tangan yang tinggal dua di atas cuma karangan dari si sales, biar jam tangannya bias dijual mahal, alias bohong.
Nah, sampai di sini dulu tulisannya, bersambung ke part 2 (dua) ya biar tidak jenuh bacanya. Semoga bermanfaat J

To Be Continue

Advertisements

Fiat Currency, Perang dan Bencana Resesi USA/Dunia

Oleh: Ekonudin Islam

Valentino Rossi dengan motor Yamaha dan logo mobil FIAT pada tunggangannya di balapan MotoGP, seluruh dunia mengenal kombinasi tersebut. Sampai dengan tahun 2010, pembalap MotoGP Italy yang merupakan legenda hidup, dan bermukim di Inggris dengan team FIAT/Italy diatas motor Jepang, berturu-turut selama satu dekade terakhir ini selalu mencetak prestasi super dengan ekspos media yang dominan diseluruh dunia. Ketika Yamaha dan Rossi menerima sponsor dari pabrikan mobil FIAT yang membuat brand FIAT menjadi identik dengan Rossi dan Yamaha, saat yang bersamaan dunia digoyang oleh tsunami finansial yang bermula dari Amerika yang dipicu oleh meledaknya gelembung pendanaan properti  (subprime mortgage crisis).

Berkat Rossi dan MotoGP, FIAT dikenal oleh masyarakat luas diseluruh dunia, namun hanya sebagian kecil masyarakat yang mengerti mengenai “Fiat Currency”. Hampir dapat dipastikan bahwa Rossi-pun tidak mengetahui artinya, sehingga keberadaan Rossi dalam artikel ini sudah dapat dihapus dari pembahasan.

Adapun mengenai fiat, dalam bahasa Latin artinya adalah: terjadilah; maka Fiat Currency adalah mata uang yang diciptakan dari kewibawaan dan kredibilitas negara pembuatnya (diinginkan dan terjadilah). Dollar AS, Rupiah, Euro, Yen dan seluruh mata uang yang dipertukarkan di dunia adalah fiat money. Mekanisme penggunaan Fiat money oleh negara-negara didunia, mulai terkenal luas semenjak 1971; dimana saat itu, karena tekanan dalam negeri ekonomi AS, presiden Nixon membatalkan perjanjian Bretton Wood dimana dollar AS dilepaskan mengambang dari keterikatannya pada emas dimana sebelumnya, setiap ons (ounce) emas dipatok dengan 35 dollar AS. Dengan posisi dollar AS tidak terikat pada emas, pemerintah AS dapat mencetak uang dengan jumlah yang dianggap ideal untuk membiayai pertumbuhan ekonomi.  Namun demikian, pelepasan mata uang dari patokan emas, dengan segala keuntungan dan konsekuensinya, selalu membawa efek nyata yang natural yaitu penggelembungan ekonomi secara konsisten. Seperti gelembung sabun, gelembung ekonomi juga kosong dan tidak stabil, dan pada level tertentu tidak dapat dipertahankan yang pada akhirnya meletus.

PERTUMBUHAN DARI PERANG

Perang dunia II menghancurkan Eropa dan Asia. Setelah perang berakhir, ekonomi Jerman dan Jepang  tunduk dibawah kendali AS dan sekutunya, dan seluruh negara di Eropa berhutang pada AS. Sampai dengan berakhirnya perang, lebih dari separuh cadangan emas dunia terkumpul di AS. Industri di AS tumbuh berkembang secara eksponensial yang menyebabkan kepincangan perdagangan dunia, dimana lebih dari separuh kebutuhan dunia disuplai oleh industri AS yang berakibat makin menggunungnya kekayaan AS tanpa dapat dihentikan. Untuk menghidupkan ekonomi dunia, AS harus memberikan bantuan cuma-cuma pada semua sekutunya maupun negara yang kalah dalam perang, dan selanjutnya proses pemulihan ekonomi dunia berlangsung tidak kurang dari dua dekade.

Pada akhir dekade 60an, AS mulai masuk pada realitas ekonomi pasar dimana demokrasi dan sistem kapitalis yang disponsorinya mulai tumbuh berkembang disekelilingnya dengan membawa efek samping yang menyulitkan. Walaupun blok negara Timur berangsur menjadi negara gagal, Blok negara Barat yang dipimpin AS secara perlahan tapi pasti, mulai merengkuh kemakmuran absolut dari AS.

PERANG DINGIN

Periode perang dingin juga bukan merupakan periode yang baik bagi AS. Perang Vietnam, OPEC, dan krisis Iran menambah beban pada situasi ekonomi AS yang sedang bermasalah. Periode 70an, AS mulai mengalami budget defisit, pertumbuhan yang mendekati 0% dan rate inflasi yang mendekati 6% dan bahkan pernah mencapai 13,5% di tahun 1980. Dengan menurunnya cadangan emas yang diakibatkan oleh perjanjian Bretton Woods, nilai Dollar AS terhadap emas menjadi over valued dimana setelah Dollar AS diambangkan, pada tahun 1980 (saat revolusi Iran) harga 1 ons emas sudah mencapai 850 dollar AS.

Untuk mengatasi permasalah keuangan yang begitu parah, Federal Reserve/Bank Sentral AS (Fed) menerapkan kebijaksanaan rasionalisasi menggunakan semua instrumen keuangan yang tersedia seperti bunga, money supply dan lainnya. Pada tahun 1982, resesi ekonomi mencapai puncaknya dimana pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai minus 1,9%. Namun setelah itu, pada tahun 1985 ekonomi AS kembali menjadi sehat yang ditandai dengan pertumbuhan PDB riil secara konstan diatas 4%, dan inflasi turun sampai dengan 1,9%. Sebagai catatan tambahan, pada periode ini dimana Reagan menjadi presiden AS, blok timur yang di pimpin oleh Russia mengalami keruntuhan ideologi yang pada akhirnya meruntuhkan seluruh sistem ekonomi komunis. Dengan kata lain, pemulihan ekonomi AS dibarengi dengan kemenangan perang dingin oleh pihak blok Barat yang dipimpin oleh AS.

Pada akhir dekade 80an, ekonomi AS mengalami sedikit koreksi yang disebabkan oleh sifat rakus dari ekonomi pasar bebas fundamental yang diperkenalkan oleh ekonom dari Chicago School of Economic yang dikenal dengan julukan ‘the Chicago boys’. Namun situasi ekonomi AS dekade 90an segera meroket dengan tumbuh pesatnya teknologi komputer yang mendukung berkembangnya gelembung bisnis hi-tech dan internet. Pada akhir dekade 90, gelembung ekonomi tersebut pecah, dan seperti dalam siklus boom/bust sebelumnya, maka pemerintah AS kembali sibuk membenahi ekonomi domestik untuk mengimbangi ekonomi dunia yang sudah bermetamorfosa kedalam ekonomi globalisasi.


PERANG LAGI

Perlu diperhatikan juga, sesaat sebelum boom ekonomi di dekade 90an, sebagai satu-satunya negara terkuat di dunia, AS diminta oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk menindak negara Irak, yang telah dengan semena-mena melakukan agresi dan pendudukan atas negara tetangganya yang berdaulat penuh, Kuwait. Sebagai pimpinan ‘nakal’ yang pernah menjadi ‘anak didik’ dari AS, Sadam Husain yang kala itu menjabat sebagai presiden di Irak, telah berbalik menjadi ancaman bagi kepentingan AS di Timur Tengah yaitu minyak dari Arab Saudi dan Kuwait. Atas mandat dari PBB, pada tahun 1991 AS memimpin pasukan koalis untuk melakukan serangan untuk menetralisir agresi Irak, memulihkan pemerintahan Kuwait dan mewujudkan kembali stabilitas politik di Timur Tengah. Menurut testimony dari Amy Belasco, spesialist di U.S Defense Policy and Budget, perang teluk jilid I itu berbiaya 94 milyar AS, tapi hanya 7 milyar yang dibayarkan AS sedangkan sisanya dibayarkan oleh Arab Saudi dan Kuwait. Setelah misi diselesaikan, pembangunan dan pengamanan di Kuwait dan Arab Saudi dilaksanakan oleh AS dengan dibiayai negara-negara Arab tersebut.

Masih segar dalam ingatan semua orang, betapa mencekam dan menyedihkannya serangan teror yang terjadi pada tahun 2001, yang lebih dikenal dengan peristiwa 9/11. Serangan yang dilakukan oleh teroris dari ras Arab yang diotaki oleh Osama bin Ladin yang berasal dari keluarga Arab itu nyaris membutakan mata seluruh insan dunia yang mengidentifikasikan Arab sama dengan teroris. Berkat kedekatan keluarga kerajaan Arab Saudi dengan keluarga Bush, maka target pembasmian teroris diarahkan ke Afganishtan (tempat Osama bin Ladin bersembunyi) dan Irak (yang di claim AS dipimpin oleh musuh utama demokrasi dan pelindung teroris). Untuk itu, politik luar negeri AS diprogram arahkan pada ‘perang suci membasmi teror.’

Sebelum terjadinya peristiwa 9/11, setelah mencapai puncak pertumbuhan selama tahun 1999 dan 2000, pada tahun 2001 ekonomi AS mulai masuk dalam periode resesi, yang diperburuk dengan peristiwa 9/11 tersebut. Tak dapat disangkal, bahwa masa sulit tersebut adalah merupakan periode kritis penentuan garis kebijaksanaan ekonomi, menjelang penentuan masa jabatan kepresidenan Bush Jr yang ke dua. Jika Perang Teluk I hanya bermodalkan 7 milyar dollar AS dan mendatangkan pertumbuhan pada sektor riil, maka ‘menghukum’ Sadam Husain sang ‘sponsor utama teroris dunia’, akan meningkatkan popularitas AS (dan Bush) dan menurut para penasihatnya, akan dapat dilaksanakan dengan modal kecil dengan prospek return yang menawan. Seperti kata kiasan: “Nothing personal, it’s just business.”

Defense Secretary, Donald Rumsfeld dan wakilnya Paul Wolfowitz (bekas Dubes AS di Indonesia) meyakinkan Bush Jr. bahwa rekonstruksi Irak paska penindakan disiplin (serangan dan pendudukan) akan terbayarkan oleh pemerintahan Irak yang baru, melalui peningkatan pendapatan dari minyak.  Rumsfeld juga meyakinkan semua pihak bahwa biaya maksimum dari tindakan pendisiplinan Irak tidak akan melebihi 60 milyar dollar AS, dimana biaya tersebut akan dibebankan pada negara-negara sahabat AS dari Arab (seperti Perang Teluk I).

Kenyataan yang terjadi sampai dengan saat ini, setelah hampir satu dekade sejak dimulainya tindakan pendisiplinan Irak, AS telah kehilangan lebih dari 4.000 prajurit dengan korban perang (luka/cacat) lebih dari 58.000 prajurit ditambah dengan 7.300 prajurit korban perang (luka/cacat) di Afganistan. Menurut Joseph Stiglitz (pemenang Nobel Economic) dan Linda Bilmes dalam buku mereka yang berjudul “The Three Trillion Dollar War”, biaya cash yang telah dikeluarkan AS untuk perang melawan teroris di kedua medan (Irak dan Afganishtan) sampai dengan buku tersebut naik cetak, adalah 846 milyar dollar AS (termasuk 200 milyar dollar AS untuk 2008). Angka tersebut belum termasuk kelanjutan operasi (paling cepat hingga 2012), pembiayaan veteran setelah perang (pengobatan, pensiun dll.) dan biaya lainnya yang secara konservatif akan dengan mudah mencapai jumlah 3 triliun dollar AS (28.000 triliun Rupiah)

RESESI EKONOMI

Dengan beban biaya perang sedemikian besarnya, ditambah dengan kerakusan para pemain ekonomi yang menganut paham pasar fundamental (market fundamental) dengan menjunjung tinggi pedoman Darwin yang berbunyi “Survival of the Fitest” maka ekonomi AS kembali masuk dalam periode  gawat darurat. Hal ini dipertegas dengan bangkrutnya puluhan bank kecil/menengah dan investment bank raksasa diseantero AS yang juga dipertegas dengan tindakan penghapusbukuan potensi kerugian dari beberapa bank besar AS yang masih bertahan hidup.

Institusi finansial AS adalah merupakan pemain utama dalam pelaksanaan peran dari fiat money, dan meledaknya gelembung ekonomi AS adalah merupakan contoh efek domino yang tercipta dari fungsi fiat money. Ketika AS menjadi sumber kekayaan dunia di era berakhirnya perang dunia II, kekuatan dollar dengan back up emas berlebihan membuat dollar AS menjadi mata uang superior yang dipakai sebagai media transaksi antar negara dan juga dipakai sebagai cadangan setiap negara blok barat.  Dengan superioritas dollar dan harta kekayaan yang dimiliki, AS perlu menyumbangkan sebagian kekayaan tersebut guna menumbuhkan ekonomi free world (i.e. Mashal plan), agar sebanding dengan pertumbuhan manusianya. Selanjutnya, karena sifat dasar manusia yang selalu dipengaruhi oleh unsur tamak dan haus, maka pertumbuhan akan selalu cenderung berlebihan dan kemudian menimbulkan ketidak seimbangan dalam ekonomi makro/global.

Ketika AS sibuk menikmati kekayaan, dengan kerja keras dari Eropa dan Jepang, mereka beralih menjadi negara kaya dan effeknya AS mengalami budget defisit dan defisit perdagangan. Ketika pajak susah dinaikan, mencetak uang menjadi pilihan yang menarik. Konsekuensi logis dari mencetak uang adalah: ketika dollar AS banyak beredar, nilainya menjadi melemah dibanding dengan mata uang Eropa dan Jepang, dan efeknya adalah hutang AS dalam bentuk dollar kepada Eropa dan Jepang menjadi relative lebih murah. Dollar cetakan baru sangat berguna untuk pembelanjaan diluar negeri dalam perannya untuk menstimulasi ekonomi AS yang sedang dalam resesi maupun depresi (contoh, semua 100 dollar AS di Indonesia harus baru & licin).

Pada periode 2000 sampai dengan 2005, AS mengalami periode penggelembungan sektor properti. Menurut Marril Lynch, lebih dari dari separuh bisnis baru sektor swasta, bergerak dalam industri yang terkait dengan properti; dan pada kuartal pertama ditahun 2005, stengah dari petumbuhan PDB AS terkait pada sektor perumahan. Sehubungan dengan usaha pemerintah AS menggairahkan pertumbuhan ekonomi, semenjak tragedi 9/11, Fed menurunkan tingkat suku bunga secara konsisten sampai dengan puncak rendahnya suku bunga Fed yang terjadi sepanjang tahun 2003 sebesar 1%. Situasi ini kembali memicu kerakusan pelaku ekonomi yang dimotori oleh bank pelaksana yang secara agresive melakukan peminjaman pada sektor perumahan, tanpa menggunakan modal, bahkan melipat gandakan penghasilan melalui beragam fee. Caranya adalah dengan membundel commercial mortgage, corporate loans, high-yield takeover loans, emerging market loans dan yang lainya kedalam beberapa jenis paket, dan menjualnya pada dana pensiun, asuransi, maupun investor asing sebagai produk-produk investasi eksotik dengan judul collateralized mortgage backed securities (CMBS), collateralized loan obligation (CLO) atau collateralized debt obligation (CDO).

Permasalahan yang dihadapi industri perumahan di AS, sama dengan yang terjadi diseluruh dunia dimana size pasar aktual lebih kecil dibandingkan dengan supply untuk pasar. Pada tahun 2005 beberapa pakar perumahan di AS mengindikasikan bahwa 40% dari pembelian rumah bukan merupakan rumah untuk kebutuhan primer, melainkan sebagai rumah kedua, sarana investasi maupun spekulasi (karna murahnya biaya pinjaman). Pemaksaan pertumbuhan pasar, menyebabkan turunnya kualitas performance dari pinjaman. Efeknya tentu saja gagal bayar dari konsumen, yang merembet pada gagal bayar dari bank pelaksana kepada investment bank (termasuk kepada Lehman Brothers) yang berakibat pada paniknya investor institusi (pension fund, asuransi dll) yang bereaksi melaksanakan ‘cut loss’ dengan cara melepas instrumen-instrumen investasi tersebut dengan harga berapa saja.

Pasar keuangan AS remuk karena kerakusan, salah manage dan arogansi. Berapa besar biaya yang hilang dari krisis subprime mortgage ini? Menurut Charles R. Morris dalam bukunya “The Trillion Dollar Meltdown” yang naik cetak bulan Februari 2008, estimasi biaya yang hilang adalah 1 triliun dollar AS. Namun analis keuangan lainnya memberikan estimasi jumlah utang yang tidak aman sebesar 3 triliun dollar AS dengan komposisi 2 triliun dollar AS untuk kategori subprime mortgage dan 1 triliun dollar AS untuk kategori Alt-A.
Atas potensi kerugian yang akan terjadi maupun kerugian yang sudah terjadi tersebut, Pemerintah AS kembali harus melakukan langkah penyelamatan. Caranya adalah dengan mengeluarkan dana penyelamatan yang diusulkan sebesar 700 milyar dollar AS (650 triliun Rupiah), yang akan dipergunakan untuk membeli asset-aset bermasalah sekaligus mengambil alih lembaga keuangan bermasalah yang terkait.

Berikutnya, timbul pertanyaan atas sumber uang yang dipakai dalam pemborosan oleh pemerintah AS melalui perang teluk I dan II, yang menurut Stiglitz dan Bilmes mencapai 3 triliun dollar AS. Juga menjadi pertanyaan, dari mana asal uang yang menguap dalam melakoni hasrat rakus dari para pelaku ekonomi di institusi keuangan AS, yang menurut Morris dalam bukunya, berjumlah lebih dari 1 trilliun dollar AS? Jawabannya sangat simple; fiat money diciptakan dari ketiadaan untuk dipergunakan sebagai media “janji tebusan” (redemption) oleh pemerintah kepada siapapun pemegangnya. Seperti dalam kehidupan sehari-hari, bila terlalu banyak berjanji tanpa punya kemampuan untuk memenuhi janji tersebut, maka sebagian janji tersebut akan terlupakan, atau hilang menguap. Demikian juga dengan fiat money.


TANTANGAN HUSAIN BARAK OBAMA

Setiap administrasi baru dari pemerintahan di AS, selalu menghadapi tantangan yang diwariskan oleh pendahulunya. Jika dibandingkan dengan kondisi pemerintaha yang sebelumnya, tantangan dan tugas yang dihadapi oleh administrasi dari presiden AS Barak Obama adalah sangat menantang, dimana dengan PDB sebesar 13,7 trilliun dollar AS, utang negara telah mencapai 11,8 trilliun dollar AS.

Semenjak masa post-perang dunia II, perjalanan boom-bust ekonomi AS selalu di apit oleh perang, kerja keras dan kerakusan. Banyak elit di AS memandang perang seakan suatu proses ekonomi seperti bisnis yang memerlukan capital untuk dikelola sehingga kemudian akan mendatangkan return dalam bentuk pertumbuhan ekonomi. Kerja keras jelas memerlukan capital untuk diolah menjadi produk dan services yang akan diserap pasar dan menggerakkan ekonomi. Kerakusan juga memerlukan capital yang besar dan murah, karena dengan begitu, rente yang dihasilkan dari suatu kerakusan akan berlipat lipat, tanpa perlu menciptakan keseimbangan; inilah sumber malapetaka bagi setiap periode boom-bust AS.

Berkaca pada kekuatan ekonomi US, semenjak akhir Perang Dunia I negara-negara Eropa mulai membicarakan dibentuknya zona ekonomi yang diikuti dengan penggabungan currency untuk mencapai tujuan stabilisasi nilai tukar dalam pasar ekonomi Eropa dan juga mendukung liberalisasi arus modal. Setelah Presiden US Nixon mencabut lindung emas atas Dollar US, yang mempengaruhi seluruh perekonomian negara Barat, rencana pembentukan mata uang tunggal Eropa menjadi tertunda, sampai dengan awal 80an, dimana European Monetery System dibentuk dengan tugas mensinergikan mata uang negara-negara Eropa kedalam European Currency Unit.

Dengan lahirnya mata uang Euro pada tahun 1998, yang didukung awal oleh 11 negara (kemudian menjadi 17),  maka sentra pertumbuhan fiat currency menjadi lebih luas, karena kekuatan Dollar US sudah bisa diimbangi oleh Euro yang ditopang oleh negara Industri kuat di Eropa seperti Jerman, Prancis dan Italy (tidak semua anggota EU bergabung dalam Eurozone). Tahun 2001, Greece sepenuhnya masuk dalam Eurozone, dan dengan fundamental ekonomi yang tidak sama dengan anggota negara lainnya, ditambah lemahnya disiplin pelaksanaan pemerintahan, maka pada tahun 2009, defisit belanja Greece telah mencapai 15,4 % dari GDP dan hutang publik mencapai 126,8 % dari GDP. Adapun dalam Eurozone, batasan maksimum yang diizinkan adalah 3 % untuk defisit belanja, dan 60 % untuk total hutang negara.

Ketika krisis ekonomi di US belum berakhir, Eropa masuk kedalam krisis ekonomi yang sangat serius dimana setelah bencana finansial Greece, negara-negara Italy, Spanyol, Portugal dan Irlandia sudah mulai terbuka borok permsalahan keuangannya. Teori dari John Maynard Keynes untuk mendorong pemerintah dalam membelanjakan uang guna memutar ekonomi, belum pernah terbukti, karena pada saat teori tersebut dikemukakan pada Presiden US Frnaklin D. Roosevelt, depresi ekonomi US kemudian teratasi dengan keterlibatan US dalam Perang Dunia II. Selain itu, dengan masih kuatnya benalu kapitalis yang terbentuk dalam institusi keuangan dunia, maka pencetakkan fiat currency tanpa dibarengi dengan peningkatan disiplin di sektor keuangan, hanya akan memompa bubble yang baru tanpa peningkatan pertumbuhan sektor riil secara sebanding.

Beberapa perang telah menyelamatkan ekonomi US, namun perang di Irak dan Afganistan malah memperburuk ekonomi US. Saat krisis ekonomi Eropa dimulai, Nato telah menginisiasi perang di Lybia, dan Iran merupakan target perang berikutnya. Namun mayoritas elit politik dunia mulai faham bahwa perang bukan merupakan jalan yang baik dalam menyembuhkan ekonomi dunia. Tidak ada jalan pintas dalam mengatasi permasalahan yang diciptakan secara sistematis selama beberapa dekade; tidak pula masalah akan teratasi dengan tuntas dalam system ekonomi global yang bertumpu pada fiat money. AS, Inggris, Jepang, Jerman, Prancis, Australia maupun Indonesia, semua memiliki cacat genetic berbentuk fiat currency system. Agar seluruh system ekonomi tidak diserang oleh penyakit kronis berbentuk resesi ekonomi, seluruh pimpinan di dunia, harus mencanangkan hidupnya ekonomi yang sehat berlandaskan kerja keras, disiplin anggaran dan good governance, selain menjauhkan perang dan mengikis kerakusan dengan menciptakan rambu hukum yang comprehensive.

Resesi ekonomi AS dan Dunia yang tercipta dari penciptaan fiat money tanpa dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi riil, yang diperparah dengan gaya hidup hedonisme masyarakat moderen yang ditopang oleh budaya meminjam, telah menghadirkan keniscayaan dari gelembung ekonomi yang pecah, yaitu hilangnya nilai mark-up fiat money dari ekonomi riil. Seluruh dunia tidak dapat membiarkan Eurozone ambruk, karena akan berdampak parah pada AS, dan seluruh negara di Eropa, bahkan juga akan memukul perekonomian China, India, Jepang, Korea, Taiwan dan ASEAN. Pemulihan ekonomi dunia akan berlangsung lama dan sangat menyakitkan bagi rakyat negara-negara maju, karena berkurangnya anggaran kesejahteraan yang selama ini merupakan insentif umum bagi rakyat dinegara maju (Eropa). Sampai dengan akhir 2011, tidak ada satu pihakpun yang mempunyai jawaban untuk mengatasi krisis global ini, dan tidak juga ada yang dapat meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Semoga perang bukan menjadi salah satu opsi.

Kiamat (Perekonomian) Dunia Di 2012


by: Benjamin ridwan gunawan

Beberapa minggu yang lalu, saya berdiskusi dengan beberapa teman saya yang seorang dosen ekonomi, beliau adalah orang yang menekuni ekonomi makro. Dari diskusi tersebut kami temukan isu yang mengatakan resesi ekonomi 2008 belum berakhir, akan ada gelombang berikutnya yang jauh lebih besar, dan kejadian tersebut dikatakan akan terjadi di tahun 2012. Bila anda pernah mendengar isu kiamat di tahun 2012, maka ini kami sebut “Kiamat Perekonomian Dunia.”

Sistem keuangan yang sudah bobrok dan tak pernah diwujudkan solusi konkritnya. Uang itu sendirilah masalahnya.
Pada jaman dahulu, sistem transaksi kita menggunakan sistem barter, dan alat tukar standarnya adalah emas. Dengan berjalannya waktu, emas tersebut disimpan dalam gudang dan digantikan dengan surat sertifikat kepemilikan emas, dengan alasan jauh lebih praktis ketimbang membawa emas yang berat kemana-mana. Ketika semua orang menyimpan semua emasnya dan menggantinya dengan surat sertifikat kepemilikan emas, awal mula kebobrokan sistem dimulai. Jumlah surat kepemilikan dengan jumlah emas yang disimpan sudah berkembang menjadi tak sama lagi. Jaminan emas sudah diabaikan, yang ada hanya kepercayaan pada selembar surat dari kertas, yang bertuliskan surat kepemilikan emas. Dan surat tersebutlah yang kini berbentuk uang kertas yang sering kita pakai.
Perbankan mencetak uang kertas melampaui persediaan emas yang disimpan, menandakan bahwa uang kertas yang kita pegang tersebut benar-benar tak bernilai sama seperti kertas lainnya. Hanya nilai kepercayaanlah yang melekat pada uang kertas tersebut sehingga kita masih bisa menggunakannya untuk bertransaksi.
Sekarang coba bayangkan, anda memiliki satu koper uang senilai satu milyar rupiah, apakah anda dapat bertransaksi di negara lain seperti di Singapura ataupun di Afrika? Anda harus menukarnya dahulu dengan jenis uang setempat. Nah misalnya lagi, anda memegang uang Euro, atau dollar, yang dikata lebih universal. Apakah uang universal tersebut bisa anda gunakan saat anda tersesat di hutan Amazon dan bertemu dengan orang suku pedalaman setempat? Bandingkan bila pada saat di Amazon, bukan dollar yang anda bawa, tapi emas, jauh lebih bernilai yang mana?
Sebenarnya kita telah merugi, hanya dengan memiliki uangnya saja, bahkan tak pernah anda belanjakan misalnya. Karena nilai uang kertas yang kita pegang terus tergerus oleh inflasi. Harga gula pada tahun 2005, dengan uang sepuluh ribu rupiah bisa anda peroleh 2kg, namun sekarang beli 1kg saja masih kurang genap. Padahal uangnya sama, tulisannya tertera sama “Sepuluh ribu rupiah”, kenapa nilainya menjadi berbeda. Itulah yang disebut dengan inflasi. Akan datang suatu masa, di mana uang yang kita gunakan saat ini tak ada nilainya lagi.

Belajar dari sejarah
Sudah sering diperlihatkan oleh sejarah, sejarah kelam kehancuran perekonomian dunia: Setiap satu-dua dekade selalu terjadi krisis. Perang Dunia I, Perang Dunia II, Krisis Black-Gold, Resesi 1998, Resesi 2008. Tapi kita tak pernah belajar dari masa lalu, kesalahan yang sama selalu terulang kembali. Kesalahan yang dibiarkan ini akan terjadi kembali, dan besok akan terjadi resesi besar lagi.
Investasi di Indonesia kini sedang bagus, tingkat bunga pengembalian hingga mencapai 7-8%. Bandingkan di Amerika dan Jepang hanya 0,5-1% saja. Namun investor yang mendanai perekonomian Indonesia mayoritas adalah orang asing. Begitu uang investasi asing ditarik, maka seperti bangunan setinggi 100 lantai, di mana lantai 1 sampai 80 tiba-tiba menghilang. Puncak bangunan akan terjun bebas, dan mendarat dengan hancur berkeping-keping. Dan ini bukan sebuah perandaian, dan resesi besar tersebut akan benar-benar terjadi.
Inflasi besar-besaranan akan terjadi, suku bunga perbankan meningkat drastis, pinjaman-pinjaman beragunan akan membengkak, banyak terjadi kredit macet, dan akan banyak perusahaan yang gulung tikar atau merger dengan perusahaan lainnya demi menyelamatkan diri.

Solusi

Kekacauan ekonomi yang terjadi ini akan terus terjadi dan terjadi lagi tiap satu-dua dekade, selama kita masih menggunakan uang kertas yang kita pakai sehari-hari. Namun solusi mengganti uang kertas yang kita pakai, dan secara mendadak menggantinya ke sistem lama, sistem barter dan emas, itu tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan. Sistem keuangan ini sudah mengakar, dan perlu effort yang luar biasa besar untuk mebetulkannya. Perlu kecerdasan dalam menghadapi keadaan yang dilematis ini, di mana kita tetap berada dalam sistem keuangan yang salah, namun kekayaan anda dapat diselamatkan. Berikut adalah solusi yang bisa anda aplikasikan.
Amankan kekayaan anda:
1.    1.   Milikilah bisnis bersistem yang memutar uang anda yang dapat memberikan nilai lebih dari nilai uang anda sebelumnya. Mengapa harus memiliki bisnis bersistem? Uang anda adalah masalahnya. Anda diamkan saja uang tersebut, maka nilainya akan semakin turun tergerus oleh inflasi. Putar uang tersebut dan hasilkan laba, menjadikan uang anda bertambah nilainya. Namun perlu diingat, kecepatan inflasi juga kadang berakselarasi dengan cepat. Maka akan terjadi pertarungan antara kecepatan pertambahan nilai uang anda yang berasal dari laba dengan kecepatan inflasi yang menggerus nilai uang anda. Lebih cepat yang mana, kecepatan laba anda atau inflasi.
2.     
            2.  Investasi, pilih investasi yang tepat, bukan reksa dana maupun investasi saham pada perusahaan Tbk, hal itu tidak ada bedanya dengan memiliki bisnis bersistem. Tapi investasikan kekayaan anda dengan tanah, properti, dan yang utama adalah emas. Mengapa tanah, properti atau emas? Makna dari investasi ini bukan untuk memperoleh laba dengan cepat. Namun makna investasi adalah melindungi dan memberikan keuntungan pada kekayaan anda untuk jangka yang sangat panjang. Maka investasikan uang (tak berharga) anda pada suatu barang yang sangat tidak likuid (tidak mudah diuangkan kembali), semakin tidak likuid suatu barang, semakin jauh dari kerugian atas uang itu sendiri.
3.    
          3,   Jadilah manusia yang berkualitas, berguna, miliki skill yang bermanfaat buat orang lain, dan perbaiki moral anda. Saat bisnis-bersistem anda bergejolak bertarung cepatan mana dengan inflasi, sedangkan investasi anda sedang melindungi nilai kekayaan anda. Kontribusikan kemampuan anda untuk hidup maka hidup akan berkontribusi untuk anda. Bila memang kekayaan anda semakin terancam nilainya, dan uang akan benar-benar tak bernilai, maka satu-satunya yang bernilai adalah diri anda sendiri. Jadilah manusia yang dapat berkarya untuk keluarga, masyarakat, dan negara.
4.     
         4.  Extra tips, lakukanlah sedekah. Perbanyak sedekah dari sebagian kekayaan anda, sebelum kekayaan anda menjadi benar-benar tak berharga. Anda tidak akan pernah menyangka The power of Gift akan sangat ampuh berguna untuk masa depan anda.
Hidup memang indah, hidup itu mudah bila kita tahu ilmunya, jangan pernah berhenti belajar dan waspada, “Keep your soul and love to the God, and God will save you in every moment”.