“Mewaspadai” Tiket "NOL" Rupiah

Oleh: Yoga PS
Minggu-minggu ini ada beberapa airlines yang sedang gencar-gencarnya promo. Lebih tepatnya hanya dua: “Air Merah” dan “Si macan”. Bagaimana dengan “Singa airlines” yang baru saja terkena musibah di Denpasar? Untuk yang itu harga tiketnya sudah over priced. Sehingga sering saya coret dari daftar wajib LCC saat mencari tiket.
Si “Air Merah” baru saja meluncurkan promo Karnaval nol rupiah. Sedangkan “Si macan” memberikan promo “1 Rupiah” untuk tiket return. Kebetulan, saya membeli kedua airlines itu. Untuk “Air Merah” saya dapat ke Singapura 66 ribu dan Johor Bahru pp 400 ribu. Sedangkan “Si macan” akan mengantarkan saya ke Bali dengan biaya 600 ribu pulang pergi. Semuanya dari Jakarta.
Loh katanya nol rupiah? Koq masih bayar ratusan ribu?
Yang Gratis Itu Seat-nya

“Mana nol rupiahnya?”

“Gw udah select Nol, pas di proceed ke next step koq jadi ratusan ribu?”

“Nih airlines mau boongin konsumen ya?”

Komentar seperti ini sering dikemukakan ticket hunter. Semata-mata karena kita sebagai konsumen tidak tahu bahwa Airlines akan memisahkan biaya tiket dengan fuel surcharge, tax, dll. Kita bisa lihat contoh gambar dibawah.
cost breakdown tiket JB
Tertulis jika biaya tariff (seat) = NOL rupiah. Jadi Airlines tidak berbohong donk! Tapi kita harus tetap membayar fuel surcharge, dan airport tax (di Luar Negeri airport tax dimasukkan dalam biaya tiket – klo gambar diatas 200rb). Lagipula, disaat tiket normal bisa berharga ratusan ribu, maka harga diatas tergolong sangat murah. Makanya saya iseng-iseng beli hehehe.
Yang perlu dicatat, beberapa airlines memasukkan opsi asuransi, seat selection, on board meal, dan tambahan bagasi. Sebagai konsumen hemat menjurus kere, kita harus pintar-pintar “membuang” opsi-opsi tambahan itu. Konsumen yang ga ngerti, biasanya asal next-next aja. Tahu-tahu mereka kaget melihat biaya yang membengkak dan menganggap airlines melakukan kebohongan publik.
Tips gampangannya: baca semua terms & condition dan jika ingin murah, un-thick semua option tambahan.
Add on cost baggage and insurance

Motivasi Promo Seat

Btw, kenapa sih Airlines berbaik hati merelakan kursinya hingga gratis? Logikanya sederhana: meningkatkan load factor (tingkat keterisian pesawat). Sebagai informasi, dalam airlines ada beberapa “tingkatan harga tiket”. Tidak ada yang sama. Semua tergantung permintaan.
Missal ada 100 seat (tempat duduk) tersedia. Harga dimulai dari Rp 100 untuk 10 seat. Jika sudah laku, tiket merangkak menjadi Rp 120 untuk 20 seat. Jika semua terjual, harga berubah jadi Rp 150 untuk jatah 40 seat. Demikian seterusnya hingga misalnya harga menjadi Rp 200 untuk 30 seat terakhir (sekedar contoh doank. Tingkatan harga tergantung maskapai. Salah satu maskapai bisa sampai 8 tingkatan harga!).
Karena airlines business ada seasonal-nya, rata-rata load factor pesawat 70-80%. Tergantung musimnya. Pas musim liburan ya rame. Kalo ga pas liburan ya gitu deh. Banyak yang kosong. Nah, promo tiket sebenarnya adalah usaha untuk memberikan beberapa tiket dengan harga terendah di bulan-bulan low season. Bulan February-April dan sebulan setelah lebaran adalah best moment untuk mencari tiket promo. Dan jangan bermimpi ada maskapai yang memberikan promo di musim lebaran! (kecuali itu maskapai bapak kita sendiri).
Pola pikir airlines simple koq: daripada kursi dibiarin kosong, kenapa ga di diskon aja?
Jadi ya, happy hunting tiket promo! :D

7 Tempat Hemat Pengganti Hotel [Travelnomics]

Oleh: Yoga PS

Pengen traveling tapi biaya terbatas? Santai cuk, untuk apa kita belajar ilmu ekonomi jika tak mampu memecahkan persoalan ini. Tapi sebelumnya kita harus tahu, cost structure sebuah perjalanan wisata. Busyet, udah kaya kuliah Akbi aja (Akuntansi Biadab.. eh Akuntansi Biaya).

Jika ditelusuri, sebenarnya ada tiga pos utama traveling:
  1. Transportasi > cara mencapai tempat wisata
  2. Konsumsi > cara bertahan hidup dan biar balik ga tinggal nama
  3. Akomodasi > biar ga dikira gelandangan dan ada tempat numpang line poop
  4. Prostitusi (oh, ini khusus wisata lendir. Bisa tanya bupati Garut yang lebih ahli)
Untuk mengamalkan prinsip ekonomis sebenarnya sederhana. Cara hemat ongkos transportasi adalah sering-sering hunting tiket promo sambil berdoa biar ga kehabisan. Untuk hemat konsumsi juga simple, cukup puasa Senin Kamis. Sahurnya Senin, bukanya Kamis. Pasti bisa saving duit banyak tuh. Nah, untuk penghematan akomodasi nih, jarang yang memberikan terobosan out of the box.

Penulis hanya ingin berbagi cara berhemat biaya penginapan/hotel. Tulisan ini disarikan dari pengalaman traveling sejak zaman SMP. Mulai yang nyaman pake travel nginep di hotel berbintang sampai ngegembel segembel gembelnya tidur di tempat berbintang (kagak ada atapnya, bener-bener beratapkan bintang :p).

Traveling terakhir saya adalah tour trans Sumatera mulai dari Jakarta – Lampung – Palembang – Jambi –  Pekanbaru – Samosir – Berastagi – Medan – Aceh – Sabang- Aceh – Jakarta pada Desember 2012 lalu. Dan boleh percaya boleh tidak (emangnya gw Tuhan kudu diimani?), saya hanya menginap di penginapan di tiga kota. Itupun karena ingin berwisata lebih lama.

Sisanya tidur dimana donk? Enak ya jadi jin, ngantuk tinggal masuk ke botol… Eits jangan syirik dulu donk. Ini saya bocorin tempat menginap pengganti hotel.

7 Tempat Senyaman Hotel

1. Rumah Kenalan

Inilah bukti silaturahmi menambah rezeki. Selain dapat akomodasi gratis, biasanya kenalan/keluarga kita bisa menjadi tour guide plus supir yang rela nganter jalan2 keliling kota :D. Untuk yang ga ada kenalan/sodara bisa coba menggunakan couchsurfing. Atau bikin aja iklan lewat jejaring social hehehe.


2. Kendaraan
 

Car sweet car. Tinggal berhenti. Matikan mesin. Kunci pintu. Senderkan jok. Rebahkan badan. Bisa bobo deh hehehe. Tapi paling enak kalo kita lagi naik bus/kereta/pesawat. Karena selain menghemat waktu, juga bisa menjadi tempat tidur mobile (Beberapa bus/kereta antara negara juga menyediakan tempat tidur). Saran saya, jika perjalanan yang kita tempuh lebih dari 5 jam, ambil jadwal terakhir (paling malam). Tidur selama perjalanan, dan esok hari setelah sampai, badan kita sudah bugar. Trust me it works ^_* ting. 

Saya menghemat waktu saat berkeliling Sumatera dengan modus ini. Beli tiket bus/kereta yang agak bonafide, plus jadwal paling malam. Habiskan siang berkeliling kota. Oh ya, jangan naik bus ekonomi jika ingin istirahat. Meski bus ekonomi dilengkapi fasilitas full sauna (panas meski malem), full music (minta recehan sambil nyindir klo pura2 tidur), juga full restaurant (dari tahu sampai salak ada yang jual).

3. Masjid


Karena tidur itu ibadah (maksa), maka tempat terbaik untuk melaksanakannya adalah di rumah Tuhan. Masjid menjadi pilihan asyik karena biasanya sejuk, sanitasi bagus, dan terbuka. Tapi tidak semua daerah masjid-nya open. Ada yang digembok saat malam. Pengalaman saya, untuk masjid di pusat kota lebih terbuka. Cukup lapor ke takmir. Ngaku aja jadi musyafir (biarpun tampang mukafir :p). Saya pernah dijamu takmir gaul. Sebelum tidur dikasi makan, tikar, dan teh hangat. Alhamdulillah.

4. Kantor polisi

 

Anda ga salah baca. Ya, kantor polisi! Ga sekalian dipenjara bang? Eh serius. Teman saya udah nyoba. Dengan modal 100rb dia pingin ke Bali dari Jogja. Sampai di Bali, dia kebingungan, tidur dimana yang gratis. Akhirnya dia nekat, lapor ke polisi. Ngomong jujur aja klo ga punya uang dan nyari tumpangan tidur. Pak polisi dengan baik hati mempersilahkan kawan saya tidur di ruang kantor. Gratis. Ga semua polisi mata duitan kan :)

5. Warnet

 

Pengalaman tidur di warnet saya dapat secara tak sengaja. Saat di Berastagi saya sengaja keluar dari hostel tempat saya menginap. Ingin menghirup udara malam sambil browsing mencari informasi tentang perjalanan selanjutnya. Saat jam 1 saya kembali dan wowww… hostelnya digembok brow. Balik deh saya ke warnet. Main game sampe pagi. Cuma 15 ribu semalam. Esoknya saya baru tahu jika semua penginapan di Berastagi mengunci pintu mereka. Makanya jangan harap dapat penginepan jika sampai di kota ini jam 12 malam. Nginep di warnet enaknya ya dapet fasilitas gratis internet. Tapi jangan nyari warnet remang-remang ya… hehehe.

6. Bandara/Terminal


Karena rata-rata check in sudah dibuka 24 jam sebelum keberangkatan. Bandara atau terminal bisa dijadikan pilihan. Toh fasilitas lengkap. Ada kamar mandi, wifi, dan dekat dengan tempat makan. Kelebihan lain: Anda ga akan ketinggalan flight (kecuali kalo ketiduran).

7. Alam bebas

 


Ini yang paling keren. Bermodal sleeping bag atau selembar koran kalo emang ngantuk maka tetep aja serasa spring bed hotel berbintang hehehe. Di pinggir pantai boleh. Emperan toko pun jadi. Kelebihannya selain gratis adalah fasilitas Air Conditioner merk “Angin Malam” yang tentu saja menusuk pilu. Huhu. Perlu juga diperhatikan keamanan barang bawaan karena fasilitas “open baggage” membuat orang dengan bebas mengambil barang Anda.

sumber gambar: dompu.info

So, kata siapa traveling harus mahal? Dengan sedikit “pengorbanan” kita bisa menyiasatinya. Tapi khusus bagi traveller perempuan saya rasa akan lebih baik jika bepergian bersama teman/muhrimnya. Lha wong yang travelling by angkot aja masih belum aman.

Tapi yakinlah jika kita berniat baik, berprilaku baik, dan berpenampilan baik, segalanya insya Allah baik. Meski banyak berita tentang kejahatan, yakinlah masih lebih banyak lagi kebaikan yang tidak diberitakan.

Jika dilihat lagi, lumayan banyak kan pilihan yang bisa diambil? Jelas lumayan lah.. daripada lumanyun :p. Silahkan temen-temen tambahin opsi lainnya.
Happy travelling!!!.