Romansa Cinta yang Paling Tinggi bagi Seorang Ekonom (Gila)

Oleh: Aulia Rachman Alfahmy
Oke, silakan kalian mengolok-olok saya lagi galau atau lagi ababil (ABG Labil, walau sudah gak ABG lagi). Tapi jujur saja, dari sekian lama perenungan saya soal cinta dan ekonomi, menurut saya hal inilah yang menurut saya paling menggambarkan apa itu cinta (meskipun sampai hari ini saya tetap tidak tahu cinta itu apa, ouch!). Tidak ada pendekatan ekonomi yang lain yang lebih menyerupai dan menjelaskan tentang evolusi cinta umat manusia. Setelah melakukan perenungan dan kontemplasi tingkat tinggi. Meresapi dan menghayati cinta yang selama ini tertanam di dada saya. Melalui jutaan cobaan, rintangan, duri, dan luka. Akhirnya… Saya temukan postulat-postulat cinta dari pandangan seorang ekonom gila kali ini (lebay abisss!).
Baiklah, ternyata evolusi dan tingkatan cinta saya temukan di evolusi uang. Mungkin bagi sebagian orang ada yang bilang kalau sekarang terjadi dekandensi cinta dan saya lihat ini mirip dengan dekandensi nilai uang pada perjalanan evolusinya. Layaknya cinta yang akhir-akhir ini seperti seolah mudah dimunculkan (kalau jaman dulu ada reality show “katakan cinta”, ada juga realty show 12 cewek merebutkan satu cowok, dsb), demikian dengan uang yang juga muncul dari ketiadaan. Sebelum melangkah ke cerita soal cinta, saya akan mulai cerita dahulu bagaimana evolusi uang dan di akhir bagaimana evolusi uang ini beranalog dengan evolusi cinta (tentu saja, ketika berbicara masalah cinta banyak ruang perdebatan di sana, tapi ikuti dulu ya alur dari saya). Saya banyak menggunakan inspirasi dari buku Rothbard untuk menjelaskan evolusi uang ini.
Kemunculan Uang itu Karena pada Hakikatnya Kita Saling Membutuhkan
Tahap pertama – Oke, awalnya kenapa muncul uang adalah tidak lebih dari sebuah kodrati manusia yang diciptakan berbeda-beda, layaknya laki-laki dan perempuan yang memiliki fungsi biologis yang berbeda sehingga mau tidak mau mereka harus bersatu (bagi yang mau dan dapet! hahahaha), manusia yang berbeda-beda ini pada akhirnya sadar bahwa mereka adalah makhluk sosial dan saling membutuhkan. Ya adanya perbedaan dan keanekaragaman ini, membuat diri kita berujung pada sebuah kegiatan yang dikenal dengan sebutan “transaksi”.
Pada awalnya, manusia bertransaksi dengan sebuah mekanisme yang disebut dengan barter. Seorang petani jeruk membutuhkan baju untuk dipakai, seorang penjahit membutuhkan jeruk agar tidak sariawan dan tidak mudah sakit. Entah bagaimana caranya, pokoknya (ya benar-benar pokoknya!) mereka ditakdirkan oleh Tuhan untuk saling bertemu dan juga bisa sama-sama memiliki keinginan yang saling melengkapi, ini dikenal dengan double coincidence of need. Dalam bahasa ndesonya mungkin seperti ini: kebetulan ganda atas kebutuhan. Bagi saya ini seperti sebuah keajaiban, karena benar-benar syaratnya sangat sulit untuk terjadinya sebuah barter yang hakiki (barter yang benar-benar optimal, atas dasar sama-sama suka dan sama-sama mau!).
Bayangkan si A kebetulan bisa membuat dan atau memiliki X sejumlah minimal sebesar H dan kebetulan juga sedang membutuhkan Y sejumlah I. Di sisi lain si B kebetulan bisa membuat dan atau memiliki Y minimal sebanyak I dan kebetulan juga sedang membutuhkan X sebanyak H (pusing kan bacanya!). Atas takdir Tuhan lagi-lagi kebetulan mereka, A dan B, bertemu dan melakukan barter! Voila, bisa dilihat berapa kata “kebetulan” yang saya pakai untuk menjelaskan barter ini? Satu saja syarat/kondisi itu tidak ada, maka barter tidak akan pernah ada.
Konsekuensinya apa? Kegiatan ekonomi baik barang dan jasa akan sangat terbatas. Kegiatan ekonomi hanya diperuntukan bagi mereka yang benar-benar beruntung dan mendapatkan anugerah dari Tuhan atas kenikmatan bertransaksi ini. Seorang dosen, yang sedang ingin jeruk, akan sangat sulit mencari tukang jeruk yang mau menukarkan jeruknya kepada dosen dengan sebuah kuliah 3 SKS. Dosen tidak akan pernah menemukan kebutuhan hidupnya dengan barter, maka wajar dahulu tidak ada dosen karena dosen tidak akan mendapatkan kenikmatan bertransaksi ini dari Tuhan.
Tahap kedua – Oke kali ini entah mengapa manusia berinovasi untuk mengatasi masalah barter ini, dan hal inilah cikal bakal alat yang nantinya dikenal dengan sebutan uang. Jika barter tadi saya gambarkan secara utopis dan “sakral” maka dengan akal manusia, mereka mampu memanipulasi ini dengan sebuah transaksi “tidak langsung”. Anggaplah tadi, tukang jeruk membutuhkan baju, tapi si tukang jahit bukan membutuhkan jeruk, dia lebih membutuhkan beras (sebuah komoditas yang memiliki daya jual yang lebih tinggi karena lebih dibutuhkan). Apakah ini berarti si tukang jeruk tidak bisa mendapatkan baju dari tukang jahit? Tidak, dengan sedikit usaha, dia menemukan petani beras, yang sedang membutuhkan jeruk (yap! Lagi-lagi ini juga masih sebuah kebetulan). Dia tukar jeruk dengan beras, lalu dengan beras yang dia punya dia menukarkan dengan baju. Nah, di sini tukang jeruk bagaimanapun pada akhirnya bisa memuaskan hasrat kebutuhannya tanpa harus memiliki persis sama apa yang dinginkan oleh tukang jahit.

Bagaimana dengan kisah si dosen? Hahahaha mungkin juga tetap bisa, tapi dia butuh usaha lebih keras, dengan mencari tahu apa yang dinginkan tukang jeruk, lalu mencari orang yang memiliki apa yang diinginkan tukang jeruk yang sedang membutuhkan kuliah 3 SKS. Proses barter tidak langsung ini bisa melibatkan lebih dari tiga pelaku dan bisa menjadi kompleks, tapi dari kompleksitas itu akan muncul sebuah solusi.

Sekilas ini memang terlihat seperti barter biasa saja, hanya lebih bertingkat, tapi tanpa sadar sebenarnya manusia memasuki pada sebuah pengetahuan baru bahwa sebenarnya ada sebuah komoditas yang memiliki daya jual tinggi, berterima umum, sehingga bertransaksi  tidak harus melewati kondisi double coincidence of need. Seiring perjalanan waktu, manusia mencari komoditas yang mudah ditukarkan dan memiliki daya jual tinggi ini. Nah, pada akhirnya komoditas berevolusi menjadi sebuah komoditas yang berspesialisasi sebagai alat tukar.
Sejarah menunjukan contoh-contoh anehnya, misalnya tembakau di Virginia ketika masa kolonialisasi, gula di India Barat, garam di Abyssinia, ternak di Yunani Kuno, paku di Skotlandia, tembaga di Mesir Kuno, dan lain sebagainya di beberapa belahan benua lainnya, seperti gandum, manik-manik, teh, cangkang dan bahkan mata kail! (Rothbard, 1963). Apa yang menjadi ciri umum dari komoditas-komoditas ini? Salah satunya adalah adanya sifat divisible alias mudah dipecah belah. Logis, barang yang mudah diatur satuannya ini akan lebih mudah dipilah-pilah tepat sesuai dengan keinginan transaksi. (bayangkan lagi si dosen, apakah barangnya berupa “3 SKS kuliah” termasuk barang yang divisible?).
Nah, barang-barang yang punya daya jual tinggi (termasuk di dalamnya adalah tidak mudah rusak, dinginkan orang banyak, dsb) dan punya sifat divisible yang tinggi adalah yang akan menjadi juara komoditas alat tukar. Siapa juaranya? Sepanjang sejarah tercatat dua komoditas handal, emas dan perak. Inilah yang secara alamiah pada akhirnya membuat manusia menggunakan emas dan perak sebagai sebuah benda yang dikenal dengan “uang” untuk bertransaksi. Selamat tinggal ritual sakral barter, sekarang kita memiliki sebuah “representasi” baru yaitu uang emas dan perak. Bayangkan lagi si dosen yang ingin jeruk dari awal cerita, akhirnya dia sekarang dengan mudah mencari orang yang punya emas dan perak dan mau ditukarkan dengan “3 SKS”nya. “Berikan saja saya emas, nanti dengan emas saya beli jeruk dari petani”. Menjadi dosen adalah hal yang mungkin saat ini, selama dia memiliki uang, dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan (jeruk!).
Tahap Ketiga – Ini adalah fase yang saya kenal dengan “kepercayaan di atas kertas”, inilah yang pada akhirnya akan menciptakan kertas bahkan kartu kredit, sudah dijelaskan oleh Yoga P.S di artikel Credo. Namun simpelnya seperti ini, pada mulanya emas yang ternyata kalau sudah banyak berat dan tidak praktis di bawa ke mana-mana, akhirnya di simpan di tempat penyimpanan emas. Nah tempat penyimpanan emas ini akan mengeluarkan nota, kepemilikan emas di atas sehelai kertas. Kertas ini lama-kelamaan berevolusi menjadi sebuah “uang” pula dan ini lah yang menjadi cikal bakal uang kertas. Uang kertas berbasis emas, inilah yang terjadi bahkan hingga masa Depresi Besar Tahun 1930 yang melahirkan sistem Bretton Wood (menggunakan dolar sebagai uang tautan bersama dan dollar dijamin dengan sejumlah emas).
Namun demikian pada praktiknya, gudang penyimpanan emas tadi berevolusi menjadi Bank (bisa baca artikel menarik di sini dengan cerita yang lebih detail). Dengan cadangan emas yang ada di gudangnya, pelan-pelan dia mengeluarkan “nota bukti penyimpanan emas” a.k.a uang tanpa ada sandaran emas lagi. Bank mengatakan pada masyarakat, “pakai saja ini, toh kami benar-benar ada emas di gudang kami”. Masyarakat toh tetap percaya atas apa yang ada di atas kertas, tidak masalah. Nah, inilah yang saya sebut dengan era uang berbasis “kepercayaan di atas kertas”.
Akhirnya semua berujung pada semua jenis uang berbasis kepercayaan di atas kertas. Uang yang sekarang ada di dompet Anda adalah bentuk kepercayaan Anda terhadap pemerintah, bank yang dulu gudang emas tidak lagi menggunakan emas untuk menyimpan dan memberikan pinjaman, cukup uang kertas. Ya semua adalah atas dasar kepercayaan! Belakangan yang trendy akhir-akhir ini adalah kartu kredit.  Sadar atau tidak, itu juga uang! Atas kepercayaan bank terhadap nasabah melalui slip gaji, atas kepercayaan merchant terhadap bank, maka kartu kredit sebagai bentuk turunan dari turunan uang ini muncul. Jika dihayati lebih dalam, sebenarnya uang-uang ini adalah utang manusia terhadap alam nyata (utang dalam dunia finansial terhadap sektor riil, waduh bahasa saya njelimet ini).          
Tahap ketiga evolusi transaksi inilah yang paling menimbulkan masalah, mulai dari yang paling ringan, yaitu inflasi hingga yang paling buruk yaitu depresi ekonomi.  Karena ketika kepercayaan tidak dijalankan dengan amanah, maka muncullah ketidakseimbangan dalam perekonomian. Maka muncullah self-adjustment alam perekonomian berupa koreksi-koreksi yang terkadang menyakitkan. Ekonomi dengan turunan-turunan ini bisa meroket dengan kencang, tapi juga dengan risiko yang besar.
Lalu Apa hubungannya dengan Cinta?
Oke cukuplah sudah dengan “kuliah” moneter yang saya tulis di atas, yang di sana akan banyak sekali pembahasan bercabang-cabang dan merumitkan (yang pastinya membuat Anda semua tidak mengerti, dan cuma saya yang mengerti, hahahaha). Mari kita masuk ke dunia kegilaan saya soal cinta. Dimulai dari tingkat kecintaan yang paling “rendah” hingga yang paling “haikiki”.
Pertama, Cinta kartu kredit. Kartu kredit kalau bisa dikatakan sebuah nilai uang yang muncul paling dekat dengan sebuah wilayah kehampaan, ketiadaan, tidak ada fundamentalnya. Kartu kredit adalah bentuk uang yang belakangan muncul. Hanya bermodalkan apa-apa yang di atas kertas (selip gaji) dan sebuah kartu plastik, orang sudah percaya bahwa ia memang berdaya dan memiliki uang. Akhirnya punya hak untuk beli motor dan mobil walau pun sebenarnya duitnya belum ada. Semua, serba beres dengan kepercayaan atas informasi yang ada di atas kertas.
Bagi saya ini seperti halnya fenomena cinta yang ada di abad 21. Cinta yang timbul karena kita melihat foto profil seseorang di facebook. Wah cakep! Jatuh cinta saya. Bisa juga hubungan cinta yang ada di situs-situs perjodohan. Ya! Hanya sebuah informasi di depan layar yang terlihat kredibel, kita bisa jatuh cinta. Tanpa kita peduli apa itu cinta, kita hanya jatuh cinta pada apa yang ada di atas kertas (ingat dengan “fase kepercayaan di atas kertas”?).
Jika di ekonomi fase kepercayaan di atas kertas adalah yang paling bermasalah dan berisiko, pun di dunia percintaan. Mengapa? Karena ternyata jika ada sebuah pemalsuan atas kepercayaan ini, maka hancurlah sudah cinta itu. Kalau mau bukti nyata, oke ada! Beberapa waktu yang lalu seorang bisa salah menikahi istrinya yang ternyata juga seorang laki-laki (WT F***!). Tahu kenapa? Karena mereka berkenalan dari Facebook! Ya, dunia maya dan jejaring sosial memang membuat dunia percintaan manusia menjadi “tumbuh” dan dinamis laiknya perekonomian modern. Seseorang mampu menemukan jodohnya di belahan bumi yang jauh sekalipun belum pernah bertemu. Tapi, tanggung sendiri resikonya.
Kedua, Cinta Representatif, untuk menemukan cinta terkadang pada satu titik seseorang sudah tidak lagi membutuhkan yang namanya emosi dan perasan cinta dari lawan “transaksinya”. Bahasa mudahnya “cukup dengan dirimu memiliki sebuah hal yang memiliki nilai tawar tinggi dan berterima umum di peradaban, maka akan kuberikan cintaku padamu”. Apa itu sekarang? Uang! Atau lebih tepatnya di power of money, maka tidak heran jika ada argumen muncul bahwa woman loves money, karena dengan money, transaksi cinta dengan pujaannya bisa sedemikian rupa diakomodasi walau sang pasangan belum tentu memberikan dia juga cinta. Karena mungkin saja uang dengan kekuatannya yang luar biasa, ditangkap dan dikonversikan seseorang menjadi rasa sayang dan cinta. Hingga muncul pantun jenaka, “Ada uang abang kusayang, gak ada uang Abang kutendang!”. Hahahahahahaha! Akhirnya cinta hanyalah representatif dari uang.
Mungkin itu hanya salah satu contoh saja dari transaksi cinta di kehidupan manusia ini. Contoh lain bagi pria, representasinya adalah “kecantikan”. Tidak peduli apakah wanita memberikan cintanya atau tidak, yang penting cantik dulu lah. Nah, kecantikan dan uang ini terkadang menjadi sebuah kombinasi tidak langsung, akan bersatunya cinta itu sendiri. Masih ingat dengan transaksi barter tidak langsung? Kurang lebih demikianlah cinta pada fase ini. “Saya butuh cinta dan saya punya uang, akan akan kubeli cintamu dengan uangku”, kata seorang dosen yang baru mendapat uang hasil mengajar “3 SKS”nya. (Namun demikian, bagi wanita masa lampau, mungkin bukan mencari pria yang punya uang tapi punya kekuatan sehingga bisa dilindungi dari serangan musuh).
Ketiga, Cinta Sejati Ekonom (gila), sampai juga akhirnya kita pada cinta sejati pada tulisan kali ini. Apa itu para pembaca yang budiman! Ya Cinta yang beranalog dengan fase barter di jaman lampau umat manusia. Mungkin bisa juga disebut dengan Cinta double coincidence of need. Saya membutuhkan sesuatu yang saya sebut dengan X dan saya memiliki Y, sebaliknya, Dia memiliki X dan membutuhkan Y. Kami bertemu dan kami saling jatuh cinta! Cinta yang manis dan indah! Mungkin bahasa gaulnya sekarang adalah “antara kami berdua ada sebuah click” yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, yang keindahannya hanya bisa dijelaskan oleh dua orang yang sedang jatuh cinta ini. Ini lah pengertian cinta yang hakiki menurut saya sebagai seorang penulis blog Ekonom Gila. Hahahaha…
Namun demikian, laiknya dunia di saat era perekonomian barter, tidak semua orang bisa merasakan cinta ini. Adalah sebuah kebetulan dari kebetulan yang langka. Apalagi terkadang kita walaupun tahu membutuhkan X dan memiliki Y, tapi kita tidak pernah bisa mengidentifikasi apa itu sebenarnya X dan Y secara jelas. Kita hanya bisa merasakan tanpa tahu apa itu. Hal tersebut benar-benar abstrak. Maka tidak heran, jika mungkin hanya sedikit orang yang bisa merasakan cinta yang paling unik ini di era modern sekarang. Toh, meskipun kondisi-kondisi “barter” sudah terpenuhi, kalau ternyata Tuhan menakdirkan bahwa kedua insan ini tidak bertemu, maka tidak akan terjadi “transaksi” atau “perjodohan”. Belum lagi masalah-masalah lain yang bisa menghambat cinta “barter” kedua insan ini.  
Ah, akhirnya saya sadar mengapa selama ini, Adam Smith, Bapak Ekonomi Modern, tidak pernah menikah. Mungkin baginya cinta itu seperti barter, ketika gagal dengan idaman hati, dia tidak pernah menemukan penggantinya yang tepat, dan Tuhan pun menakdirkan dia tidak bertemu dengan pasangan barter hingga akhir hayatnya. Mungkinkah Adam Smith juga terkena penyakit Cinta “barter” ini? Sungguh sebuah romansa cinta yang paling tinggi bagi seorang ekonom gila.
21 Mei 2011
NB: Mungkin dalam arti luas kepada Allah SWT dan kaitannya dengan Manusia masih belum bisa aku jelaskan dalam ilmu ekonomi. Hal itu lebih kompleks, mungkin Fisika Quantum bisa menjawabnya, hehehehhe

Why Do Men Hate Women Who “Love” Money? (A Maskulinsm Analysis of Mbak Titut’s Article “Woman Loves Money”)

Oleh: Priyok

Ehm,,bicara wanita dan uang sungguh menarik perhatian saya. Karena selain tahta, kedua hal itulah hal yang sangat menganggu kami dalam mengarungi dunia ini. Di antara ketiga hal tersebut, wanita dan uang itulah yang memiliki hubungan paling dekat, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Mbak Titut. Percuma saja apabila lelaki punya tahta, namun tak memiliki banyak uang. Misalnya sebagai Ketua Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PerSeTan), olahraga yang kering kerontang uangnya. Biar jadi ketua tingkat nasional, pasti cewek-cewek juga mikir. Beda halnya kalau dia memang tajirudin, biar hanya menjadi bagian administrasi Kedondong FC (klub tarkam di Bekasi) cewek bisa nempel kaya perangko.

Tapi menurut saya, ada alasan lain selain sekedar alasan psikologis kenapa wanita “terpaksa” harus menyukai uang. Sebenarnya ini hal yang klasik bagi wanita. Logis saja, pria menginginkan wanita sempurna. Untuk sempurna mereka butuh modal untuk merawat dirinya. Walau sebenarnya pria tak perlu mengeluarkan uang besar untuk “merawat” bunga mata mereka.
Logika ini mengingatkan saya tentang Maintenance Cycle Theory. Sebuah teori yang diajarkan salah seorang Manajer Turbomachinery di kantor saya. Orang Inggris. Pecinta mesin Roll Royce. Untuk mendapatkan hasil optimal dari sebuah mesin, kata beliau, adalah konsekuensi logis apabila menimbulkan biaya untuk merawatnya—sama seperti wanita, ente mau bini ente cakep kagak cukuplah modal masker bengkoang—Biaya perawatan yang timbul akan kecil di awal penggunaannya—baru kawin,bini masih kinclong—akan tetapi akan meningkat di suatu masa, untuk kemudian stabil lagi dititik tersebut apabila maintenance rutin dilakukan—jadi kalo bini dah kinclong kudu terus-terusan modalin—karena apabila tidak dilakukan maintenance berkala maka bersiaplah untuk maintenance boom, kondisi dimana biaya yang kita keluarkan akan jauh lebih banyak daripada ketika mesin tersebut rajin dirawat. Niat hemat malah jebol.
So boys, this fact insists us to allocate some of our revenue to this kind of expense. The choices are do the maintenance or never.hehehehe. ini satu poin dimana memang women really love money. Bukan begitu Mbak Titut.
Tapi laki-laki punya cara berpikir lain. Saya pernah membaca sebuah artikel di sebuah majalah terkenal di Amerika sana, People. Artikel tersebut dibina oleh salah satu konsultan keuangan jebolan Merryl Linch (perusahaan keuangan yang katanya mau ngutangin Indonesia 100M dollar!!!). seorang wanita di New York bertanya dalam artikel itu. Singkatnya, dia adalah wanita super cantik dengan pergaulan kelas atas, mendambakan suami dengan penghasilan $500,000 per tahun. Kok ga dapet-dapet ya? Malah si cewek itu bingung, para lelaki tajir tersebut lebih memilih cewek biasa-biasa aja. Bego amat sih tu cowok.
Sang analis kemudian menjawab (Merryl Linch Analyst mode:on)
Bagi saya, pilihan lelaki-lelaki tersebut sangatlah tepat. Pilihan yang menggambarkan kalau mereka pantas memiliki penghasilan lebih dari $500,000 pertahun. Karena secara investasi pilihannya sangatlah tepat. Sebagai wanita kelas atas, memilih anda sebagai pasangan hidup adalah pilihan investasi yang buruk. Kenapa?Memilih anda berarti menyiapkan uang yang besar untuk mengakuisisi anda (kawin). Setelah akuisisi pun, biaya operasional yang dikeluarkan tidak sedikit selain terus menerus melakukan re-invest untuk menjaga “kualitas” anda. Di sisi yang lain, secara ekonomis nilai anda akan terus menurun karena depresiasi akan terus terjadi.
Dengan menikahi orang yang menurut anda biasa-biasa saja. Lelaki tersebut mendapatkan return yang lebih besar daripada investasi yang dilakukan. Karena selain tidak memerlukan biaya operasional yang mahal, re-invest yang dilakukan pun relatif kecil karena nilai depresiasinya pun kecil mengingat nilai akuisisi yang tidak terlampau mahal.
Hahahahahaha. Kira-kira begitu terjemahannya. Mungkin agak sedikit merendahkan wanita, tapi bagi saya logis juga. Poinnya bukanlah kalau anda, para wanita, adalah mesin atau aset yang akan terdepresiasi. Sama sekali bukan. Kami sangat mengerti anda suka (mungkin lebih tepatnya butuh) uang. Konsekuensi yang logis dalam kehidupan ini. Tapi plisss, bijak menggunakan uang ini. Ga perlu kan kami sampe korupsi gara-gara dirimu menginginkan ini itu. Jadilah menteri keuangan yang baik dalam keluarga kami nanti. This is why we hate woman who “love” money.
Salam sayang untuk menteri keuanganku….mmmmmuaaaaaaccccchhh!!!!!