Kersen-nomics

Oleh: Aulia R.
Tumbuh sebuah pohon kersen di halaman rumah kontrakan penulis. Awalnya, halaman itu tandus, si pohon kersen yang kecil dan malang berjuang untuk hidup di sana. Bahkan suatu hari pernah hampir dicabut karena bentuknya yang seperti tanaman liar. Tapi kami mengurungkan niat untuk mencabutnya. Akhirnya Si kersen tumbuh dengan sigap dan cepat. Kami para penghuni rumah saja tidak terlalu sadar dan perhatian dengan pertumbuhan si kersen. Tiba-tiba saja si pohon kersen sudah setinggi 5 meter dengan daun, cabang dan batangnya yang menaungi halaman dalam rumah. Ia memberikan kesejukan pada kami sepanjang hari. Pikiran dan hati penulis tersadar, bahwa ia adalah kersen si pohon “kapitalisme”.
Perjalanan si pohon karsen bak seorang pengusaha yang merintis usaha dari nol. Karsen adalah pohon yang ulet, tidak cengeng dan mampu bertahan di lingkungan yang berat. Persis seperti kondisi yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha. Si kersen secara konsisten memanfaatkan potensi sekecil apapun yang ada untuk dia bertahan dan besar. Setidaknya sampai titik di mana sudah punya kelengkapan pohon yang utuh: akar, batang, dan daun. Nah, pengusaha manapun jika ingin sukses, harus seperti itu bukan?
Si Kersen pun punya mekanisme produksi, perdagangan, tabungan bahkan inovasi. Produksinya mencakup pemanfaatan apapun energi yang ada di sekitarnya. Perdagangannya adalah soal bagaimana dia bertransaksi dengan lingkungan dengan “barang dagangannya”. Tabungannya adalah soal bagaimana investasinya untuk memperkuat dan mengakumulasikan sumber energi baru. Inovasinya adalah soal kecerdikannya memperbesar hasil produksinya.
Si kersen melakukan produksi dengan mengkonsumsi usur hara di tanah, berfotosintesis dengan energi matahari yang menggunakan daun sebagai alatnya. Semua itu ia masukan dalam pabrik yang ada di tubuhnya. Tentu saja sebagai sebuah pabrik ada yang ia hasilkan. Ya! Yang dia hasilkan adalah oksigen. Ini adalah produk awal dan pertama si pohon kersen.
Ia pun berdagang, bagaimana itu bisa terjadi? Oksigen adalah komoditas yang bernilai oleh makhluk hidup yang lain. Maka si kersen berjualan oksigen. Awalnya pasar oksigen si kersen baru menjangkau hewan-hewan kecil: jangkrik, ulat, dan tikus rumah. Mereka seolah sedang bertransaksi, si kersen menjual oksigen, para binatang menjual karbon dioksida. Karbon dioksida ini tentu saja berguna untuk tumbuh kembang si pohon kersen. Jadi input si kersen semakin bervariasi: unsur hara dari tanah, sinar matahari, dan karbon dioksida dari lingkungan.
Pelan-pelan si kersen menabung. Caranya memang agak unik. Daun-daun yang digunakan untuk berfotosintesis digugurkan jika sudah hilang masa gunanya. Disisakan sedikit energi (bisa jadi energi ini adalah laba si kersen) dari daun yang gugur itu. Energi sisa daun yang gugur itu membuat unsur hara di tanah tempat ia tumbuh semakin meningkat. Tanah menjadi lebih subur, divisi akar dari perusahan pohon kersen ini kegirangan. Kini mereka dapat memasok lebih banyak nutrisi buat si pohon. Divisi batang juga senang, ini artinya mereka dapat memacu percepatan pertumbuhan primer mereka: mencari sinar matahari ke atas. Meningkatnya asupan dari bawah membuat kersen mampu melakukan instalasi daun lebih banyak dari hari kemarin, sehingga dapur fotosintesis mereka lebih banyak.
Adanya dapur fotosintesis yang lebih banyak membuat si kersen mampu memproduksi barang dagangan lebih banyak (oksigen). Pasar si pohon kersen bertambah. Hewan-hewan beramai-ramai membeli oksigen dari si pohon kersen dan membayar dengan karbon dioksida yang berguna juga untuk si pohon kersen. Kami pun merasakan sedikit manfaatnya. Waktu itu entah mengapa udara di sekitar halaman dalam makin lama makin sejuk. Tanpa sadar kami ikut bertransaksi dengan si kersen dan membayarnya dengan karbon dioksida kami.
Diam-diam si kersen yang sudah semakin tinggi melakukan riset. Dia tahu kalau sinar matahari yang di satu sisi berguna untuk berfotosintesis tapi di sisi lain memiliki kelemahan. Sinarnya membuat kandungan air di tanah cepat menguap sehingga membuat nutrisi dari tanah berkurang nilai gizinya. Ia perintahkan divisi cabang, batang dan dedaunan untuk menutupi seluruh area tanah dari sinar matahari. Di satu sisi agar daun bisa lebih banyak memproduksi, di sisi lain agar tanah tidak cepat kering karena terlindung dari sinar matahari. Semua divisi bersorak-sorai! Ini adalah inovasi yang tepat guna. Lagi-lagi terjadi peningkatan produksi yang signifikan akibat masukan input produksi yang semakin melimpah dan akumulatif. Waktu itu kami penghuni rumah merasa nyaman untuk berteduh di bawah pohon kersen. Bahkan sesekali kita melakukan diskusi intelektual di bawah pohon itu. Tanpa sadar kami menikmati produk turunan dari si pohon kersen: kenyamanan dan ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya penulis menjuluki si pohon kersen dengan “kersen si pohon kapitalisme”. Meminjam ucapan Kwik Kian Gie, ia menjelaskan bahwa kapitalisme adalah dibolehkannya orang per orang memiliki kapital, baik dalam bentuk tunai maupun dalam bentuk alat-alat produksi. Diperbolehkannya kapital orang per orang itu untuk menggunakan kapitalnya untuk berusaha, berproduksi dan distribusi. Sehingga memeroleh laba dan akhirnya menumpuk laba tersebut sampai tidak terbatas.
Si pohon kersen adalah sang kapitalis yang tumbuh dalam situasi lingkungan yang ternyata “kapitalisme”. Kami sang penghuni rumah tidak melarang ia tumbuh, alam sekitarnya pun demikian. Karena kebebasan ini banyak pihak yang diuntungkan. Kami penghuni merasa hadirnya kesejukan, codot (sejenis kelelawar kecil) dan burung gereja menikmati buah si pohon kersen yang manis. Itu cocok dengan tujuan suci kapitalisme: kesejahteraan rakyat. Hal yang paling penting adalah, si kersen melakukan proses akumulasi kapital.
Si pohon kersen memberikan kesadaran bagi penulis apa sebenarnya hakikat “kapital” dalam siklus hidupnya yang amat “kapitalisme” itu. Apa itu kapital? Kapital yang dari kata capital , yang merupakan bahasa latin, berarti sapi (atau hewan ternak lainnya). Mereka yang hanya tidak saja memberikan manfaat dari daging saja tapi bisa juga dari susu, bulu dan kulit yang kesemua merupakan nilai lebih lainnya. Melalui akar kata itu, Hernando De Soto meringkas terma kapital dengan penjelasan, “melakukan dua pekerjaan bersamaan, menangkap dimensi fisik aset-aset (hewan ternak) sebagaimana potensi mereka untuk menghasilkan nilai tambah”.
Apakah kapital yang dipakai si pohon kersen? Penulis merujuk dahulu pengertian dari Sismonde de Simondi, seorang ekonom Swiss abad 19 bahwa kapital adalah sebuah nilai tetap yang berbiak dan tidak akan binasa. Ya! Ungkapan itu hampir mirip dengan penjelasan hukum kekekalan energi. Energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan. Lalu apa kapital itu bagi si pohon kersen? Menurut penulis salah satunya adalah sinar matahari. Ya, energi sinar matahari adalah salah satu kapital si pohon kersen. Suatu energi atau kapital yang pada awalnya diam. De Soto menyebutnya dengan kapital mati.
Mari bayangkan bersama. Halaman dalam rumah kami yang awalnya gersang, panas dan berdebu beberapa bulan kemudian disulap oleh si pohon kersen menjadi tanah yang subur dan halaman yang sejuk. Rasa-rasanya ada yang aneh, bagaimana mungkin sesuatu yang tidak ada menjadi ada? Kami tidak mendatangkan tanah subur, kami tidak memupuk, dsb. Lalu apa? Apa yang sebenarnya yang terjadi di halaman kami adalah bertransformasinya “potensial kesejukan dan kenyamanan” menjadi “kesejukan dan kenyamanan” yang sebenarnya.
Transformasi itu akibat ulah si pohon kersen. Pertama mentransformasikan kapital mati (energi sinar matahari misalnya) menjadi produk yang berguna. Kedua, mengakumulasikan kapital menjadi lebih besar, besar dan besar. Jadi sinar matahari itu sendirilah yang merupakan “potensial kesejukan dan kenyamanan”. Di mana awalnya sudah ada, namun hanya membuat kami berkeringat. Lalu diubah menjadi kenyamanan dan kenyamanan itu semakin meningkat seiring perilaku si pohon kersen yang akumulatif terhadap kapitalnya. Kuncinya adalah bahwa kapital itu baru dapat berguna setelah ia diwujudkan dalam sebuah subjek atau bentuk tertentu. Konversi adalah proses penghidupannya, dari potensi menjadi aktif. Akumulasi adalah cara agar kapital dapat terus berkembang biak dan memberikan nilai guna lebih besar dan lebih besar.
Eits! Manfaatnya tidak berhenti sampai di situ. Diskusi intelektual kami yang terjadi akibat adanya kenyamanan adalah nilai guna lain. Ilmu yang kami diskusikan di bawah pohon kersen memberikan nilai tambah buat masing-masing individu berupa tambahan wawasan pengetahuan. Bisa dibayangkan bagaimana “energi sinar matahari” bisa bertransformasi menjadi “ilmu pengetahuan”.
Dari sini dapat terbayang bahwa sesungguhnya kapital adalah sebuah konsep abstrak! Jean Baptise Say mengatakan, “Kapital pada hakikatnya tidak bersifat material, karena bukan masalah hal apa yang menciptakan kapital itu tetapi nilai yang terkandung dalam hal itu sendiri”. Karl Marx pun mengamini konsep ini dengan sebuah perumpamaan sebuah meja. Meja adalah hasil proses dari pengolahan kayu. Manfaatnya tidak berhenti sebatas fungsionalnya sebagai tempat menaruh barang-barang. Jika ada seseorang yang sedang belajar di atas meja itu atau sedang berpikir untuk menemukan ide brilian, bisakah kita mengatakan bahwa “kapital” dari si kayu sudah bertransformasi menjadi sebuah “gagasan”? Itu dia! Transformasi dan akumulasi.
Ini semua adalah sebuah proses dalam paham “kapitalisme”. Mentransformasikan dan mengakumulasikan kapital yang dalam ranah-ranah tertentu kapital itu dapat berwujud dalam apa saja. Jika dalam kehidupan perekonomian manusia, kapital sering merujuk pada uang, maka tumbuhan dalam cerita ini adalah energi matahari. Semua secara naluriah dan alami memiliki hasrat untuk mengubah mengakumulasinya dan proses itu seringkali memberi keuntungan bagi orang lain. Lalu kalau penulis adalah seseorang yang percaya bahwa proses mentransformasi dan mengakumulasi “kapital” adalah berguna bagi rakyat, bisakah penulis dianggap sebagai seorang yang memiliki paham kapitalisme?
***
Sesuatu ketika kami sadar si pohon kersen mungkin sudah terlalu besar. Akarnya bisa merusak tembok rumah. Selain itu kalau saja ada badai datang dan si pohon kersen roboh, ia bisa memberikan kerusakan yang parah bagi kami. Nampaknya, sudah saatnya kami menjalankan kebijakan intervensi bagi si pohon kersen.

Advertisements