Jamu Buyung Upik Tak Ada di Toko Sebelah Rumah? Cari Pakai Marketing Audit Yuuuk~

https://i0.wp.com/warungjamu.com/img/p/139-280-thickbox.jpg

Suatu siang di Bulan Agustus, saya ingin membeli JAMU BUYUNG UPIK di toko kelontong sebelah rumah. Sewaktu tiba di sana, kata penjualnya jamu ini sudah tidak dijual di sana lagi. Bagaimana bisa? Padahal sepuluh tahun lalu, toko ini bahkan menyediakan lebih dari 3 rasa? Mengapa tiba-tiba tidak menjual lagi?
Kalau ada yang lagi males makan karena habis patah hati atau sedang galau, ada satu obat mujarab yang tokcer abis. Apakah itu? JAMU BUYUNG UPIK!!! (yang bukan angkatan 80-90an pasti roaming) Jamu Buyung Upik (…. Ongkerio!!! –ini catchphrase nya. Agak aneh, hahaha) adalah jamu penambah nafsu makan yang diklaim aman untuk anak-anak karena diracik dengan bahan-bahan herbal dan tradisional. Jamu ini sangat terkenal di zaman saya masih SMP dahulu kala (kira-kira sepuluh tahun lalu). Lalu mengapa sekarang penjualannya tidak semasif dulu? Bahkan mungkin tidak banyak yang mengenal brand-nya saat ini. Apa yang salah dengan brand-nya? Apa yang salah dnegan marketing-nya?
Debottlenecking dengan Audit Marketing
Pengauditan adalah serangkaian proses sistematis untuk mendapatkan dan menilai bukti-bukti secara objektif terhadap pernyataan-pertanyaan dan kejadian-kejadian ekonomi atau asersi manajemen dalam melihat kesesuaiannya dengan kriteria yang ditetapkan dan menyampaikan hasilnya pada pihak yang berkepentingan. (Audit Keuangan)
Tapi proses audit tuh ya hampir-hampir sama sebenarnya. Makanya, muncullah audit marketing. Makanan apa pula it audit marketing? Marketing audit itu bertujuan: identifikasi akar permasalahan yang kurang optimal. Dengan proporsi 5A (Awareness, Attitude, Ask, Act, Advocate), maka permasalahan itu bisa diidentifikasi. Balik ke Jamu Buyung Upik yang nggak ada di toko sebelah rumah tadi, misalnya, ternyata diketahui dari 100 orang yang dipilih acak, hanya 50 orang yang kenal Jamu Buyung Upik (Awareness). Dari 50 orang itu, hanya 45 orang yang suka Jamu Buyung Upik (Attitude). Dari 45 orang itu, hanya 40 orang yang mau mencari informasi tentang Jamu Buyung Upik (Ask). Dari 40 orang, hanya 35 orang yang membeli Jamu Buyung Upik (Act). Dan dari 35 orang itu, hanya 25 orang yang bersedia merekomendasikan Jamu Buyung Upik pada orang lain (Advocate). Dari hasil audit ini, diketahui bahwa permasalahan muncul di Awareness: kurang banyak yang mengenal merek ini.
Permasalahan bisa diketahui saat jumlah responden pada tiap prosedur menurun sangat signifikan dalam hasil survei audit. Misalnya, majalah Playboy memiliki 99 orang yang mengetahui (Awareness), tetapi hanya 50 orang dari 99 orang itu yang suka (Attitude). Ini berarti majalah Playboy punya masalah di tingkat Attitude: tidak semua orang yang kenal merek ini suka dnegan positioning merek ini.
Penurunan jumlah responden yang signifikan di tingkat Ask dari Attitude berarti orang yang suka merek ini kesulitan mencari informasi tentang merek ini. Sedangkan kasus penurunan jumlah dari tingkat Ask ke Act yang signifikan berarti ada masalah di channel (barang tidak tersedia dalam area distribusi) atau price (harga yang terlalu mahal untuk konsumen). Kasus terakhir tentang penurunan jumlah orang dari tingkat Act ke Advocate berarti banyak pembeli yang kecewa dengan produk ini sehingga tidak mau merekomendasikannya pada orang lain. Nah, dengan mengetahui permasalahan tersebut, langkah marketing selanjutnya pun akhirnya bisa disusun dengan matang dan tepat sasaran. Jadi, permasalahan yang manakah yang terjadi pada Jamu Buyung Upik tadi? Hmmh… hipotesis yang ada di batok kepala saia sih bilangnya di tingkat Awareness, jamu ini sudah kalah dengan yang lain. Iklannya saja jarang di teve, mana mau ingat namanya?
Manfaat lainnya dari marketing audit ini juga: benchmark ke nilai pesaing atau komponen penting dalam industrinya. Misalnya, segmentasi pemasaran perusahaan pada dasarnya bisa dibagi berdasarkan empat level, geographic, demographic, psychographic, dan behavioral. Banyak industri yang melakukan segmentasi sampai ke level keempat, yakni behavioral misalnya yang dilakukan oleh Cossette Apparel Batik Eksklusif (ngiklan dulu gag papa ya cyiiiinnn). Tapi, misalnya industri property, sudah bagus bisa tersegmentasi sampai ke level tiga saja. Well, behavioral orang yang mau beli rumah atau tanah atau apartemen agak susah teridentifikasi kan? (kecuali pengantin baru, hahaha)
Akhirnya, marketing audit akan lebih seperti audit kinerja atau audit kepatuhan dalam dunia audit akuntansi. Proses audit ini, misalnya yang dilakukan di Jamu Buyung Upik, untuk mengetahui apakah hasil yang diperoleh saat ini (dari level engagement masyarakat dengan brandlewat 5A tadi) memang sudah sesuai dengan marketing plan yang ditetapkan oleh perusahaan. Salah satu metode analisis yang bisa dilakukan adalah dengan analisa customer experience journey. Bagaimana cara melakukannya? Sampai ketemu di tulisan berikutnya yaaaa! :)
* studi kasus yang diaplikasikan dengan teori dari Majalah Markeeters Juli 2013.
Advertisements

Memilih Calon Suami dengan Cost-Benefit Analysis

oleh: D. A. Rohmatika
Saat mendapatkan uang saku seratus ribu, apa yang akan kaupilih? Beli sepatu baru atau nambal gigi berlubang yang sepertinya sudah hampir tamat? Kalau disuruh memilih, maunya ya memilih semuanya. Tapi uangnya hanya mampu membuat kita memilih salah satu kan? Jadi, bagaimana cara memilihnya?
Untungnya, pada tahun 1980, seorang ekonomis bernama Alfred Marshal mencetuskan ide bagaimana untuk membuat pilihan cerdas dengan cara yang dinamakan “cost-benefit analysis”. Marshal, seorang raja di kastil ekonomika dari Inggris, dikenal juga sebagai salah satu pendiri ekonomi neoklasik dan memperlebar disiplin ilmu dari (hanya) studi pasar ke pengamatan perilaku manusia. Tapi, sumbangan terbesarnya adalah menunjukkan perilaku konsumen dalam membeli suatu barang: dia akan membelinya jika manfaat marginalnya lebih besar dari kos marginalnya. Nah, apa lagi itu manfaat marginal dan kos marginal? Di web investopedia, kedua hal ini didefinisikan sebagai: “marginal benefit refers to what people are willing to give up in order to obtain one more unit of a good, while marginal cost refers to the value of what is given up in order to produce that additional unit”. Singkatnya, saya akan rela membeli satu lagi koleksi Elegant Ribbon di Cossette Apparel dengan harga segitu daripada membuatnya sendiri satu lagi karena membuat sendiri tentu saja sangat costly.
Nah, itu adalah contoh simpel analisa kos dan manfaat yang mempengaruhi perilaku konsumen membeli sebuah barang. Yang lebih kompleks misalnya keputusan untuk melanjutkan pendidikan master atau mencari pekerjaan bagi lulusan fresh universitas. Kita tidak bisa memilih semuanya dan harus memilih salah satu, itulah yang dinamakan trade offs. Apa trade offs kalau memilih lanjut sekolah lagi?

Costs
Benefits
Bayar 65 juta
Mendapatkan gelas master
Potensi yang hilang untuk mendapatkan penghasilan per bulan
Bisa ikut konferensi paper internasional
Peningkatan karir di pekerjaan
Mendapatkan ilmu
Potensi punya modal pekerjaan buat ngelamar anak orang hilang
(Nggak bisa) Beli motor dan koleksi gundam
Weekends libur yang benar-benar libur
Hidup yang “tanpa hutang” buat bayar sekolah

Kalau mungkin hanya berupa daftar mana yang kos mana yang manfaat, yang kos terlihat sangat banyak daripada yang manfaat untuk meneruskan sekolah lanjut master degree. Daftar-daftar itu juga terdiri dari baik kuantitatif (misalnya angka 65 juta rupiah) dan kualitatif. Tapi kalau sudah begitu, susah kan membandingkannya? Lalu bagaimana caranya? Ada dua: (1) membuatnya menjadi kuantitatif, atau (2) memberinya bobot.
Contoh dari solusi pertama (membuat solusi menjadi bentuk kuantitaif) digambarkan pada sebuah perusahaan pengeboran dan penjualan minyak internasional di bawah ini (kisah nyata). Perusahaan ini mengklaim bahwa sebenarnya 73% dari penundaan pengerjaan/penyelesaian proyek-proyek yang ada disebabkan oleh masalah nonteknis, seperti perizinan dan protes dari masyarakat sekitar. Maka, dengan cost-benefit analysis ini, perusahaan itu ingin tahu apakah dia perlu menaikkan kos sosial dan community engagement-nya atau tidak? Apakah dia memang benar-benar mendapatkan keuntungan dari situ? Mari kita buat tabel yang sama dengan menghitung juga opportunity cost-nya (kos dari alternatif lain yang hilang akibat keputusan kita memilih sesuatu).

Costs
Benefits
Menaikkan kos sosial dan community engagement
6 juta USD
Potensial kos penundaan 10-15 hari proses pemasangan saluran pipa
4 – 6 juta USD
Strukture gravitasi konkrit terselesaikan 3 bulan lebih awal
36 juta USD
Denda keterlambatan pengiriman minyak ke pasar (asumsi 10-15 hari)
10 – 30 juta USD
TOTAL
6 juta USD
TOTAL
50 – 72 juta USD
Dengan ROI investasi yang dilakukan perusahaan itu pada sosial dan community engagement sebesar 1200 persen, tentu saja perusahaan itu dengan senang hati melakukan investasi tersebut. Begitu pula misalnya dengan solusi kedua (melakukan pembobotan) bisa dilakukan misalnya ketika akan memilih suami (fufufu~). Sebut saja, misalnya, calonnya adalah Tony Stark (tahu kan? Tokoh khayal ciptaan Marvel si Iron Man ituh). Mari kita analisis kos dan manfaat kalau berhasil menikah dengannya lewat metode pembobotan dengan skala 1-5 (angka 5 berarti ekstrim):

Costs
Benefits
Selalu dikuntit oleh bahaya dan musuh
5
Kaya abis, kehidupan kita terjamin
5
Bisa mati setiap saat
5
Ada asuransi kesehatan dan asuransi macam-macam yang mengkover apapun
5
No weekends together, ditinggal dinas terus
5
Rumah di pinggir laut yang bisa lihat sunset dan sunrise cantik (buat saia ini penting!)
4
Harus kerja keras ngurus perusahaan soalnya si suami sibuk menyelamatkan dunia
5
Harus belajar keras soal electrical engineering biar nggak kelihatan cengoh waktu diajak ngomong (meeeehhh~)
3
TOTAL
23
TOTAL
14
Kesimpulannya: tidak usah menjadi istri Tony Stark jika tidak ingin mati muda.
Tulisan ini dibuat sebenarnya demi melihat tugas-tugas masa kuliah zaman dulu yang (sok-sokan) memakai cost-benefit analysis tapi masih tidak jelas kenapa yang satu bisa lebih baik daripada yang lain. Makanya, dengan menguantifikasikan berbagai variabel tersebut (dengan menghitung opportunity cost yang ada) atau memberikan bobot skala pada masing-masing variabel kos dan benefit. Jadi, pengambilan keputusan bisa lebih akuntabel dan terpercaya sehingga mudah pula meyakinkan orang lain dengan keputusan serupa. Bukan begitu?
*dari berbagai sumber, misalnya Spousonomics (Szuchman & Andersen), Investopedia, dll.

Kontrol Mukamu! Eh, Pekerjaanmu, Wahai Para Akuntan!

Oleh: D.A. Rohmatika

“Ngerjain Akuntansi itu segalanya tentang kontrol,” begitu kata bos ane yang mantan auditor 3 tahun lamanya di Big Four dan masih jadi akuntan begitu keluar dari sana –sangat berdedikasi sekali pada Akuntansi. Anyway, back to the topic. Menurut dia, kita harus bisa yakin kalau kita sudah melakukan sistem kontrol sama pekerjaan kita sendiri. Kontrol sama pekerjaan sendiri? Gimana cara?

Oke. Contohnya, pernah bekerja sama bagian pengecekan pajak? Tugas mereka memang hanya mengecek nominal pajak yang ada, apakah transaksi dikenakan nominal pajak yang sesuai, apakah pajak tersebut memang benar dialokasikan pada bulan tersebut. Jika ada kesalahan pada bagian ini, siapa yang akan menerima akibatnya? Kita misalkan saja bagian pemegang kas. Tentu dia bisa membuat kesalahan dalam mengalokasikan kas saat bagian pengecekan pajak melakukan kesalahan bukan? Bisa jadi ketika bagian pencatatan mencatat pajak untuk Bulan Desember, tetapi karena kesalahan dari pengecekan pajak tentang cutoff(pencatatan transaksi sesuai periode keterjadiannya) membuat pajak itu masuk ke kumpulan pajak Bulan Januari tahun depannya. Kelihatan simpel? Cuma salah gitu aja? Ya, tapi salah gitu aja bikin nggak balance antara bagian pencatatan dan bagian kas. Nah, loh? Kalau selisihnya sampai 30 juta rupiah gimana coba?
Jadi, bagaimana caranya agar sistem yang kita bangun/kerjakan memungkinkan kita untuk bisa melakukan kontrol terhadap pekerjaan sendiri? Kita misalkan saja akuntan dari sebuah usaha yang baru berdiri, sebut saja Cossette Apparel (kalau di-klik muncul beneran loh, hahaha) (numpang promosi, kakagh *kedip-kedip*). Misalnya dia membuat sistem sederhana yang mencatat semua jurnal transaksi perusahaan bersangkutan. Karena masih sederhana, kita memakai sheet excel saja kali ya. Lalu, bagaimana kontrolnya?
Misalnya, di file yang sama dia membuat link dari sheet jurnal ke buku besar berdasarkan akunnya. Ada Buku Besar Kas, Buku Besar Pajak, Buku Besar Pendapatan, dan lain-lain. Nah, nanti ketika semua dimasukkan ke neraca lajur dan sudah diketahui hasil akhirnya, yang paling bisa dicek pertama kali adalah kas. Dari mana? Tentu daja dari Rekening Koran. Misalnya saja, di Rekening Koran terdapat kas Rp34.567.976,00 tapi di saldo kas kita hanya ada Rp32.567.000,00. Dari manakah sisanya berasal? Baru kita cek akun yang ada di rekening koran: (1) bunga bank, (2) biaya administrasi, (3) biaya pembuatan cek (misalnya memakai cek), (4) biaya transfer yang diambilkan dari saldo kas di rekening. Tambahkan semua bunga bank dikurangi semua biaya-biaya yang mungkin ada, maka saldonya harus menunjukkan Rp32.567.000,00.
Bagaimana kalau saldo terakhir bank setelah ditambah bunga dan dikurangi biaya ternyata lebih dari ATAU kurang dari Rp32.567.000,00 (saldo yang tercatat di pembukuan)? Langkah pertama, hela napas (kenapa lagi-lagi geser saldo akhirnyaaaa??? D*$#0J*^@$N&%C&^&%$U$%K*&#). Langkah kedua, ambil kursi dan tali. Langkah ketiga, gantung diri. RIP, dear friend.
Langkah satu-satunya adalah cek satu-satu saldo ke belakang. Caranya? (1) Cek saldo kas per bulannya. Apakah sisa saldo kas per bulan di pencatatan sudah sama dengan di rekening koran (tentu setelah yang di rekening koran ditambah bunga dan dikurangi biaya-biaya). (2) Pasti nanti ada bulan-bulan yang sama dan bulan-bulan yang geser. Hitung ulang pendapatan dan biaya yang dikeluarkan di bulan itu (untuk sistem basis kas) atau analisa cash flow yang terjadi di bulan itu (untuk akuntansi sistem akrual). Baru setelah itu temukan angka yang janggal atau geser lainnya dan cek satu-satu. Gampang kan? (Pale lu gampang! Proses ini udah kayak ngubah bubur jadi nasi lagi alias nggak bakal rampung! *evilsmirk *ditimpuk bata se-RT).
Jadi begitulah. Kalaupun sebenarnya di job description atau protap atau apapun tidak ada kerjaan “menghitung total pajak per bulan” atau “membuat summary transaksi bulanan” tapi tidak ada salahnya kita melakukannya. Daripada kita disantet pegawai bagian lain gara-gara dia merasa di tempat kita ada yang nggak beres tapi kita diam-diam saja ngerasa nggak salah gara-gara nggak mau ngecek? Think it all over, dear.
Mau contoh akuntansi lainnya? Makanya, beli produk ane dong, gan. Jangan lupa di Cossette Apparel yaaa. Bisa di-klik kok *kalem* Jadi kan bisa dipakai buat contoh-contoh lain kalau transaksinya udah banyak dan kompleks. Ya nggak, friend? :3

Pengakuan Pendapatan: Studi Kasus Bioskop/Layar Tancep

Oleh: D.A. Rohmatika
“Jika sebuah bioskop ingin merayakan New Year’s Eve dengan memutar film tengah malam yang dimulai pukul 00.00 tepat, maka pendapatan bioskop dari film itu akan dimasukkan pada tahun tersebut yang telah berakhir atau di tahun berikutnya?”
Pertanyaan yang dilontarkan Guru Besar Akuntansi UGM, Prof. Dr. Zaki Baridwan ini sangat membuat kami-kami sang mahasiswa tingkat akhir yang mengambil mata kuliah Teori Akuntansi bingung dan merasa belum ada apa-apanya dibanding beliau (ya iyalah!). Pada dasarnya, kas sudah dikumpulkan saat tiket dijual yang tentu saja masuk ke tahun berakhir itu. Tetapi, jasa selesai diberikan di tahun berikutnya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu saja kita harus mengingat hakikat dari pendapatan itu sendiri.
Pendapatan VS Penghasilan
Pendapatan (revenue) adalah hasil dari penjualan barang atau pemberian jasa yang merupakan kegiatan utama dari perusahaan tersebut. Sedangkan penghasilan (gain) adalah segala hasil nilai tambah yang diperoleh bukan dari kegiatan utama perusahaan. Contohnya, Procter and Gamble (P&G) akan memasukkan hasil penjualan sampo Pantene dalam pendapatan, dan memasukkan selisih hasil penjualan saham dari nilai pasar saham dan nilai par saham dalam perolehan.
Pengakuan Pendapatan
Pendapatan dapat diakui dalam empat poin waktu yang didiskusikan di teori dan praktik akuntansi. Jika empat poin waktu ini terjadi, maka akan tercipta pengakuan pendapatan:
  1. Selama produksi
  2. Pada saat produksi selesai
  3. Pada saat penjualan
  4. Pada saat kas diperoleh
Apakah semua jenis transaksi di semua perusahaan masuk dalam keempat poin itu? Tentu saja tidak! Contoh berikut ini akan lebih memudahkan klasifikasi transaksi mana saja yang masuk ke poin waktu yang mana:
  1. Selama produksi, misalnya kontraktor gedung yang proses pembangunannya lebih dari satu periode akuntansi (biasanya satu periode akuntansi adalah satu tahun),
  2. Pada saat produksi selesai, misalnya industri tambang untuk penambangan logam mulia, minyak dan gas, dan lainnya,
  3. Pada saat penjualan, misalnya sebagian besar perusahaan seperti perusahaan sepatu, perusahaan mobil, perusahaan tekstil, dan semua perusahaan yang tidak masuk poin waktu 1, 2, dan 4,
  4. Pada saat kas diperoleh, misalnya penjualan angsuran (installment).
Tentu saja tidak serta merta perusahaan yang masuk dalam poin-poin itu langsung bisa diakui sebagai pendapatan. Ada syarat yang harus dipenuhi, yang disebut critical event, yaitu:
  1. Untuk kontraktor gedung, harus sudah jelas ada pembeli dan jaminan ketertagihan,
  2. Untuk industri tambang, harus sudah didapatkan hasil penambangannya, harga pasar stagnan, tidak ada biaya iklan/pemasaran yang tinggi, dan ada pasarnya,
  3. Untuk sebagian besar perusahaan seperti sepatu dan tekstil, ketika terjadi transfer of title, yang bergantung terms of sale (apakah FOB Destination atau FOB Shipping Point),
  4. Ketika kas diperoleh.
Ada pengecualian untuk beberapa kejadian seperti accretion (tumbuh karena alam). Misalnya, pohon jati yang tumbuh di kebun kita, tidak boleh diakui sebagai pendapatan ketika dia bertambah besar/tinggi selama pohon tersebut tidak ditebang dan dijual.
Jawaban Pertanyaan
Jadi, untuk pertanyaan tentang bioskop di paling awal artikel ini,
“Jika sebuah bioskop ingin merayakan New Year’s Eve dengan memutar film tengah malam yang dimulai pukul 00.00 tepat, maka pendapatan bioskop dari film itu akan dimasukkan pada tahun tersebut yang telah berakhir atau di tahun berikutnya?”
Jawabannya adalah:
Ketika jasa pemutaran film oleh bioskop itu sudah selesai diberikan, baru pendapatan bisa diakui (berdasarkan prinsip akrual). Jadi, pendapatan film itu akan dimasukkan pada tahun berikutnya.
Tapi pertanyaannya tidak berhenti di situ saja,
“Jika film itu durasinya dua jam, dan diputar pada saat pukul 23.00 yang tentu saja akan selesai pukul 01.00, bagaimanakah pengakuan pendapatannya? Apakah harus datu jam masuk ke tahun sebelumnya, dan satu jam lagi masuk tahun berikutnya?”
Jawabannya adalah:
Untuk pemutaran film oleh perusahaan bioskop yang termasuk jasa jangka pendek, pendapatan dari pemutaran satu kali film itu jika satu jam dimasukkan tahun ini dan satu jam dimasukkan tahun depan, termasuk immaterial. Jadi, bisa dimasukkan ke tahun sebelumnya saja atau tahun berikutnya, dengan penjelasan/catatan/notes.
Jadi, beginilah sekilas pelajaran tentang revenue recognition yang pernah diajarkan oleh Guru Besar Akuntansi UGM, Prof. Dr. Zaki Baridwan. Diskusi tentang revenue recognition, dengan resmi DIBUKA!!!

Perlakuan Akuntansi Perusahaan Manajemen Artis (Agensi) Terhadap Artis-Artisnya

Oleh: D.A. Rohmatika

Jika Anda adalah akuntan di sebuah perusahaan manajemen artis (agensi) di SM Entertainment (perusahaan agensi terkemuka di Korea), bagaimanakah Anda akan mencatat transaksi berkaitan dengan Girls’ Generation (salah satu girlband), artis dari SM Entertainment?

#pemahaman aset tetap yang tak selamanya hanya bangunan, tanah, dan mesin pabrik.

Perusahaan yang ada saat ini bermacam-macam, mulai dari perusahaan manufaktur (produksi sabun, susu, mi instan) sampai ke perusahaan jasa (produksi jasa audit, jasa konsultansi, jasa pembuatan skripsi). Semakin maraknya hallyu wave (alias demam artis-artis Korea) membuat saya ikut menikmati musik mereka, lanjut ke menikmati gosip tentang mereka, lanjut ke memahami proses dan ritme pembentukan artis (aktris/aktor, boyband/girlband, solo singer) di sana. Bahkan, Ekonom Gila pernah membahasnya pula di sini. Berbeda dengan Indonesia di mana setiap orang bebas dan bisa menjadi artis, artis di Korea harus diterbitkan oleh sebuah perusahaan manajemen artis. Dan akhirnya satu pertanyaan muncul: bagaimanakah perlakuan akuntansi perusahaan untuk para atis tersebut? Apakah mereka masuk aset, ekuitas, kewajiban, atau produk?


Perusahaan Manajemen Korea dan Artisnya
Ada banyak sekali perusahaan manajemen artis di Korea, antara lain: SM Entertainment (artis: TVXQ, Girls’ Generation, Super Junior, F(x), Shinee), YG Entertainment (artis: 2NE1, Big Bang), JYP Entertainment (artis: Wonder Girls, Miss A, 2AM, 2PM), dan Starship Entertainment (artis: Sistar, Boyfriend). Untuk mendapatkan artis, perusahaan manajemen ini melakukan berbagai macam cara, yang paling banyak dilakukan adalah mengadakan audisi.
Biasanya, audisi dilakukan untuk mencari talenta. Kasus girlband/boyband misalnya mencari orang-orang yang berbakat menyanyi dan menari, dan ada beberapa yang direkrut untuk visual (alias jual tampang). Di sinilah nantinya para artis harus menandatangani kontrak setelah lulus audisi untuk menjadi trainee dan akhirnya menjadi artis dari manajemen tersebut. Kontrak itu bisa bermacam-macam lamanya, salah satunya adalah “kontrak 13 tahun” dari SM Entertainment.
Setelah melalui proses menyakitkan di medan perang per-audisi-an dan teken tanda tangan kontrak, derita para artis ini tidak serta-merta berakhir karena masih ada yang namanya training. Masa training ini pun tidak main-main, berkisar dari satu sampai tujuh tahun untuk mengasah bakat para artis: menyanyi, menari, modelling, stage performance, camera facing, body shaping, dll. At the end, para trainee ini tidak semuanya diorbitkan. Ada yang dipindahkan ke agensi lain, ada yang akhirnya menjadi orang biasa karena satu dan lain hal. Bagi yang beruntung diorbitkan, tentu saja lagu, album, photo session, manggung, dan segudang aktivitas lainnya sudah dipersiapkan.


Para Artis Itu Masuk Akun Apa?
Terinspirasi oleh sebuah judul skripsi yang bertema “Perlakuan Akuntansi Pemain Sepak Bola Sebagai Aset di Klub XXX” (lupa pengarangnya, sepertinya anak BPPM Equilibrium dulunya) maka akhirnya perlakuan yang sama yang akan saya sarankan kepada para akuntan di SM Entertainment, YG Entertainment, JYP Entertainment, dan Starship Entertainment (narsis dan sedikit pe-de). Bagaimana bisa para artis itu masuk ke dalam aset? Aset tetap atau lancar? Bukannya seharusnya mereka diperlakukan sebagai produk dalam penjualan (sales)?
Opini saya untuk memasukkan mereka sebagai aset didasari oleh definisi aset yang saya peroleh. Menurut SFAC No.6 Paragraf 25, aset didefinisikan sebagai:
“Probable future economic benefits obtained or controlled by a particular entity as a result of past transactions or events.”
Sedangkan menurut PSAK No.16 Paragraf 6, aset tetap didefinisikan sebagai:
Aset tetap adalah aset berwujud yang:
  1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif
  2. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.
Artis-artis yang sudah dideskripsikan di atas, memenuhi berbagai karakteristik aset yang disebutkan oleh SFAC No. 6 tersebut maupun PSAK No. 16, yaitu:
Keuntungan ekonomi di masa mendatang, yang akan bisa didapatkan dari hasil manggung, penjualan album, maupun stage performance,
Dikontrol oleh sebuah entitas, di mana di sini adalah perusahaan agensi tersebut,
Dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan barang dan jasa, para artis itu dipergunakan untuk menyanyi dan menari yang akhirnya mengeluarkan produk berupa lagu dan album,
Diharapkan untuk diperunakan selama lebih dari satu periode, kontrak yang ditandatangani selama bertahun-tahun (bahkan 13 tahun) tentu saja melebihi satu periode/siklus akuntansi.
Jadi, pertanyaan-pertanyaan membingungkan akan bisa terjawab, seperti di bawah:


Mengapa para artis itu tidak masuk sebagai produk? Karena jika mereka masuk sebagai produk, tentunya penjualan (sales) yang bisa dilakukan terbatas hanya satu kali saja. Jadi mereka bukanlah produk.


Lalu mengapa mereka bukan diperlakukan sebagai aset lancar? Karena aset lancar dan aset tetap dibedakan menurut periode akuntansinya (yang sangat pendek bagi aset lancar, kurang dari satu periode akuntansi) atau keinginan awal perusahaan dalam mendapatkan aset lancar untuk segera dijual kembali.
Pencatatan Artis Sebagai Aset Tetap
Para artis yang diperlakukan sebagai aset itu tentu memiliki nilai perolehan. Menurut Meigs dan Williams, biaya perolehan aset tetap meliputi (Allfajriansyah, 2008): “All expenditures that are reasonable and necessary for getting the asset to the desired location and ready for use.” Hal ini berarti, nilai perolehan yang akan dicatat oleh perusahaan tidak hanya nilai yang tercantum di dalam kontrak, tetapi juga biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tersebut, seperti biaya mengadakan audisi. Bagaimana dengan biaya training dan biaya hidup si artis? Tentunya itu akan masuk ke dalam biaya (expense) karena telah masuk sebagai biaya pemeliharaan aset.
Sebagaimana aset tetap lainnya, aset tetap berupa artis ini tentu akan bisa terdepresiasi. Lama waktu ekonomis yang diakui perusahaan dihitung berdasarkan lama waktu yang tercantum dalam kontrak. Jumlah biaya depresiasi per tahunnya bisa dihitung dari biaya perolehan aset dibagi waktu ekonomis (bisa dihitung dengan berbagai metode, baik metode garis lurus, dll).
Beginilah jika seorang Ekonom Gila diminta menjadi akuntan perusahaan agensi. Tentunya opini ini jauh dari sempurna, jadi mari berdiskusi! Any opinions are accepted! Akhirnya, Girls bring The Boys Out!

*screaming* *akibat nulis sambil dengerin semua lagu-lagu Korea*

#pesan sponsor: lagunya Ailee yang “Heaven” bagus banget loh! Atau Sistar yang “Ma Boy”. Cocok buat orang yang baru coba dengar genre musik Korea, haha~
*dari berbagai sumber