The Logic of Marriage and The Power Of Money

Oleh: Dyah
Tulisan ini berkaitan dengan tulisan tentang uang yang telah dibahas sebelum-sebelumnya. Mungkin semacam tulisan balasan (atau kelanjutan) untuk tulisan yang berjudul “Romansa Cinta yang Paling Tinggi bagi Ekonom (Gila)”. Di tulisan itu, ada satu kalimat menarik yang sekaligus menjadi inti tulisan, yaitu: “Kemunculan Uang itu Karena pada Hakikatnya Kita Saling Membutuhkan”.
Ya!.. saling membutuhkan uang sebagai alat tukar. Lamat-lamat saya coba mengamati, bisakah uang dianalogikan dengan pernikahan? Saya pikir bisa, sebab keduanya sama-sama berfungsi sebagai alat. Alat untuk lebih mendekatkan kita kepadaNya. Yaa…idealnya seperti itu :)

Pernikahan, Cinta dan Sejarah Uang
Barter (cikal bakal munculnya uang) terjadi ketika ada double coincidence of wants. Sama halnya sepeti pernikahan yang terjadi ketika ada double coincidence of wants. Eitss…benarkah? Tentu saja tidak seideal itu. Hal itu hanya terjadi di dunia ceteris paribus, alias jika semua hal dianggap konstan. Pada kenyataannya ada invisible hand (baca: Tuhan) yang turut berperan serta mengatur semuanya. Transaksi perdagangan antara A dan B tidak akan terjadi jika Dia tidak berkehendak mempertemukan keduanya, meskipun keduanya sama-sama (merasa) saling membutuhkan. Dalam bertransaksi, A bisa saja malah bertemu C dan atau D sebab ketika bertransaksi dengan B, tidak ada kesepakatan yang cocok meskipun keduanya sama-sama (merasa) butuh. Sama halnya dengan pernikahan, Dia tidak akan mempertemukan A dan B dalam pernikahan meskipun keduanya sama-sama ingin (wants) dan juga sama-sama (merasa) butuh. Pernikahan hanya terjadi ketika menurut Tuhan, kedua pihak tersebut benar-benar saling membutuhkan, jadi definisi butuh yang digunakan agar terjadi pertemuan adalah definisi butuh menurut Tuhan sebab Tuhan yang paling tahu segala macam yang dibutuhkan manusia. Meskipun logika Tuhan itu tidak dapat benar-benar dipahami manusia. Hehehhee.. Jadi ini ngambil contohnya untuk pernikahan secara umum aja. :)
Tiga Motif Orang Menyimpan Uang (dan Menikah/Menjaga Pernikahan)
Itu tadi baru soal pertemuan awal. Untuk yang selanjutnya, kita bahas tentang motif orang menyimpan uang yang ternyata logikanya sama dengan motif orang menikah (menjaga pernikahan). Apakah itu? Menurut J.M.Keynes, ada tiga motif orang menyimpan uang yaitu:

1. Transaction motive
Orang menyimpan uang agar dapat terus melakukan kegiatan transaksi selama hidupnya agar dapat berkembang menjadi lebih baik. Sama halnya dengan pernikahan. Orang menikah juga agar dapat lebih berkembang melalui “transaksi-transaksi” pasca pernikahan. Dalam hal ini yang saya maksud sebagai transaction motive dalam pernikahan yaitu saling terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mendasar, seperti kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman. kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Walaupun kebutuhan-kebutuhan tersebut juga dapat terpenuhi dari hal-hal di luar penikahan, namun dalam hubungan pernikahan lah semuanya (kebutuhan-kebutuhan tersebut) komplit Insya Allah terpenuhi. Hihihiiii… Kata Allan dan Barbara Pease dalam buku Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps disebutkan bahwa, “seks adalah harga yang dibayarkan wanita untuk pernikahan, dan pernikahan adalah harga yang dibayarkan pria untuk seks”. Hihihihi… apakah benar demikian? Tergantung sudut pandang masing-masing. Menurus saya sih tidak seperti itu. Hehehee.
2. Precautionary motive
Orang menyimpan uang untuk berjaga-jaga bila ada kebutuhan mendesak di masa yang akan datang, intinya untuk menjaga diri dari hal yang tidak terduga. Sama halnya dengan pernikahan yang salah satu fungsinya adalah untuk menjaga diri dari godaan-godaan yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia.
3. Speculative motive
Orang menyimpan uang dengan harapan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar di masa yang akan datang. Sama juga dengan pernikahan yang dilakukan dengan tujuan mengharapkan ridlo dariNya.
Dari ulasan yang dah dibahas di atas, mungkin itu lah alasannya kenapa perempuan pada umumnya (punya citra) suka uang dan lebih tertarik untuk menikah, dibandingkan para laki-laki. Rupanya ada logika yang sama antara uang dan pernikahan. Percaya atau tidak percaya, jaman sekarang tidak sedikit perempuan yang sudah berkelimpahan dan mapan merasa tidak butuh untuk menikah sebab semua kebutuhannya sudah dapat terpenuhi dengan uang. Uang dan pernikahan, keduanya sama-sama alat, jika dipergunakan dengan baik, yaa..sesuai fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan hidup, untuk terus bergerak ke titik equilibrium..menuju kesempurnaan.
NB:
Tulisan ini dibuat dengan penyederhanaan. Uang jelas berbeda dengan pernikahan. Tulisan di atas hanya berusaha menunjukkan latar belakang keduanya (uang maupun pernikahan).
Tulisan ini dibuat gara-gara teringat waktu “nguping” pa’dhe saya yang ngasih nasihat pernikahan ke sepupu. Sebuah catatan yang pada akhirnya membuat saya semakin takjub dengan agama yang saya anut.
-*-
Makassar, Ahad, 22 Mei 2011, 3.26 AM.

Ekonomi Mimpi

Oleh: Meikha Azzani

Rasanya seperti mimpi tinggal di Jepang. Bukan, bukan yang saya merasa wow tinggal di Jepang, bukan. Tapi karena semua yang ada disini seperti ada di alam mimpi. Entah saya kebanyakan nonton film kartun dari Studio Ghibli atau Cartoon Networks, tapi inilah imajinasi. Kekuatan Ekonomi bangsa Jepang.

Film-film anime yang dibuat oleh banyak komikus Jepang menjadi trend di banyak Negara seperti di Indonesia. Contohnya Gundam, Naruto, bahkan banyak film-film dari Studio Ghibli yang didubbing dengan menggunakan bahasa Inggris.

Menurut saya ini adalah hal yang luar biasa. Karena apa yang diproduksi oleh banyak orang Jepang bermula dari imajinasi dan kreativitas. Baiklah pertama mereka memang banyak meniru, tapi kemudian berkembang sedemikian rupa hingga menjadi industry yang sangat menjanjikan.

Kebayang apa yang saya maksud?

Saya berjalan-jalan ke Fujikyu, seperti Dufan, tapi 10 kali lebih hebat. Di sana saya masuk ke rumah Gundam Crisis. Di dalamnya saya bermain seperti basecampnya Gundam. Imajinatif. Lalu saya masuk ke toko mainan Yamashiro-ya dan menemukan berbagai macam mainan yang sangat kreatif. Berbeda sekali dengan banyak toko mainan yang saya datangain di Indonesia (biasanya menjemukan, hanya robot, mobil-mobilan, boneka, fiuh).

Lalu, saya juga menonton anime-anime dan film-film Jepang yang temanya, beberapa, mendorong anak-anak untuk mencintai lingkungan, sesama, dan berjuang keras. Yang paling wow dari Jepang adalah Tokyo, a great integrated city. Saya ke Shinjuku dan merasa wow dengan stasiun bawah tanah yang besar sekali namun terhubung dengan banyak gedung. Yang lebih keren banyaknya jembatan layang untuk pejalan kaki yang centernya adalah stasiun.

Saat itu saya jadi kebayang kartun dari cartoon network (lupa judulnya apa tapi tentang kehidupan di masa depan). Dari situlah kemudian saya berpikir bahwa salah satu “energy” yang menghidupkan Jepang adalah kekuatan imjainasi. Di Indonesia kemudian menjadi industry kreatif.

Lalu bagaimana nasib industry kreatif di Indonesia ke depan? Apa bisa menjadi energy baru bagi perekonomian Indonesia?

Melihat Jepang, saya tebak pasti mereka memerlukan waktu bertahun-tahun dan dukungan dari berbagai kalangan masyarakat. Nah, kira-kira Industri Kreatif Indonesia bisakah berkembang dalam waktu yang cepat (sebelum abis dibabat produk tiruan Cina) dan didukung oleh berbagai macam lapisan masyarakat?

Bayangkan ini, jumlah penduduk Indonesia yang luar biasa banyak dengan gen konsumtif merupakan pasar yang sangat potensial untuk berbagai macam produk. Nah, bayangkan, seandainya Indonesia memiliki produk asli buatan sendiri yang dipakai oleh masyarakat Indonesia, bukankah akan menjadi luar biasa ya? India saja sudah punya Bajaj, Indonesia bahkan belum sama sekali.

Sejujurnya tema seperti ini memang klasik. Dan lagi-lagi solusinya kembali pada system. Kemajuan Jepang karena system kenegaraan yang terintegrasi antar semua sector sosioekpolbudhankam, yang gagal dijalankan Indonesia. Kini, sejujurnya, saya agak merasa ketar-ketir dengan kemajuan Indoensia. Dibandingkan Cina saja kita sudah mulai tertinggal (neraca perdagangan kita dengan Cina disalip boi) dan pemuda-pemudi kita copas artis/film Korea plus West minded.

Saat ini kita sedang berburu waktu. ASEAN pada tahun 2015 akan semakin bebas. Perusahaan-perusahaan akan didorong untuk semakin efisien dan seiring dengan semakin berkembangnya teknologi maka penggunaan human resources bias berkurang yang berarti pengangguran di Indonesia. Untuk perekonomian Indonesia, perpaduan itu semua jelas disaster.

Ekonomi Imajinasi
Solusinya, buat saya, adalah ekonomi gila, salah Ekonomi Imajinasi. Apa itu? Saya juga ga tau gimana tapi yang saya bayangkan adalah suatu gerakan massif dimana pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat menggunakan secara gila-gilaan produk-produk karya anak bangsa. Caranya? Mari kita pikirkan. Katanya ini blog mau jadi ajang lahirnya ide-ide. Kalau ada tulisan masuk, dibaca dan dibahas donk…jangan cuman pada balapan nulis. Lebih seru lagi kalo ada balas-balasan artikel. Seru tuh.

(Lho, ko jadi ngeritik gini haha, belum apa-apa dah mulai tapi tolong diterima tulisan saya. Yoroshiku neee…).

Note: tulisan selanjutnya menyusul yaaah…^^