Ku Tidak Bisa Melupakan Masa Lalu (part 1)


Oleh: Aulia Rachman
Manusia tidak akan pernah lepas dari fase hidup yang nelangsa. Kisah-kisah hidup yang menyedihkan merupakan salah satu bagian yang akan mereka lalui. Benar-benar hal yang menyakitkan jika kita berhadapan pada sebuah situasi bermasalah yang sulit untuk kita selesaikan. Membuat kita terkadang jatuh, lemah, berhenti, terkubur, dan tidak berdaya. Sebanyak apapun teori kebangkitan yang kita miliki, tetap saja kita tidak bisa bangkit dan berlari lagi seperti biasa. Rasa sakit itu pasti akan ada.
Utamanya, masalah manusia adalah masalah CINTA! Ya, sebuah kata yang terdiri dari 5 huruf itu bisa begitu dasyhatnya mengubah hidup kita, jalan kita, dan arah hidup kita (Ohya, maksud cinta di sini antar sesama manusia lawan jenis aja ya, tidak melebar ke mana-mana). Ya, memang cinta bisa menjadi energi besar kita untuk hidup dan bergerak, tapi terkadang ia bisa membuat kita kebingungan, sakit, perih seolah-olah terkadang kita berharap bahwa kita seandainya saja tidak usah mengenal apa itu cinta, atau lebih baik kita segera mati saja. Daripada menanggung kepedihan cinta yang kita lalui.
Mengapa manusia begitu “bodohnya” untuk terbuai dalam cinta? Saya juga tidak tahu, yang jelas satu, ketika ia sudah masuk dalam hidup kita, maka dia adalah bagian dari sejarah hidup kita. Sebuah sejarah yang akan memberikan pengaruh pada perspektif hidup kita di masa akan datang. Bagaimanapun besarnya usaha kita meminimalisasi “sejarah” itu, ia akan tetap hadir memengaruhi kehidupan kita di masa akan datang. Bahkan semakin waktu terus berjalan dan bergulir, sejarah kecil itu akan terus membuat hari-hari kita terombang-ambing, tidak jelas, dan penuh dengan disorientasi-disorientasi…
STOP! Ini Bicara Apa Sih!?
Para pembaca mungkin ada yang sudah protes seperti ini, “Loh salah satu penulis blog Ekonom Gila kok malah curcol (curhat colongan) sih! Kok malah ngomongin cinta dan prahara hidupnya. Bukannya ini blog Ekonomi?”
Para pembaca budiman, mungkin boleh saja sekarang kalian memvonis saya sebagai penggalau, ababil, dan lain sebagainya. Tapi jujur saja ini lah sebuah tulisan paling berat (setidaknya hingga hari ini) yang saya coba ingin carikan penyederhanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Ya, sebentar lagi kepala kalian akan pusing dengan penjelasan ekonom(etr)i(ka) yang akan saya sampaikan. Selamat berpusing ria!
Apa yang sedang saya bicarakan adalah sebuah model ekonometrika yang paling melankolik yang pernah saya dengar seumur hidup. Dia adalah Random Walk Model (RWM).  Baiklah, harus saya akui sekarang, para pembaca jika ingin mengerti artikel ini adalah pembaca yang melek ilmu ekonomi, lulus ekonometrika 1, nggak ngantukan waktu kuliah ekonometrika 2 dan tahu apa itu “cabang” dunia Time Series di jagad raya pembicaraan ekonometrika (Ya ya ya, mungkin ada juga dari kalian yang baru denger kata “ekonometrika”, yang sabar yaa…). Ini serius, dan saya tidak bercanda lagi seperti artikel-artikel saya sebelumnya. Jika syarat-syarat di atas tidak terpenuhi, saya tidak jamin anda bisa mengerti! (Sekali-kali saya sadis sedikit sama pembaca, saya lagi kesal dengan “dunia cinta” hahahahaha).

Baiklah, lalu mengapa RWM adalah model paling melankolik yang pernah saya dengar? Model dasar dari RWM adalah sebagai berikut:

Di mana,

Y   : variabel utamanya…(misalnya adalah siapa saya sekarang
t     : periode
u   : “shock” atau guncangan, bahasa kerennya error term, bahasanya ndesonya “kejadian-kejadian sehari-hari”.

Jadi bahasa mudahnya begini, “Saya yang hari ini, adalah saya yang hari kemarin ditambah kejadian-kejadian yang terjadi di hari ini” (kurang lebih lah). Unsur sejarah ada di variabel Yt-1 . Di sana lah sejarah tertulis dalam kehidupan kita. Lalu, bagaimana pun juga analog dengan ungkapan, “Hari esok kita, dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada kita pada hari ini”. Kalau dibuat contoh model sedikit “konkritnya” adalah seperti ini… (mari bertambah bingung). Misal ada 6 periode dalam hidup kita…
Periode kesatu
Periode kedua
 
Periode ketiga
Periode keempat
Periode kelima
Periode keenam
 
Nah sekarang perhatikan model yang di sisi kanan yang tersusun di sisi kanan, membentuk sebuah pola bukan?
Lihat u nya yang terus bertambah dari waktu ke waktu, dan itu teruuusssss terjadi dari waktu ke waktu (t). Nah, jika Y adalah apa yang terjadi pada diri kita, maka, postulatnya adalah “Apa yang terjadi pada kita hari ini adalah sebuah akumulasi yang terjadi pada kita di hari-hari yang lampau”, yang kalau disingkat menjadi:

Lalu seorang ekonom pakar ekonometrika bernama Kerry Patterseon berkata dengan sangat romantisnya, random walk remember the shock forever”. Oh betapa melankoliknya. Itulah mengapa hingga hari ini saya jatuh cinta dengan RWM. RWM adalah model yang sangat romantis! Karena model ini menggambarkan dan mencerminkan kehidupan kita sehari-hari. Seenggaknya, karena RWM saya bisa memiliki sedikit passion dalam belajar ekonometrika yang terkenal “hantu” di kuliah Ilmu Ekonomi.
Lalu apa pesan moral dari artikel ini? Apa faedahnya artikel ini? Sabar ya, tunggu part 2 yang beberapa waktu ke depan akan saya tulis. Untuk sementara pahami dulu artikel ini, endapkan, renungkan dan cari pencerahan di dalamnya. Ha ha ha ha… Lagi pula, nampaknya artikel di part 2 akan lebih memusingkan para pembaca yang budiman. Jadi istirahat dulu (bersambung).
7 Juni 2011
NB: episode selanjutnya adalah bagaimana cara kita bisa keluar dari masalah hidup kita yang diterpa prahara cinta…(tentu saja dengan cara-cara ekonometrika).
Advertisements