Teruslah Terbang Merpati

Oleh: Ridwan Lobubun*)
Penerbangan merupakan industri penting di tanah air. Keberadaannya sebagai sarana transportasi menjadi ideal mengingat secara geografi Indonesia termasuk wilayah kepulauan, bahkan terbentang dalam jarak yang cukup jauh. Sementara itu, perkembangan perekonomian Indonesia yang pesat menjadikan mobilitas manusia dan barang menjelma menjadi peluang menggiurkan.
Namun, industri penerbangan tidak hanya menjadi alternatif transportasi manusia ketika ruang dan waktu menjadi bernilai. Ia, seperti halnya perusahaan yang hidup di alam persaingan, harus memiliki “kekuatan”, baik yang bersumber dari internal (kapasitas manajemen dan kinerja keuangan) maupun eksternal perusahaan (memenangkan pasar) demi memelihara eksistensinya.
Dua Wajah Pertarungan
Sebagai salah satu perusahaan penerbangan, Merpati Nusantara Airlines memiliki “rekam-jejak” yang cukup panjang. Lahir sebagai perusahaan pelat merah yang tumbuh dan berkembang dalam dunia kompetisi, Merpati Airlines tentu menyadari kerasnya persaingan. Di sini, kita mendapatkan kesimpulan sederhana: “arena pertarungan sebenarnya” bukan hanya dalam tataran bersaing dengan perusahaan penerbangan lainnya. Namun, yang paling penting, juga mampu bertarung dengan diri sendiri.
Perjalanan Merpati Airlines di industri penerbangan sebenarnya menggambarkan realitas kompetisi yang menarik. Berbagai dinamika yang dialami Merpati Airlines memberi banyak pelajaran berharga sebagai landasan untuk berbenah di masa depan. Di satu sisi, Merpati Airlines harus berjuang di tengah pasar yang semakin kompetitif dengan munculnya pesawat-pesawat baru demi mempertahankan pangsa pasar dan memperoleh keuntungan dari operasionalnya. Di sisi lain, Merpati harus bertarung dengan warisan “masa lalu” seperti beban utang yang turut memengaruhi kinerja keuangan perusahaan pada masa kini.
Kondisi demikian, menurut menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan membuat Merpati seringkali kehilangan momentum.1 Inilah mengapa pertarungan itu tidak hanya datang dari luar, tetapi juga bisa datang dari dalam. 
Kepemimpinan dan Pasar
Sebagai perusahaan milik negara (dengan kata lain juga milik rakyat), saya berharap Merpati Airlines dapat tetap eksis dalam membentangkan sayapnya di langit penerbangan Indonesia! Berada pada masa transisi perubahan dalam sebuah kompetisi adalah hal yang alamiah. Marilah tetap optimis dengan sedikit realistis.
Menurut Supriyadi, dalam dunia penerbangan pertanyaan yang tidak boleh diajukan adalah “siapa yang salah”, tetapi yang tepat adalah “apa yang salah”.2 Berupaya memunculkan “apa yang salah” ke permukaan penting sebagai bahan evaluasi dan perumusan kebijakan masa depan yang solutif. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita sedikit melihat ke belakang.
Penurunan kinerja keuangan dan operasional Merpati Airlines sepertinya tidak terlepas dari pengelolaan BUMN secara umum pada masa lalu. Selain belum adanya warna yang jelas mana BUMN yang bermisi sosial (public oriented), dan mana yang berorientasi ekonomi (business oriented), BUMN pada masa lalu seringkali mengalami “politisasi” oleh sejumlah pejabat dan politisi serta lembaga politik.3 Hal ini tentu harus dihindari karena berpotensi menciptakan ketimpangan dan mengakibatkan BUMN (termasuk Merpati Airlines) kehilangan arah dalam membumikan visi dan misinya.
Belum juga ketika kali pertama dipisahkan dari Garuda, pesawat-pesawatnya diambil, tapi utangnya ditinggalkan.4 Selain itu, masalah yang menjadi perhatian utama Dahlan Iskan saat ini yaitu penguatan manajemen Merpati Airlines.5
Dalam situasi demikian, optimisme dan kerja keras adalah modal paling penting. Menurut saya, dua hal mendasar yang menentukan keberhasilan restrukturisasi Merpati Nusantara Airlines adalah penguatan kapasitas internal dan peningkatan daya saing perusahaan dalam berkompetisi di pasar yang semakin kompetitif. Ini harus berjalan seimbang!
Di sini, kepemimpinan menjadi kunci utama. Kucuran dana pemerintah harus dikelola dengan memprioritaskan titik-titik penting baik untuk penambahan pesawat-pesawat baru maupun untuk memodernisasi sistem. Ini penting, karena alokasi dana melalui “intervensi pemerintah” juga memiliki keterbatasan. Kompleksitas dalam manajemen penerbangan membutuhkan kepemimpinan semua lini. Direktur, komisaris maupun seluruh karyawan harus memiliki semangat kepemimpinan yang tinggi.
Selain itu, Merpati Airlines harus dengan cerdas melakukan perampingan pada titik-titik “pemborosan anggaran”—meskipun dalam dunia penerbangan perampingan harus dilakukan secara hati-hati dan teliti terutama pada titik yang berhubungan dengan penerbangan pesawat karena ini menyangkut keselamatan dan citra perusahaan.
Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana bersaing dalam menciptakan nilai bagi pasar. Peningkatan daya saing Merpati Airlines adalah harga mati sebagai upaya mendapatkan dan merebut hati pelanggan. Untuk itu, pelayanan yang baik—dengan memerhatikan hal-hal kecil sekalipun­—pada setiap tahapan dapat menciptakan kepuasan, bahkan pengalaman mengesankan (memorable experience) bagi pelanggan.
Landasan untuk Terbang
50 (lima puluh) tahun merajut Nusantara adalah bukti betapa eksistensi Merpati Airlines menjadi bagian penting dalam pembangunan bangsa. Namun, untuk terus memperkokoh eksistensi dalam membentangkan sayap di angkasa, beberapa pekerjaan rumah harus menjadi perhatian. Kerja keras untuk meminimalisir kerugian dan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan adalah sedikit dari berbagai tantangan yang harus dihadapi.
Untuk itu, kepemimpinan semua lini dengan memperkuat kapasitas internal perusahaan dan kerja keras untuk merebut dan mempertahankan loyalitas pasar adalah kuncinya. Keberhasilan Merpati Airlines memperoleh laba operasi dengan cara meningkatkan keselamatan penumpang dan manajemen internal yang baik dengan mengusung slogan “Get the Feeling”6 pada tahun 1999 adalah bukti bahwa Merpati Airlines dapat bangkit dan terbang tinggi di masa depan.
Mari jadikan pembelajaran sebagai landasan untuk terbang!
*)Tulisan ini menang lomba essay Merpati loh :p
Referensi
1.  Iskan, Dahlan. Bisakah Merpati Hidup Lagi? Edisi Manufacturing Hope 6. Jawa Post,      07/12/2011.
2.    Supriyadi, Yaddy. Ancaman dalam Penerbangan. Media Indonesia, 12/05/2012.
3.   Djatmiko, Harmanto Edy. Bukan Saatnya Lagi Berbasah-basih. Membangun Holding    Company Rp 1.300 Triliun. Majalah SWA Sembada No.17/XXIII/ 9-22 Agustus 2007. No.  ISSN 0215-0050. Halaman 28-29.
4.  Iskan, Dahlan. Bisakah Merpati Hidup Lagi? Edisi Manufacturing Hope 6. Jawa Post, 07/12/2011.
5. Wibisono, B. Kunto. 2012. Dahlan Iskan: Merpati Butuh Manajemen Tangguh. Diakses di: http://www.antaranews.com/berita/323128/dahlan-iskan-merpati-butuh-manajemen-tangguh
Advertisements