The Rules of Small-to-Small Franchise

Oleh: Dwi Andi Rohmatika*
Sebenarnya tulisan ini dibuat tidak lama setelah saya pergi ke salah satu booth tempat berjualan jus di Yoyakarta dan merasa malu karena meminta kembalian padahal uangnya pas (doh!). Singkat cerita, saya menyodorkan dua buah dua ribuan untuk segelas jus jambu. Biasanya booth dengan nama ini menjualnya seharga tiga ribu rupiah. Saya termasuk menjadi pelanggan setia booth berbeda dengan nama yang sama yang terletak di dekat kampus. Setelah saya menunggu agak lama, si Abang bilang kalau uangnya pas. Jelas saya kaget. Refleks, saya berujar, “Oh, bukannya biasanya tiga ribu ya, Bang? Merek ini yang di deket kampus segitu kok.”
Si Aban pun menjawab, “Iya, Neng. Tapi kalau di sini empat ribu rupiah. Yang di sana soalnya banyak kompetitornya, Neng. Jadi harganya lebih murah. Maaf ya, Neng.”
Masih agak melongo –bukan karena takjub si Abang yang bahkan bisa menggunakan kata kompetitor dengan fasih– saya pun bilang, “Iya, tak apa, Bang.” Sembari menggerutu tentang si empunya merek jus dan semua booth-booth jus ini dalam hati.
Atribut Wajib Franchise
Search di banyak mesin pencari dan “rules of franchise” akan banyak ditemukan di sana. Bahkan salah satu negara bagian Amerika memiliki hukum khusus tentang ini yang isinya tentu berlembar-lembar. Yang ingin saya tulis di sini bukan tentang franchise macam Starbucks yang sudah besar dan mapan itu, tetapi lebih kepada franchise ataupun usaha UMKM dengan jurus pemasaran berupa nama yang sama dan booth kecil-kecil, yang banyak bertebaran di Indonesia, terutama di Yogyakarta.
Pepatah “mutiplier effect” dari bisnis berjualan itu memang benar adanya. Misalnya, om saya yang seorang wirausahawan nyentrik sempat melakukan hitung-hitungan dengan “the power of quantity”. Artinya: walaupun keuntungan kecil, tapi jika semakin banyak cabang/outlet yang dibuka maka keuntungan semakin banyak pula. Contohnya, Mr. Burger yang ada di Yogyakarta, yang pernah saya sejajarkan dengan McD di Yogyakarta. Ternyata, Mr. Burger memakai strategi tanan gurita alias membuka banyak outlet yang kecil-kecil di mana saja agar penjualan terdongkrak. Dan ini sangat berhasil.
Mulailah muncul usaha-usaha lainnya yang menggunakan strategi yang sama dengan Mr. Burger. Masalahnya, terkadang pengalaman yang saya alami di atas belum menjadi perhatian dari banyak pengusaha kecil-menengah tersebut. Padahal, sistem ‘Word of Mouth” alias “nggambleh” di mana saja sekarang sangat menakutkan dengan adanya social network yang semakin canggih. Bisa-bisa pelanggan menulis pengalaman 
 buruknya dan berakibat pada penurunan penjualan (yang ini agak lebay tapi).
Jadi, hasil dari pertapaan saya tanpa membuka literatur apa pun, menghasilkan atribut wajib yang harus dimiliki franchise, misalnya:
1. Produk Dasar Harus Sama Persis dan Tersedia
Paling nggak produk dasar harus ada di mana-mana. Jangan sampai di outlet A jualan burger A, B, dan C tapi di outlet B hanya jualan burger A dan B. Niscaya pelanggan akan kecewa berat. Hanya saja untuk side products, semacam kentang goreng kalau di bisnis burger ini, tak selalu ada di setiap outlet tak apalah. Toh tak setiap pelanggan mencarinya.
2. Harga Harus Sama
Di mana-mana, biasanya harga produk itu sama. Kecuali memang jika sedang ada promosi. Tapi, petraturannya juga, promosi itu biasanya diketahui tanggal berakhirnya. Jika harga produk berbeda, apalagi untuk tipe produk yang elastis. Produk elastis itu apa? Intinya kalau harganya naik seribu perak saja, pembeli akan berpindah ke barang pengganti lain dengan mudahnya atau tak jadi beli. Misalnya, kalau untuk kasus jus saya tadi, bisa dianti dengan es cincau atau dawet. Bagaimana jika penjual berdalih, ongkos pengiriman bahan bakunya mahal, Mbak. Makanya outlet yang di nun jauh di sana lebih mahal. Kalau saya pembelinya, langsung saya jawab, NONSENSE, mas! Bahan bakunya kalau mahal ya bisa dibeli saja di dekat outletnya itu. Yang jelas ekspektasi pelanggan ketika dia ingin membeli produk itu di outletnya langsung, entah di manapun, adalah: kualitas sama, harga sama.
Memang ada beberapa item yang bisa dbedakan dalam hal cabang-outlet-franchise ini. Misalnya, jenis produk bisa ditambah, tetapi tidak menghilangkan produk dasarnya. Misalnya Starbucks di Jepang menjual produk kopi ditambah sejenis jeli yang mungkin tidak tersedia di Indonesia. Tapi dia tidak menghilangkan produk dasar seperti kopi latte biasa yang sudah pasti ada di manapun cabangnya. Atau perbedaan pada bentuk outlet, misalnya Starbucks juga di beberapa tempat di Eropa yang masih mempertahankan bentuk bangunan kuno yang dipakai. Yang pasti, saya sangat berharap kekecewaan yang saya alami tidak akan dialami lagi oleh konsumen lainnya.
*) Penulis wanita ekonom gila yang konon lebih cocok hidup sebagai cowok :P
Advertisements