Anda Tidak Jujur, pasti MISKIN


Oleh: Meikha Azzani

Berita di berbagai media di Indoenesia di warnai dengan polah pejabat yang tidak jujur. Sesekali ada pengusah-pengusaha yang terlibat dalam aktivitas ketidakjujuran tersebut. Pejabat dan pengusaha berkolusi tidak jujur. Tercipta kemudian, kegiatan perekonomian yg tidak sehat. Persaingan sempurna mimpi. Memandulkan perekonomian.
Satu dua tiga ada berita tentang dunia perbankan. Ada praktek-praktek jahat yang membakar kepercayaan masyarakat. Uang hilang. Bagaimana bisa berusaha. Bank-bank terancam, pemerintah diam mencekam. Takut terjadi rush. Lihat, betapa praktek ekonomi jahat tak sedikitpun beri ketenangan. Praktek ekonomi jahat itu selalu bermula dari keserakahan dan ketidakjujuran.
Lalu, lihatlah bahwa ternyata, tukang parkirpun bisa berbohong. Bahkan pegawai pajak rendahanpun bisa menjadi milyuner dalam hitungan tahun. Mungkin OB bisa juga menjadi orang kaya asal tahu selah main belakang. Toh pengemis di negeri ini sesungguhnya tidak sungguh-sungguh miskin, mereka bahkan mungkin lebih kaya daripada yang memberi. Dan yang lebih parah, anak-anak sekolah diajarkan berbohong melalui ujian nasional. Guru mendorong AL untuk memberikan contekan kepada kawannya. Mereka inilah kelak, dimasa depan yang diteriaki koruptor. Koruptor-koruptor inilah yang merusak tatanan perekonomian, menyuburkan monopoli, mengambil hak anak yatim dan orang fakir untuk hidup lebih baik. Mereka yang memiskinkan negeri. Dan kitalah yang mencetak mereka!
Saya percaya, ketidakjujuran itu memiskinkan. Bagaimana saya bisa memulai bisnis dengan orang yang tidak jujur? Bagaimana mungkin kejujuran menjamin sebuah aktivitas berjalan kontinyu tanpa gangguan? Ketidakjujuran adalah turbulensi. Besar-kecilnya menghancurkan. Itulah yang sedang kita alami. Negara ini miskin karena yang berkuasa tak pernah jujur. Menjunjung tingi asas tak bersalah, padahal sama sekali tidak benar. Tidak jujur. Mereka kaya. Lihat Gayus. Apa akan tercapai masyarakat adil dan makmur?
Seiji mengundurkan diri dari jabatan menteri luar negeri karena menerima 50 ribu yen dari orang asing. Nilai itu sama dengan Rp600 ribu (kompas.com). Nazarudin kabur ke Singapura dan akan kembali kalau Indonesia sudah adil padahal dia sendiri tidak pernah adil. Maka tak heran kalau PDB Jepang 2010 yang 5,391 triliun dolar AS (Rp47 ribu triliun) sedang PDB Indonesia tahun 2010 yang Rp5,613 triliun. Di Jepang banyak orang jujur, jadi bisa kaya, di Indonesia banyak munafikun, jadinya terus-terusan miskin.
Anda percaya?

Advertisements

Retribusi Parkir Kembalikan saja Lagi pada Rakyat

Oleh: Meikha Azzani

Saya sedang mengerjakan proyek peningkatan potensi PAD di salah satu kabupaten di Indonesia. Salah satu target untuk meningkatkan PAD kabupaten tersebut adalah dengan meningkatkan pendapatan retribusi parkir. Target pendapatan retribusi parkir pada tahun tertentu adalah Rp 1.6 M, dan hanya tercapai Rp 1 M. Maka, saya bersama tim diminta untuk merumuskan bagaimana cara untuk meningkatan pendapatan retribusi parkir agar target Rp 1.6 M itu tercapai.

Pembahasan kami panjang sekali. Dua jam yang ketat karena setiap pendapat kami bisa dibantai dengan mulus oleh Bapak dari Dinas yang cerdas dengan pengalaman. Juru parkir di kabupaten tersebut telah dilegalkan dengan diangkat sebagai juru parkir (jukir) dan mendapatkan upah bulanan. Upah bulanan yang diterima seorang jukir berbanding lurus dengan kinerjanya. Setiap jukir di target dalam sehari berdasarkan dengan potensi parkir daerah tersebut. Lalu setiap harinya para jukir melakukan setoran yang kemudian akan diakumulasi setiap bulan. Akumulasi setoran tersebut dibagi 30 hari hasilnya adalah rata-rata pendapatan jukir dikali satu bulan. Kalau setoran tinggi, pendapatan lumayan. Setoran rendah, wallahualam dapat pendapatan atau tidak. Itulah yang dimaksud dengan upah berbanding lurus dengan kinerja.
Rata-rata pendapatan jukir adalah Rp 200.000-400.000. Kecil? Jumlah juru parkir di kabupaten tersebut ada 203 jukir. Sehingga setiap bulan, kabupaten tersebut harus mengeluarkan uang sebesar Rp 60.900.000 (dengan pendapatan jukir di pukul rata Rp 300.000). Dalam setahun maka pengeluaran daerah untuk gaji jukir adalah Rp 730.800.000. Jumlah yang banyak sekali, tapi gaji yang diterima jukir sedikit sekali.
Mengutip untuk sejahtera
Pihak kabupaten berharap, pendapatan parkir meningkat. Mereka, kami juga, mensinyalir besarnya kemungkinan para jukir mengutip, atau tidak melaporkan, pendapatan yang sesunguhnya. Kejadian seperti ini memang lumrah dalam dunia perparkiran. Salah satu sebabnya adalah: Karena program ini baru berjalan satu tahun, para jukir belum terbiasa untuk mendapatkan uang bulanan, mereka seringnya mendapatkan uang harian. Dan karena kebutuhan harian tidak bisa ditunda di akhir bulan, akhirnya mereka mengutip pendapatan parkir. Pendek kata ini masalah KESEJAHTERAAN. Hidup dengan pendapatan Rp 300.000 sebulan, masya Alloh, pasti mumet sekali istri para jukir!
Retribusi parkir tidak perlu menjadi sumber PAD
Maka, ketika sedang seru membahas tentang bagaimana caranya mengurangi moral hazard para jukir ini? Saya tiba-tiba teringat saran Keynes untuk pemerintah Amerika yang dilanda pengangguran masal, yaitu menyuruh rakyat untuk menggali lubang di jalan, gaji, lalu suruh mereka menutup kembali lubang itu, dan gaji. Gaji inilah yang akan kembali menggerakkan roda perekonomian. Rakyat bisa membeli barang. Toko-toko kembali buka. Pabrik-pabrik kembali berproduksi.
Pertanyaan saya kemudian, bisakah hal ini diaplikasikan bagi para jukir di kabupaten tersebut?
Tugas pemerintah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat bukan? Maka mungkin cara ini bisa dilakukan: Maksimalkan pendapatan parkir. Artinya target Rp 1.6 M harus didapat. Maka seluruh pendapatan tersebut dikembalikan lagi ke masyarakat dalam bentuk peningkatan pendapatan jukir. Tidak besar kok peningkatan gaji mereka, paling hanya menjadi Rp 600.000-an. Tidak membuat mereka seketika menjadi kaya. Namun dampaknya luar biasa. Apalagi jika para jukir di training untuk mengatur keuangan dan para istri jukir dibantu untuk memiliki usaha sampingan, lihatlah nanti bagaimana perekonomian kemudian menjadi bergelora.
Jangka panjang, tapi daripada peningkatan pendapatan parkir dimanfaatkan untuk membiaya operasional aparat, lebih baik langsung saja dikembalikan ke rakyat. Dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat. Ide ini bisa jugakan? Tapi apa pemerintah mau? Atau ada ide lain?

New-Kerakyatan

Oleh: Meikha Azzani

Menarik membaca tulisan dengan judul Rabun Jauh Ekonomi Kerakyatan dan Ekonomi Mimpi Ala Bang Toyip (Priyok Pamungkas). Yang dapat saya simpulkan dari keduanya adalah adanya angin baru yang bertiup untuk kemandirian perekonomian Indonesia. Berdasarkan Pembukaan UUD 1945, tujuan Negara Indonesia adalah menuju masyarakat adil dan makmur. Alat untuk mencapai masyarakat yang adil-makmur terdapat dalam batang tubuh UUD 1945 Pasal 30, bahwa Indonesia memiliki tiga kuda dalam perekonomian, yaitu perusahaan negara, swasta, dan koperasi.

Digambarkan, perusahaan milik negara akan focus melayani kepenting public. Dalam perkembangannya kini, perusahaan milik negara kemudian berkembang mencari untung. Sektor swasta sendiri terus bergeliat mencari peluang untuk meningkatkan profit. Dari banyak literatur yang saya baca tentang perekonomian Indonesia, sector swasta ini sering kali digambarkan sebagai buaya yang serakah merauk keuntungan dari masyarakat yang serba kekurangan. Efek kapitalisme, dengar-dengar yang menjadi bensin sector swasta. Dan koperasilah, yang dalam literature buku Ekonomi SMP-SMA digambarkan sebagai sector kerakyatan yang nasibnya kini mati enggan hidup sungkan. Walaupun begitu, banyak juga koperasi yang memiliki potensi financial yang luar biasa. Bahkan lembaga-lembaga microfinance yang targetnya berasal dari rakyat kecilpun ternyata mampu tumbuh menjadi lembaga keuangan yang maju.

Dari sinilah benang emas tulisan, Ekonomi Mimpi-Rabun Jauh Ekonomi Kerakyatan-Ekonomi Mimpi Ala Bang Toyip bersatu padu bak pengantin baru. Bahwa Ekonomi Kerakyatan haruslah bercita-cita menjadi besar. Percayakah Anda jika saya bercerita mengenai kesuksesan Honda, Hitachi, Google, maupun KFC? Pada awalnya, perusahaan-perusahaan tersebut merupakan usaha rakyat. Home industries. Karyawannya tak seberapa. Tapi beriring waktu dan banyak factor pendukung lainnya, usaha-usaha gurem tersebut tumbuh menjadi perusahaan yang besar dan kuat. Percaya Indonesia bisa?

Negara besar pasti memiliki perusahaan-perusahaan dalam negeri yang besar. Logikanya menjadi mudah, jika Indonesia ingin menjadi negara besar maka diperlukan banyak perusahaan besar di Indonesia yang kompetitif dengan perusahaan asing. Inilah ideologiny: New-Kerakyatan. Dimana usaha-usaha rakyat mampu menjadi usaha yang besar yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan terakhir membantu negara mencapai rakyat adil-makmur. Tapi tunggu dulu, sebelum kita mengobarkan semangat tersebut lebih jauh, kita ingat-ingat dulu adakah di Indonesia usaha gurem yang kemudian menjadi besar? Ada! Contohnya yang paling mudah adalah Sampoerna. Dan selanjutnya kemudian, kita memang mendorong adanya perusahaan franchise Angkringan yang buka cabang di Singapura.

Dan karena setiap mazhab memiliki asumsi untuk mengembangkan suatu teori maka dalam Mazhab New-Kerakyatan ada asum-asumsi yang diperlukan, diantaranya adalah:

a. Pasar Bebas
Kita semua memahami apa saja asumsi yang adalam pasar bebas. Dan itulah yang harus dijamin keberlangsungannya

b. Institusi
Pasar bebas dapat dipastikan keberlangsungannya selama infrastrukturnya mendukung, dan sebaliknya. Kedua hal ini memiliki hubungan mutualisme yang saling menjaga keberlangsungannya.

c. Fanatisme produk
Dulu ketika SD, saya kira ada slogan “Aku Cinta Produk Dalam Negeri”. Pada masa kini fanatisme tersebut ternyata sangat diperlukan, seperti orang-orang Korea yang ramai-ramai menggunakan Hyundai. Saya kira, bagi bangsa yang mau menjadi bangsa yang besar, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menciptakan indentitas yang dicintai masyarakat umum. Pada poin ini, kesannya memang bertentangan dengan ‘pasar bebas’ karena preferensi dikendalikan, tapi saya kira itu fair selama Indonesia mampu membungkusnya dengan tepat.

Fanatisme produk di Indonesia sejauh ini baru dilahirkan oleh pariwisata dengan slogan “Visit Indonesia”. Kemudian, banyak pemerintah daerah, pihak swasta, backpackers, wisatawan dalam negeri yang juga menyerukan slogan tersebut setelah mengunjungi tempat-tempat luar biasa di Indonesia. Pada akhirnya, hal itulah yang akan menghidupkan pariwisata dan daerah-daerah terpencil nan eksotis di Indonesia.

Saya kemudian membayangkan, disinilah produk-produk asli Indonesia memerlukan sentuhannya. Terkait Fanatisme Produk, rasanya seru ya kalau dibahas di jurnal tersendiri. Tungulah! :D

d. Uang dan Pemerintah
Intinya, negara punya uang dan haruslah cerdas menggunakan uang tersebut (bangun gd.DPR aja bisa). Di Jepang, ada lembaga penjaminan kredit, namanya Small and Medium Enterprise Agency (SMEA) yang didirikan pada tahun 1948. Di Indonesia namanya Askrindo. Fungsi SMEA sangat terasa pada saat perekonomian Jepang mengalami resesi atau stagnasi pada tahun 1970-an, 1980-an. Setiap tahunnya, pemerintah Jepang menanggung kerugian antara 0.2-0.6 triliun yen. Kerugian itu untuk membayarkan UKM yang tidak mampu membayar hutangnya. Semangat yang ditangkap di sini adalah semangat dukungan dari pemerintah untuk membesarkan rakyatnya. Indonesia dengan KUR, sudah mampukah menciptakan perusahaan sekelas Honda?

Sejauh ini, yang ada dalam pikiran saya tentang mazhab New-Kerakyatan adalah memberikan kebebasan sebesar-besarnya bagi rakyat untuk berusaha kaya dengan cara-cara yang halal dan toyib. Lebih jauh, bentuknya mungkin bisa dipikirkan bersama lebih dalam lagi untuk ngomporin Presiden SBY agar mempercepat perekonomian Indonesia, salah satunya dengan mendorong sector swasta rakyat yang kecil mungil potensial :D. -me

sumber gambar

Ekonomi Mimpi

Oleh: Meikha Azzani

Rasanya seperti mimpi tinggal di Jepang. Bukan, bukan yang saya merasa wow tinggal di Jepang, bukan. Tapi karena semua yang ada disini seperti ada di alam mimpi. Entah saya kebanyakan nonton film kartun dari Studio Ghibli atau Cartoon Networks, tapi inilah imajinasi. Kekuatan Ekonomi bangsa Jepang.

Film-film anime yang dibuat oleh banyak komikus Jepang menjadi trend di banyak Negara seperti di Indonesia. Contohnya Gundam, Naruto, bahkan banyak film-film dari Studio Ghibli yang didubbing dengan menggunakan bahasa Inggris.

Menurut saya ini adalah hal yang luar biasa. Karena apa yang diproduksi oleh banyak orang Jepang bermula dari imajinasi dan kreativitas. Baiklah pertama mereka memang banyak meniru, tapi kemudian berkembang sedemikian rupa hingga menjadi industry yang sangat menjanjikan.

Kebayang apa yang saya maksud?

Saya berjalan-jalan ke Fujikyu, seperti Dufan, tapi 10 kali lebih hebat. Di sana saya masuk ke rumah Gundam Crisis. Di dalamnya saya bermain seperti basecampnya Gundam. Imajinatif. Lalu saya masuk ke toko mainan Yamashiro-ya dan menemukan berbagai macam mainan yang sangat kreatif. Berbeda sekali dengan banyak toko mainan yang saya datangain di Indonesia (biasanya menjemukan, hanya robot, mobil-mobilan, boneka, fiuh).

Lalu, saya juga menonton anime-anime dan film-film Jepang yang temanya, beberapa, mendorong anak-anak untuk mencintai lingkungan, sesama, dan berjuang keras. Yang paling wow dari Jepang adalah Tokyo, a great integrated city. Saya ke Shinjuku dan merasa wow dengan stasiun bawah tanah yang besar sekali namun terhubung dengan banyak gedung. Yang lebih keren banyaknya jembatan layang untuk pejalan kaki yang centernya adalah stasiun.

Saat itu saya jadi kebayang kartun dari cartoon network (lupa judulnya apa tapi tentang kehidupan di masa depan). Dari situlah kemudian saya berpikir bahwa salah satu “energy” yang menghidupkan Jepang adalah kekuatan imjainasi. Di Indonesia kemudian menjadi industry kreatif.

Lalu bagaimana nasib industry kreatif di Indonesia ke depan? Apa bisa menjadi energy baru bagi perekonomian Indonesia?

Melihat Jepang, saya tebak pasti mereka memerlukan waktu bertahun-tahun dan dukungan dari berbagai kalangan masyarakat. Nah, kira-kira Industri Kreatif Indonesia bisakah berkembang dalam waktu yang cepat (sebelum abis dibabat produk tiruan Cina) dan didukung oleh berbagai macam lapisan masyarakat?

Bayangkan ini, jumlah penduduk Indonesia yang luar biasa banyak dengan gen konsumtif merupakan pasar yang sangat potensial untuk berbagai macam produk. Nah, bayangkan, seandainya Indonesia memiliki produk asli buatan sendiri yang dipakai oleh masyarakat Indonesia, bukankah akan menjadi luar biasa ya? India saja sudah punya Bajaj, Indonesia bahkan belum sama sekali.

Sejujurnya tema seperti ini memang klasik. Dan lagi-lagi solusinya kembali pada system. Kemajuan Jepang karena system kenegaraan yang terintegrasi antar semua sector sosioekpolbudhankam, yang gagal dijalankan Indonesia. Kini, sejujurnya, saya agak merasa ketar-ketir dengan kemajuan Indoensia. Dibandingkan Cina saja kita sudah mulai tertinggal (neraca perdagangan kita dengan Cina disalip boi) dan pemuda-pemudi kita copas artis/film Korea plus West minded.

Saat ini kita sedang berburu waktu. ASEAN pada tahun 2015 akan semakin bebas. Perusahaan-perusahaan akan didorong untuk semakin efisien dan seiring dengan semakin berkembangnya teknologi maka penggunaan human resources bias berkurang yang berarti pengangguran di Indonesia. Untuk perekonomian Indonesia, perpaduan itu semua jelas disaster.

Ekonomi Imajinasi
Solusinya, buat saya, adalah ekonomi gila, salah Ekonomi Imajinasi. Apa itu? Saya juga ga tau gimana tapi yang saya bayangkan adalah suatu gerakan massif dimana pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat menggunakan secara gila-gilaan produk-produk karya anak bangsa. Caranya? Mari kita pikirkan. Katanya ini blog mau jadi ajang lahirnya ide-ide. Kalau ada tulisan masuk, dibaca dan dibahas donk…jangan cuman pada balapan nulis. Lebih seru lagi kalo ada balas-balasan artikel. Seru tuh.

(Lho, ko jadi ngeritik gini haha, belum apa-apa dah mulai tapi tolong diterima tulisan saya. Yoroshiku neee…).

Note: tulisan selanjutnya menyusul yaaah…^^