Materialitas yang Nggak Matre

Sering dengar matre? Entah mengapa kata sifat satu ini — seperti kata sifat “cantik” — umumnya melekat pada perempuan, lengkapnya baca aja deh di sini (hahaha… malah promosi deh). Materialistis (lebih beken dengan singkatan matre) beda dari materialitas. Materialitas adalah sebuah istilah beken dalam audit, kata dasarnya “material” juga beken, tapi berhubung bekennya nggak sebeken Justin Bieber jadi nggak apa-apa kalau saya yang jelasin… xixixi… ya, mulai serius neh nggak bercanda lagi :D

Materialitas = Batas

Apaan tuh materialitas? Buka saja buku auditing yang membahas tentang materialitas untuk definisi yang bener, nggak usah saya ketikin yah >.< xixixi… enak yaw jadi Ekonom Gila :p

Konsep materialitas sangat mudah dipahami dengan logika. Supaya lebih meresap di jiwa, mari kita pakai contoh kehilangan uang. Sebagai anak kost yang super irit, anggaplah jatah kiriman duit 1 juta sebulan, selidik punya selidik kok rasanya hilang 100 ribu ya? Berasa banget ya kehilangannya, yap yap… itu artinya material (bukan bahan bangunan!). Nah, gimana kalau kehilangan duit 100 ribu itu terjadi pada nasabah kaya raya yang duitnya ditilep MD? 100 ribu mah nggak berasa, 100 juta aja masih nggak berasa, tunggu ditilep milyaran baru berasa kehilangan! See? 100 ribu nggak material untuk orang kaya raya!

Jadi, materialitas adalah “batasan” yang memisahkan yang mana yang material dan yang mana yang nggak material tergantung seberapa gede duitnya. Auditor menggunakan konsep materialitas ini dalam bekerja: ngapain juga ngubek-ngubek transaksi yang kalaupun salah nggak ngaruh gitu loh buat pengguna informasi! Sesuai sih dengan arti materialitas yang bener: tingkat kehilangan/salah saji informasi akuntansi yang menyebabkan pengaruh pada keputusan orang yang menggunakan informasi tersebut. (acem bener yah tadi nyuruh buka buka buku Auditing… hehehe…)

Menentukan Materialitas

Untuk dapat menentukan materialitas, paling nggak harus 2 tahun (kira-kira) jadi auditor, karena nggak gampang juga. Butuh banyak pertimbangan profesional, serius ene. Kalau secara umum sih, materialitas dapat menggunakan pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif, misalnya: 5% dari laba sebelum pajak maupun jumlah transaksi (materialitas ini namanya “financial statement materiality”). Kalau secara khusus? Ada juga, pos per pos gitu, misalnya: kas = 6 juta, total aktiva = 600 juta (kas 1% dari total aktiva), maka materialitas kas juga 1% dari “financial statement materiality” (materialitas ini namanya “account balance materiality”).

Apa gunanya materialitas yang sudah ditentukan? Kalau ada kue pai, potonglah sendiri menjadi 3 bagian: materialitas, bukti audit, dan resiko audit. Kalau potongan materialitas udah gede (materialitas tinggi), bukti audit yang ada juga gede potongannya (dokumen yang diperiksa banyak), sisa potongan kecil kan resiko audit (resiko audit menjadi rendah).

Resiko Audit = Keterbatasan Audit

Secara auditor juga manusia, pasti punya keterbatasan. Berhubung yang melakukan audit manusia, yah ada resikonya, yaitu: mungkin saja auditor tidak sadar untuk menyatakan opininya tentang kesalahan penyajian. Auditornya aja nggak tau itu salah, gimana mau ngasih tau, ya udah resiko buat pengguna laporan keuangan yang telah diaudit.

Kalau gitu opini auditor nggak bisa dipercaya dong? Well, sebisa mungkin auditor potong pai untuk resiko audit dengan ukuran yang mini (audit risk minimum berarti assurance yang diberikan maksimum). Biar bisa mini, materialitas harus tinggi dan bukti audit harus banyak. Jiaaaah… giliran auditornya yang tepar, udah deadline gene banyak tuntutan pula.

Untungnya, resiko audit dapat kita jabarkan menjadi: inherent risk, control risk, dan detection risk. Secara matematis sih kayak gini:

AR = IR x CR x DR

Inherent risk (resiko bawaan), persis kayak watak (bawaannya) temen kita: si Yoga ya memang dari sononya lucu, kalau si Aul dari dulu imut… wakakaka… resikonya? Yoga banyak penggemar yang pingin nyuri denger joke-nya, kalau Aul banyak penggemar yang pingin nyuri colek pipinya (ah, bisa aja saya bikin contoh!). Demikian juga uang, resiko bawaannya gede banget, soalnya nggak ada nama kamu kan di uang kamu? Kalau bulpen sih masih ada stiker nama dan siapa juga yang mau ngambil bulpen butut kamu? Berhubung memang dari sononya, ini nggak bisa kita ubah, default, terima saja resiko ini. Biar aman (prinsip konservatisme), mendingan sih semua inherent risk asumsinya tinggi saja.

Next, control risk (resiko kontrol). Lanjut pakai contoh uang dan bulpen, bisa aja hilang keduanya kalau yang punya teledor kayak Yoga (hahaha… again!) tapi kalau orangnya nyimpen baek-baek alias punya kontrol yang bagus seperti katakanlah Aul, jadi kesimpulannya: secure atau nggak tuh aset tergantung dari kontrol yang dijalankan. Evaluasi aja kontrolnya, kalau bagus ya berarti resiko kontrol rendah.

AR = IR (tinggi) x CR (rendah atau tinggi?) x DR (?)

Matematis lagi, dengan asumsi di atas maka, yang menentukan besar kecilnya DR adalah tinggi atau rendahnya CR. Jadi, sebelum mulai ngubek-ngubek, pastikan dulu kontrol yang telah dijalankan, bagus atau nggak. Kalau kontrol perusahaan terhadap asetnya lemah (resiko kontrol tinggi), wajar kan kalau kita memastikan lebih banyak hal (resiko deteksi rendah). Pusing? Saya juga! Saya kabor dolo yaaaaa :D

***

Oh ya, ngomong-ngomong apa hubungan materialitas sama matre ya? xixixi… cari tau dengan jarimu!