Suatu Petang di Central Market

Oleh: Umi Gita
Senin petang kemarin, saya dan atasan saya berusaha meluangkan waktu untuk pergi ke Central Market setelah seharian belajar ke Khazanah Nasional Berhad di Kuala Lumpur dan Ministry of Human Resource di Putra Jaya. Central Market merupakan pasar yang cukup terpercaya untuk membeli buah tangan dari Kuala Lumpur. Selain barangnya cukup komplit, harga murah dan ternyata banyak pelayannya itu orang Indonesia.
Sebagai pusat oleh-oleh, Central Market tak dapat dikatakan besar. Bila dibandingkan dengan Pasar Beringharjo, kalau jauhlah. Apalagi Tanah Abang. Mungkin pas nya dengan pasar Serpong di dekat rumah saya itu. Namun, Central Market ditata dengan cukup apik, tidak banyak toko yang menjual barang yang sejenis sehingga membuat saya dan atasan saya tidak terlalu pilah pilih. Yah, beli sajalah yang murah meriah harga satu sampai tiga puluh Ringgit untuk dibagi ke teman kantor, orang tua dan sahabat. Dan pilihannya ya gak jauh jauh dari gantungan kunci, pajangan Twin Tower (khusus untuk ayah tercinta), kaos, pulpen dan coklat.
Ketika melewati toko pakaian, saya malah lebih banyak melihat baju baju orang China ataupun India. Ada juga batik, tapi setelah ditanya ke pelayannya, ternyata Batik dari Riau. Yah, ini sih bisa beli di Pekanbaru atau titip teman. Saya niatnya beli baju kurung, baju yang khas dipakai oleh perempuan melayu Malaysia, yang sering pula dipakai oleh pegawai kerajaan (istilah PNS di Malaysia) untuk saya berikan ke Ibu tercinta. Tapi ternyata di central market tidak banyak yang jual. Atau mungkin saya yang kurang mengeksplore karena terbatasnya waktu.
Saya hanya menemukan dua toko yang menyediakan baju kurung. Satu toko menjual dengan harga 80 Ringgit, tapi bahannya saya rasa tidak bagus. Nah, di toko satunya lagi saya menemukan baju kurung yang bagus, tapi harganya bagus juga sekitar 250 Ringgit. Saya mencoba menawar, apalagi pelayannya bisa saya tebak, orang Jawa. Lha, ketika melayani saya, dia tiba tiba terima telpon dan ngomong bahasa Jawa ngoko.
“Asline endi, Bu?” Tanya saya sembari memegang megang baju kurung itu. Duh, emang bagus dan halus….
“Suroboyo.” Jawabnya.
“Ealah rek, wong Suroboyo to. Iseh Indonesia po melu Malaysia ki?” Tanya saya tanpa tedeng aling aling. Biarlah, saya pakai bahasa Jawa ini, mudah mudahan pemilik toko yang notabene orang Malaysia tidak mengerti.
“Yo iseh Indonesia to yo…”
“Tau muleh rak, Bu?”
“Yo wingi lebaran, aku muleh.”
“lha nek ngono, mbok baju kurung’e iki regane dimurahi nggo aku….”rajukku.
“Yo wes 220 Ringgit yo. Iki apik iki, corakke tulis tangan, ora cap-cap an.”
Aku terdiam. Duh kog masih di sekitar 200 Ringgit. Kalau dihitung hitung kasar bisa sampe 600 ribu. Ada dorongan, yah sekali aja membelikan Ibu yang special. Tapi, uang saku saya juga gak besar, terlebih lagi saya berusaha menabung dari uang saku saya.
“Rak iso 150 Ringgit, Bu? Iki nggo Ibuku tercinta…” Tawar saya lagi dengan penuh harap sembari membayangkan wajah Ibu tercinta di rumah.
“Waaah yo rak iso, mengko aku rak digaji.”
Aku terdiam. Duh, apa ya yang bisa kubelikan special buat Ibuku?
“Yo wes lah Bu, kira kira opo sing asli Malaysia tur regone rak luwih 100 Ringgit…”aku pasrah.
“Lha iki kan akeh. kaftan?”
“Halah, nek koyo iki neng Tanah Abang akeh. Kain-kain rak ono Bu?”
Ibu itu kemudian menunjukkan sebuah kain batik yang mirip Batik dari Kuningan, deketnya Cirebon. “Iki sing asli kene, Batik Trenggano.”
Aku hanya mengernyit dahi, “Wah corakke mirip Batik Cirebon Bu, malah luwih apik Batik Cirebon.”
Mungkin kalo pelayannya orang India, pembeli seperti saya ini sudah disuruh pergi. Tanya Tanya mulu dan malah ngejek. Tak lama saya melirik kain yang agak tersembunyi, wah kain yang coraknya beda, dan mungkin di Indonesia saya belum pernah temuan, corak bunga besar yang disatukan dengan ukiran yang ada di Vihara. Kulihat lebih dekat dan kupegang, tertulis kata ‘Shuhongthai’.
“Lha iki, apik Bu. Iki ketoke udu seko kene. Seko Thailand, po?”
“Iyo hehehe…kuwi 45 Ringgit ae lah nggo kowe.”
Akhirnya saya pun membeli kain Thailand dua buah, satu merah dan satu hitam, itu dengan harapan semoga Ibu saya suka dan mengolah sendiri kain itu jadi pakaian.
“Gaji Ibu piro sewulan?” iseng saya bertanya sembari akan membayar.
“Seribu Ringgit.”
Hmm..berarti sekitar tiga juta Rupiah. Sama persis yang diomongkan oleh salah seorang Director di Ministry of Human Resource, rata rata untuk gaji terendah di Malaysia ini sekitar seribu Ringgit. Saya pun menyerahkan seratus dua puluh Ringgit ke Ibu itu. “Ambil semua, Bu, idep idep nggo tambah tambah.” Ucapku.
Ibu itu kaget, “Akeh men…yo nuwun lho…”
Dalam hati, semoga seribu Ringgitmu tidak ditambah disiksa sama majikanmu, Bu…
Ah, begitu banyak orang Indonesia yang kerja disini. Ya, orang Malaysia pun mengakui bahwa ada sekitar 5 juta WNI di negaranya. Dari pembantu rumah tangga sampai manajer di Petronas. Dari ahli SAP di Axiata sampai pembersih kaca Twin Tower. Kalau gak ada orang Indonesia, mungkin perekonomian Malaysia tidak jalan. Jadi, bisa aja kalau kita mau, kita tarik 5 juta orang itu kembali ke Indonesia, dan kolapslah perekonomian mereka.
Tapi, ini soal nafkah, Bung. Apakah di Indonesia sendiri ada lapangan pekerjaan untuk mereka? Mungkin mereka lebih memilih kemungkinan ‘akan disiksa’ daripada tidak dapat nafkah. Atau kalau yang pintar, yah lagi lagi kembali ke permasalahan ‘Brain Drain’.
Sembari melahap mie bihun yang lagi lagi ala Thailand, aku hanya mampu termenung melihat ini semua. Apa yang bisa kulakukan untuk mereka? Oh, betapa bodoh dan tololnya diriku bila hanya membiarkan ini semua. Namun, ini Indonesia Raya, dimana idealisme hanyalah sumpah serapah, dan belum lagi tambah bumbu ‘kalau gak ada duit, gak akan jalan.’
Oh Tuhaaaannnn….siapakah yang sakit jiwa? Saya kah?!
Sayup sayup perlahan terdengar bisikan… Umi Gita, walaupun kamu hanya titik kecil sebagai staf SDM di sebuah institusi pemerintahan, kamu bisa memberi andil. Mengapa tidak kamu sadarkan dan tingkatkan kompetensi pegawai pegawai di institusimu. Toh siapa tahu, itu akan berimbas pada perusahaan perusahaan negara yang akan berkembang pesat di dalam dan di luar negeri. Dan mereka yang kini bekerja di Luar Negeri, dapat bekerja di perusahaan negara itu, dimanapun berada.
Entah, kog rasanya utopis.
Sayup sayup itupun terdengar kembali…selama kau percaya padaKU, itu mudah bagiKU.
Malam itu saya tidak dapat tidur nyenyak. Tantangan begitu besar, entah saya mampu atau tidak. Saya tidak tahu. Atau jangan jangan saya ini orang yang setengah gila?!
22 Desember 2011