Saya 30% Indonesia

Oleh: Putu Sanjiwacika Wibisana, 697 kata

Joko Widodo kembali menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia. Yah, betapa tidak, baru-baru ini walikota yang terkenal merakyat dan memihak wong cilik itu mengejutkan sekaligus membanggakan segenap pembaca warta ketika ia mempensiunkan Toyota Camry hitam mulus rakitan 2009nya dan beralih ke SUV hasil ‘prakarya’ anak SMK. Sesuatu yang nggak pejabat banget (kata B*b*t Waluyo). Halah, dua pejabat itu memang selalu berseteru.

Tapi di artikel ini saya tidak akan membahas mengenai Joko Widodo, apalagi Bibit Waluyo. Secara, saya seorang (calon) ekonom (gila), jadi harus objektif dan tidak diintervensi kepentingan politis :D Saya akan mengulas lebih jauh mengenai isu cinta produk dalam negeri yang selalu dijargonkan Kementrian Perdagangan dan bagaimana realitanya dalam perekonomian Indonesia, secara sederhana karena dosen saya gak suka yang ribet-ribet.

Perekonomian Asia Tenggara, khususnya Indonesia memasuki suatu babak baru, tepat dua tahun yang lalu yaitu tanggal 1 Januari 2010. ASEAN-China Free Trade Agreement, atau ACFTA, begitulah nama seremnya. Suatu perjanjian akan liberalisasi perdagangan di kawasan ASEAN China, barang-barang mengalir dengan mudahnya tanpa ada hambatan tarif maupun kuota. Sebagai negara dengan penduduk terbanyak di Asia Tenggara, spontan Indonesia kebanjiran produk-produk asing yang berasal dari negara-negara mitra, khususnya China. Semua barang yang beredar labelnya Made in China. Handphone Made in China. Pulpen Made in China. Gayung mandi pun Made in China. Tentunya semua datang dengan senjata utama mereka: harga murah. Ya tahulah, karakteristik masyarakat Indonesia. Price matters, man!

Alhasil, neraca pembayaran pun menjadi korban pertama. Surplus perdagangan Indonesia yang pada tahun 2009 sebesar 10 miliar USD, merosot menjadi 6 miliar USD ketika ditutup pada akhir 2010. Kementerian Perdagangan pun bak kebakaran jenggot, dari ‘panas yang tidak tertahankan’ itu munculah suatu program 100% Cinta Produk Indonesia.  Kalau dilihat secara ekonomis, alasannya sederhana. Program untuk menekan laju impor sebagai akibat dari konsumtifisme masyarakat, yang apabila dibiarkan dalam jangka panjang akan menguras devisa negara. Kalau devisa negara habis? Terlalu mengerikan untuk diceritakan -_-

“Prioritaskan mengkonsumsi produk Indonesia, bangga dengan produk negeri sendiri!”, yah barangkali jargon 100% Indonesia itu esensinya seperti itu. “Saya makan tempe karena saya cinta Indonesia”. Boleh jadi pernyataan itu benar. Tempe memang produk asli Indonesia. Tapi nyata-nyatanya kendati semua orang Indonesia makan tempe setiap hari, belum bisa memperbaiki surplus perdagangan. Mengapa demikian?

Now just wait a minute. Sebagai konsumen yang cerdas, mari kita ‘selami’ lebih dalam asal muasal tempe tersebut. Kemenristek pun mengungkap suatu fakta yang mengejutkan. Ternyata si tempe itu sendiri 70% kedelainya diimpor dari USA! Impor yang sudah dilakukan sejak jaman orde baru, semenjak krisis kedelai tahun 1970. Kalau seperti ini, tempe tentunya sudah bukan lagi menjadi produk asli Indonesia. Lebih tepat disebut sebagai “The American Tempe”. Informasi-informasi seperti inilah yang acapkali tidak diketahui konsumen Indonesia. Ada cerita yang sama di industri air mineral. Air minum bermerek A*UA boleh jadi diproduksi dengan mata air Indonesia, tapi modalnya sepenuhnya dimiliki D*none yang notabene perusahaan orang Eropa sana. Sungguh miris.

Lantas apa hubungannya tempe, air mineral dengan mobil baru Jokowi?
Jokowi membeli mobil yang bernama Esemka Rajawali itu seharga Rp 95 juta dan dijadikan mobil dinas Walikota Surakarta. Menurut para perakitnya yang notabene siswa dua SMK di Solo tersebut, 80% nilai bahan baku mobil tersebut berasal dari dalam negeri, hanya 20% yang merupakan bahan impor. Tentunya dengan informasi semacam ini, konsumen bisa membedakan lebih jauh, yang mana yang 100% Indonesia dan yang tidak. Pemerintah haruslah meningkatkan transparansi informasi dan menjadi pionir dalam mencintai produk negeri sendiri. Sebagai pemimpin, pemerintah bisa memulai kampanye 100% Indonesia dengan meneladani rakyatnya melalui penggunaan produk-produk lokal, tidak hanya sebatas mengkumandangkan jargon. Pemerintah kini harus memiliki fungsi baru dalam perekonomian yang serba bebas dan berbasis pasar: meningkatkan mobilitas informasi sehingga dicapai oleh para pelaku pasar. Tidak lain untuk mendekati asumsi pasar persaingan sempurna: informasi sempurna, yang konon katanya memberikan kesejahteraan maksimum bagi masyarakat. Masih banyak produk Indonesia lain yang tidak dikenali masyarakatnya sendiri, misalnya laptop Zyrex. Tak lupa juga mengembangkan pendidikan dan mengoptimalkan penggunaan SDM lokal. Bayangkan siswa SMK yang rata-rata masih berusia 17 tahun sudah bisa membuat mobil, seberapa besar potensi yang kita miliki di negeri permai ini? Jangan sampai putra bangsa seperti mereka dijarah negeri tetangga. Dengan demikian, Indonesia perlahan-lahan bisa terlepas dari oligarki ekonomi yang menyengsarakan dan menjadi bangsa yang mandiri sejahtera dan berprestasi (utopis banget).

Jadi, simpelnya Jokowi baru 80% Indonesia, sedangkan kita yang makan tempe tiap hari baru 30% Indonesia. 100%-nya kapan yah?

PENULIS: Putu Sanjiwacika Wibisana
ALAMAT: Depok, Sleman, DIY
                Mahasiswa Ilmu Ekonomi UGM Angkatan 2011
                Mahasiswa yang dibuat gila oleh dosen PE yang notabene eks-Kepala BKF

Advertisements