Rokok & BLT: Kunci Potensi Ekonomi Indonesia

                             

sumber gambar: chocoplay

Program sejenis BLT (Bantuan Langsung Tunai) berpotensi menambah kadar kemalasan  pada para penerimanya.

-Ibu Dosen Etika Profesi-

“Merokok merupakan contoh penyia-nyiaan sumber daya kelas berat. Nasib suatu keluarga sebenarnya bisa berubah, bila uang untuk beli rokok tadi, dipakai untuk beli susu maupun keperluan pendidikan anak dalam keluarga tersebut.”

-Bapak Dosen Akuntansi Keuangan Lanjutan II-

           Banyak jurnal dan artikel membahas efek dari pemberian hibah secara cuma-cuma (gratis) bagi para penerimanya. Menurut kalangan menengah dan terdidik, efek positif dari hibah gratis dinilai terlalu kecil (suatu penelitian melahirkan kesimpulan, bahwa nominal BLT masih terlalu kecil untuk merintis suatu usaha), dan malah melahirkan efek negatif jangka panjang  (rasa aman dan nyaman tanpa usaha / kerja yang memicu kemalasan akut). Walau begitu, BLT tetap diterima dengan antusias oleh kalangan masyarakat yang merasa berhak menerimanya. Namun karena berbagai kritik atas program BLT, pemerintah nampak enggan menyelenggarakan program serupa (cek gugel: tidak ada soal BLT di apbn 2013).


           Ada lagi, rokok, benda yang menjadi semacam “musuh” bagi sebagian masyarakat, dengan alasan dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis dan efek polutif bagi masyarakat non-perokok. Namun tetap menjadi idola bagi kalangan masyarakat yang lain. Kalangan ini senantiasa mengorbankan sumber dayanya (waktu, uang, kekuatan psikis dalam menerima cibiran dan protes dari orang lain) demi menyentuh dan menghisap sang rokok tercinta. Pemerintah Indonesia sampai sejauh ini sudah menerapkan pembatasan waktu tayang bagi iklan rokok, juga melarang penjualan rokok terhadap anak-anak.

 Hhmm… Selanjutnya mari kita telaah, mulai dari, Siapa yg berhak menerima BLT ?

Kriteria Penerima BLT (Bantuan Tunai Langsung)

1.     1. Luas lantai tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi per-orang.
2.    2.  Lantai tempat tinggal: tanah/ bambu/ kayu yang murah.
3.     3. Dinding tempat tinggal : bambu/ rumbai/kayu yang murah atau tembok tidak diplester.
4.    4.  Tidak ada WC/toilet/kakus sendiri/bersama.
5.    5.  Tidak ada PLN.
6.    6.  Air minum yang digunakan: sumur/sungai/air hujan.
7.    7.  Untuk memasak : kayu bakar/ arang/minyak tanah.
8.   8.   Konsumsi daging/susu/ayam sekali seminggu.
9.     9. Membeli  1 stel pakaian sekali setahun.
1. 10. Makan : 1 atau 2 kali sehari.
1.11.  Tidak mampu membayar biaya puskesmas/poliklinik.
1. 12. Kepala rumah tangga: petani dengan luas 0,5 Ha/buruh tani/nelayan/buruh bangunan/buruh perkebunan dengan penghasilan di bawah Rp 600.000,- per bulan.
1  13. Kepala rumah tangga : tidak lulus SD/ lulusan SD.
 114.Tidak mempunyai harta benda yang mudah dijual dengan nilai Rp 500.000,-
Keterangan:
a.      Sangat miskin               = 14 kriteria.
b.      Miskin                             =  11 kriteria.
c.       Hampir miskin            =   8 kriteria.

(sumber : blog Bapak ini, hasil googling,”kriteria penerima BLT”)

Soal Pengaruh BLT pada APBN ?

    mengutip suatu berita dari DepKeu:
Kemensos telah memberikan dua opsi yaitu memberikan BLT sebesar Rp100 ribu atau Rp150 ribu per Kepala Keluarga (KK). Anggaran yang dibutuhkan jika pemberian bantuan tersebutsebesar Rp100 ribu per KK adalah sebesar Rp17 triliun. Sedangkan jika Rp150 ribu adalah sebesar Rp25 triliun.
Angka tersebut adalah jika BLT diberikan kepada 30 persen dari 40 persen masyarakat berpenghasilan terendah di Indonesia. Ini tergantungkalo misalnya 100 ribu dan 30 persen itu sekitar Rp17 triliun. Kalau Rp150 ribu dan 30 persen yang ingin dijangkau itu sekira Rp25 triliun. Itu hasil simulasi dan hitung-hitungannya. Itu akan masuk dalam APBN-P,” tambahnya.

Sumber: depkeu 2012

Cukup soal BLT, sekarang mari kita beralih ke soal rokok:


– Hasil data Riskesdas 2007 menunjukkan rata-rata jumlah konsumsi rokok orang dewasa adalah 10 batang perhari, laki-laki 11 batang dan perempuan 7 batang perhari. 
Maka rata-rata perokok membakar:
 Rp 11 ribu per hari
Rp 330 ribu per bulan
 (Asumsi harga rata2 sebungkus rokok adalah Rp11 ribu dan jika rokok dibeli ketengangan, harga per batang Rp 1000,- )

– Mengutip pernyataan suatu produsen rokok besar nasional dalam Laporan Tahunan 2011,”Terjadi peningkatan signifikan penjualan yang mencerminkan peningkatan daya beli konsumen, pada produk rokok murah dan sedang.”
(Kategori harga ‘sedang’ adalah Rp 6.000-9.000 dan yang ‘rendah’ adalah kurang dari Rp 6.000 per bungkus.)
Sumber: AR_GGRM_2011
           Hal ini mengindikasikan, akibat kecanduan yg parah, para perokok dari kalangan yang berhak menerima BLT berpotensi menghabiskan uang BLT untuk membeli rokok.
Bila demikian, alangkah baiknya apabika pemerintah “mentraktir” penerima BLT dengan memberi opsi berupa:

1. Memberi opsi bantuan berupa rokok dalam skema hibah
2. Bebas menentukan besaran proporsi, antara rokok dan uang sebagai hibah.

Sehingga

Bantuan Langsung Tunai

berubah menjadi

Bantuan Langsung Tunai & Rokok


Kebijakan ini secara eksplisit akan memberi efek berupa:

A. Bagi keluarga penerima BLT yang anggotanya merokok:
+ Mengurangi beban pengeluaran atas rokok.
+ Memicu timbulnya pertimbangan akan prioritas dan manfaat, antara uang & rokok.
+ Kesempatan memilih yang krusialitasnya tidak kalah dengan urusan memilih calon pemimpin.

B. Bagi keluarga penerima BLT tanpa perokok:
# Kesempatan berwirausaha, menjual rokok dengan modal pokok / COGS Rp 0.
# Kesempatan memilih yang krusialitasnya tidak kalah dengan urusan memilih calon pemimpin.

C. Bagi industri rokok:

+ Fix demand bernilai besar dan selama periode pemberian hibah berlangsung.

D. Secara implisit kebijakan ini juga dapat memicu munculnya:
* diskusi dalam keluarga-keluarga di Indonesia, soal rokok
* perenungan dan pencarian fakta atas efek konsumsi rokok
* alasan bagi pemerintah untuk kemudian memberikan peringatan2 dan pengetatan aturan bagi industri rokok
* alarm bagi pelaku industri rokok untuk segera menyusun exit strategy dari industri rokok (semisal, melakukan IPO semasa hibah berlangsung maupun right issue untuk kemudian menyasar lahan industri baru)


E. Bagi pemerintah, negara dan masyarakat:
# Bertumbuhnya kesadaran luas atas perbandingan antara rokok dan uang.
# Potensi munculnya win-win solution antara pihak “pembela kesehatan” dengan pihak industri rokok.


          Penulis termotivasi menerapkan cara berpikir positif, menemukan peluang dalam setiap masalah. Selain itu penulis juga percaya dalam kebebasan individu untuk berpikir dan menentukan pilihan. Jadi, demikianlah pemaparan atas ide yang terlintas dari otak penulis. Ada komentar ?