Kontrol Mukamu! Eh, Pekerjaanmu, Wahai Para Akuntan!

Oleh: D.A. Rohmatika

“Ngerjain Akuntansi itu segalanya tentang kontrol,” begitu kata bos ane yang mantan auditor 3 tahun lamanya di Big Four dan masih jadi akuntan begitu keluar dari sana –sangat berdedikasi sekali pada Akuntansi. Anyway, back to the topic. Menurut dia, kita harus bisa yakin kalau kita sudah melakukan sistem kontrol sama pekerjaan kita sendiri. Kontrol sama pekerjaan sendiri? Gimana cara?

Oke. Contohnya, pernah bekerja sama bagian pengecekan pajak? Tugas mereka memang hanya mengecek nominal pajak yang ada, apakah transaksi dikenakan nominal pajak yang sesuai, apakah pajak tersebut memang benar dialokasikan pada bulan tersebut. Jika ada kesalahan pada bagian ini, siapa yang akan menerima akibatnya? Kita misalkan saja bagian pemegang kas. Tentu dia bisa membuat kesalahan dalam mengalokasikan kas saat bagian pengecekan pajak melakukan kesalahan bukan? Bisa jadi ketika bagian pencatatan mencatat pajak untuk Bulan Desember, tetapi karena kesalahan dari pengecekan pajak tentang cutoff(pencatatan transaksi sesuai periode keterjadiannya) membuat pajak itu masuk ke kumpulan pajak Bulan Januari tahun depannya. Kelihatan simpel? Cuma salah gitu aja? Ya, tapi salah gitu aja bikin nggak balance antara bagian pencatatan dan bagian kas. Nah, loh? Kalau selisihnya sampai 30 juta rupiah gimana coba?
Jadi, bagaimana caranya agar sistem yang kita bangun/kerjakan memungkinkan kita untuk bisa melakukan kontrol terhadap pekerjaan sendiri? Kita misalkan saja akuntan dari sebuah usaha yang baru berdiri, sebut saja Cossette Apparel (kalau di-klik muncul beneran loh, hahaha) (numpang promosi, kakagh *kedip-kedip*). Misalnya dia membuat sistem sederhana yang mencatat semua jurnal transaksi perusahaan bersangkutan. Karena masih sederhana, kita memakai sheet excel saja kali ya. Lalu, bagaimana kontrolnya?
Misalnya, di file yang sama dia membuat link dari sheet jurnal ke buku besar berdasarkan akunnya. Ada Buku Besar Kas, Buku Besar Pajak, Buku Besar Pendapatan, dan lain-lain. Nah, nanti ketika semua dimasukkan ke neraca lajur dan sudah diketahui hasil akhirnya, yang paling bisa dicek pertama kali adalah kas. Dari mana? Tentu daja dari Rekening Koran. Misalnya saja, di Rekening Koran terdapat kas Rp34.567.976,00 tapi di saldo kas kita hanya ada Rp32.567.000,00. Dari manakah sisanya berasal? Baru kita cek akun yang ada di rekening koran: (1) bunga bank, (2) biaya administrasi, (3) biaya pembuatan cek (misalnya memakai cek), (4) biaya transfer yang diambilkan dari saldo kas di rekening. Tambahkan semua bunga bank dikurangi semua biaya-biaya yang mungkin ada, maka saldonya harus menunjukkan Rp32.567.000,00.
Bagaimana kalau saldo terakhir bank setelah ditambah bunga dan dikurangi biaya ternyata lebih dari ATAU kurang dari Rp32.567.000,00 (saldo yang tercatat di pembukuan)? Langkah pertama, hela napas (kenapa lagi-lagi geser saldo akhirnyaaaa??? D*$#0J*^@$N&%C&^&%$U$%K*&#). Langkah kedua, ambil kursi dan tali. Langkah ketiga, gantung diri. RIP, dear friend.
Langkah satu-satunya adalah cek satu-satu saldo ke belakang. Caranya? (1) Cek saldo kas per bulannya. Apakah sisa saldo kas per bulan di pencatatan sudah sama dengan di rekening koran (tentu setelah yang di rekening koran ditambah bunga dan dikurangi biaya-biaya). (2) Pasti nanti ada bulan-bulan yang sama dan bulan-bulan yang geser. Hitung ulang pendapatan dan biaya yang dikeluarkan di bulan itu (untuk sistem basis kas) atau analisa cash flow yang terjadi di bulan itu (untuk akuntansi sistem akrual). Baru setelah itu temukan angka yang janggal atau geser lainnya dan cek satu-satu. Gampang kan? (Pale lu gampang! Proses ini udah kayak ngubah bubur jadi nasi lagi alias nggak bakal rampung! *evilsmirk *ditimpuk bata se-RT).
Jadi begitulah. Kalaupun sebenarnya di job description atau protap atau apapun tidak ada kerjaan “menghitung total pajak per bulan” atau “membuat summary transaksi bulanan” tapi tidak ada salahnya kita melakukannya. Daripada kita disantet pegawai bagian lain gara-gara dia merasa di tempat kita ada yang nggak beres tapi kita diam-diam saja ngerasa nggak salah gara-gara nggak mau ngecek? Think it all over, dear.
Mau contoh akuntansi lainnya? Makanya, beli produk ane dong, gan. Jangan lupa di Cossette Apparel yaaa. Bisa di-klik kok *kalem* Jadi kan bisa dipakai buat contoh-contoh lain kalau transaksinya udah banyak dan kompleks. Ya nggak, friend? :3

Pengakuan Pendapatan: Studi Kasus Bioskop/Layar Tancep

Oleh: D.A. Rohmatika
“Jika sebuah bioskop ingin merayakan New Year’s Eve dengan memutar film tengah malam yang dimulai pukul 00.00 tepat, maka pendapatan bioskop dari film itu akan dimasukkan pada tahun tersebut yang telah berakhir atau di tahun berikutnya?”
Pertanyaan yang dilontarkan Guru Besar Akuntansi UGM, Prof. Dr. Zaki Baridwan ini sangat membuat kami-kami sang mahasiswa tingkat akhir yang mengambil mata kuliah Teori Akuntansi bingung dan merasa belum ada apa-apanya dibanding beliau (ya iyalah!). Pada dasarnya, kas sudah dikumpulkan saat tiket dijual yang tentu saja masuk ke tahun berakhir itu. Tetapi, jasa selesai diberikan di tahun berikutnya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu saja kita harus mengingat hakikat dari pendapatan itu sendiri.
Pendapatan VS Penghasilan
Pendapatan (revenue) adalah hasil dari penjualan barang atau pemberian jasa yang merupakan kegiatan utama dari perusahaan tersebut. Sedangkan penghasilan (gain) adalah segala hasil nilai tambah yang diperoleh bukan dari kegiatan utama perusahaan. Contohnya, Procter and Gamble (P&G) akan memasukkan hasil penjualan sampo Pantene dalam pendapatan, dan memasukkan selisih hasil penjualan saham dari nilai pasar saham dan nilai par saham dalam perolehan.
Pengakuan Pendapatan
Pendapatan dapat diakui dalam empat poin waktu yang didiskusikan di teori dan praktik akuntansi. Jika empat poin waktu ini terjadi, maka akan tercipta pengakuan pendapatan:
  1. Selama produksi
  2. Pada saat produksi selesai
  3. Pada saat penjualan
  4. Pada saat kas diperoleh
Apakah semua jenis transaksi di semua perusahaan masuk dalam keempat poin itu? Tentu saja tidak! Contoh berikut ini akan lebih memudahkan klasifikasi transaksi mana saja yang masuk ke poin waktu yang mana:
  1. Selama produksi, misalnya kontraktor gedung yang proses pembangunannya lebih dari satu periode akuntansi (biasanya satu periode akuntansi adalah satu tahun),
  2. Pada saat produksi selesai, misalnya industri tambang untuk penambangan logam mulia, minyak dan gas, dan lainnya,
  3. Pada saat penjualan, misalnya sebagian besar perusahaan seperti perusahaan sepatu, perusahaan mobil, perusahaan tekstil, dan semua perusahaan yang tidak masuk poin waktu 1, 2, dan 4,
  4. Pada saat kas diperoleh, misalnya penjualan angsuran (installment).
Tentu saja tidak serta merta perusahaan yang masuk dalam poin-poin itu langsung bisa diakui sebagai pendapatan. Ada syarat yang harus dipenuhi, yang disebut critical event, yaitu:
  1. Untuk kontraktor gedung, harus sudah jelas ada pembeli dan jaminan ketertagihan,
  2. Untuk industri tambang, harus sudah didapatkan hasil penambangannya, harga pasar stagnan, tidak ada biaya iklan/pemasaran yang tinggi, dan ada pasarnya,
  3. Untuk sebagian besar perusahaan seperti sepatu dan tekstil, ketika terjadi transfer of title, yang bergantung terms of sale (apakah FOB Destination atau FOB Shipping Point),
  4. Ketika kas diperoleh.
Ada pengecualian untuk beberapa kejadian seperti accretion (tumbuh karena alam). Misalnya, pohon jati yang tumbuh di kebun kita, tidak boleh diakui sebagai pendapatan ketika dia bertambah besar/tinggi selama pohon tersebut tidak ditebang dan dijual.
Jawaban Pertanyaan
Jadi, untuk pertanyaan tentang bioskop di paling awal artikel ini,
“Jika sebuah bioskop ingin merayakan New Year’s Eve dengan memutar film tengah malam yang dimulai pukul 00.00 tepat, maka pendapatan bioskop dari film itu akan dimasukkan pada tahun tersebut yang telah berakhir atau di tahun berikutnya?”
Jawabannya adalah:
Ketika jasa pemutaran film oleh bioskop itu sudah selesai diberikan, baru pendapatan bisa diakui (berdasarkan prinsip akrual). Jadi, pendapatan film itu akan dimasukkan pada tahun berikutnya.
Tapi pertanyaannya tidak berhenti di situ saja,
“Jika film itu durasinya dua jam, dan diputar pada saat pukul 23.00 yang tentu saja akan selesai pukul 01.00, bagaimanakah pengakuan pendapatannya? Apakah harus datu jam masuk ke tahun sebelumnya, dan satu jam lagi masuk tahun berikutnya?”
Jawabannya adalah:
Untuk pemutaran film oleh perusahaan bioskop yang termasuk jasa jangka pendek, pendapatan dari pemutaran satu kali film itu jika satu jam dimasukkan tahun ini dan satu jam dimasukkan tahun depan, termasuk immaterial. Jadi, bisa dimasukkan ke tahun sebelumnya saja atau tahun berikutnya, dengan penjelasan/catatan/notes.
Jadi, beginilah sekilas pelajaran tentang revenue recognition yang pernah diajarkan oleh Guru Besar Akuntansi UGM, Prof. Dr. Zaki Baridwan. Diskusi tentang revenue recognition, dengan resmi DIBUKA!!!

2012: IFRS

Oleh: Christov M.

2012, adalah judul film tentang akhir dunia. Tapi kalau menurut para sesepuh yang bertitel akuntan, 2012 adalah saat yang tepat untuk menerapkan secara “penuh” IFRS (Internasional Financial Reporting Standards).  Standar ini adalah standar penyusunan laporan keuangan yang diakui bersama secara internasional, means antara negara yang satu dan yang lain menggunakan standar yang sama ini.

Standar Internasional


Standar itu ibarat bahasa, tiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing, bahasanya boleh sama tapi pemahaman akan artinya dapat jauh berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Ibarat kata bahasa Indonesialah, kalo orang jawa berbahasa indonesia ngomongnya beda kan dengan orang jambi ngomong dengan bahasa yang sama. Kalo orang NTT ngomong pun butuh waktu untuk dipahami oleh orang jawa meski pake bahasa yang sama, bahasa Indonesia.

Standar pelaporan keuangan pun tidak jauh berbeda, isinya angka semua sama di berbagai negara tapi omongannya orang Indonesia bisa berbeda jauh maksudnya dengan omongannya orang Eropa, begitu pula sebaliknya. Alasan ini membuat tiap kali kita ingin paham, butuh biaya lebih(nyewa penerjemah atau butuh waktu) untuk menyamakan persepsi orang Indonesia dengan orang Eropa untuk laporan keuangan.

Bahasa inggris adalah bahasa internasional dari segi formal yang kita akui bersama, dengan adanya bahasa ini berbagai kemudahan kita dapatkan bukan..? Ketika kita tiba di Filipina, di Vietnam, Amerika, kita cukup mengetahui bahasa inggris sebagai bahasa internasional.
Berbagai versi standar membutuhkan kemudahan semacam ini, inilah alasan utama hadirnya IFRS.

Tapi jangan khawatir, Amerika sendiri baru melaksanakan secara penuh IFRS ini pada 2015 nanti, sedangkan kita dari 2012 awal kemarin, keren bukan? IFRS ini berdampak secara spesifik kepada perusahaan yang telah go public atau telah masuk di Bursa Efek Indonesia dimana saham kepemilikan perusahaan tersebut diperdagangkan kepada umum.

Contoh Penggunaan IFRS

IFRS menganut asas prinsipal dimana prinsip lebih diutamakan daripada aturan-aturan baku, hal ini bertolak belakang dengan aturan yang selama ini kita anut yaitu berdasarkan pada aturan-aturan. Misalkan ada aturan mengatakan “Mencuri makanan orang lain adalah suatu kejahatan bila barang yang dicuri dalam jumlah banyak”, bayangkan arti banyak disini seperti apa, banyak orang dapat mengecoh peraturan dengan mengatakan bahwa 1 juta dollar tidaklah banyak bila bla… bla.. bla… sangat multitafsir dan bisa diselewengkan. Akan jauh lebih mudah jika kita menggunakan prinsip “Mencuri makanan adalah suatu kejahatan”, dengan begini peluang penyelewengan dapat diminimalisir.

Contoh perbedaan standar internasional dengan standar Indonesia, salah satunya tentang “Nilai Buku”:

Kalo kita beli pesawat (biasanya sih  sesuai perjanjian, kita akan sewa dulu baru beli setelah masa sewa tertentu) Airbus A-380 yang paling gede sedunia itu, sebelum pake IFRS, kita wajib menggunakan harga perolehannya setelah dikurangi penyusutan (depresiasi) untuk tahun berjalan hingga masa pakainya abis. Masa pakai itu ditentukan oleh perusahaan tetapi tidak menyimpang juga dari standar, anggap saja masa pakai 20 tahun. Jadi kalo tuh pesawat harganya 2T dgn masa pakai 20 tahun dan pake penyusutan garis lurus, maka setiap tahun akan ada penyusutan nilai sebesar 2T/20 = 0,1 T. Di tahun pertama nilai buku pesawat itu hanya sisa 1,9T.

Cara untuk menentukan nilai buku tersebut sesuai dengan standar yang berlaku di Indonesia, tetapi apakah demikian standar yang berlaku di dunia lain? Bagaimana bila yang membutuhkan laporan keuangan itu adalah stakeholder dari Yunani, Pakistan, atau Finlandia? Apakah mereka harus mempelajari standar yang ada di Indonesia secara khusus?

IFRS pun hadir, dengan landasan pemikiran bahwa: nilai buku kudu sesuai dengan kondisi fisik, atau secara ilmiah: yang ada di buku adalah “nilai wajar”. Maksudnya gini: nilai yang tertera di dalam buku sesuai dengan “berapa sih nilai wajarnya” bukan hanya sekedar hitung-hitungan matematis belaka.

Dalam periode tertentu perlu dicek sama jasa penilai (ini orang2 yang dipercaya memiliki keahlian menilai sesuatu). Dengan begitu, tanpa melihat kondisi fisik pesawat tersebut, orang dapat membayangkan berapa rupiah (atau satuan moneter lain) pesawat tersebut dapat dihargai sebagai aset. Bukan untuk dijual sih, tetapi satuan moneter (uang) adalah satuan untuk menggambarkan nilai dari sesuatu pada laporan keuangan. Tujuannya sih yah, dengan begitu laporan saya jadi lebih akurat kan?

Tapi oh tetapi, yang paling nyesek adalah tiap kali revaluasi kita kena pajak penghasilan 10%. Nah kalo dulu kita bisa aman dan nyaman karena penilaian ulang (revaluasi) jarang kali dikerjakan kan? Jangan-jangan, kalau tiap tahun direvaluasi, nilai aset bisa lebih besar, tapi kena pajaknya lebih besar lagi.

Note: dirangkum dari berbagai sumber

Sulitnya Memahami Dirimu: Panduan Sekilas Memahami Laporan Keuangan

Cinta itu timbul dari pemahaman. Nggak paham maka nggak sayang, betul nggak? Seringkali kita tuh jatuh cinta sama orang yang memahami kita bukan??? So, gimana caranya memahami agar mencintai lembar-lembar laporan yang isinya angka-angka dan bikin pusing itu? Ada makna katanya dibalik semua angka dan beberapa patah kata yang ada di sana, walaupun nih yah bagi sebagian orang: angka dan kata itu hanya bermakna tunggal: musingin!!! Karena ada yang request nih (ahahahaha…. somse banget pake ngeles ada yang request), maka dengan selapis ilmu yang tercantol di kepala dan beberapa pembelajaran kembali, yuk yuk yuk kita ungkap caranya….

Bahan-Bahan Dasar1

Ngemeng-ngemeng soal memahami, bukannya nggak niat juga sih, tapi bingung, harus mulai dari mana yak? Betul??? Pernah kita bahas tentang tujuan laporan keuangan dan jenis-jenis laporan keuangan* dalam ABC of Accounting, monggo disimak.
*penjelasan menggunakan konteks umum yaitu laporan keuangan perusahaan swasta; bukan banking, non-profit, atau pemerintah. 

Sebuah laporan (ada juga yang menyarankan untuk menyebutnya statemen, akan kita bahas kemudian tentang istilah tersebut), terdiri atas elemen-elemen. Elemen merupakan gambaran besar, yang secara rinci terdiri dari pos-pos (item). Ibarat peta, suatu wilayah bisa kita samakan dengan statemen; lalu tanda jalan, jembatan, gunung, dsb dapat kita samakan dengan elemen. Sementara nama-nama jalan itu disamakan dengan pos.

Ada 10 macam elemen dari statemen keuangan: aset, kewajiban, ekuitas, investasi oleh pemilik, distirbusi ke pemilik, laba komprehensif, pendapatan, biaya, untung, rugi; dan seringkali ditambah 3 lagi: aliran kas dari kegiatan operasi, aliran kas dari kegiatan investasi, dan aliran kas dari kegiatan pendanaan. Elemen tersebut kemudian dirinci lagi dalam pos-pos, contoh: aset dirinci dalam pos kas, persediaan, aset tetap, dsb.

Kira-kira harus ngerti nih yang beginian:

Benchmark-nya apa?

Pernah nggak sih kalau pacaran berantemnya gini: kamu berubah, dulu kamu nggak begini! Berarti kita lagi mem-benchmark si pacar dengan dirinya sendiri di masa lampau. Atau seperti ini: mendingan juga si Yoga, dia itu nggak seperti kamu yang begini! Bisa dibilang kita bandingin dengan waras kalau si Yoga itu cowok dan pacar kita itu juga cowok, dan mengapa tiba-tiba kita bandingin sama Yoga? Bisa jadi karena Yoga itu cowok yang menurut kita paling keren (market leader), atau dulu kita punya saham di Yoga atau ada rencana mau balik sama Yoga. Ya, gitulah. Laporan keuangan juga semacam gitu. Info yang ada di laporan keuangan itu kalau nggak dibandingin ke mana-mana ya buat apa juga kita orak-arik, terima saja apa adanya.

Naik-Turun

Udah tau pos yang mau dianalisis, udah tau benchmark yang mau dipakai, terus apa? Naik dan turun. Just like that, dalam konteks bandingin sama tahun lalu kita pengen dapat gambaran tentang kenaikan dan penurunan suatu pos dari tahun lalu.

Caranya mudah, membandingkan angka tahun ini dan tahun lalu. Contohnya: kas. Misalnya: tahun ini 4 juta, sementara tahun lalu 3 juta. Selisihnya = 4 – 3 = 1 atau naik 25%. Bila menurut kita 25% itu material (penting banget karena bedanya kita anggap besar), bisa dicari tau kenapa kok bisa begitu. Umumnya (secara teori sih) bisa kita kaitkan dengan yang lainnya) misalnya piutang dagang mengalami penurunan sebesar 1 juta juga, nah bila hal ini dapat dipastikan kebenarannya, dapat disimpulkan lonjakan 1 juta kas itu berasal dari pelunasan piutang dagang yang lebih lancar tahun ini. Untuk memastikan hal tersebut tentunya butuh waktu, dan biasanya dilakukan oleh auditor.

Dalam konteks bandinginnya dengan market leader di industri yang sama, atau dengan perusahaan dalam bidang sejenis yang ingin dibandingkan, lebih enak kalau menggunakan rasio.

Rasio  

Apa lagi tuh? Ga seribet rumus fisika kok. Rasio adalah perbandingan-perbandingan yang mengandung arti gitu (dalam konteks keuangan). Kok bisa ya laporan keuangan perusahaan yang satu dibandingkan dengan yang lain dan valid nggak tuh kalau dibandingin? Kalau penyusunan laporan keuangannya sama-sama sudah sesuai dengan standar, valid-valid aja.

Lebih dalam pembahasan rasio bisa didalami lewat buku teks atau googling, sekilas bisa lihat di Wikipedia (klik untuk link-nya), contoh cara pakainya gini: kita pakai rasio lancar (current ratio). Rasio ini membandingkan aset lancar dengan kewajiban lancar. Gunanya untuk mengetahui likuiditas keuangan jangka pendek, kalau aset lancar dengan kewajiban lancar sebanding (bila dibandingkan hasilnya satu) atau lebih dapat diartikan nggak ada masalah dalam pembayaran hutang jangka pendek. Apa yang harus kita lakukan? Kita hitung rasio lancar perusahaan A, anggap saja hasilnya 0,8. Lalu perusahaan B, anggap saja hasilnya 1,2. Jadi, misalnya kita mau ngasih hutang jangka pendek, pasti lebih prefer ngasih ke perusahaan B daripada A, soalnya rasio lancarnya lebih bagus. Tapi nggak menutup kemungkinan dikombinasikan dengan analisis lainnya dulu sebelum ada keputusan begitu.

—–

Finish! Kira-kira begitulah temans >.< boleh kalau ada yang mau mengembangkan lebih lanjut tentang: rasio-rasio keuangan ataupun pembahasan tiap elemen laporan keuangan loh :)

Referensi: 

1Suwardjono. Teori Akuntansi: Perekayasaan Laporan Keuangan. Jogjakarta: BPFE-Yogyakarta, 2008. hlm 181-183

ABC of Accounting (EG compilation version)

Tentu saja saya nggak sanggup kalau harus bikin A to Z of Accounting dalam 1 postingan, sehingga saya bikin aja ABC of Accounting (means Basic Things of Accounting). Akuntansi kan juga salah satu bahasan di Ekonom Gila, yang cukup rumit dan pada umumnya nggak gampang dimengerti dengan common sense, jadi marilah kita mulai dari gampang-gampang dan kulit-kulit aja. Siapa tau bisa membantu menurunkan bulu kuduk pembaca yang merinding… xixixi…

So, here is it… ABC of Accounting (EG compilation version) dari “dapur tacit” saya!

Why oh why?

Buat apa sih ada ilmu yang namanya Akuntansi segala? *versi cablak campur kesel*

Penjelasan Gila:

Informasi. Singkat kan jawabannya. Xixixi… Lebih spesifik sih informasi keuangan. Informasi keuangan itu bisa dilihat di laporan keuangan. Laporan keuangan digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan (bahasa kerennya sih stakeholder) buat bisnis doooong.

Ibarat kita bikin tugas kuliah, hasilnya sih selembar dua lembar, namun dari ketikan pertama dan ide-ide segar ataupun basi yang ada di sana, ada prosesnya dari ngumpulin data dan cari info sana-sini, mengolah-menganalisis-mengelompokkan, baru deh bisa jadi tuh tugas. Ya, gitu deh akuntansi juga kayak gitu.

Produk Akuntansi 

Di atas udah sebut sih, produknya sih informasi yang namanya “Laporan Keuangan”, kayak gimana tuh ya?

Penjelasan Gila:

Kertas gitu lah say, ada tulisan dan angka-angka. Atau versi elektroniknya ya kira-kira juga cem gitu, kertas di-scan or pdf version… Laporan keuangan itu 1 set, isinya 5 macem laporan. *ups… ini kok udah kayak kongkow sama temen gila ye ngejelasinnya, ya anggeplah saya cuma lagi ngobrol yang santay… bukankah lebih enak? Lanjooot!* 5 laporan itu punya nama dan guna masing-masing:

  1. Neraca (untuk liat aset dan kewajiban, wajib balance tuh dua sisi makanya disebut neraca)
  2. Laporan Laba Rugi (ada juga yang menyebutnya Rugi Laba dilandasi pemikiran konservatisme) 
  3. Laporan Perubahan Modal (kalau rugi modal berkurang, kalau laba modal bertambah kan, nah bisa keliatan di sini.  Laporan ini harus setelah ada Laporan Rugi Laba tentunya.)
  4. Laporan Arus Kas (untuk liat kas masuk dan keluar, di sini kita bisa liat “skala” transaksi sebuah perusahaan)
  5. Pengungkapan (keempat laporan di atas kan secara global, nah penjelasan detail ada di pengungkapan).

Logika

Pusing deh belajar akuntansi, banyak banget aturan buat cara ngitungnya. Harus begini begitu. Aaaaa… berguna sih berguna tapi kan pusing banget gitu loh menghafalkannya.

Penjelasan Gila:

Semua juga gitu kali… mau belajar apapun juga begitu kan. Nah, kalau mengikuti logikanya, dan mengulangi mengingat-ingat (menghafal), pasti juga bisa. Beda banget sama yang penting hafal terus bisa menjawab soal. Untuk jangka pendek kepepet besok mau ujian ya bener sih, hafalin aja.
Ya, paling nggak yang umum-umum ngerti dan hafal lah, kalau udah detail nggak kudu kale. Hare gene kan bisa searching, googling, buka buku, nggak usah dibawa susah. Di sini, di Ekonom Gila, kita belajar logikanya dengan fun. *loh kok jadi promo? xixixi ..*

Ekonom Gila tapi kok bahas Akuntansi sih?

Well, Fakultas Ekonomi kok ada jurusan Akuntansi sih? Sama jawabannya. Pernah loh Ekonom Gila membahas soal menyoal “brand” ini. Bacanya di sini ;)