Mematahkan “Perangkap Setan”

Oleh: Parar Nainggolan

Untuk pertama kalinya nih, saya posting artikel tapi sifatnya lebih personal opinion…Sebagai salah seorang yang pernah mengalami kuliah di bangku kuliah ekonomi dan menjadi gila karenanya….saya pikir saya bisa kaya dengan berkuliah di jurusan ekonomi (hehehe…:P). Nyatanya, saya tambah pusing karena ternyata yang saya pelajari adalah tentang kemiskinan. Apa aja sih penyebab kemiskinan dan kenapa sampai sekarang negara kita belum bisa keluar dari salah satu “Perangkap Setan” ini alias bahasa kerennya vicious cycle.
Klo kata orang miskin, saya miskin karena orang tua saya miskin. Ada juga yg bilang, saya miskin karena saya gak punya uang. Tapi, ada lagi yg lain bilang, saya miskin karena saya gak sekolah. Apapun alasan seseorang yang miskin mengatakan dirinya miskin adalah benar karena mereka sadar akan hal itu. Hanya yang membuat saya shock, saat mereka tahu mereka miskin, mereka tidak tahu cara keluar dari kemiskinan tersebut malah justru menyalahkan pihak luar seperti pemerintah yang korupsi terus menerus dan tidak memikirkan kepentingan rakyat. Saya juga secara pribadi, tidak menyukai para pemimpin bangsa ini. Tapi, apa mau dikata, Tuhan yg sudah tetapkan langkah setiap orang. Para pemimpin bangsa ini sudah punya jalan hidupnya masing-masing. Urusan mereka dengan Tuhan apakah mereka telah menjalankan fungsinya dng baik atau tidak.
Selama saya di Larantuka, Flores Timur selama 6 bulan, sekeliling saya adalah orang-orang keturunan Portugis yang penampilannya lusuh dan pakaiannya tidak bermerek. Rumah-rumah mereka tidak berkeramik. Dinding rumah mereka terbuat dari bambu. Berjalan kakipun kadang tidak menggunakan sandal. Pada malam hari, hanya satu atau dua rumah dari tiap desa yang menggunakan lampu, dan bila ada salah satu rumah yg memiliki TV maka rumah tersebut sudah seperti gedung bioskop yg dijejali oleh bapak-bapak, ibu-ibu, maupun anak-anak yang menonton bersama. Tiap hari, pada saat mereka harus berladang, ibu-ibu menaruh bakul mereka di atas kepala dan bapak-bapak menaruh pacul di atas bahu sambil berjalan.
Pemandangan diatas berbeda jauh sekali dengan Singapura, yang baru-baru ini, saya kesana selama 3 hari. Kota-kota yg saya datangi terlihat bersih, gedung-gedung bertingkat dan apartemen-apartemen berdiri tegak. Orang-orang berjalan hilir mudik dengan gaya berpakaian yang stylish dan beberapa orang pun, saya lihat sibuk menyentuh layar iphone. Saya pun berjalan kaki dengan nyamannya, bisa naik MRT dan masuk dari satu mal ke mal yang lainnya.
Tapi saya tidak sedang ingin menceritakan pengalaman hidup saya selama di NTT ataupun Singapura. Saya hanya berpikir kenapa bisa sebuah negara yang kecil, tidak punya SDA yang melimpah begitu cepatnya maju. Sementara, Indonesia yang merupakan negara yang cukup luas, punya potensi SDA yang melimpah masih saja disebut negara berkembang (dari dulu sampai sekarang kok masih tetap disebut berkembang yach…). Bahkan, citra Indonesia di mata internasional sedang membaik tapi kok rasanya belum ada perubahan signifikan yang terjadi sih…?!?!?!
“Perangkap Setan” yang mana yach yang masih jadi kendala dari bergerak majunya Indonesia. Dari segi ekonomi, pertumbuhan makroekonomi Indonesia terus membaik tapi kok yach…yang mengganggur justru tambah banyak. Kemudian, dari segi pendidikan, pemerintah sudah menganggarkan 20 % dari APBN utk anggaran pendidikan. Tapi nyatanya, cuma gaji guru saja yang naik, signifikansinya bagi dunia pendidikan belum terlihat. Terakhir, dari segi kesehatan, hmmmm…..mungkin yang satu ini yang belum benar2 dipikirkan oleh pemerintah (paling tidak dipikirkan dulu walaupun implementasinya belum pasti…hehehehe). Tidak semua orang memiliki asuransi kesehatan apalagi orang miskin, biaya pengobatan yang mahal dan tidak lupa kebersihan lingkungan yang kurang. Masalah kesehatan diatas memang lebih berkaitan dengan kesehatan fisik tapi ada satu masalah kesehatan yang harus dipikirkan juga masalah kejiwaan.
Tertarik dengan yang terakhir, masalah kejiwaan. Ternyata jumlah orang masuk rumah sakit jiwa bertambah banyak, tingkat bunuh diri pun bertambah, apalagi tingkat kejahatan dalam bidang pembunuhan maupun perampokan terus bertambah. Seharusnya, kita tidak boleh melupakan satu “perangkap setan” ini. Kesehatan mental itu juga penting. Sebenarnya, hakekatnya, semua tindakan positif apapun yang akan kita lakukan berdasarkan dari buah pikir, hati, dan jiwa.
Saya jadi teringat, dulu ketika di Larantuka, alasan umum suatu proyek tidak berhasil diimplementasikan di masyarakat adalah karena ketidaksiapan masyarakat. Proyek berhasil ketika masyarakat siap terima perubahan. Kesiapan masyarakat bukan dalam bentuk fisik tapi lebih dalam pikiran mereka bahwa mereka siap. Dari situ saya belajar, awal dari perubahan tersebut adalah pola pikir yang sehat yang hanya bisa diperoleh lewat mental dan emosi yang terlatih baik menghadapi tantangan dan tidak perlu takut.
Seseorang akan sadar pentingnya pendidikan, kesehatan dan punya kehidupan yg sejahtera kalau mereka punya buah pikir, hati, dan jiwa yang sehat. Punya pola pikir yang benar. Tapi umumnya. pola pikir yang benar terbentuk ketika kondisi emosi dan mental kita sedang stabil. Maka dari itu, jadi inget, ketika mau ikut ujian UMPTN, sehari sebelumnya saya berhenti dari kegiatan belajar yang melelahkan dan melakukan rutinitas umum dan ringan agar pikiran saya dikondisikan baik karena emosi dan mental saya sedang dibuat santai, seakan-akan tidak ada masalah, dan pada akhirnya fokus pada apa yang ingin dicapai.
Be Blessed Indonesia…!!!

Antara Dukun dan Perekonomian

Oleh: Syarif H.
Mengkaitkan sesuatu adalah naluri dasar manusia. Bagi banyak orang, mengkaitkan-kaitkan berbagai permasalahan merupakan hal yang menyenangkan. Lihat saja berbagai berita di TV, ada yang mengkaitkan antara perceraian artis x dengan hubungannya dengan artis y, mengkaitkan antara kasus Gayus dan kasus Century, mengkaitkan gempa jogja dengan lumpur lapindo, dan banyak lagi.
Sudah menjadi “hobi” bagi ekonom untuk mengkait-kaitkan sesuatu. Sebut saja ekonom yang bernama William Philips, beliau mencoba mengkaitkan antara tingkat inflasi dan angka pengangguran, dan hebatnya teorinya bertahan hingga sekarang. Ada juga yang mengkaitkan antara kemiskinan dengan tingkat suku bunga, demokrasi dengan pendapatan, dan banyak lagi. Sebagai seorang ekonom, tentunya penulis juga punya hobi untuk mengkait-kaitkan sesuatu. Pada tulisan ini, penulis mencoba mengkaitkan antara preferensi seseorang untuk melahirkan melalui  bantuan dukun dengan pertumbuhan ekonomi.
Pekerjaan membuat penulis berkewajiban untuk menyambangi perpustakan data BPS. Di sana, penulis mendapati buku “statistik Indonesia 2007”. Pada buku tersebut, terdapat berbagai indikator-indikator Indonesia, seperti indikator pertanian, pertambangan, perdagangan, dll. Salah satu indikator yang menarik perhatian penulis adalah pada bab “indikator sosial” dan sub bab “kelahiran bayi”. Penulis baru mengetahui, bahwa pada tahun 2005, jumlah kelahiran yang dibantu oleh dukun (metode tradisional lainnya) mencapai 26% dari total kelahiran, jauh di atas kelahiran yang dibantu oleh dokter yang hanya mendapat porsi 11,04%. Memang, porsi terbesar masih dipegang oleh bidan yang mencapai 58,19%, akan tetapi data ini cukup menggelitik penulis, mengingat bahwa anekdot yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia lebih percaya dukun dibandingkan dokter cukup terbukti pada data-data tersebut.
Pada buku tersebut, data “kelahiran bayi” yang ditampilkan adalah data tahun 2005 dan 2006. Ada hal yang cukup mengejutkan, dimana terjadi kenaikan angka kelahiran dibantu oleh dukun menjadi 30,14% di tahun 2006. Di sisi lain, angka kelahiran dibantu dokter turun menjadi 9,66% dan oleh bidan turun menjadi 56,47%. Hal ini menimbulkan pertanyaan baru, apa yang menyebabkan angka-angka tersebut bergeser. Faktor apa yang menyebabkan terjadinya perpindahan konsumsi bidan dan dokter menjadi konsumsi dukun. Penulis mencoba mengkait-kaitkan hal ini dengan kondisi perekonomian Indonesia saat itu.
Perekonomian kita tahun 2005 dan 2006
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perekonomian Indonesia mengalami gejolak hebat di tahun 2005. Kenaikan drastis harga BBM menjadi penyebabnya. Pada tahun 2005, tingkat inflasi Indonesia mencapai 17,1%. Hal ini dipicu oleh kenaikkan harga barang-barang yang mengikuti kenaikkan drastis harga BBM. Implikasi dari kenaikkan BBM ini terasa di tahun 2006. Jumlah penduduk miskin Indonesia mencapi 39 juta jiwa (17,75%), melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang “hanya” 35,1 juta jiwa (15,97%). Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga merosot 5,5 %, yang alhasil membuat jumlah pengangguran Indonesia mencapai 10,9 juta jiwa. Jadi, bisa disimpulkan bahwa terjadi kemerosotan ekonomi yang cukup tajam dari tahun 2005 ke tahun 2006. Lalu, apakah hubungannya dengan “konsumsi” jasa dukun.
Luxurius dan Inferior
Dalam teori barang dan jasa dikenal istilah barang luxurius dan barang inferior. Barang luxurius adalah barang yang konsumsinya akan meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan. Contohnya adalah hubungan antara mobil dan motor. Ketika pendapatan seseorang sedang tinggi (baru naik gaji, dapat gaji ke-13, dll), maka dia akan memilih untuk membeli mobil daripada motor. Akan tetapi, jika pendapatan sedang rendah, maka dia akan lebih memilih motor daripada mobil. Hal ini mungkin terjadi pada hubungan antara “konsumsi” dokter, bidan dan dukun.
Tidak bisa dipungkiri, yang bisa mengakses dokter (untuk membantu kelahiran) hanyalah orang-orang tertentu, yang mempunyai pendapatan menengah ke atas. Di sisi lain, yang mengakses dukun adalah kalangan berpendapatan rendah. Untuk bidan, ini merupakan kasus khusus. Pada dasarnya bidan dapat di akses masyarakat dari berbagai kalangan. Dengan tersebarnya puskesmas di seluruh daerah Indonesia dan adanya askeskin, masyarakat berpendapatan rendah mungkin dapat mengakses layanan bidan. Akan tetapi, seringkali lebih mudah dan murah untuk mengakses dukun daripada bidan. Sehingga, bisa disimpulkan (sementara) bahwa bidan bisa digolongkan ke dalam barang luxurius.
Hipotesis penulis, adanya guncangan ekonomi pada tahun 2006 (akibat kenaikan BBM tahun 2005) menyebabkan terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat, dari yang tadinya memakai jasa dokter dan bidan menjadi memakai jasa dukun. Berarti, apabila perekonomian masyarakat melemah, maka masyarakat akan berbondong-bondong mencari alternatif lain dalam membantu persalinan, yaitu dukun. Semakin “gawat” kondisi ekonomi Indonesia, maka semakin larislah profesi dukun.
Sudah tentu semua di atas hanyalah hipotesis awam penulis. Bisa benar, bisa juga salah. Banyak variabel yang harus dipertimbangkan untuk menilai apakah memang perekonomian mempengaruhi pilihan seseorang dalam hal melahirkan. Kita bisa memperhitungkan variabel jarak antara masyarakat ke bidan atau dukun, ketersediaan bidan-dokter-dukun di suatu daerah, atau tingkat ekonomi masyarakat di beberapa daerah. Banyak variabel yang harus dipertimbangkan, dan sekali lagi, ini hanyalah upaya penulis untuk mengkait-kaitkan fenomena yang ada. Benar atau tidaknya, mari diteliti lebih lanjut.