Eudaimonia

Oleh: Yoga PS
Suatu hari, Paulo Coelho, pengarang novel best seller Alchemist, sedang berlibur di Spanyol. Pada saat sedang berjalan di stasiun kereta, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Coelho ingin membantu pengemis itu, tapi sebelum memberi, ia berpikir: Hey, aku adalah seorang turis, pengemis seperti ini umum ditemui dimana pun.
Akhirnya ia pun bergegas pergi. Meninggalkan pengemis tadi.
Malam hari, entah mengapa, Coelho kembali terkenang wajah sang pengemis. Ia sudah bertemu ribuan peminta-minta, tetapi ekspresi sang pengemis menimbulkan iba yang mendalam. Ia sampai tidak bisa tidur. Terus menyesal. Mengapa ia tidak membantu orang yang kesusahan ketika ada kesempatan?
Besoknya, ia kembali ketempat sang pengemis berada. Nihil. Tak ada disana. Ia lalu memutuskan berjalan-jalan mengelilingi kota, berharap berpapasan dengan orang miskin yang terus menghantui hidupnya. Tapi tetap saja, hingga liburannya usai, tak ada lagi pertemuan yang diharapkan.
Coelho lalu kembali ke Brazil. Berharap melupakan kejadian dengan pengemis itu. Tapi percuma. Sang pengemis terus hadir di kehidupan Coelho. Menciptakan penyesalan, ketersiksaan, dan penderitaan. Sadar jika Tuhan memiliki rencana besar, tidak butuh waktu lama bagi Coelho untuk kembali ke Spanyol. Kali ini bukan demi liburan penuh kesenangan, tapi menjawab teka-teki yang terus menghantui. Tujuannya Cuma satu: menunaikan kebaikan yang sempat tertunda!.
Satu-dua hari berlalu. Menjadi seminggu. Coelho sudah mengelilingi kota, hingga sudut-sudut tersempit. Hasilnya nihil. Pengemis itu bagaikan menghilang tanpa jejak. Waktu kepulangan sudah semakin mendesak. Coelho tidak menyerah. Ia menelpon agen perjalanannya, memberikan instruksi gila: tidak membeli tiket pulang ke Brazil. Ia takkan kembali sebelum menemukan pengemis malang yang seharusnya ia bantu.
Sampai akhirnya, suatu hari Coelho menemukannya. Di dekat stasiun kereta yang sama. Tak perlu berpikir lama, Coelho langsung menyerahkan semua uang yang ada di kantongnya. Lalu pergi, meninggalkan pengemis malang ini, meninggalkan Spanyol, dan kembali ke Brazil. Akhirnya ia menemukan kedamaian.
Kebahagiaan
Jika tujuan kehidupan adalah mencari kebahagiaan, maka apa yang dilakukan Coelho sungguh irasional. Bertentangan dengan logika ekonomi mana pun. Bagaimana mungkin ia menghabiskan ribuan dollar terbang dari Brazil ke Spanyol hanya untuk menemukan seorang pengemis!. Bukankah ketika kita memberikan harta kita, itu berarti kerugian secara ekonomis?
Tapi kenyataannya, kepuasan hidup tidak selalu dicapai hanya dengan memenuhi kebutuhan hidup. Manusia adalah makhluk dimensional. Tidak hanya berurusan dengan kebutuhan ekonomis parsial, tapi juga social emosional, dan transcendental spiritual.
Salah satu filsuf klasik Yunani, Epicurus, memberikan nasihat untuk manusia yang sedang mencari kebahagiaan: Lakukan apa yang membuatmu bahagia, jangan lakukan apa yang membuatmu menderita. Maka lahirlah hedonism. Memusatkan perhatian pada kesenangan, dan sebisa mungkin menjauhi penderitaan.
Aristoteles, membantah pendapat Epicurus. Bagi dia, eudaimonia, kebahagiaan, didapat dengan  mengembangkan potensi yang diberikan Tuhan, bagi kebaikan kemanusiaan. Pendapat senada didukung oleh penganut utilitarianisme, dan juga altruism. Anda baru menjadi ada, ketika berguna bagi yang lainnya.
Riset-rise modern juga membuktikan, orang yang berbagi, cenderung lebih berbahagia. Penelitian Elizabeth Dunn dari Universitas British Colombia menunjukkan responden yang mendermakan uang mereka, cenderung lebih bahagia dari responden yang menggunakannya hanya demi kepentingan pribadi. Penyelidikan neuro-biologi dari Duke University lebih dahsyat lagi, membantu sesama akan mengaktifkan bagian otak yang disebut posterior superior temporal cortex.
Saya sengaja mengutip pengalaman Coelho diatas, karena betapa seringnya saya menunda dan melewatkan kesempatan berbuat kebaikan. Belum lagi kebiasaan melakukan perhitungan dan hati yang sering dicengkam ketakutan. Takut kekurangan, takut penderitaan, dan takut mengalami kerugian. Saya sering lupa jika eudaimonia hanya ada didalam kerja-kerja sederhana untuk sesama.
Mungkin saya harus mengucapkan sumpah Khudai Khidmatgar, prajurit perdamaian yang dibentuk oleh Abdul Ghaffar Khan, seorang muslim pengikut setia Gandhi:
Karena Tuhan tak perlu dilayani, sementara melayani makhluk-Nya berarti melayani-Nya, maka Aku berjanji akan melayani manusia atas nama-Nya.