Akun Ikan (Edisi Revisi)

Oleh: Muwahid Ummah

Data yang dipublikasikan oleh salah satu media massa menyebutkan bahwa potensi kekayaan laut Indonesia mencapai 14.994 trilyun rupiah. Angka yang cukup fantastis dan merupakan yang terbesar dari seluruh negara yang memiliki wilayah perairan. Namun seringkali data-data seperti ini membuat kita merasa tertidur diatas sebuah gudang harta yang melimpah dan lupa atas apa yang harus kita lakukan dengan kekayaan yang masih berupa potensi ini. Kita tertidur dan tidak sadar bahwa ternyata harta dalam gudang itu sedang dicuri, sedikit demi sedikit oleh negara lain. Dan disaat yang sama, nelayan kita yang dalam setiap pelayarannya mengibarkan sang merah-putih belum merasakan kesejahteraan atas semua kekayaan dalam gudang harta yang bernama laut Indonesia ini. Lalu bagaimana Akuntansi dalam melihat nasib nelayan kita, apakah ia pernah bertanya “Apa kabar nelayan Indonesia?”.

Akuntansi seringkali dianggap sebagai alat untuk mengukur serta meningkatkan efetivitas dan efisiensi suatu industri. Namun disayangkan bagi para nelayan-nelayan kecil anggapan itu tidak berlaku. Disebabkan mereka sangat jauh dari wilayah aksi para akuntan. Sedangkan para mahasiswa akuntansi sibuk kuliah di kampusnya yang tentu saja letaknya jauh dari desa-desa nelayan hingga mereka tak pernah sempat untuk berkunjung ke desa-desa nelayan.

Tersebar stereotype bahwa nelayan di Indonesia merupakan sekumpulan orang yang berpenghasilan rendah. Hal itu terlihat jika kita memasuki perkampungan nelayan maka kesan kumuh begitu melekat. Jarang atau bahkan tidak ada seorang nelayan yang bukan bos nelayan memiliki kendaraan roda empat. Berbeda pada masyarkat di daerah perkotaan meski hanya pegawai biasa bisa memiliki mobil. Tentu hal ini perlu ditelisik lebih jauh lagi apakah hal pemandangan itu memang disebabkan faktor penghasilan nelayan yang rendah?.

Bagaimana mungkin laut Indonesia yang memiliki potensi ikan konsumsi yang seakan tidak terbatas hanya menghasilkan 7,87 juta nelayan miskin yang tersebar di 28.582 desa miskin yang setara dengan 25% penduduk miskin Indonesia (berdasarkan data dari pemerintah) yang berarti profesi nelayan merupakan penyumbang terbesar dari angka kemiskinan di Indonesia. Sungguh miris, ketika disaat yang sama bangsa ini dirugikan sedikitnya 3 miliar dollar akibat pencurian ikan oleh nelayan asing.

Di semester ketiga perkuliahan saya di Jurusan Akuntansi Unhas. Seorang dosen mata kuliah Wawasan Sosial Budaya Bahari (WSBB) mengungkapkan hasil penelitiannya di beberapa kampung nelayan di perairan Makassar. Ia berkata pandangan bahwa para nelayan berpenghasilan rendah sama sekali tidak benar. Jika kita cek dipasar pelelangan ikan hasil tangkapan para nelayan. Harga seekor ikan kakap merah ukuran sedang saja bisa mencapai ratusan ribu rupiah (perkilonya sampai Rp 48.000) Belum lagi jenis tangkapan ikan lainnya Tuna, Kerapu, Kepiting hingga Hiu yang tentu saja memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dosen WSBB saya (Muhammad Neil) pernah mengkalkulasi penghasilan bersih seorang nelayan sedikitnya mencapai Rp 5.000.000/ bulan jumlah yang tidak terlalu sedikit.

Setelah diteliti lebih lanjut ternyata pos pengeluaran terbesar keluarga nelayan ada pada anak mereka yang berumur 5-10 tahun. Dimana seorang ayah nelayan akan mengeluarkan uang dengan besaran Rp 5.000 setiap anak itu menangis untuk meminta jajan, dan tentunya tidak hanya sekali dua kali seorang anak kecil menangis dalam sehari, hingga tangisan anak nelayan bisa bernilai 50% dari seluruh penghasilan nelayan apalagi disaat mereka memiliki lebih dari satu anak kecil dalam satu waktu. Begitulah para Nelayan sangat menyayangi calon nelayan-nelayan selanjutnya. Pos terbesar kedua adalah biaya pembelian ataupun perbaikan Perahu. Sebab perahu merupakan alat utama dalam kehidupan nelayan yang bagi mereka lebih berharga dari sebuah Alpard sekalipun itu mungkin menjawab pertanyaan mengapa seorang nelayan jarang yang memiliki mobil. Disusul kemudian konsumsi harian dan untuk perbaikan rumah.

Dari beberapa infomasi di atas kita bisa menyimpulkan bahwa penyebab sesungguhnya kemiskinan masyarakat nelayan adalah kurang teraturnya manajemen keuangan mereka. Mahasiswa akuntansi harus segera membuat Akun untuk Ikan nelayan kecil.Dari sini kemudian seorang mahasiswa akuntansi bisa mengambil perannya untuk membalas jasa nelayan yang juga telah ikut dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan ikan-ikannya. Mahasiswa akuntansi bisa membantu para nelayan untuk memberikan penyuluhan di desa-desa nelayan dalam mengatur pemasukan dan pengeluarannya. Membantu dalam mengefektifkan dan mengefisienkan alur penjualan hasil tangkapan, serta membantu menentukan cost yang tapat dalam maintanance kapal. Hingga membantu mengatasi tangisan dari para anak nelayan dengan program-program khusus. Tentu dengan bahasa yang sederhana yang tidak berkutat pada jurnal, neraca dan laporan keuangan saja. tentu kita juga butuh bantuan dari mahasiswa jurusan dan fakultas lain.

Sebenarnya tidak penting tentang semua data-data di atas, kita bisa saja tidak percaya. sebab yang lebih penting adalah saat kita bisa turun ke laut, mencium bau ikan yang amis di pelelangan, merasakan dinginnya papan kayu perahu nelayan yang sedang berlayar, serta menyelami keindahan terumbu karang yang terdapat diantara 81.000 kilometer garis pantai Indonesia, menyadari betapa besarnya karunia Tuhan atas negeri ini. Dengan semua itu semoga kita bisa mencintai negeri ini beserta rakyatnya dan dengan dasar cinta itu kita akan begerak dengan arif mengelola Sumber daya alam laut Indonesia yang luar biasa ini. Agar semua ini tidak menjadi seperti yang dikatakan Richard Auty, sebagai “Kutukan Sumber Daya Alam”. Sumber daya alam melimpah yang hanya membuat kita malas dan bertikai. dan semua itu hanya menghasilkan kesengsaraan.

***

NB: Tulisan ini adalah edisi revisi dari Akun Ikan.

Advertisements

Akun Ikan

Oleh: Muwahid Ummah

Ilmu akuntansi dipercaya sebagai alat untuk mengukur  sekaligus meningkatkan efektivitas suatu industri. Begitupun untuk industri perikanan. Namun disayangkan ilmu akuntansi belum memberikan efek nyata bagi pelaku industri ini di tingkat hulu, yaitu nelayan kecil. Penelitian terhadap kehidupan nelayan oleh Pak Neil menunjukkan bahwa pendapat yang menyatakan nelayan berpenghasilan rendah merupakan sebuah stereotype. Dari pantauan Pak Neil di beberapa desa nelayan, penghasilan nelayan dalam satu kali melaut mencapai ratusan ribu rupiah. Hal ini sangat rasional sebab seekor ikan kakap merah ukuran sedang harganya bisa mencapai Rp 200.000,- sehingga jika dikalkulasi pendapatan nelayan kecil saja bisa mencapai lebih dari Rp 5.000.000,-.

Setelah ditelisik pengeluaran terbesar pada keluarga nelayan adalah pada anak kecil yang umumnya 5-10 yang menyerap konsumsi hingga 50%, menyusul perbaikan kapal di peringkat  kedua. Hal ini tentu disebabkan masih kurangnya kesadaran para nelayan untuk me-manaj keuangan mereka untuk kehidupan yang lebih baik.
Disini akuntansi bisa mengambil peranannya untuk mengawal nelayan kecil mulai dari pencatatan hasil tangkapan pada tingkat pengumpul hingga maintenance kapal. Tentunya akuntansi yang dikembangkan adalah akuntansi yang berbasis sosial sehingga mampu memberi kesejahteraan bagi nelayan Negeri Maritim ini.
***