Sinergi: It’s Real in My Team(s)

Oleh: Olivia Kamal
Ini kedua kalinya dalam hidup saya merasakan semangat bergelora yang sama dahsyatnya dalam bekerja dengan tim. It’s such a miracle!!! Nggak secetar keajaiban air mata jadi permata juga sih, walau pengalaman tentang sinergi ini cukup mencengangkan bagi saya.

Percayakah bahwa 1 + 1 = 3 alias sinergi itu bukan hanya cerita tentang “mengapa burung terbang dengan formasi sudut” belaka?
Sehati, Seperasaan, Sesemangat
Merasakan sinergi yang pertama kali terjadi dalam hidup saya dan mencengangkan bagi saya adalah saat Ulang Tahun Pertama Ekonom Gila.
Momen bahwa telah setahun kami bekerja keras dan mengalami fase keluar jalur karena kesibukan masing-masing, menghasilkan sesuatu, semakin mendeklarasikan tentang, apa, dan mengapa kami ada; adalah bagian yang paling mengharukan dan membangkitkan semangat saya. Terlebih di saat saya tidak mampu mewujudkan semuanya sendiri menjadi mampu karena saling melengkapi. Di saat yang satu berhalangan, down, letih, yang lain datang dan mengobarkan semangat. Kita menyangka semuanya akan berantakan di saat kita nggak ada, ternyata ada yang peduli. Beda banget sama bekerja sendirian. Dan saya akhirnya percaya bahwa sinergi itu ada di muka bumi ini.

Lalu ke mana saya selama ini? Saya menyangka, saya dan cita-cita menjadi seorang penulis sudah putus hubungan. Saya menyangka, terlalu banyak dunia maya dan hidup sebagai seorang netizen selama ini karena belum menemukan tempat nyata untuk mencurahkan kasih sayang. Saya memilih mengembangkan minat dalam hal lain (crafting) ketimbang aktif di tulis menulis. Saya mundur tanpa jejak. Saya berusaha tidak galau di sini, karena rasanya tulisan saya rata-rata curhat. Haizzz…

Bidang pekerjaan baru yang saya tekuni (sistem manajemen mutu) sangat berbeda dengan tema audit yang sering saya isi. Yang menyebalkan adalah, terlalu banyak problema yang menyakitkan hati. Sampai di titik saya diminta dengan hormat berpindah ke divisi yang sering saya bantu lantaran sreg dengan personil-personilnya (divisi SHE: Safety, Health, Environment).
Banyak hal yang harus kami benahi dalam waktu 3 minggu (FYI, untuk memperoleh sertifikasi telah diadakan audit stage 1 dan kira-kira 3 minggu lagi akan ada tinjuan ulang melalui audit stage 2, kemudian diputuskan sertifikasi berhasil diperoleh atau tidak). Meskipun ada kegalauan, tetapi ada “sehati, seperasaan, sesemangat” yang aku rasakan. Tiap orang punya kelebihan dan keterbatasan, menyebalkan dan patut ditertawakan, jatuh sakit dan hampir menangis, dan semuanya terasa menyenangkan, membakar semangat, sehingga membuat rasa “tidak takut lelah” muncul.

Trust Others & Believe Goal
Nah, belum nangis kan membaca sharing saya? Malam ini, saya bertanya-tanya (kayaknya sudah ada jawabannya di buku teks, tetapi saya ingin menjawab dari hati saya saja): mengapa saya begitu bersemangat dan merasakan adanya sinergi?
Trust others. Konsepnya, kita tau bahwa sendiri nggak akan mampu menyelesaikan semuanya

(keterbatasan: waktu, skill, koneksi, dsb), sehingga nggak ada salahnya dong kita percaya bahwa orang lain dapat membantu kita mencapai tujuan yang sama. Nggak ada yang ditutup-tutupi, mempermudah orang lain bekerja sama dan memperoleh informasi dari kita, membantu nggak setengah hati dan nggak mikir cost-benefit ngebantuin.

Believe goal. Kalau kita fokus sama tujuan, nggak akan mengungkit tentang kesalahan kecil atau besar yang orang lain pernah buat dan kita bisa perbaiki, nggak akan menjatuhkan rekan satu tim, nggak akan menginginkan HANYA kita yang terbaik. Yang paling penting adalah: tujuan tercapai, caranya bisa macam-macam asal not harmed anyone.
Masalah pasti tetap apa. Mengutip seseorang: “Ubahlah masalah yang besar menjadi masalah kecil, ubahlah masalah yang kecil menjadi tidak ada masalah.”
The simplest way, do your best and coorporate :)

Bekerja = Belajar + Dibayar

Oleh: Olivia Kamal
Rumusan itu saya dapatkan saat training awal sebelum bekerja menjadi seorang akuntan publik. Kenapa saya suka sekali membahas tentang akuntan publik? Jawabannya kira-kira mirip seperti: mengapa tukang bakso suka sekali bikin bakso dan bukan gado-gado (pertanyaan dan jawaban ini boleh dipikirkan, boleh juga diabaikan). Balik soal bekerja berarti belajar dan mendapat bayaran, tentu rumusan itu untuk membuat kita merasa “FUN” dalam bekerja.

Dalam prakteknya memang bukan berlaku yang sebaliknya. Kita belajar, kita “able” untuk bekerja sesuai standar. Waktu, tenaga, dan pikiran kita persembahkan (korbankan) untuk menyelesaikan pekerjaan yang diterima KAP kita dari kliennya. KAP mendapat bayaran, KAP membayar kita. Itu sih siklusnya, yang secara singkat dan menyenangkan kita singkat: bekerja = belajar + dibayar (pula).

Jujur, walaupun sudah kuliah 4 tahun lamanya, semua ilmu itu bagaikan menguap di udara. “What should I do?” ternyata nggak match dengan “what did I know.” Padahal udah training pula selama 2 minggu, dimulai dari hari pertama kerja. Di bagian pertama saya akan membahas tentang garis besar yang dipelajari selama training. Di bagian kedua, apa yang harus dikuasai saat pertama kali menjadi auditor publik.

Isi Training
Isinya kira-kira sama dengan isi textbook Auditing, dengan tampilan slide, modul, rumusan yang dapat diingat. Urutannya udah nggak ingat, tapi nggak ada salahnya mengingat-ingat yang teringat, dan kalau kurang boleh ada yang nambahin ya.

Pertama, pastinya nggak bikin stress. Sebagai bagian baru dari perusahaan, kenalan dengan perusahaan adalah wajib. Profil perusahaan dan standarnya, bagaimana cara berpenampilan, bagaimana cara menerima telpon (telephone courtesy), etika makan, bagaimana cara menghadapi masalah dengan asertif.

Kedua, mengerti dengan benar tentang bidang yang digeluti. KAP biasanya menyediakan service yang dinamakan jasa atestasi. Atestasi dapat disamakan dengan pendapat/opini, tetapi bukan sembarang pendapat loh. Opini yang dapat disebut sebagai jasa atestasi adalah opini yang berdasarkan tinjauan oleh seorang profesional, ada standarnya. Macam-macam audit pernah dibahas EG di link berikut.

Selanjutnya selama seminggu, yang mungkin selanjutnya akan dijelaskan satu per satu di postingan lain adalah: bagaimana alur audit, asersi yang diperlukan, tujuan audit yang ingin dicapai, strategi audit, resiko audit dan menentukan materialitas, memahami akun-akun BS (Balance Sheet) dan IS (Income Statement), pentingnya supervisi, dsb.

Yang Harus Dikuasai: Worksheet dan Working Paper
Bisa saya bilang sih nggak ada yang spesifik selain: dapat mengerjakan seperti yang dikerjakan tahun lalu. Itu rumusan gampangnya (padahal bikin meringis pas ngerjainnya, nggak semudah seperti yang kelihatan).

Lebih detail, pertama: harus bisa bikin worksheet. Caranya? Buka file tahun lalu, pelajari caranya dari rumusan Excel. Worksheet itu adalah perbandingan antara akun-akun BS (Balance Sheet) dan IS (Income Statement) tahun ini dengan tahun lalu. Tujuannya agar kelihatan fluktuasi (naik atau turunnya).

Kedua, bisa mulai dicicil dengan mempersiapkan Working Paper yang jadi tugas kita. Working Paper adalah kertas kerja yang berisi:  tujuan, fluktuasi, berbagai analisis, dan kesimpulan dari sebuah akun. Cara buatnya: lihat tahun lalu seperti gimana.

Saya rasa sih ketrampilan paling utama yang diperlukan adalah: bagaimana memahami petunjuk tertulis dan grafik, tinggal bikin seperti yang sudah ada. Simple. Tapi tetap aja tau caranya bukan berarti segala sesuatunya akan berjalan dengan mulus.

Yang Terpenting
Menurut saya, yang terpenting sih, rasa ingin tahu. Instingnya auditor jalan. Kalau memang punya rasa ingin tahu, didukung oleh menguasai teori audit, dan pandai memahami petunjuk tertulis, nggak akan ada banyak hambatan deh.

Kalau ada yang nggak jelas, bisa tanya sama senior yang mensupervisi. Kalau ada yang membingungkan dari data klien, bisa tanya ke klien. Liat-liat sikon juga sih kapan nanyanya. Yah, siapa juga yang nggak pengen nampar kalau kerjanya nanya terus. Dan bagaimana cara mendapatkan jawaban yang diinginkan saat bertanya, adalah sebuah softskill individual.

Mungkin perjuangan saya nggak lama menggeluti dunia perauditoran, tetapi pelajaran hidup terbanyak yang saya peroleh adalah saat meraba-raba di daerah ini. Dapat softskill. Again, curcol :p

Supplies VS Inventory

Oleh: Olivia Kamal


Apa bedanya supplies dan inventory? Singkatnya, supplies tidak untuk dijual, inventory untuk dijual. Lebih lanjutnya mari kita bahas dengan dua contoh.
Contoh 1: kertas dan tinta sebagai supplies.

Badan usaha apapun pasti butuh kertas dan tinta printer untuk kebutuhan dokumentasi atau mencetak. Kertas dan tinta printer tidak untuk dijual, tapi belinya juga nggak dalam jumlah sedikit. Selain bisa beli dengan harga yang lebih murah, pemakaian tinta dan kertas kan rutin. Kertas dan tinta diklasifikasikan sebagai supplies (bahan habis pakai).

Contoh 2: kertas dan tinta sebagai inventory

Tapi ya, kalau kita punya toko stationary dan perlengkapan kantor, pastinya jual kertas dan tinta printer. Barang dagangan yang belum dibeli orang itu nggak disebut supplies, tetapi inventory (sediaan). Kalaupun ada sebagian kertas dan tinta untuk dipakai sendiri, harus dipisahkan dan digolongkan sebagai supplies.

Macam-macam Sediaan

Dalam konteks perusahaan manufaktur, ada 4 jenis sediaan:

  • Bahan baku produksi (raw material, disingkat RM)
  • Bahan penolong
  • Barang setengah jadi (Work in Progress, disingkat WIP)
  • Barang Jadi (finished goods, disingkat FG)
Saat produksi, bahan baku dan bahan penolong akan mengalami proses menjadi barang jadi. Dalam proses tersebut, ada barang yang setengah jadi, yang belum menjadi barang yang sempurna. Misalnya: bijih plastik (RM) yang sedang dicampur dengan pewarna (bahan penolong) menghasilkan adonan campuran (WIP), dalam proses membuat wadah plastik (FG).

Ngitung WIP
WIP sangat sulit dihitung saat stocktake/stock opname/ stockcount/ inventory count, jiahahaha mau bilang ngitung stok aja ribet dah!


Mengapa sulit? Pertama, bentuknya yang incountable (gimana cara mau ngitung adonan???), jadinya kita ngitung juga sih (ajib kannnn!). Cara ngitungnya, hitunglah sebisa kita dengan cara yang paling mungkin. Maksa ya???

Kesulitan terbesar dalam menghitung WIP terjadi bila proses produksi tetap berlangsung selama penghitungan. Indikasi yang ada adalah adonan yang tadinya sudah dihitung, dihitung lagi pas bentuknya menjadi wadah yang belum bermotif (double counting). Untuk mengatasinya, produksi dihentikan sementara atau produksi dapat berlangsung dengan syarat tidak ada perpindahan (movement) dari satu tahap ke tahap berikut,

sampai semua WIP terhitung.

Dapat logikanya dan pusing? Menjalani penghitungannya lebih pusing kok! Hahahaha… Yang ga pusing, enak, dan cepat kelar??? Ya ngitung supplies aja… ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ…

It’s About: Money Money Money!

Kalo Jessi J menyuarakan tentang melupakan uang dalam lirik lagu “Price Tag”: It’s not about money, ain’t about the cha-ching, why is everybody obsessed, money can’t buy happiness, dan forget about the price tag; di postingan kali ini justru uang, uang, dan uang menjadi pembahasan kita. Mengapa uang menjadi sangat penting? Mengapa pula uang menjadi sangat tidak penting (dengan berbagai kalimat penjelas yang bijaksana)?

Uang dan Kuasanya 

Sebuah curcol nih, beberapa hari yang lalu sebelum tidur saya menulis di status fb saya:

uang dapat membeli kasur, tapi bukan tidur yang nyenyak ~ mari tersenyum, menikmati tidur, dan tertidur.

Tentunya, ide “uang dapat membeli ~ tapi bukan ~” itu bukan ide asli saya dong, pasti udah pada sering baca yang begituan, dan lagi pengen alay aja nulis-nulis begitu. Seorang teman mengomentari: belilah obat tidur. Ehem, saya sependapat kalau maksud kata bijak “uang dapat membeli ~ tapi bukan ~” adalah sebuah kebijaksanaan bahwa: tidak semua hal dapat dibeli dengan uang, jadi jangan mendewakan uang, dsb; tetapi dengan kenyataan banyaknya opsi-opsi yang dapat kita pilih dengan uang, memungkinkan kita memperoleh tingkat kepuasan yang mendekati tingkat kepuasan yang kita inginkan. Meskipun nggak di level yang benar-benar kita inginkan, paling nggak hanya sedikitttttttt di bawahnya, sampai kata mendekati lebih pantas diganti dengan “nyaris”.

Kenyamanan hidup di Jakarta dapat dengan mudah didapatkan dengan adanya uang, di manapun juga begitu sih. Cukup bawa diri dan sekoper baju bagus, pekerjaan dengan payout yang besar, dan semua hal diatasi dengan uang. Mau makan apa tinggal beli, baju masukin ke laundry, ke mana-mana naik taksi, kost dengan fasilitas yang gimana tinggal pilih, wiken bisa hepi-hepi dengan aktifitas yang disukai, kalau stress ya liburan ke luar negeri; simply work hard play hard! Tentang cinta, banyak yang sudah cukup bahagia dengan dapat mandiri secara finansial dan teman-teman sesama jomblo masih banyak.

Uang dan Wanita

Wanita menyukai uang, pria juga. Semua orang juga suka kaleeee… Mengapa pria lebih memilih wanita yang biasa-biasa saja daripada yang menyukai uang? Cewek juga nggak suka sama cowok matre, lebih malu-maluin daripada cewek matre ga sih??? Hahaha… jangan berakhir ke perang gender, memang masing-masing orang punya persepsi yang berbeda-beda, nggak harus gendernya apa kalo matre tetap aja matre.

Penjelasan wanita dan uang yang pernah dibahas di EG dapat diikuti di link ini dan ini. Secara pribadi, menurut saya kecintaan wanita pada uang tergantung pada pola pikir dan tingkat kekhawatiran wanita itu masing-masing. Uang memberi rasa aman karena dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan: uang penting untuk maintenance diri untuk kepuasan diri sendiri dan suami (penekanannya pada penampilan), uang penting dalam masuk dan bertahan dalam pergaulan (penekanannya pada gengsi), untuk pendidikan dan kebutuhan anak (penekanannya pada anak). Wanita yang lebih khawatir turun pamor karena penampilan cenderung menginginkan uang, mencintai uang, agar tetap terlihat oke. Krim antikerut tidak dapat memudakan usia, tetapi dipercaya dapat memudakan kulit wajah: nggak bisa kembali menjadi gadis muda, tetapi “nyaris” seperti gadis muda.

Satuan Moneter 

Supaya nyambung ya sama yang di awal: ngomongin Price Tag, keberaadan nilai nominal uang menjadi sesuatu yang memudahkan juga, selain bikin pusing. Bikin pusing sih kalo kita ngidam Birkin Bag Hermes yang asli, atau pengen iPad 3 yang keren tapi nggak punya cukup uang.

Bikin mudahnya, nilai satuan uang (satuan moneter) adalah satuan pengukur yang memudahkan kita dalam menilai suatu barang: relatif mahal atau murah untuk kita membelinya, terlebih barang yang sudah ada price tag-nya. Lebih ke fungsi uang sebagai alat tukar dan apakah kita ikhlas menukarkan uang sejumlah tersebut dengan suatu barang, atau lebih prefer untuk ditukar dengan barang lain. Lebih mudah untuk membandingkan antara dua barang/jasa juga. Lagi berandai-andai nih… coba kalau masih jaman purba, satu maskara Loreal harus dibayar dengan berapa ekor ayam? Hahaha… ogah juga kalo bawa tuh ayam hidup ke mana-mana.

Dalam akuntansi, penyimbolan dalam angka (satuan moneter uang) dipandang sebagai simbol yang paling tepat. Contohnya untuk elemen aset, item kas mudah saja tinggal dihitung uang kas yang ada, demikian juga dengan deposito dan piutang dagang telah ada nominalnya. Untuk persediaan? Di laporan keuangan angka yang dipakai bukan berapa buah persediaan, tetapi harganya (dalam satuan moneter). Ini maksud saya keberadaan uang yang memudahkan, karena ada fungsi sebagai satuan pengukur.

Audit Finansial: Definisi dan Hasil

EG pernah membahas tentang macam-macam audit yang dapat dianalogikan dengan hape (Audit Nggak Beda Jauh dari Hape!). Fitur yang ditawarkan oleh jenis hape tertentu umpama tujuan audit: beda fitur, beda layanan yang diperoleh. Kali ini kita akan fokus pada salah satu jenis audit: audit finansial (umumnya frasa “audit” mewakili “audit finansial”), yang merupakan audit yang digeluti oleh auditor eksternal/bekerja di Kantor Akuntan Publik (Menjadi Seorang Akuntan Publik).

Audit Finansial

Untuk tau makanan (xixixi :p) apa audit finansial itu, kita dapat intip dari definisi audit yang kompleks, tetapi lengkap dan menggambar penuh apa itu audit finansial. Kalo kata dosen auditing saya yang cakep pada masa itu, bangun tidur ditanyain definisi audit, refleks harus bisa jawab! So, audit didefinisikan sbb:

Proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti secara objektif mengenai asersi untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang ditetapkan untuk mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak yang berkepentingan  (berdasarkan definisi ASOBAC)

Definisi yang umum digunakan tersebut, menyiratkan beberapa poin penting sbb:

  1. Proses yang sistematik -> logis, berkerangka, ada tahapannya
  2. Memperoleh dan mengevaluasi bukti -> inilah yang dikerjakan auditor 
  3. Objektif -> tidak memihak 
  4. Asersi -> pernyataan satu pihak kepada pihak lain, contohnya: data, laporan keuangan 
  5. Tingkat kesesuaian -> hasil akhirnya seberapa sesuai 
  6. Kriteria yang ditetapkan -> umumnya kriteria yang digunakan di Indonesia adalah PABU (Prinsip Akuntansi Berterima Umum)
  7. Mengkomunikasikan hasil -> dalam bentuk audit report (tertulis), penjelasan selengkapnya di sub-judul di bawah.
  8. Pihak yang berkepentingan -> top management, bursa efek, head office, dsb.

Hasilnya?

Hasil audit adalah pendapat atau opini dari auditor. Meskipun tebal dan berisi macam-macam laporan keuangan auditan yang mendukung dsb, intinya pendapat auditor adalah yang terpenting dari sebuah audit finansial.

Hasil audit ada 5 jenis, dari paling oke ke paling nggak oke:

  1. wajar (unqualified) 
  2. wajar dengan alinea penjelas 
  3. wajar dengan pengecualian (qualified) 
  4. tidak wajar (adverse) 
  5. menolak memberi pendapat (disclaimer) 

Yap, bisa saja setelah audit dilakukan, auditor malah menolak untuk memberi pendapat! Bisa jadi disebabkan karena “dibatasi”-nya langkah auditor dalam memperoleh bukti-bukti yang cukup untuk menyatakan pendapat. 

Wajar (unqualified) yang dimaksud dalam istilah audit, mempunyai artian: bebas dari bias (keragu-raguan) dan ketidakjujuran, dan informasi yang disajikan lengkap (full disclosure). Memang sih terlalu abstrak, nggak seperti kalau kita menentukan kewajaran dengan patokan nilai atau harga, dan opini tersebut memang nggak bisa dikeluarkan oleh auditor yang belum menjadi partner.

—-


Sekian, sedikit kulit-kulit audit yang akan Anda dapatkan sekiranya berada di awal-awal belajar Auditing. Tertarik tau lebih banyak tentang audit? Lihat list postingan di bawah dengan tag: auditing.