8 Prinsip (Jadi) Pengusaha

Oleh: Rizky Kuncoro Hadi

Sejatinya, perjalanan menjadi pengusaha adalah perjalanan menuju keshalihan.
8 Prinsip (jadi) pengusaha ini disarikan oleh Ust. Yusuf Mansur dalam buku terbarunya yang berjudul “Semua bisa jadi pengusaha” dari Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 14-17. Berikut penjelasannya.
Prinsip yang pertama adalah aamanna (iman), keyakinan bahwa hanya Allah yang berkehendak, hanya Allah yang bisa memberikan ini itu, hanya Allah yang memberikan ridho, hanya Allah yang bisa membuat kita jadi pengusaha, hanya Allah yang bisa mendatangkan pelanggan, hanya Allah yang bisa membuat kita berhasil, dan hanya Allah pula yang bisa membuat kita hancur.
Prinsip yang kedua adalah faghfirlanaa (ampunilah dosa-dosa kami). Ada orang yang berat sekali menjadi pengusaha. Kenapa? Ada pengusaha yang usahanya gitu-gitu aja. Kenapa? Ada pengusaha yang justru rugi melulu. Kenapa? Karena ada asbab sebelumnya. Jadi, pengusaha itu harus banyak istighfarnya. Dosa-dosa kita sebelumnya itu bikin kita susah. Sholat banyak telatnya, yang sunnah pun jarang-jarang. Kita punya dosa pun banyak bener. Itu bikin berat orang jadi pengusaha. Apa ada hubungannya pengusaha dengan dosa? Ada banget! Allah yang punya segala kemudahan, segala modal, dan segala jalan. Kalo Allah ga suka, gampang bagi Allah buat kita susah.
Prinsip yang ketiga adalah waqinaa ‘adzaabannaar (lindungi kami dari azab neraka). Kalau mau menjadi pengusaha yang mendapat dunia dan akhiratnya Allah, kita harus menjaga diri kita dari apa-apa yang membuat Allah menyeburkan kita ke neraka. Punya hutang banyak, masalah tidak? Jika dengan berhutang itu kita bisa terhindar dari neraka dan menjadi masuk surga, taat ama Allah, cinta sedekah, rajin ke masjid, maka hutang itu adalah berkah. Tapi jika kemudian ketika kita berlimpah kekayaan, berlimpah karunia Allah, tapi kemudian kita malah rajin buat dosa, berzina, meninggalkan sholat, durhaka sama orang tua, pagi gak pake Dhuha. Maka karunia Allah itu adalah petaka yang besar untuk kita.
Prinsip yang keempat adalah ash-shoobiriina (bersabar). Kita kemudian bersabar, betul! Sabar ini penting. Seorang pengusaha jika tidak memiliki sabar, wah… akan terjadi masalah. Baik sabar dalam menjalankan amaliyah maupun bersabar diri dalam menahan diri dari maksiat. Misalnya ada tawaran proyek yang bisa menghasilkan keuntungan satu milyar. Namun kita diminta menyiapkan uang sebesar 200 juta terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan proyek itu. Apakah kita mampu bersabar? Mending kita bersabar, kalau tidak sabar kita malah akan kehilangan segala-galanya.
Prinsip yang kelima adalah ash-shoodiqiina (kebenaran). Prinsip ini merupakan prinsip yang sangat mengagumkan. Kita, kalau jadi pengusaha harus hati-hati. Kita jadi pengusaha harus benar, harus jujur,trusted people, harus menjadi orang yang terpercaya. Kenapa orang bisa dikasih modal? Karena pemodal itu percaya. Tapi untuk bisa dipercaya itu harus ada pembuktian. Trust itu lebih besar dan berharga daripada modal uang.
Prinsip yang keenam adalah al-qoonitiina (taat). Kalau kita ingin menjadi pengusaha, namun tidak taat, wah! Apa jadinya nanti. Contoh, klien saudara menghubungi saudara “Pak, kami ingin melihat apartemen yang bapak bangun.” Kalau kita tidak taat, kita akan mengajukan waktu pertemuan pada jam 12 siang. Jam 12 ada sholat zuhur. Allah tidak suka jika saudara bertemu dengan mahlukNya tapi justru mengabaikan sang Khalik yang menciptakan klien saudara. Taat itu penuhi yang wajib, hidupkan yang sunnah. Usahakan sholat tepat waktu dan berjama’ah. Kalau perlu, kita sebagai owner adalah orang yang adzan dan menjadi imam buat karyawannya pada saat sholat. Jangan sampai kita menjadi bos yang dilaknat Allah.
Prinsip yang ketujuh adalah al-munfiqiina (orang-orang yang bersedekah). Menafkahkan hartanya di jalan Allah. Baik lapang maupun sempit, baik senang maupun susah, baik saat gembira maupun sedang sedih, baik sedang kelebihan atau kekurangan. Kalau sejak kita menjadi pekerja kita sudah memulai tradisi bersedekah, sudah menjadi al-munfiqiin, maka selangkah lagi kita akan menjadi pengusaha. Tapi hal ini masih biasa, dibandingkan jika kita masih di zona pengangguran namun kita sudah mencintai sedekah, sudah menjadi al-munfiqiin, dahsyat!
Prinsip yang kedelapan adalah mustaghfiriina bil ashhaar (memohon ampunan di waktu sahur). Prinsip ini terkait dengan sholat malam. Terkandung makna agar kita menegakkan sholat tahajud, menegakkan sholat witir, dan tentu saja ditambah dengan istighfar.
Ya Allah ya Rahman ya Rahiim, berilah kami ilmu yang bermanfaat. Robbuna ya Rabb, berilah kami usaha yang bisa membuat kami tenteram, bisa tidur nyenyak, pikiran tenang, anak dan istri kami mendapat rezeki yang halal, rezeki yang berkah, yang bisa mengantar kami ke tanah suci-Mu dan bisa memberangkatkan orang-orang yang kami cintai ke tanah suci-Mu. Dan juga jadikan segala usaha kami, ikhtiar kami mengantarkan kami kepada ridho-Mu, maghfirah-Mu, dan jannah-Mu. aamiin ya robbal ‘aalamiin…
Advertisements

Membantu

Oleh: Yoga PS

“Ada yang bisa saya bantu?”

Pertanyaan ini sering kita dengar ketika berbelanja di toko atau menelpon call center. Biasanya diucapkan oleh penjaga toko atau resepsionis diujung telpon. Pertanyaan sederhana yang sesungguhnya sangat bermakna. Mengapa? Karena pertanyaan diatas adalah dasar semua bisnis. Pondasi seluruh kegiatan ekonomi. Kekayaan milyaran dolar, dimulai dari sana.

Bisnis atau kegiatan ekonomi, sering kita anggap hanya sebuah hubungan transaksional semata. Si A memberikan barang/jasa kepada si B, dan sebagai balas jasa, si B memberikan uang. Tapi sesungguhnya lebih dari itu. Bisnis menciptakan hubungan kemanusiaan yang saling menguntungkan. Transaksi tercipta karena relasi aksi-reaksi.

Karena manusia adalah makhluk social dan takkan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ia butuh bantuan orang lain untuk melangsungkan kehidupan. Kita butuh pangan, sandang, papan, serta berjuta keinginan. Sedangkan para pengusaha, entrepreneur, kapitalis, (atau apapun Anda menyebutnya), adalah manusia terpilih yang mampu melihat kebutuhan manusia, dan “membantu” dengan menciptakan barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan itu.

Pasar Adalah Orang yang Perlu Dibantu

Pada 1976 ketika berjalan-jalan di daerah sekitar kampusnya, Chittagong University, Muhammad Yunus menemukan kenyataan menyakitkan tentang pengrajin bambu. Mereka harus membayar bunga yang sangat tinggi kepada rentenir untuk bisa mendapatkan dana pinjaman. Yunus terkagum-kagum dengan semangat para pengrajin yang didominasi wanita. Mereka bekerja dengan rajin, dan terus berusaha membayar pinjaman meskipun dibebani bunga yang mencekik.

Ia sempat menemui bankir local dan bercerita tentang hal ini. Hasilnya adalah lelucon, bagaimana mungkin bank bisa memberikan kredit untuk mereka yang tidak pantas mendapat kredit? Pendidikan mereka rendah, tidak mengerti business plan atau system akuntansi. Yunus tak tinggal diam. Ia lalu menyuruh mahasiswanya mendata pengrajin, dan dengan uang pribadinya sebesar $27, memberikan kredit lunak. Selebihnya adalah sejarah. Grameen bank lahir, dan Yunus dianugerahi hadiah nobel.

Lain Bangladesh lain Indonesia. Jika pada 1970-an Anda ingin menyewa mobil di Jakarta, saya jamin Anda akan menemukan kesulitan. Bukan hanya kesulitan menemukan mobil yang disewa, tapi yang lebih puyeng: bagaimana menentukan tariff. Tidak ada harga standar. Semua tergantung kemampuan nego, tampang memelas ketika menawar, dan belas kasihan pemilik mobil terhadap penyewa.

Untuk membantu orang yang mencari moda transportasi aman dan nyaman inilah keluarga Djokosoetono mendirikan “Chandra Taksi”, embrio telur lahirnya Blue Bird. Taksi pertama yang menggunakan system argo yang jelas, dan layanan barang kembali jika ada bawaan penumpang yang tertinggal.

“Proses membantu” yang sama juga dilakukan oleh Bob Sadino. Pengusaha nyentrik yang terbiasa memakai celana pendek ini awalnya berganti-ganti pekerjaan. Sampai ia menjual telur dan kebetulan ia menemukan kenyataan jika banyak ekspatriat kesulitan menemukan tempat belanja bahan makanan segar yang berkualitas. Telur pun ditambah sayur mayur, daging, dan berbagai kebutuhan pokok. Akhirnya, berdirilah Kem Chicks hingga sekarang.

Melayani

Saat kita belajar analisa bisnis di sekolah bisnis, kita diajar untuk melihat competitive advantage untuk menilai sebuah bisnis. Sejauh mana superioritas produk/jasa perusahaan dibandingkan pesaingnya. Tapi menurut saya, bisnis yang baik adalah bisnis yang melayani sesama manusia. Profit? Itu hanya konsekuensi logis setelahnya.

Karena membangun bisnis pada dasarnya bukan tentang memenuhi kebutuhan diri sendiri, tapi bagaimana membantu orang lain. Ekonom menyebutnya kebutuhan pasar. Microsoft dan Apple membantu dunia dengan menciptakan system operasi computer yang mempermudah hidup manusia. Google dan Yahoo! membantu kita menemukan pengetahuan semesta di dunia maya. Mercedes dan Toyota membantu kita berkendara dengan nyaman di jalan raya.

Hukum Sang Pencipta sungguh sederhana. Yang membantu, akan dibantu. Yang menolong, akan ditolong. Yang berbuat baik, akan mendapatkan hasil baik. Mereka yang dipermudah hidupnya, adalah mereka yang mempermudah hidup sesamanya.

Seperti pesan pemenang nobel sastra pertama dari Asia, Rabindranath Tagore:

“Saya tertidur dan bermimpi jika hidup adalah kegembiraan. Saya terbangun dan melihat jika hidup adalah pelayanan. Saya melakukan dan percayalah, pelayanan adalah kegembiraan”.

Jika kita sedang kebingunan mencari ide bisnis, peluang ekonomis, atau ingin mendirikan perusahaan tahan krisis, cukup ajukan pertanyaan sederhana:

“Apa yang bisa saya bantu?”

Entrepreneurship: It’s All Size

Anak-anak kecil jaman saya, terbiasa dengan cita-cita menjadi: insinyur, dokter, dan presiden. Kayaknya hebat banget gitu ya? Jujur sih, jamn dulu pertama kali naik pesawat, saya pengen jadi pramugari. Mengapa sih kita punya cita-cita dengan image yang hebat begitu? Karena orang tua kita? Karena buku teks saat kita SD dan demikian yang diajarkan guru kita? Karena lagu Susan (yang kalau gede pingin jadi apa)? Padahal ya, setelah kita susah-susah sekolah, bahkan kuliah, cari kerjaan minta ampun susahnya. Udah dapat kerjaanpun, kita masih lirak lirik untuk dapat yang lebih baik (payout-nya). Sebenarnya sederhana saja bukan, cita-cita setiap orang itu sebenarnya sama saja: tidak merasa kekurangan dalam hidupnya. Nggak kurang materi, nggak kurang pamor, nggak kurang segala-galanya, bisa melakukan apa saja yang disukai dan memperoleh yang disukai, intinya nggak kurang bahagia.

Entrepreneurship: sebuah kisah

Ini kisah nyata, saya alami sendiri. Menjalani hari-hari dnegan rutinitas sebagai pekerja kantoran membuat saya jengah. Padahal kerjaan saya tidak termasuk pekerjaan yang day-to-day, maksudnya kerjaan saya nggak sama setiap harinya. Hari ini mungkin berkeliling cari info ke pasar, hari besok bisa jadi ngolah data. Atau hari ini ngintip data pendapatan PT A, kalau besok PT B. Esensi dan prosedur banyak yang sama, hanya saja bervariasi dan mestinya nggak membosankan.

Setelah saya mencoba menjadi entrepreneur dadakan (coba saja, nggak usah banyak mikir), memang ada perbedaan. Waktu itu saya berjualan minuman berbahan dasar potongan agar-agar dan air gula. Saya bebas bereksperimen dengan resep, harga jual, cara menjual, warna, ukuran produk, jam kerja, hingga pada suatu titik: saya nggak merasa bebas lagi. It’s all about money!

Ada suatu keharusan untuk membuat minuman dan mengantar minuman agar saya memperoleh pendapatan dan bisa makan. Lantas apa bedanya dengan keharusan bekerja di kantor di saat saya ingin tidur siang? Bedanya hanya tempat bekerja dan posisi saudara-saudara! Mulai detik itulah saya memperoleh pencerahan tentang entrepreneurship yang bukan berarti: memiliki usaha/ berusaha sendiri.

Lalu entrepreneurship itu apa??? 

Entrepreneurship is the act of being an entrepreneur, which can be defined as “one who undertakes innovations, finance, and business acumen in an effort to transform innovations into economic goods”.

Entreprenur itu bukan punya usaha sendiri, tetapi orang yang mau berusaha lebih, begitu deh kalau mau kita simpulkan dengan ringan. Exactly, inilah kesimpulan yang ada dalam hati saya saat bosan dengan rutinitas membuat minuman sebagai aktifitas menghasilkan uang. Awalnya memang cukup menyenangkan, seperti main game (ahahahahaha…) tapi kenyataan memang berkata lain.

Meskipun banyak teori yang dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan sebuah bisnis, pada prakteknya nggak segampang itu. Sebaliknya, mikir doang tapi NATO (not action talk only) juga adalah pilihan yang nggak bijak, tapi act without well-planning juga nggak bijak kan. Nah loh, pusing kan?! Mau teori yang simple tentang memulai usaha? Ada panduan dua faktor yang bisa dijadikan pedoman: passion dan peluang (pernah dibahas oleh di sini).

Diawali dengan inovasi dan pada akhirnya nggak terlepas dari masalah menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis (menghasilkan uang). Again, it’s all about money, bukan sekedar inovasi tiada henti yang nggak menghasilkan uang. Namun, intinya bukan uang, tetapi inovasi, begitu begitu begitu bukannnn?

“Punya usaha sendiri” itu juga nggak harus berjualan atau berdagang, termasuk juga kerja lepas (freelance). Dan yang saya lihat, inovasi bukan sekedar sesuatu yang belum ada sebelumnya, tetapi juga cocok dengan apa yang menjadi kebutuhan atau yang tanpa disadari dibutuhkan oleh orang-orang.

Memulai menjadi entrepreneur

Nggak harus punya suatu usaha yang berdiri sendiri. Setelah insaf dan belajar dari yang saya alami sendiri, menjadi entrepreneur itu bukan semata-mata punya cukup uang sebagai modal usaha, lalu memulai usaha dan berharap akan berjalan sesuai harapan.

Bahkan ya, bagi teman-teman yang masih berstatus karyawan, meskipun udah jenuh dan pengen mati di kursi kerja masing-masing, lihatlah kondisi itu sebagai peluang! Kalau saya dapat kembali ke masa-masa itu (hiks hiks…), maksudnya masa saat menjadi pegawai kantoran dan merasa hal tersebut membosankan, justru sebenarnya bisa jadi ajang untuk belajar menjadi entrepreneur.

Banyak hal tentang industri/perusahaan tempat kita bekerja yang dapat dipelajari saat menjadi karyawan, pengetahuan itu juga modal kan. Tentang cara mengerjakan duty kita, bisa dicari cara-cara sendiri yang inovatif, lantas bagaimana agar ide tersebut dapat diterima dan menjadi masuk akal bagi atasan kita. Kalau mau langsung praktek usaha kecil-kecilan, bisa seperti Yoga yang meneropong kebutuhan (yang kadang tidak disadari) orang-orang disekelilingnya: sarapan. Return dari jualan kue buat sarapan di kantornya katanya ngalahin return dari sahamnya.

Intinya, perenungan saya tentang entrepreneruship, yang bisa dibilang bercokol lebih dari 6 bulan namun baru sekarang bisa terungkap dengan kata-kata adalah: apapun yang kita lakukan sekarang dan profesi apapun yang dijalani sekarang, bisa kok menjiwai entrepreneur. Meskipun kalau bukan punya usaha sendiri berarti value-added yang ada dan menghasilkan lebih untuk perusahaan tempat bekerja. It’s all size!

Punya Ide Bisnis yang Menggiurkan???

Alasan resign??? Kebanyakan orang sih resign karena sudah dapat “yang lebih baik”. Xixixi… itu sih urusan masing-masing yah kalau merasa dapat yang lebih baik. Kebanyakan karyawati resign dengan alasan: akan menikah. Kalau saya? Pengen coba usaha sendiri, walaupun nggak yakin-yakin amat dengan tingkat kesuksesannya. Jaman itu, saya diwanti-wanti untuk tetap bertahan kerja sampai yakin bisa berdiri sendiri. Bahkan, apa salahnya bisa dapat 2 sumber income? Tapi memang dasar pengennya nggak terikat dengan aturan 8 to 5 (atau sejenis), saya milih untuk resign setelah bertahan 2 tahun 9 bulan di kursi auditor.

Warnet: Yang pernah diobrolin, direncanain, dipikirin, dan kenyataan

Pernah saya membahas untungnya bisnis internet dalam Netnomics, kayaknya bisnis warnet (untuk game online) itu menguntungkan banget. Yup, ini kalau kita memulai bisnisnya jaman internet belum murah. Untung saja saya nggak “tercebur” dalam bisnis ini. Sempat bikin hitung-hitungan, yang sampai sekarang nggak kelar-kelar. Hahaha… niat nggak sih ini?

Kalau boleh curcol :D awalnya saya ingin punya bisnis karena warnet-warnet yang saya jelajahi. Ada yang tempatnya enak, tapi lemot. Ada yang murah, tapi jorok. Ada yang enak dan murah, tapi jauh. Ada yang berisik, ada juga yang key-nya nggak enak, ada yang kursinya somplak kayak digigit tikus, ada yang OP-nya sadis, ada juga yang AC-nya dingin banget sampe menggigil dan ada juga yang remang-remang. 

Ada salah seorang rekan kerja yang menjadi tertarik dengan investasi dalam bisnis warnet ini, tapi ada satu permasalahan yang membuat saya angkat tangan pula, soal tempat. Mau cari tempat di mana? Akhirnya tetap saja bisnis valas dan emas yang merupakan primadona rekan saya tersebut menjadi tak terkalahkan keuntungannya.

Kenyataannya, setelah saya boleh berbincang informal dengan salah satu pemilik warnet yang memulai di tahun 2009, selama 2 tahun memang diakui modal telah kembali. Tapi ya kondisinya sekarang ini nggak terlalu menguntungkan. Sedikit pendapatan yang melebihi biaya operasional. Banyak konsumen yang sudah beralih dengan memasang internet pribadi. Bahkan kalau memulai bisnis warnet sekarang sudah terlalu terlambat.

Warung Kopi: mini food court

Fenomena bisnis warung kopi (warkop) mulai saya amati sejak berada kembali di pulau Sumatera. Selama di Jakarta sih, nggak ada kepikiran untuk punya warung kopi. Nongkrong sambil jajan ya di JCo, Sour Sally, Dunkin, Pizza Hut, Ichiban Crepes, Hop Hop. Kalau nongkrong sambil makan ya tetep aja di mall atau pinggiran mall. Sangat jarang dan hampir nggak nemuin yang namanya warkop, adanya warteg, warung burjo dan penjual bergerobak.

Bisnis warkop umumnya menyediakan minuman yang general (teh, kopi, susu, teh kembang, teh susu, kopi susu, milo). Soal makanan, ada bermacam variasi, paling umum mie pangsit, mie-nasi-bihun-kuetiaw goreng. Ada juga yang menyediakan menu-menu khusus seperti soto, bubur, lontong, sate, gado-gado, nasi hainam, ketoprak, nasi uduk, dan kue-kue atau cemilan lainnya. Warkop nggak terlalu mahal, makanannya standar, pelayanannya standar, dan esensi utamanya adalah makan di tempat yang lumayan bersih. Untuk ngobrol, selama nggak ada yang merokok di sekitar kita sih oke-oke aja.

Menurut pandangan saya, bisnis warkop ada foodcourt dalam skala mini. Kalau saya akan berbisnis warkop, maka saya akan memilih sebagai penyedia tempat dan minuman, sementara untuk makanan sih mendingan juga bagi hasil. Misalnya dari semanggok mie yang dijual oleh penjual lain yang numpang jualan di warkop saya, maka saya dapet 1000 rupiah. Just as simple like that, nggak mau pusing masak-masak.

Suvenir dan undangan: estetik dan fungsi

Sering nggak sih kita mendapat suvenir acara atau pernikahan yang bukan barang jelek tetapi nggak mau juga kita pakai? Begitu juga undangan pernikahan, banyak yang bagus-bagus sehingga sayang saya buang, tapi nggak tau juga kalau disimpan buat apaan. Masih memikirkan tetang suvenir dan undangan yang dapat digunakan kembali dan bukan sekedar pemborosan yang nggak berarti.

Pertama, tentang suvenir. Kebanyakan handmade. Bisa sih digunakan, seperti gantungan kunci atau tempat handphone, tapi yaaaaaa nggak setiap menerima yang begituan kita akan menggunakannya bukan? Barang yang mass product sih lebih terpakai oleh penerimanya, seperti: pengharum ruangan, botol Tupperware, centong nasi, sumpit. Tinggal pengemasan yang menarik agar barang yang mass product itu dapat cantik sebagai suvenir. Estetik dan fungsi yang berimbang bukan. Kira-kira sih kalau akan terjun ke bisnis ini maka saya nggak menggunakan barang handmade yang fungsinya hanya estetik belaka, tapi kalo pengemasan mass product doang, terlalu mudah untuk ditiru.

Kedua, tentang undangan pernikahan. Undangan yang sederhana menyiratkan pesta yang biasa saja, tetapi undangan yang super bagus (dengan karton tebal, kertas wangi, puisi cinta, bahkan print-out foto kedua mempelai) adalah sesuatu yang berguna untuk mengesankan saja. Lebih dari itu, adalah sebuah pemborosan yang terselubung. Sebenarnya ya, di era digital ini, apa sih salahnya mengundang dengan media sms, bbm, pm ke fb, atau meng-create event di fb. But somehow, saya juga nggak mau datang tuh kalau nggak terima undangan yang printed-out. Nah loh???

Menikah adalah salah satu momen yang paling bahagia sepanjang hidup manusia, sehingga keberadaan undangan dan suvenir adalah hal yang mutlak agar nggak jadi pernikahan yang menyimpang. Dari sisi sustainability, bisnis undangan dan suvenir adalah bisnis yang dapat berlangsung terus menerus hingga ada suatu ide yang dapat menggantikan secara fungsional undangan tercetak dan suvenir yang mementingkan estetika.

Apa kamu punya ide bisnis yang menggiurkan?

Nggak Mampu Researchpreneur, Writerpreneur Saja!

Apa yang harus saya lakukan kalau hanya boleh di rumah, stress belum dapat kerjaan,  nggak punya hobi yang bisa menghasilkan, tetapi butuh uang??? *ngikut style judul bombastis om Yoga :p

Tenang pren, dunia belum berakhir, Laptop atau sejenisnya punya dong??? Jadilah writerpreneur!

Kalo researchpreneur adalah istilah yang dilahirkan oleh salah seorang penulis EG (sumpah udah googling dan hasilnya hanya EG!), maka saya terinspirasi untuk membahas hal yang sudah sering dikumandangkan orang-orang: writerpreneur. Memang ada apa ya writer (penulis) kok bisa dikawinkan dengan entrepreneur? Hal-hal macam apa saja yang bisa disebut writerpreneur? Apakah menulis itu sama dengan berbisnis? Seluk beluk gila apa kali ini???

Seperti biasa, ramuan ajaib saya: niat baik, sediakan waktu, gali tacit, browsing, sedikit taburan gila — siap diramu dan disuguhkan ;)

Menjual Pikiran dan Pemikiran

Ini menurut tacit saya yang secara common sense bisa diterimalah ya, menulis itu adalah proses yang panjang walaupun hasilnya pendek (syukur kalo panjang). Nggak serta merta orang dapat menulis, apalagi membuat tulisan yang menarik dan berdaya jual, ya nggak? Proses pertama: menggali ide (cari ide nggak tepat sebab yang namanya ide itu nggak hilang, telah kita miliki sebagai tacit). Kalau kita mau menyediakan waktu untuk berpikir mau menulis apa, atau menghubungkan sesuatu dengan tacit yang memang sudah ada, itu sudah termasuk menggali. Singkat saja, kedua mengembangkan sebuah ide menjadi tulisan, dengan cara yang bervariasi: ada yang menyusun kerangka dulu, ada yang mengalir begitu saja, ada yang mengendap berhari-hari bahkan berbulan-bulan dulu, ada yang butuh stimulus dari sumber-sumber lain, yah terserah mau yang mana.

Kebanyakan orang tidak selesai melalu tahapan kedua tersebut, entah kurang motivasi ataupun inspirasi. My golden rule (maklom lagi demam sama frasa “golden rule”): menulis adalah menguraikan apa yang jadi pikiran atau pemikiran saya, sehingga dengan membacanya orang lain menangkap sepersis mungkin apa yang saya maksudkan. Tujuan akhirnya: tujuan yang saya susupkan tercapai. Tujuan itu bisa berupa: transfer ilmu, menghibur, mendapat nama baik, meningkatkan popularitas, hingga menerima hadiah/royalti. Yup, secara singkat: menulis adalah menjual pikiran (sesuatu yang orisinil) atau pemikiran (sesuatu yang sudah kita olah).

Bagaimana cara menjualnya? I guess that’s the meaning of writerpreneur. Lebih luas lagi writerpreneur dapat diartikan sebagai: penulis yang mandiri. Penulis tersebut secara mandiri menggali ide, mengembangkan, mempublikasikan, dan menerima hasilnya — tanpa melalui siklus yang ribet. 

Bisnis Tulis Menulis

Banyak orang yang hobi membaca, bahkan ada yang menjadikannya kebutuhan utama. Entah mengapa ya orang yang suka menulis itu pada dasarnya suka membaca juga, jadi penulis juga potential customer bagi penulis yang lain. Saya belum lupa dengan hal yang sering ditekankan salah seorang penulis EG yang sudah saya kenal sejak jaman kuliah dulu (yang pernah gagal bersama saya membuat duo kolaborasi fiksi), bahwa tulisan adalah produk yang sangat terdeferensiasi, sehingga setiap tulisan mempunyai pasar tersendiri.

Bukan cuma penulis dan pembaca, banyak pihak yang terlibat dalam bisnis tulis menulis, diantaranya: editor, penerjemah, penerbit, penerbit indie, toko buku, bahkan blog dengan konten yang menarik di dunia maya juga berpeluang memperoleh penghasilan dari adsense (kok bisa? baca di sini). Penulis juga membuat seseorang bisa mendapat rejeki lain, contohnya: Arief dengan akun twit Pocongg-nya, yang berkat kegokilannya menjadi seleb sekarang.

Ghostwriter: re-packing analogy

Dalam proses googling saya demi perluasan konten, ada sebuah profesi berkaitan dengan tulis menulis yang masih diperdebatkan: ghostwriter. Bukan penulis cerita hantu seperti R.L Stine, tetapi dalam bahasa Indonesia digambarkan dengan frasa “Penulis Bayangan.” Penulis tersebut menulis suatu karya, kemudian menjual karya tersebut berikut hak intelektualnya kepada pihak lain yang memiliki nama besar tetapi tidak memiliki cukup waktu (atau mungkin kemampuan) untuk menulis yang seperti itu. Mari kita abaikan adanya proses review dari yang membeli atau tidak, pertukaran uang dengan karya tersebut sah-sah saja kan. Secara ekonomi, peristiwa tersebut sama saja seperti membeli 1 kg gula pasir putih.

Ngomong-ngomong gula pasir putih (yang kita skip saja proses pembuatannya), kita jadiin contoh saja untuk menjelaskan bisnis yang bermula dari ghostwriter ini: keluar dari pabrik tanpa merek, ke distributor provinsi tanpa merek, dari distributor ke hypermart yang nge-hip (anggap saja namanya Aulia Star Market dengan harga jual yang lebih mahal daripada menjual ke pedagang lain) dan hypermart tersebut boleh mengakui gula tersebut ditanam di kebun tebunya sendiri yang eksklusif, lalu dibeli oleh kalangan atas yang belanja di Aulia Star Market itu dengan harga 2 kali lipat dari harga pasaran gula pasir putih. Apa yang membuatnya mahal? Karena dikemas dalam plastik berlabel Aulia Star Market dan seolah-olah adalah hasil dari tebu yang ditanam sendiri oleh Aulia Star Market dengan eksklusif, padahal sama saja dengan gula pasir putih yang dibeli di warung sebelah rumah Dyah :p

Apa ada yang salah kalau konsumen mau membeli 2 kali lipat harga pasar karena “suatu nama” dan “percaya” bahwa gula pasir tersebut ditanam di kebun Aulia Star Market sendiri? Ada konsumen yang merasa gula tersebut lebih manis, lebih higienis, lebih putih, walaupun sebenarnya sih biasa saja. Kalo kata Syahrini sih: sesuatu banget, hahaha… saking susahnya dijelaskan dengan kata-kata yah gula yang ajaib itu!

Yap, kira-kira seperti itulah karya ghostwriter yang dibeli seseorang yang tenar, lalu dibeli pembaca karena ketenaran nama penulis — sementara bila karya tersebut diterbitkan dengan nama asli ghostwriter nggak bakal dibeli. Ehem, mungkin nggak sih kalau ghostwriter itu punya ghostwriter lagi, sehingga dia ngambil untung saja dari menjual ke orang yang tenar???

-selesai, soalnya itu pertanyaan retoris saja :p-