Pengakuan Pendapatan: Studi Kasus Bioskop/Layar Tancep

Oleh: D.A. Rohmatika
“Jika sebuah bioskop ingin merayakan New Year’s Eve dengan memutar film tengah malam yang dimulai pukul 00.00 tepat, maka pendapatan bioskop dari film itu akan dimasukkan pada tahun tersebut yang telah berakhir atau di tahun berikutnya?”
Pertanyaan yang dilontarkan Guru Besar Akuntansi UGM, Prof. Dr. Zaki Baridwan ini sangat membuat kami-kami sang mahasiswa tingkat akhir yang mengambil mata kuliah Teori Akuntansi bingung dan merasa belum ada apa-apanya dibanding beliau (ya iyalah!). Pada dasarnya, kas sudah dikumpulkan saat tiket dijual yang tentu saja masuk ke tahun berakhir itu. Tetapi, jasa selesai diberikan di tahun berikutnya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu saja kita harus mengingat hakikat dari pendapatan itu sendiri.
Pendapatan VS Penghasilan
Pendapatan (revenue) adalah hasil dari penjualan barang atau pemberian jasa yang merupakan kegiatan utama dari perusahaan tersebut. Sedangkan penghasilan (gain) adalah segala hasil nilai tambah yang diperoleh bukan dari kegiatan utama perusahaan. Contohnya, Procter and Gamble (P&G) akan memasukkan hasil penjualan sampo Pantene dalam pendapatan, dan memasukkan selisih hasil penjualan saham dari nilai pasar saham dan nilai par saham dalam perolehan.
Pengakuan Pendapatan
Pendapatan dapat diakui dalam empat poin waktu yang didiskusikan di teori dan praktik akuntansi. Jika empat poin waktu ini terjadi, maka akan tercipta pengakuan pendapatan:
  1. Selama produksi
  2. Pada saat produksi selesai
  3. Pada saat penjualan
  4. Pada saat kas diperoleh
Apakah semua jenis transaksi di semua perusahaan masuk dalam keempat poin itu? Tentu saja tidak! Contoh berikut ini akan lebih memudahkan klasifikasi transaksi mana saja yang masuk ke poin waktu yang mana:
  1. Selama produksi, misalnya kontraktor gedung yang proses pembangunannya lebih dari satu periode akuntansi (biasanya satu periode akuntansi adalah satu tahun),
  2. Pada saat produksi selesai, misalnya industri tambang untuk penambangan logam mulia, minyak dan gas, dan lainnya,
  3. Pada saat penjualan, misalnya sebagian besar perusahaan seperti perusahaan sepatu, perusahaan mobil, perusahaan tekstil, dan semua perusahaan yang tidak masuk poin waktu 1, 2, dan 4,
  4. Pada saat kas diperoleh, misalnya penjualan angsuran (installment).
Tentu saja tidak serta merta perusahaan yang masuk dalam poin-poin itu langsung bisa diakui sebagai pendapatan. Ada syarat yang harus dipenuhi, yang disebut critical event, yaitu:
  1. Untuk kontraktor gedung, harus sudah jelas ada pembeli dan jaminan ketertagihan,
  2. Untuk industri tambang, harus sudah didapatkan hasil penambangannya, harga pasar stagnan, tidak ada biaya iklan/pemasaran yang tinggi, dan ada pasarnya,
  3. Untuk sebagian besar perusahaan seperti sepatu dan tekstil, ketika terjadi transfer of title, yang bergantung terms of sale (apakah FOB Destination atau FOB Shipping Point),
  4. Ketika kas diperoleh.
Ada pengecualian untuk beberapa kejadian seperti accretion (tumbuh karena alam). Misalnya, pohon jati yang tumbuh di kebun kita, tidak boleh diakui sebagai pendapatan ketika dia bertambah besar/tinggi selama pohon tersebut tidak ditebang dan dijual.
Jawaban Pertanyaan
Jadi, untuk pertanyaan tentang bioskop di paling awal artikel ini,
“Jika sebuah bioskop ingin merayakan New Year’s Eve dengan memutar film tengah malam yang dimulai pukul 00.00 tepat, maka pendapatan bioskop dari film itu akan dimasukkan pada tahun tersebut yang telah berakhir atau di tahun berikutnya?”
Jawabannya adalah:
Ketika jasa pemutaran film oleh bioskop itu sudah selesai diberikan, baru pendapatan bisa diakui (berdasarkan prinsip akrual). Jadi, pendapatan film itu akan dimasukkan pada tahun berikutnya.
Tapi pertanyaannya tidak berhenti di situ saja,
“Jika film itu durasinya dua jam, dan diputar pada saat pukul 23.00 yang tentu saja akan selesai pukul 01.00, bagaimanakah pengakuan pendapatannya? Apakah harus datu jam masuk ke tahun sebelumnya, dan satu jam lagi masuk tahun berikutnya?”
Jawabannya adalah:
Untuk pemutaran film oleh perusahaan bioskop yang termasuk jasa jangka pendek, pendapatan dari pemutaran satu kali film itu jika satu jam dimasukkan tahun ini dan satu jam dimasukkan tahun depan, termasuk immaterial. Jadi, bisa dimasukkan ke tahun sebelumnya saja atau tahun berikutnya, dengan penjelasan/catatan/notes.
Jadi, beginilah sekilas pelajaran tentang revenue recognition yang pernah diajarkan oleh Guru Besar Akuntansi UGM, Prof. Dr. Zaki Baridwan. Diskusi tentang revenue recognition, dengan resmi DIBUKA!!!

Sulitnya Memahami Dirimu: Panduan Sekilas Memahami Laporan Keuangan

Cinta itu timbul dari pemahaman. Nggak paham maka nggak sayang, betul nggak? Seringkali kita tuh jatuh cinta sama orang yang memahami kita bukan??? So, gimana caranya memahami agar mencintai lembar-lembar laporan yang isinya angka-angka dan bikin pusing itu? Ada makna katanya dibalik semua angka dan beberapa patah kata yang ada di sana, walaupun nih yah bagi sebagian orang: angka dan kata itu hanya bermakna tunggal: musingin!!! Karena ada yang request nih (ahahahaha…. somse banget pake ngeles ada yang request), maka dengan selapis ilmu yang tercantol di kepala dan beberapa pembelajaran kembali, yuk yuk yuk kita ungkap caranya….

Bahan-Bahan Dasar1

Ngemeng-ngemeng soal memahami, bukannya nggak niat juga sih, tapi bingung, harus mulai dari mana yak? Betul??? Pernah kita bahas tentang tujuan laporan keuangan dan jenis-jenis laporan keuangan* dalam ABC of Accounting, monggo disimak.
*penjelasan menggunakan konteks umum yaitu laporan keuangan perusahaan swasta; bukan banking, non-profit, atau pemerintah. 

Sebuah laporan (ada juga yang menyarankan untuk menyebutnya statemen, akan kita bahas kemudian tentang istilah tersebut), terdiri atas elemen-elemen. Elemen merupakan gambaran besar, yang secara rinci terdiri dari pos-pos (item). Ibarat peta, suatu wilayah bisa kita samakan dengan statemen; lalu tanda jalan, jembatan, gunung, dsb dapat kita samakan dengan elemen. Sementara nama-nama jalan itu disamakan dengan pos.

Ada 10 macam elemen dari statemen keuangan: aset, kewajiban, ekuitas, investasi oleh pemilik, distirbusi ke pemilik, laba komprehensif, pendapatan, biaya, untung, rugi; dan seringkali ditambah 3 lagi: aliran kas dari kegiatan operasi, aliran kas dari kegiatan investasi, dan aliran kas dari kegiatan pendanaan. Elemen tersebut kemudian dirinci lagi dalam pos-pos, contoh: aset dirinci dalam pos kas, persediaan, aset tetap, dsb.

Kira-kira harus ngerti nih yang beginian:

Benchmark-nya apa?

Pernah nggak sih kalau pacaran berantemnya gini: kamu berubah, dulu kamu nggak begini! Berarti kita lagi mem-benchmark si pacar dengan dirinya sendiri di masa lampau. Atau seperti ini: mendingan juga si Yoga, dia itu nggak seperti kamu yang begini! Bisa dibilang kita bandingin dengan waras kalau si Yoga itu cowok dan pacar kita itu juga cowok, dan mengapa tiba-tiba kita bandingin sama Yoga? Bisa jadi karena Yoga itu cowok yang menurut kita paling keren (market leader), atau dulu kita punya saham di Yoga atau ada rencana mau balik sama Yoga. Ya, gitulah. Laporan keuangan juga semacam gitu. Info yang ada di laporan keuangan itu kalau nggak dibandingin ke mana-mana ya buat apa juga kita orak-arik, terima saja apa adanya.

Naik-Turun

Udah tau pos yang mau dianalisis, udah tau benchmark yang mau dipakai, terus apa? Naik dan turun. Just like that, dalam konteks bandingin sama tahun lalu kita pengen dapat gambaran tentang kenaikan dan penurunan suatu pos dari tahun lalu.

Caranya mudah, membandingkan angka tahun ini dan tahun lalu. Contohnya: kas. Misalnya: tahun ini 4 juta, sementara tahun lalu 3 juta. Selisihnya = 4 – 3 = 1 atau naik 25%. Bila menurut kita 25% itu material (penting banget karena bedanya kita anggap besar), bisa dicari tau kenapa kok bisa begitu. Umumnya (secara teori sih) bisa kita kaitkan dengan yang lainnya) misalnya piutang dagang mengalami penurunan sebesar 1 juta juga, nah bila hal ini dapat dipastikan kebenarannya, dapat disimpulkan lonjakan 1 juta kas itu berasal dari pelunasan piutang dagang yang lebih lancar tahun ini. Untuk memastikan hal tersebut tentunya butuh waktu, dan biasanya dilakukan oleh auditor.

Dalam konteks bandinginnya dengan market leader di industri yang sama, atau dengan perusahaan dalam bidang sejenis yang ingin dibandingkan, lebih enak kalau menggunakan rasio.

Rasio  

Apa lagi tuh? Ga seribet rumus fisika kok. Rasio adalah perbandingan-perbandingan yang mengandung arti gitu (dalam konteks keuangan). Kok bisa ya laporan keuangan perusahaan yang satu dibandingkan dengan yang lain dan valid nggak tuh kalau dibandingin? Kalau penyusunan laporan keuangannya sama-sama sudah sesuai dengan standar, valid-valid aja.

Lebih dalam pembahasan rasio bisa didalami lewat buku teks atau googling, sekilas bisa lihat di Wikipedia (klik untuk link-nya), contoh cara pakainya gini: kita pakai rasio lancar (current ratio). Rasio ini membandingkan aset lancar dengan kewajiban lancar. Gunanya untuk mengetahui likuiditas keuangan jangka pendek, kalau aset lancar dengan kewajiban lancar sebanding (bila dibandingkan hasilnya satu) atau lebih dapat diartikan nggak ada masalah dalam pembayaran hutang jangka pendek. Apa yang harus kita lakukan? Kita hitung rasio lancar perusahaan A, anggap saja hasilnya 0,8. Lalu perusahaan B, anggap saja hasilnya 1,2. Jadi, misalnya kita mau ngasih hutang jangka pendek, pasti lebih prefer ngasih ke perusahaan B daripada A, soalnya rasio lancarnya lebih bagus. Tapi nggak menutup kemungkinan dikombinasikan dengan analisis lainnya dulu sebelum ada keputusan begitu.

—–

Finish! Kira-kira begitulah temans >.< boleh kalau ada yang mau mengembangkan lebih lanjut tentang: rasio-rasio keuangan ataupun pembahasan tiap elemen laporan keuangan loh :)

Referensi: 

1Suwardjono. Teori Akuntansi: Perekayasaan Laporan Keuangan. Jogjakarta: BPFE-Yogyakarta, 2008. hlm 181-183

Less Pain More Gain yang nggak menyesatkan!

No Pain No Gain. Untaian kata ini udah sering lah kita denger, bahkan kita juga mengiyakan bahwa memang bener kok kayak gitu. Banyak hal yang dikaitkan dengan ide ini, dari kita lahir pun kita sudah belajar tentang kesaklekan teori ini. Merangkak hingga berjalan, kita mampu karena jatuh. No pain no gain. Belajar sepeda juga gitu, nggak langsung bisa. No pain no gain. Sekolah, ga belajar maka ga naik kelas. No pain no gain. Kerja juga, mau gaji gede harus tunjukkan prestasi. No pain no gain.


Ada nggak seeeeeeh yang no pain but gain??? *xixixi… ada nggak ya? Ehm… ini terbukti loh, saya udah googling, adanya sih LESS pain MORE gain… Well, sebenarnya juga sih *aih, mao ngaku apa coba…* mau menyambung artikel yang ada di EG (Ekonom Gila) yaitu: Menguak Mitos Prinsip “mengeluarkan biaya serendah-rendahnya memperoleh pendapatan setinggi-tingginya”.

Biaya dan pendapatan 

Kita bahasakan “less pain more gain” menjadi bahasa yang ekonomi “less expenses more earnings” (biaya serendah-rendahnya dan pendapatan setinggi-tingginya). Siapa sih yang nggak mau? Ya kan?

Untuk memudahkan kita berpikir, butuh asumsi di sini bahwa hasil yang dibicarakan bersifat keuangan belaka *xixixi kok jadi kayak film yang sering nyebut fiktif belaka ya* dan tidak termasuk yang intangible seperti goodwill.

Logikanya, tak ada hasil (pendapatan) bila tak ada upaya (biaya), bukan sebaliknya: ada pendapatan baru ada biaya. Suwardjono juga bilang begitu:

kesatuan usaha harus menghasilkan atau menyediakan barang atau jasa untuk menciptakan pendapatan dengan cara menyerahkan atau menukarkan barang/jasa tersebut.

 Laba yang nggak menyesatkan!

Secara ekonomi, hasil dan biaya tersebut ditandingkan, diliat yang mana yang lebih gede. Ya, ini mah jaman SMA kita juga udah dapat logikanya, bahkan kalo di rumah ada warung yang kita jagain, jaman udah bisa hitungan kita juga udah tau kalo pendapatan lebih gede dari modal (biaya), ya untung (laba). 

Jual beli dan produksi dengan frekuensi yang tinggi, menyebabkan hal mudah ini tak lagi mudah. Menghitung laba menjadi tidak semudah mengurangkan pendapatan dari penjualan dengan biaya yang dikeluarkan. Paling ideal, biaya untuk pendapatan tersebut harus matching *ya gitu deeeh… kayak baju harus matching sama tas dan sepatu… woakakaka…* Ehm, berhubung kitab sakti saya buku Suwardjono, jadi saya mao ngutip lagi: 

diperlukan dasar asosiasi yang tepat dan rasional antara kedua komponen tersebut agar laba mempunyai makna atau nilai sebagai pengukur kinerja yang terandalkan.

Logika Akuntansi untuk Laba 

Laba yang tepat dan rasional tentunya yang bener “sebener-benernya” pengukuran biaya dan pendapatannya. Untuk perusahaan yang berkegiatan terus menerus, biasanya mengalami beberapa hambatan dalam hal pengukuran dan pelaporannya:

  • Biasanya kan laporan keuangan dibuat bulanan tuh, kalau produksi 1000 barang, tapi yang terjual (pendapatan) hanya untuk 100 barang, gimana? *nyablak banget ya, secara ene bukan textbook jadi gpp ea… 

Solusi akuntansi: kos perioda. Untuk memudahkan pendapatan untuk 100 barang ditandingkan dengan biaya untuk 100 barang, sementara 900 barang sisanya dianggap aset (tepatnya pos persediaan). Namun, bukan berarti logika ada pendapatan baru ada biaya berlaku ya. Bedanya adalah ada biaya yang telah diakui (100 barang) dan yang belum diakui (900 barang yang dianggap persediaan). 

  • Hampir sama sih: ada biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi untuk masa waktu tertentu (contoh aja sewa mesin deh 1 tahun sebesar 12 juta dibayar tunai bulan ini), tapi nggak semua dong langsung dijadikan biaya, bisa nggak punya laba bisa-bisa bulan ini…  

Solusi akuntansi: dasar akrual. Asumsikan, produksi tiap bulan rata-rata sama banyak, maka nggak masalah (masuk dong logikanya) kalau kita mau bagi 12 biaya 1 tahun tersebut sebagai biaya bulan ini. Hanya 1 juta yang menjadi biaya bulan ini sementara 11 juta sisanya dianggap aset (tepatnya pos akrual atau biaya dibayar di muka). Nah, tiap bulan akuntan akan mengurangi pos akrual dan menjadikannya biaya (ini namanya di-depresiasi). 

  • Lebih rumit lagi, kebalikan dari contoh 2: uang sewa mesin bayarnya bulan depan aja, si boss bisa nego karena sekarang lagi nggak ada duit, tapi biaya bulan ini kan? Gimana neh melaporkannya?  

Solusi akuntansi: penangguhan (deffering). Tetap dong kita perhitungkan 1 juta tersebut menjadi biaya bulan ini, sebagai tandingannya 1 juta tersebut dianggap kewajiban (tepatnya pos beban tangguhan). 

  • Yang jarang terjadi, mungkin saja karena kompetitor kita satu-satunya ngalamin musibah dan nggak bisa beroperasi lalu semua konsumen beralih kepada kita. Gila, laba menanjak tajam nih, tapiiii kan ini mungkin hanya terjadi sekali dalam seabad…  

Solusi akuntansi: pos luar biasa. Kita laporkan laba itu sebagai untung luar biasa (windfall gains) sehingga nggak bikin rancu. Sebaliknya bila mengalami rugi luar biasa (extraordinary losses) juga dapat dilaporkan terpisah dari biaya biasa. 

Kesimpulan yang sesuai dengan judul:
Jadi, less pain more gain (alias laba segede-gedenya) boleh saja, asal perhitungannya benar sehingga nggak menyesatkan (nggak bikin kecele) pengguna laporan keuangan. Kalau tak cukup baca sekali untuk memahami solusi akuntansi, kita sama. Jangan sedih ya… cup cup… xixixi…


Acuan dan kutipan:
Suwardjono, Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan (Yogyakarta: BPFE, 2008), hlm. 234 – 238.


– hasil perenungan dan penulisan kembali apa yang telah dibaca, semoga dapat menjadi rintisan Accounting for Idiots versi Ekonom Gila –