Segmentasi Diferensiasi Kyai

Oleh: Yoga PS 
Zaman dahulu, kita hanya mengenal filsafat sebagai induk seluruh ilmu pengetahuan. Mother of knowledge.Tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Khawarizmi, dan tokoh2 baheula dikenal sebagai ahli disegala bidang. Mulai politik, pengetahuan alam, biologi, seni, social budaya, hingga hukum. Namun zaman terus berubah. Tuntutan kompleksitas pengetahuan memaksa kita menggolongkan pengetahuan menjadi kamar-kamar yang lebih kecil.
Pengetahuan mengalami spesialisasi. Pengelompokan menjadi sub-bagian yang lebih spesifik. Ilmu pengetahuan alam digolongkan fisika, kimia, biologi (SMA bangettt), atau ilmu social masih bisa dibagi lagi menjadi ekonomi, politik, antropologi, sosiologi, gigologi (zzzzzzz) dan masih banyak lainnya. Lantas apa hubungannya dengan Ustadz yang ahli agama? Yang jelas bukan hubungan intim (astaghfiruloh kakak…), atau hubungan kelamin (inget puasa kakak…). Bukan juga hubungan *&*&#*@ (sorry terpaksa disensor).
Marketing Dakwah
Coba antum perhatikan televisi. (Cieeh. Antum…) Oke cuk, coba perhatikan televisi atau jalan2 ke toko buku. Tapi jangan toko buku porno ya (mulai deh…). Kita akan menemukan sebuah spesialisasi dakwah. Dalam artian, ustadz zaman sekarang memiliki kekhususan bidang dakwah yang digeluti.
Yusuf Mansur terkenal dengan anjuran sedekah. Abu sungkan dengan terapi sholat khusyu’. Quraisy Shihab konsisten dengan tafsir qur’an. Ary Ginanjar dengan ESQ untuk kalangan eksekutif. Arifin Ilham dengan majelis dzikir yang mengharu-biru. Uje ustadz Jeffry dengan gaya gaul dan bintang iklannya, atau Aa Gym dengan anjuran poligaminya (kalo ini Cuma bercanda hehehe.. sorry A’).
Trennya apa: Sudah ada diferensiasi dalam “memasarkan” dakwah!!! Ustadz-ustadz ngetop zaman sekarang lebih terfocus pada salah satu aspek dalam islam, menciptakan diferensiasi dan nilai tambah, serta “memasarkan”-nya dengan sangat baik. Apakah salah? Tentu tidak. Toh, dakwah itu perlu pemasaran!. Dakwah itu artinya panggilan. Iklan itu juga dakwah. Karena berasal dari bahasa arab I’laan yang berarti pengumuman.
Segitiga PDB
Menjadi Da’I ngetop hampir seperti menjadi artis. Ia harus mampu menghibur dan membuat pendengar terkesan. “Konsumen” (dalam hal ini jamaah) juga mengalami segmentasi. Ibu-ibu lebih doyan dengan gaya “Mamah curhat donk…”, atau yang suka melambai-lambai, “jamaaaahhh… ooh… jamaahhhh”. Yang dimongin ya masalah rumah tangga dan kelakuan bejat suami.
Sedangkan segmen remaja lebih sreg dengan model ustadz gaul dan ganteng lengkap dengan nyanyi-nyian dan pertanyaan standar sejuta zaman: “Bagaimana hukum pacaran dalam Islam???”. Kadang-kadang ada juga yang tanya bahasa arabnya I love U. Biar jadi pacaran syariah katanya. Ada-ada aja. Haha.
Sementara kalangan eksekutif paruh baya ada yang lebih menyukai pendekatan klasikal spiritual. Ceramah di hotel berbintang. Pake sound system megah. Visualisasi wah. Ada nangis-nangisnya segala. Ga tau nangis beneran atau nangis karena udah bayar mahal-mahal dan ternyata ngerasa biasa aja.
Jika Anda sedang ikutan Pildacil (Pemilihan Dai Licik :p) saya sarankan untuk menciptakan segitiga PDB (Positioning, differensiasi, dan brand) Anda sendiri. Yang unik, otentik, dan sukar ditiru. Sedikit nyontek teori marketing, positioning adalah citra yang ingin Anda ciptakan di benak jamaah. Diferensiasi adalah pembeda, apa yang membedakan Anda. Sedangkan brand adalah “merk” atau nama yang ingin Anda jual.
Contohnya Yusuf Mansur. Positioning: ustadz sedekah. Diferensiasinya jelas: ceramah pake humor dan testimony pelaku sedekah. Hasilnya, brand ustadz yusuf Mansur ahli sedekah. Inget sedekah, inget Yusuf Mansur.

Jika saya ingin jadi ustadz ngetop, saya harus tampil beda. Ga akan sukses kalau Cuma ngekor yang sudah ada. Karena sudah banyak yang ngebahas rahasia sholat, maka saya pengen jadi ustadz yang menyingkap rahasia TIDAK sholat. Wah pasti rame kayaknya.
“Kejaiban Tidak Sholat..” wuiihh judul buku calon best seller tuh. Tapi siap-siap juga jadi calon babi guling buronan FPI. Hehehe.
Kyai Kampung
Berbeda dengan ustadz gaul dan ngetop di layar kaca, selalu ada tempat untuk “kyai kampung” di hati saya. Pembela agama Allah yang sesungguhnya. Saya masih mengingat jasa Cak Dji dan Cak Toha, guru ngaji saya dulu. Mereka tidak dibayar. Tidak juga terkenal. Mereka hanya guru ngaji biasa di musholla dekat rumah saya.
Saya masih ingat betul ketika diperkenalkan dengan si alif, ba, ta, dan rombongannya. Merangkai kalimat. Menghapalkan ayat. Lalu ada pelajaran tentang sholat. Mencari arah kiblat.
Mereka menyampaikan Islam tanpa “diferensiasi” macam-macam. Islam ya Islam. Lengkap dengan akidah, syariah, dan muamalah. Ada rukun agama, ada rukun iman. Ada surga, ada neraka. Ceramahnya biasa saja. Tidak membuat saya tertawa. Atau menangis tersedu-sedu didalam dada. Semua disampaikan dengan sederhana. Tapi justru semakin mengena.
Karena sesuatu yang disampaikan dari hati, akan sampai ke hati.
Semoga amal mereka dibalas di hari akhir nanti.