F-Biz (Football-Business, sok-sok ngikutin E-Biz or Show-Biz)

Oleh: Priyok

Sebagai olahraga yang paling digandrungi di seluruh dunia. Sepakbola kini telah berubah sepenuhnya dari sekedar olahraga yang berurusan dengan tending-menendang bola, menjadi pertarungan memperebutkan utang, investasi, sponsorship, dan hal-hal yang berkaitan dengan uang lainnya. Mungkin kita hanya melihat bagaimana Messi memainkan bola, Ronaldo dengan liukannya, Eto’o yang menceploskan bola ke gawang lawan, atau Jimmy Napitupulu yang dalam pertandingan yang dipimpinnya, disuruh berhenti oleh Kapolda Jateng.

Namun dibalik itu semua, sosok seperti Sensi, David Gill, Peter Kenyon, Florentino Perez, ataupun Umuh Muchtar sedang melakukan pertandingannya yang lain. Bagaimana caranya klub yang mereka kelola bisa selamat secara keuangan. Karena belum tentu klub yang secara prestasi menggembirakan, mempunyai daya going concern yang cukup. Masih ingat ketika Lazio mendapat scudetto tahun 1997?Tak lama kemudian, nama-nama seperti Crespo, Veron, Sergio Conceicao, dan legenda mereka, Nesta, dijual untuk menutupi utang mereka. Dan Lazio pun dalam kancah persepakbolaan dewasa ini hanya menjadi tim medioker.

Lebih tragis lagi sebenernya menimpa klub-klub di Indonesia. Kita ambil contoh PSIS Semarang dan PSPS Pekanbaru. Tak terduga, PSIS yang sama sekali tak diunggulkan menjuarai Liga Indonesia di Manado dengan mengalahkan Persebaya lewat gol tunggal “Maradona” di akhir injury time. Di awal musim berikutnya, seretnya uang membuat klub ini menjual bintangnya, sehingga musim berikutnya mereka terdegradasi.

Kita di sini akan membahas sedikit tentang bisnis sepakbola. Basic pendapatan sebuah klub sepakbola biasanya terdiri dari kategori : marketing, tiket, dan television. Revolusi industri sepakbola dimulai awal 2000an. Dulu, semua klub hanya memiliki mindset bahwa untuk menggenjot pemasukan, maka tiket adalah panglimanya. Dari situlah inovasi-inovasi tentang dunia pertiketan dan pengembangan stadion secara besar-besaran dilakukan, pembangunan stadion baru tercatat melonjak di rentang tahun 1985-1995, era dimana tiket menjadi panglima (Data FA, 2007). Di era F-Biz modern, tiket, walau masih menjadi salah satu pilar pendapatan, tak lagi menjadi panglima. Mindset tentang bisnis klub sepakbola telah berubah. Para financial engineer di sepakbola telah menyadari kalau merek mereka ternyata memiliki nilai yang sangat luar biasa. Bahkan merek mereka lah sebenarnya generator pendapatan mereka. Mulai lah mereka mengeksploitasi merek mereka dengan cara inovasi merchandise, penguatan komunitas pendukung klub, dan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang walau tak nyambung dengan sepakbola, tapi dilakoni juga.

Masuklah kita hari ini ke dalam era marketing football. Di mana sepakbola bukan lagi menjual kemenangan demi kemenangan. Tapi menjual merek. Dengan merek tersebut pendapatan dari televisi pun mengalir. Tak hanya berjualan merek di apparel yang mereka buat. Merek-merek itu sekarang juga merambah pesawat, café, bahkan ketika anda membeli pulsa untuk hape anda. Joan Laporta pernah keceplosan. Biar lah klub ini tak menjuarai gelar apapun, karena itu siklus. Tapi tidak dengan neraca kami. Karena dialah kunci kebangkitan kami. So see…

Laporan dari Deloitte menunjukan bahwa sebagian besar pendapatan klub-klub besar dunia seperti Real Madrid, Barcelona, atau MU diperoleh dari pendapatan marketing (saya lagi malas hitung rata-ratanya, tapi FYI Real Madrid mencapai 48.3%). Ini mungkin menjawab kenapa klub-klub sepakbola dari Inggris sebagai kiblat industri sepakbola kini sering menjalani tur ke belahan negara lain tak lain dan tak bukan adalah untuk memperkuat merek mereka. Bahkan klub sekelas Everton kini sudah memulainya dengan menancapkan basis pendukung di Thailand. Sehingga pantas sepakbola masuk dalam kategori genre bisnis tersendiri : F-Biz. Gabungan dari kekuatan merek dan marketing yang massif.

Namun dibalik hingar bingar dunia sepak bola, sebenarnya F-Biz adalah bisnis yang tidak terlalu menguntungkan kecuali mendapatkan popularitas. Laporan Deloitte terbaru menempatkan Real Madrid sebagai klub dengan pendapatan tertinggi di dunia. Tahu berapa besar pendapatannya?hanya 438.6 juta Euro. Kok hanya?ya kalau dirupiahkan hanya sekitar 4,5 Trilyun. Pendapatan lho, bukan laba. Dengan segala glamour yang dimilikinya, klub dengan pendapatan tersebar di dunia tersebut masih kalah dengan PT Waskita Karya yang pemasukannya lebih dari 6 Trilyun!!!!Hebat juga BUMN kita yang satu itu, bisa ngalahin Real Madrid.hehehe. wajar sebenarnya kalau dibilang investasi di sepakbola dibilang tidak terlalu menarik

Saya sebenernya ingin bicara banyak tentang industri sepakbola dari berbagai sudut pandang, termasuk tentang sepakbola Indonesia. Tapi lain kali lah. Segini saja dulu berkenalan tentang F-Biz.