Semoga ide turun dari langit

Oleh: Thontowi

“Apa sih kunci supaya kreatif?”, menurut saya kreatif bekerja bukan seperti mukjizat yang turun dari langit. Ada berbagai proses dan coincident dari sifat kreatif itu sendiri. Inti dari proses kreatif adalah ketika kita (1) menemukan suatu masalah lalu menganggapnya sebagai suatu masalah, (2) memiliki pengetahuan (knowledge) yang mendasari proses pengembangan solusi, (3) dan berfikir divergen (bentuk pemikiran terbuka, yang menjajagi macam-macam kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah-Guilford,1986). Pada sebagian besar proses kreatif yang produktif (mampu menghasilkan produk nyata) dibutuhkan pula trial-error yang cukup banyak dan tentu saja menuntut kesabaran, keuletan, dan fokus.  Ironisnya sikap fokus ini adalah inti dari berpikir konvergen yang merupakan kebalikan dari sikap berpikir divergen. Jadi, orang-orang yang berhasil menghasilkan suatu inovasi adalah orang-orang yang tetap bisa menjaga sikap berpikir divergennya ketika ia fokus dalam menghadapi suatu masalah (konvergen).

Kondisi pertama mungkin terlihat mudah, setiap hari kita mungkin berhadapan dengan berbagai masalah. Namun seberapa jauh kita menganggap hal tersebut sebagai suatu masalah? Sebagian besar dari kita bersikap pasif, abai, acuh, atau hanya sekedar mengutuk masalah tersebut.  Sebagian besar dari kita menganggap masalah tersebut sebagai suatu hal yang normal, wajar, atau dapat diterima. Sebelum Wraight bersaudara menemukan embrio pesawat, berjalan di darat adalah suatu hal yang normal dan dapat diterima. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti berjalan di darat menjadi suatu hal yang aneh.

Knowledge yang dimaksud dalam poin kedua tidak harus merupakan pengetahuan yang kita dapat secara formal di sekolah. Kearifan lokal, budaya, kebiasaan, pengalaman dapat menjadi sumber dari pengetahuan dalam proses kreatif. Pencampuran berbagai disiplin ilmu dan pendekatan juga akan mendukung dihasilkannya proses kreatif. Tim heterogen yang terdiri dari orang-orang yang memiliki berbagai macam disiplin ilmu tentu akan lebih kreatif dibanding dengan tim homogen yang yang hanya terdiri dari satu disiplin ilmu.

Berpikiran terbuka adalah poin ketiga dari sifat kreatif. Kita harus mampu menggali setiap kemungkinan yang ada.  Terkadang proses kreatif tidak memerlukan poin satu (menemukan masalah). Pelukis, sutradara, artist, termasuk dalam kategori ini. Mereka yang mampu berpikir out of the box, diluar dari kebiasaan, dan terkadang gila. Hasil dari proses kreatif ini juga bukan berupa penyelesaian masalah namun lebih mengarah ke keindahan dan kecantikan.

Hasil dari sebuah proses kreatif itu sendiri memiliki berbagai macam kemungkinan, beberapa yang dapat saya petakan dapat dilihat sebagai berikut :


1. Menggabungkan berbagai fungsi dalam satu alat. Contoh paling mudah adalah handphone atau saat ini lebih dikenal sebagai smartphone, gabungan dari telepon, kamera, recorder, netbook, dsb.

2. Mensimplifikasi bentuk, memperkecil, memperingkas

3. Subtitutes, sebagai alternatif pengganti yang memiliki nilai lebih
4. Complementer, sebagai pelengkap suatu produk.  Inilah yang membuat proses kreatif dan inovasi tak akan pernah berhenti. Setiap penemuan sebuah produk baru akan menimbulkan masalah dan kebutuhan yang baru.  Mouse muncul karena adanya komputer, kaus kaki muncul karena adanya sepatu.
5. Meningkatkan performa produk sesuai atributnya (kecepatan, kekuatan, ketahanan)
6. Desain inovatif, indah, cantik. Ini merupakan hasil dari proses kreatif yang lebih didasari oleh sikap berpikir terbuka (3) dibanding penyelesaian masalah (1).
Sifat kreatif lebih mudah muncul pada lingkungan yang mendukungnya.  Lingkungan macam apa yang mendukung proses dan sifat kreatif?

1. Lingkungan yang memiliki berbagai keterbatasan cenderung meningkatkan sifat kreatif, keterbatasan merupakan sumber dari masalah, dan masalah adalah sumber dari kreativitas. Selain itu seperti disebutkan di atas, lingkungan yang heterogen cenderung meningkatkan kemungkinan munculnya proses kreatif dibanding linkungan yang homogen.

2. Lingkungan yang memiliki aturan terlalu ketat cenderung menghambat proses kreatif, namun tak jarang lingkungan seperti itu pula yang merangsang seseorang berpikir kreatif (untuk mengakali aturan-aturan tersebut). Contohnya adalah cracker (hacker), koruptor, dan “siswa-siswa cerdas” termasuk dalam kategori ini. Kata mutiara “aturan dibuat untuk dilanggar” sepertinya cocok dengan kondisi ini.

3. Setiap anak terlahir kreatif. Saya meyakini hal tersebut. Terkadang saya berpikir bahwa apabila saya dilahirkan pada era renaissance  saya mungkin bisa menjadi penemu hebat. Seringkali ketika saya berpikir telah menemukan hal baru ternyata hal tersebut sudah ditemukan oleh orang-orang sebelum saya. Menurut saya penemu adalah orang-orang  yang dilahirkan di zaman yang tepat dengan kreativitas yang tepat. Banyak orang-orang yang dianggap gila dan akhirnya dibunuh akibat ia kreatif pada masa yang salah. Mungkin hal tersebut terlalu ekstrim untuk zaman ini tapi ternyata pembunuhan tersebut masih ada walaupun dalam bentuk lain. Pembunuhan karakter kreatif. Seorang anak yang saat ini menemukan teori gravitasi akibat melihat apel jatuh dari pohon mungkin akan dianggap biasa saja (karena hal tersebut telah ditemukan sebelumnya), padahal anak itu mungkin melakukan proses kreatif yang sama dengan yang dilakukan Newton. Terkadang kita tak sadar bahwa pengetahuan kita saat ini bila tidak dikelola dengan baik justru akan menghambat sifat kreatif seorang anak untuk berkembang. Kuncinya adalah kita harus menjaga agar proses kreatif tidak dibatasi oleh masa lalu, pemahaman kekinian, dan didukung dengan reward yang sesuai.

4. Untuk poin keempat ini saya sebenarnya ingin menulis bahwa lingkungan ramah terhadap proses kreatif adalah lingkungan yang tidak mengedepankan standar. Namun ternyata standar memang diperlukan dalam proses kreatif itu sendiri pada fase tertentu. Tidak lucu kan kan kalo suatu saat kita membeli roti satu dan roti yang lain yang sama ternyata bervariasi bentuk dan rasanya. Jadi lingkungan yang ramah terhadap proses kreatif adalah lingkungan yang menempatkan sifat kreatif dan standar pada fase yang sesuai. Pada fase pembentukan ide, brain storming , sifat kaku dan acuan terhadap standar harus diminimalkan seminimal mungkin. Namun pada fase produksi , pengawasan, standar, dan aturan yang ketat harus tetap diberlakukan.

Mungkin memang benar ide, dan kreativitas itu turun dari langit. Namun selalu ada caraNya untuk menyampaikan ide itu kepada kita.