“Keluhan” Karl Marx

Oleh: Aulia Rachman

Hari ini entah mengapa tiba-tiba pengen menulis soal Karl-Marx dan sedikit teorinya. Terutama teori nilai lebih Karl Marx yang Dia cetuskan dan menjadi sebuah postulat atau dalil kaum sosialis/komunis dalam mengambil sikap berseberangan dengan kaum kapitalis. Ngomong-ngomong soal “kapitalis”, saya sendiri tidak sepakat sih kalau kapitalis yang menjadi “musuh” Karl Marx ini.  Saya sebenarnya punya pembahasan sendiri soal “kapitalis” ini. Tapi untuk memudahkan logika umum/populer para pembaca, penulis coba ikuti saja logika populer yang berkembang selama ini. Oke, sosialisme/komunisme vs kapitalisme. Di akhir penulis coba-coba mengkritik dengan logika yang mudah gagasan Karl Marx ini. Mengapa Karl Marx? saya pikir ini adalah salah satu tema yang jarang dibahas oleh anak ekonomi di kampus-kampus Indonesia.

Baik, sebenarnya apa sih gagasan Karl Marx? Sederhananya begini,
Karl Marx merasa para Kapitalis lah yang bertanggung jawab atas kemiskinan para kaum buruh dan masyarakat pada umumnya. Para kapitalislah yang menyebabkan adanya sebuah kesenjangan antara pemilik modal dan yang tidak memiliki modal (buruh). Ujung-ujung tercipta lah sebuah perbedaan kelas antara si kaya dan si miskin.
Dari mana kesenjangan ini muncul? Nah, dari sini lah kita bisa memulai pembahasan soal nilai lebih Karl Marx yang saya sebutkan di awal tadi. Awalnya Karl Marx berpikir bahwa di kehidupan berekonomi kini ada dua elemen penting yang berputar di pasar, mereka adalah 1)uang yang dilambangkannya dengan M dan 2) jenis komoditas tertentu atau nilai guna dari segala sesuatu, dilambangkannya dengan C.
Cerita dapat bermula dari seseorang bernama Pak Anto. Bukan seorang pemodal, pekerja dan rakyat biasa-biasa saja. Suatu saat dia ingin membeli laptop, maka Pak Anto butuh duit, lalu pak Anto kerja jadi tukang kayu, Pak Anto dapat upah/gaji, akhirnya Pak Anto membeli Laptop.
Di sini dapat kita lihat:
1.       Kemampuan/nilai guna Pak Anto sebagai tukang kayu = C
2.       Upah/gaji Pak Anto = M
3.       Laptop = C
Jadi siklus oleh para rakyat jelata (salah satunya Pak Anto) adalah CM C
Lalu di kota yang sama ada yang namanya Pak Aulia, pemodal besar, anak bangsawan, keren, ganteng, cakep, intelek, banyak yang naksir (gak penting banget!).  Pak Aulia ini punya bisnis mebel dan alat rumah tangga dari kayu. Kalau kata Karl Marx, si Aulia yang kapitalis ini punya siklus C – M yang berbeda di pasar. Karena dia adalah pemodal, maka siklusnya dimulai dari M. Si Aulia investasi uang M di bisnis kayu, mencari tenaga kerja yang punya nilai guna (C), eh dapatnya si Pak Anto dan ujung-ujungnya si Pak Aulia dapat uang (M) lagi ditambah profit. Uang lagi ditambah profit ditandai Karl Marx dengan M’
Di sini kita dapat lihat siklusnya Pak Aulia:
1.       Modal alias duit (M)
2.       Dengan duit bayar gaji Pak Anto dan mendapatkan nilai guna Pak Anto (C)
3.       Duit lagi ditambah profit (M’)
Jadi siklusnya adalah MCM’, selisih antara M dan M’ adalah nilai lebih. Ini adalah kata kunci argumen Karl Marx ini. (Para pembaca belum pusing kan dengan munculnya M, M’ dan C? hehehhe)
Nah, kalau digabung ceritanya antara Pak Anto dan Pak Aulia ini kita bisa lihat gambar di bawah
(aduh tambah pusing ya???)
Ingat kalau cerita diawali oleh keinginan Pak Anto untuk membeli laptop bukan? Sayang seribu sayang, menurut Karl Marx, si Aulia gak akan memberikan gaji (M2) pada Pak Anto dengan layak dan cukup untuk beli laptop. Si Aulia yang kapitalis ini hanya akan memberikan gaji pas-pasan buat Pak Anto, hanya untuk sekedar bertahan hidup dan makan. Lalu keinginan Pak Anto untuk membeli Laptop tidak akan pernah terwujud. Untuk makan aja sulit, ini mau beli laptop?! Tidak akan ada kelebihan M Pak Anto dalam hidupnya
Sebaliknya si Aulia yang ganteng satu ini, dari usaha kayu akan mendapat keuntungan yang lebih banyak. Setelah menggunakan M1 untuk membayar gaji ke Pak Anto, maka dia akan mendapat M1’ sejumlah yang lebih banyak dari M1. Pada akhirnya si Aulia berjaya, tambah ganteng, tabah kaya, tambah intelek (beli obat pinter), dan tambah banyak yang naksir. Seandainya dulu beda Pak Aulia dan Pak Anto antara lantai 1 dan lantai 10, sekarang sudah bagaikan langit dan bumi. Si Pak Aulia ini memang hebat!
Karl Marx menuduh si Aulia yang sebenarnya santai-santai dapat keuntungan dari siklus ini, sedangkan Pak Anto yang capek-capek kerja, Cuma dapat ala kadarnya untuk menyambung hidup. Padahal kalau mau jujur, nilai lebih yang diperoleh Pak Aulia itu datangnya dari siapa coba? Dari Pak Anto! Dengan kata lain, Pak Aulia yang kapitalis ini telah “mencuri” nilai lebih (selisih M’ dan M) yang dihasilkan oleh Pak Anto dengan tangan dan keringatnya untuk kepentingan Pak Aulia sendiri! Oh Kapitalis yang kejam!
Sampai di sini paham? (kalau belum coba istirahat sebentar, ke dapur, bikin kopi atau susu atau teh, ditambah gorengan, peregangan badan, kalau udah seger, terus baca lagi tulisan ini).
Logika Karl Marx terlihat memang cukup logis dan masuk di akal. Sehingga pada ujung-ujung Karl Marx menyerukan pada seluruh buruh di dunia untuk bersatu padu melawan para kapitalis sebagai sunatullah dialektika kehidupan. Tapi menurut saya pribadi, ada beberapa hal yang mungkin terlalu disederhanakan.
Pertama, apakah memang Pak Aulia ini hanya santai-santai dan setiap usahanya akan berakhir dengan nilai yang surplus/lebih dari modal awalnya (nilai M’ lebih besar dari M). Sebagai pengusaha tentu saja yang dikerjakan Pak Aulia tidak hanya duduk santai di kursi malas sambil menunggu uang dari langit datang (jadi ingat money game di dunia maya, 5 menit dapat 39 juta, bisnis internet yang gak jelas juntrungnya, hehehhe). Tentu saja Pak Aulia yang intelek dan ganteng ini memikirkan banyak hal. Konsep bisnis, pemasaran, manajemen pegawai dan lain sebagainya. Tidak selamanya, sang kapitalis hanya santai-santai (walau mungkin-mungkin saja pada kasus tertentu ada kapitalis yang santai-santai). Satu lagi, si kapitalis ini bukan tanpa risiko. Bagaimana jika produknya gagal jual? Gak laku di pasar? Di tengah jalan dirampok garong? Padahal dia sudah bayar gaji pegawai/buruh dan biaya bahan mentah lainnya.  Kalau si Pak Aulia santai-santai bisa jadi bisnisnya akan gagal. Yang rugi dia, bukannya pak Anto bukan?
Kedua, apakah memang gaji yang diterima Pak Anto dari Pak Aulia adalah gaji yang pas-pas-an buat Pak Anto? Apakah memang nilai gaji yang dia dapat tidak lebih baik dari nilai guna yang dia berikan? Mungkin simpelnya begini saja, apakah memang dengan gaji yang diberikan Pak Aulia, Pak Anto benar-benar gak bisa nabung (ada surplus) dan pada akhirnya dia bisa beli laptop? Bukannya itu tergantung pola konsumsi Pak Anto? Atau apakah memang Pak Aulia sejahat itu untuk memberikan gaji yang rendaaaaaah sekali, sehingga untuk makan saja sulit. Di sisi lain, kalau gaji/upah rendah banget, bisa saja akan pak Anto cari kerja di tempat lain yang lebih menjanjikan dan sejahtera (mmm kali ini kita sudah mulai ber-cateris paribus, alias berasumsi, yaitu: pasar tenaga kerja bisa bebas berpindah-pindah).
Masalah upah yang pantas untuk buruh ini memang sudah melalui perjalanan perdebatan yang panjang sekali…dengan satu pertanyaan khusus, “berapakah nilai/harga yang pantas untuk sebuah barang?” karena dari sana bisa ditarik ke upah, “kalau nilai/harga yang pantas dari sebuah komoditas adalah sekian, maka nilai upah bagi buruh (sebagai bagian dari biaya) yang pantas adalah sekian”. Banyak pendapat dari ekonom berapa nilai yang pantas dan berapa upah yang pantas.
Di sini Karl Marx nampaknya mengambil pendapat David Ricardo bahwa upah yang pantas adalah upah yang bisa membuat buruh mempertahankan hidupnya (upah subsisten). Sehingga menganggap para kapitalis akan menjalankan upah subsistem dalam usaha mereka kepada buruh. Padahal nilai upah ini bisa saja subjektif (dipeolopori oleh J.B Say). Maka berapa sebenarnya nilai upah yang fair bagi buruh? Kalau kita bisa mengetahui hal itu, maka ini bisa menjadi pukulan telak bagi pendapat Karl Marx dengan logikanya tadi.
Bagi saya argumen Karl Marx ini bukannya sepenuhnya salah. Mungkin saja situasi yang dia lihat di jamannya memang demikian. Terjadi sebuah eksploitasi besar-besar oleh kapitalis terhadap buruh sehingga menimbulkan ketimpangan dan kesengsaraan di masyarakat. Karl Marx gerah dan mengeluh atas semua situasi tersebut. Maka muncullah Das Kapital yang tersohor itu. Sebuah keluhan dari sang Karl Marx yang jenius itu.
Ohya, kalau gitu apakah saya bisa menjawab sebuah pertanyaan penting tadi, berapa sebenarnya nilai upah yang fair bagi buruh? Mmmm… menurut saya ada jawaban yang cukup “pas” dari kaum neo-klasik (mungkin banyak juga yang bilang mereka ini adalah kaum kapitalisme itu sendiri). Gaji/upah yang fair itu adalah Marginal Revenue Product of Labor (MRPL). Apa itu MRPL? Wah..saya pikir-pikir dulu ya untuk membahasnya. Mungkin note saya yang selanjutnya. Nantikan saja..
7 Januari 2011

/** **/ var sitti_pub_id = “BC0004552”; var sitti_ad_width = “610”; var sitti_ad_height = “60”; var sitti_ad_type = “5”; var sitti_ad_number = “2”; var sitti_ad_name = “”; var sitti_dep_id = “14103”;