Apa Maksudnya "Jika ada wanita yang melamar saya terlebih dahulu, maka saya akan menjanjikan dia peluang 80%"

Oleh: Aulia Rachman Alfahmy
Sebagai seorang “ekonom gila”, saya selalu terbiasa menggunakan angka dalam menjelaskan dan mengungkapkan sesuatu agar dapat dipahami dengan mudah. Kisah dari tulisan ini dimulai dari sebuah pernyataan yang cukup unik, “Jika ada wanita yang melamar saya terlebih dahulu, maka saya akan menjanjikan dia peluang 80% keberhasilan”. Terlepas saya suka dia atau tidak, dia cantik atau biasa-biasa saja, kaya atau miskin, intinya kita anggap tidak ada faktor lain yang memengaruhi (kecuali faktor agama kali ya? :P). Saya sudah berjanji memberikan “80%” saya kepada dia. Adapun saya melakukan ini karena 1) Saya menghormati keberanian perempuan menyatakan lebih dahulu; 2) Untuk saat ini, melihat dari kondisi saya yang belum mapan dan menjadi apa-apa, pastinya sang perempuan benar-benar melihat lebih dari sekedar materi, 80% adalah reward saya.
Tapi ada satu hal yang menganggu saya akhir-akhir ini. Apa sebenarnya makna dari ungkapan “80%” ini? Bagaimana praktik di lapangannya? Apa konsekuensi pernyataan ini bagi masa depan rumah tangga saya? Apakah ungkapan ini dapat menjelaskan siapa saya?  Apa manfaat mengetahui makna angka-angka ini bagi para pembaca Ekonom Gila?
Pengertian 80% pada Umumnya
Mari kita berasumsi 1) cateris paribus, pilihan atas pelamar objektif, tidak ada tendensi atau kecenderungan 2) bahwa yang namanya melamar hanya ada dua jawaban, “Ya” dan “Tidak”, jadi di sini kita beranggapan bahwa seseorang tidak akan memberikan jawaban menggantung, tidak ada jawaban, “sebenarnya saya menerima, tapi tunggu saya lulus/tunggu kamu lulus/tunggu kamu sudah kerja/tunggu kakak sudah nikah/dan jawaban-jawaban sejenis lainnya. Jika kita melamar seseorang, maka probabilitas normalnya adalah 50%, karena ada dua jawaban “Ya” dan “Tidak” (dalam rujukan hukum Islam, seorang wanita yang belum menikah, jika “diam” maka bisa dianggap menjawab “iya”, karena diasumsikan ia malu mengatakan “iya”). Nah, pencerahannya adalah dalam situasi normal, maka setiap lamaran yang kita ajukan ke seseorang sebenarnya memiliki probabilitas diterima 50%! (tentunya juga probabilitas ditolak 50% hehehehe), cateris paribus  :P.
Lalu apa makna 80%? Jika kita bersandarkan pada pengertian dan kasus 50%-50% di atas, maka bisa diartikan maksud dari 80% adalah sebuah ungkapan untuk memberikan penekanan atas probabilitas diterima yang lebih besar. Artinya hukum ya-tidak 50%-50% berubah menjadi 20% untuk tidak, dan 80% untuk iya. Dengan kata lain ini adalah sebuah ungkapan yang mengisyaratkan: “Ayo lamar aku duluan, InsyaAllah kamu akan saya berikan prioritas untuk diterima. Kemungkinan ditolakmu amat sangat kecil…”
Konsep Probabilitas ala Saya…
Penjelasan di atas tidak akan selesai begitu saja. Akan ada masalah jika ada yang bertanya, “Kalau memang hanya sekedar memberikan kecenderungan untuk diterima, kenapa gak 75%? Kenapa gak sekalian 99%? Apa bedanya 80% dengan 90%? Bukannya semua ungkapan ini sama saja? Kenapa harus 80%? Apa itu hanya retorika belaka, biar kelihatan cool dan keren?”.

Baiklah, mungkin memang saya dulu tidak sengaja beretorika. Terpaksa saya membuka buku-buku lama saya lagi, dan mungkin jawabannya ada di buku Basic Econometrics buatan Pak Gujarati dan logika yang dipakai cukup berbeda dengan logika 50-50 di atas. Dan mungkin nanti jika ada anak matematika yang membaca artikel ini, ia akan banyak mengkritisi tulisan ini karena mereka lebih mengetahui hakikat probabilitas ketimbang diri saya. Aka tetapi… lagi pula itulah kenapa ini blog ini disebut Ekonom Gila bukan? Hehehehehe. So nekat saja…

Pada Bab  5 yang ngomongin masalah interval estimation and hypothesis, pak Gujarati menyinggung apa yang dimaksud dengan confidence interval atau biasa disingkat dengan CF (biasanya dengan angka 90%, 95%, dan 99%). Misalnya dalam bagian ini Pak Gujarati menerangkan apa yang dimaksud dengan CF 95% dalam sebuah interval nilai 0.4268 sampai 0.5914. Beliau menjelaskan maksud CF itu seperti ini:

Given condition 95%, in the long run, 95 out of 100 cases interval like (0.4268, 0.5914) will contain true β2.   

Tapi beliau juga meningatkan!

We cannot say that the probability is 95% percent, that the specific interval (0.4268, 0.5914) contains the true β2 because this interval is now fixed and no longer random, therefore, either lies in it or does not: The Probability that specified fixed interval include the true β2 is therefore 1 or 0.

Anda bingung? Hahahahaha, Sama saya juga! Mungkin pengertian Gujarati di atas sebenarnya tidak bisa dipakai dalam kasus “dilamar = 80%” saya. Karena di atas adalah sebuah kasus yang harus digunakannya sebuah data empiris, ada observasi, ada standar deviasi, dan CF yang bergabung dan berujung pada sebuah kesimpulan pada diterima atau ditolaknya hipotesis. Tapi mungkin ada baiknya kita menggunakan sedikit pengertian di atas untuk kasus “dilamar = 80%” ala saya. Oke ini ala saya, silakan bagi teman-teman yang ahli matematika mengoreksi secara akademis tulisan ini, eheheheheh.
Terinspirasi dari pengertian CF di atas, saya menggunakan pengertian 80% seperti ini: Dalam jangka panjang dari kasus 100 wanita yang duluan melamar saya, maka 80 lamaran yang ada adalah lamaran yang saya terima. Wah artinya, apa saya punya bakal 80 istri?

Interpretasi Liar…
Baiklah, mari kita kecilkan angka 80% ini menjadi 8 dari 10 atau 4 dari 5. Jadi misalnya dalam jangka panjang ada 10 wanita melamar saya duluan maka 8 lamaran itu saya terima, atau lebih kecil lagi, jika dalam hidup saya (jangka panjang) ada 5 wanita yang melamar saya, maka 4 lamaran itu akan saya terima. Nah, sekarang sudah ada 4 istri, kalau di Islam kan boleh punya 4 istri? Apa ini maunya penulis? Hehehe: Bukan. Itu bukan concern saya, bukan jumlah orang yang diterima, tapi justru jumlah orang yang ditolak.
“Hikmah” dari probabilitas ala saya di atas adalah dapat dijelaskan seperti ini: anggaplah saya memiliki fans 100 orang wanita, dan anggaplah ada pengamatan peneliti peradaban, saat ini 10% dari fans wanita biasanya mau dan rela melamar duluan. Jadi dengan fans yang saya estimasi sekitar 100 orang maka ada 10 orang dalam hidup saya yang akan melamar saya duluan. Maka jika demikian ada 8 yang diterima dan 2 orang yang tidak diterima. Dengan demikian, jika saya konsisten dengan prinsip 80% dan jika kondisi-kondisi soal estimasi fans dan wanita pelamar benar, maka jatah menolak “wanita pelamar duluan” sepanjang hidup saya hanya ada 2 orang. Jika fans saya hanya ada 50 orang sepanjang hidup, maka 5 orangnya akan berani melamar duluan. Dengan prinsip 80% diterima, maka jatah menolak saya hanya 1 orang. Bagaimana jika hanya ada 3 pelamar dalam hidup saya, tidak ada yang bisa saya tolak sedikit pun, karena ketika saya menolak satu orang saja maka rumusnya bukan lagi 80% tapi 66,6%.
Oke apa hikmah dari “logika-logika” di atas? Menjawab pertanyaan dasar di atas bahwa angka 80% ada bedanya dengan 90% dan 70%. Ternyata ungkapan-ungkapan 70%, 80%, 90% menunjukkan perbedaan 1) tingkat kepercayaan diri seseorang atas seberapa banyak jumlah fansnya dan 2) bisa mengetahui seberapa banyak jatah orang yang bisa dia tolak. Semakin tinggi nilai probabilitasnya maka menunjukkan bahwa orang tersebut kurang percaya diri = merasa fansnya sedikit, artinya dia memiliki prinsip “Siapa saja! yang penting mau sama saya…”, Semakin rendah maka bisa dikatakan adalah orang yang sangat pemilih dengan memperbanyak “jatah menolak” = yakin bahwa dalam hidupnya akan banyak yang melamar dia.

Note: ingat bahwa ini adalah kasus di mana kita dilamar oleh seseorang tanpa tendensi/kecenderungan apa-apa, murni tanpa ada chemistry, objektif tanpa ada rasa di hati :p, jadi tidak bisa kita bantah oleh orang yag sudah menikah, “Saya ini pemilih loh, tapi..lamaran pertama atas diri saya saya terima tuh, karena memang saya dari awal sudah suka sama dia! Kosep ini batal!”. Itu kasus dengan asumsi yang berbeda.

Perbedaan Kondisi-Kondisi yang Dibutuhkan
Ingat bahwa 80% itu adalah standard saya pribadi bagi wanita yang “melamar duluan”. Kredit lebih saya berikan bagi mereka yang berani mengambil inisiatif dengan landasan berpikir bahwa di era peradaban saat ini wanita yang berani melamar duluan adalah wanita yang punya perbedaan dan nyali (not ordinary). Mungkin bisa jadi kasus ini bagi wanita berbeda, bagi mereka “Pria Melamar duluan” adalah hal yang biasa, dan tidak perlu diberikan kredit lebih. Tetap kembali ke konsep probabilitas awal 50-50, “iya” atau tidak” (note: konsep 50-50 sebenarnya tidak bisa diartikan jika ada 10 orang melamar, 5 orang adalah jatah ditolak, karena concern-nya di opsi pilihan.”ya” dan tidak”, karenanya probabilitas 50%).
Sebenarnya konsep 80% saya bisa diterapkan menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Misal mbak A, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia seorang lulusan S1”, Mbak B, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia adalah seorang yang alim dan faqih dalam agama”, Mbak C, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melama saya jika dia adalah seorang yang kaya raya, atau Mbak D, “Saya akan memberikan 99,99% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia adalah seorang yang lulusan S1, alim dan faqih dalam agama, seorang yang kaya raya dan ganteng…”, ingat: cateris paribus.
  1. Bagi mbak A: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria lulusan S1 melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok S1 itu
  2. Bagi mbak B: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria yang alim dan faqih dalam agama melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok alim dan faqih itu
  3. Bagi mbak C: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria yang kaya raya melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok kaya raya itu
  4. Bagi mbak D: Semisal dalam hidupnya ada 1 saja atau bahkan 100 orang pria lulusan S1, alim-faqih, kaya raya, dan ganteng melamar dia, maka tidak ada satu pun yang “sempat” dia tolak (satu aja belum tentu ada dalam hidup…)

Sama seperti saya, “Saya akan memberikan 95% bagi wanita yang melamar dulu, sholehah dan pinter”, dari 80% menjadi 95%, ada peningkatan probabilitas dan pengertian secara teknis di lapangan akan berbeda.
Hikmah dan Kesimpulan
Bagi orang yang ingin melamar saya: lihat kira-kira seberapa terkenal saya, seberapa keren saya, berapa kira-kira jumlah fans saya, berapa kira-kira orang yang akan melamar saya dalam jangka panjang, lalu cari tahu sudah berapa orang yang saya tolak, lamarlah saya ketika jatah menolak sudah habis dan anda akan saya terima sebagai bentuk konsistensi saya terhadap apa yang saya janjikan pada diri sendiri. Hehehehehehehe
Bagi kita semua (penulis dan pembaca Ekonom Gila): Menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik akan meningkatkan probabilitas diterimanya lamaran kita kepada seseorang, karena orang yang kita lamar akan kehabisan “jatah” untuk menolak.
Sekali lagi, mungkin banyak yang akan mengkritik pedas tulisan saya mulai dari konsep probabilitasnya yang ngawur hingga ke masalah “perasaan” hati dan kejelimetan saya soal hal-hal yang remeh temeh ini: Pernikahan, “Sudahlah Aulia, ngapain pusing-pusing hitung-hitung probabilitas, kalau suka ya terima aja, kalau gak suka tolak saja, tidak usah banyak dipikirkan, dirasakan saja….”.
Selama menjalani kehidupan ini, saya akhirnya sadar bahwa masa depan, serapi apapun manusia merencanakan, Allah yang berkendak. Manusia sebatas merencanakan, rencana Allah niscaya lebih indah. Termasuk dalam hal jodoh, kita tidak bisa tahu apakah memang benar-benar pasangan hidup yang ada di depan kita adalah yang terbaik dari kacamata pribadi dan perasaan kita saja, Allah-lah yang akan menunjukkan kepada kita siapa yang terbaik bagi kita, sekali lagi, manusia hanya bisa merencanakan”. Probabilitas yang rumit di atas adalah rencana saya, Allah-lah yang berkehendak di hasilnya. Saya akan kesampingkan emosi dan perasaan saya dalam menentukan sebuah pilihan yang besar dalam hidup saya: Istri, lalu akan menggantinya dengan bersikap objektif dan profesional melalui sebuah rencana dan doa agar selalu diberikan ilham yang benar dan baik bagi hidup dan agama saya. Semua kembali ke Allah…

“..either lies in it or does not: The Probability that specified fixed interval include the true β2 is therefore 1 or 0.”

Selasa, 4 Juni 2013
Waktunya untuk merenung dan merenungkan..

Memilih Calon Suami dengan Cost-Benefit Analysis

oleh: D. A. Rohmatika
Saat mendapatkan uang saku seratus ribu, apa yang akan kaupilih? Beli sepatu baru atau nambal gigi berlubang yang sepertinya sudah hampir tamat? Kalau disuruh memilih, maunya ya memilih semuanya. Tapi uangnya hanya mampu membuat kita memilih salah satu kan? Jadi, bagaimana cara memilihnya?
Untungnya, pada tahun 1980, seorang ekonomis bernama Alfred Marshal mencetuskan ide bagaimana untuk membuat pilihan cerdas dengan cara yang dinamakan “cost-benefit analysis”. Marshal, seorang raja di kastil ekonomika dari Inggris, dikenal juga sebagai salah satu pendiri ekonomi neoklasik dan memperlebar disiplin ilmu dari (hanya) studi pasar ke pengamatan perilaku manusia. Tapi, sumbangan terbesarnya adalah menunjukkan perilaku konsumen dalam membeli suatu barang: dia akan membelinya jika manfaat marginalnya lebih besar dari kos marginalnya. Nah, apa lagi itu manfaat marginal dan kos marginal? Di web investopedia, kedua hal ini didefinisikan sebagai: “marginal benefit refers to what people are willing to give up in order to obtain one more unit of a good, while marginal cost refers to the value of what is given up in order to produce that additional unit”. Singkatnya, saya akan rela membeli satu lagi koleksi Elegant Ribbon di Cossette Apparel dengan harga segitu daripada membuatnya sendiri satu lagi karena membuat sendiri tentu saja sangat costly.
Nah, itu adalah contoh simpel analisa kos dan manfaat yang mempengaruhi perilaku konsumen membeli sebuah barang. Yang lebih kompleks misalnya keputusan untuk melanjutkan pendidikan master atau mencari pekerjaan bagi lulusan fresh universitas. Kita tidak bisa memilih semuanya dan harus memilih salah satu, itulah yang dinamakan trade offs. Apa trade offs kalau memilih lanjut sekolah lagi?

Costs
Benefits
Bayar 65 juta
Mendapatkan gelas master
Potensi yang hilang untuk mendapatkan penghasilan per bulan
Bisa ikut konferensi paper internasional
Peningkatan karir di pekerjaan
Mendapatkan ilmu
Potensi punya modal pekerjaan buat ngelamar anak orang hilang
(Nggak bisa) Beli motor dan koleksi gundam
Weekends libur yang benar-benar libur
Hidup yang “tanpa hutang” buat bayar sekolah

Kalau mungkin hanya berupa daftar mana yang kos mana yang manfaat, yang kos terlihat sangat banyak daripada yang manfaat untuk meneruskan sekolah lanjut master degree. Daftar-daftar itu juga terdiri dari baik kuantitatif (misalnya angka 65 juta rupiah) dan kualitatif. Tapi kalau sudah begitu, susah kan membandingkannya? Lalu bagaimana caranya? Ada dua: (1) membuatnya menjadi kuantitatif, atau (2) memberinya bobot.
Contoh dari solusi pertama (membuat solusi menjadi bentuk kuantitaif) digambarkan pada sebuah perusahaan pengeboran dan penjualan minyak internasional di bawah ini (kisah nyata). Perusahaan ini mengklaim bahwa sebenarnya 73% dari penundaan pengerjaan/penyelesaian proyek-proyek yang ada disebabkan oleh masalah nonteknis, seperti perizinan dan protes dari masyarakat sekitar. Maka, dengan cost-benefit analysis ini, perusahaan itu ingin tahu apakah dia perlu menaikkan kos sosial dan community engagement-nya atau tidak? Apakah dia memang benar-benar mendapatkan keuntungan dari situ? Mari kita buat tabel yang sama dengan menghitung juga opportunity cost-nya (kos dari alternatif lain yang hilang akibat keputusan kita memilih sesuatu).

Costs
Benefits
Menaikkan kos sosial dan community engagement
6 juta USD
Potensial kos penundaan 10-15 hari proses pemasangan saluran pipa
4 – 6 juta USD
Strukture gravitasi konkrit terselesaikan 3 bulan lebih awal
36 juta USD
Denda keterlambatan pengiriman minyak ke pasar (asumsi 10-15 hari)
10 – 30 juta USD
TOTAL
6 juta USD
TOTAL
50 – 72 juta USD
Dengan ROI investasi yang dilakukan perusahaan itu pada sosial dan community engagement sebesar 1200 persen, tentu saja perusahaan itu dengan senang hati melakukan investasi tersebut. Begitu pula misalnya dengan solusi kedua (melakukan pembobotan) bisa dilakukan misalnya ketika akan memilih suami (fufufu~). Sebut saja, misalnya, calonnya adalah Tony Stark (tahu kan? Tokoh khayal ciptaan Marvel si Iron Man ituh). Mari kita analisis kos dan manfaat kalau berhasil menikah dengannya lewat metode pembobotan dengan skala 1-5 (angka 5 berarti ekstrim):

Costs
Benefits
Selalu dikuntit oleh bahaya dan musuh
5
Kaya abis, kehidupan kita terjamin
5
Bisa mati setiap saat
5
Ada asuransi kesehatan dan asuransi macam-macam yang mengkover apapun
5
No weekends together, ditinggal dinas terus
5
Rumah di pinggir laut yang bisa lihat sunset dan sunrise cantik (buat saia ini penting!)
4
Harus kerja keras ngurus perusahaan soalnya si suami sibuk menyelamatkan dunia
5
Harus belajar keras soal electrical engineering biar nggak kelihatan cengoh waktu diajak ngomong (meeeehhh~)
3
TOTAL
23
TOTAL
14
Kesimpulannya: tidak usah menjadi istri Tony Stark jika tidak ingin mati muda.
Tulisan ini dibuat sebenarnya demi melihat tugas-tugas masa kuliah zaman dulu yang (sok-sokan) memakai cost-benefit analysis tapi masih tidak jelas kenapa yang satu bisa lebih baik daripada yang lain. Makanya, dengan menguantifikasikan berbagai variabel tersebut (dengan menghitung opportunity cost yang ada) atau memberikan bobot skala pada masing-masing variabel kos dan benefit. Jadi, pengambilan keputusan bisa lebih akuntabel dan terpercaya sehingga mudah pula meyakinkan orang lain dengan keputusan serupa. Bukan begitu?
*dari berbagai sumber, misalnya Spousonomics (Szuchman & Andersen), Investopedia, dll.

Pelajaran dari Senegal

Sebuah pelajaran berharga dari ASEAN Economic Summit 2012

Pada tulisan kali ini, mungkin tinggalkan dahulu sejenak segala analisa ekonomi, politik dan sebagainya, walau mungkin masih ada beberapa aroma hal tersebut. Lebih dari itu yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini.
“jangan Pesimis. Mengapa kalian melihat Negara kalian sejelek itu terhadap Negara lain dan terhadap integrasi ini (AEC), padahal kalian punya banyak kesempatan lebih dari pada kami”.
Pernyataan itulah yang dilontarkan oleh seorang sahabat yang berasal dari negeri jauh di tanah kaya, benua Afrika, tepatnya Senegal. Sebuah Negara nan jauh disana, tapi masih memiliki harapan untuk terus maju, ingin menjadi seperti Negara-negara di eropa, bahkan menjadi seperti Indonesia pun, mereka sudah bersyukur.
Senegal merupakan Negara bekas colonial asal Napoleon Bonaparte berkuasa, Perancis. Dari A hingga Z, Senegal diatur oleh Negara besar ini, bahkan hingga sekarang belum dapat lepas ketergantungannya dari Negara tersebut. Bagaimana dengan Negara kita, secara kasat mata, KITA BEBAS!
Pernyataan sahabat berkulit gelap ini mau tidak mau telah menusuk hati para pemuda Indonesia di konfrensi tersebut yang amyoritas menjadi peserta. Pemuda dari benua seberang pun masih mengakui kalau Indonesia punya banyak kesempatan dari mereka, lalu mengapa pemuda kita masih tidak yakin dengan Negara kita. Wah, takut nanti kita tidak bersaing, takut nanti kita bakal dikuasai dan diperalat oleh Negara lain, atau kita takut integrasi ini bakal mengarah pada hal-hal yang sebelumnya tidak bisa kita terima sebelumnya. Mari kita putar balik, bung.
“Pemuda tidak seharusnya pesimis, tapi harus menjadikan dirinya sebagai pilar pengembangan, jadilah lebih kompetitif”.
Sebuah kutipan lagi dari sang sahabat, pemuda haruslah optimis. Free flow of labor mengindikasikan aritnya kelak saat AEC 2015 dimulai, pemuda dari seluruh ASEAN akan dengan mudah keluar masuk Negara anggota untuk mencari pekerjaan. Pemuda Malaysia akan dengan mudah kerja di Yogyakarta, pemuda dari papua pun akan dengan lebih leluasa untuk bisa bekerja di Singapura. Siapa yang tidak ingin memperkerjakan atau bekerja sama dengan orang yang memiliki kualifikasi yang mumpuni. Jangan sampai pemuda Indonesia tidak lebih kompetitif dari pemuda Vietnam. Ya, seharusnya kita menjadikan AEC sebagai motivasi kita untuk bisa lebih baik dari pemuda yang ada di Negara anggota ASEAN, bukan malah menjadikan AEC sebagai momok dengan alasan kemampuan bersaing.
Lagipula, AEC adalah sebuah laboratorium yang akan mempersiapkan Negara- Negara ASEAN terhadap ekonomi global yang kelak akan makin terintegrasi seiring dengan perkembangan tekonologi, yang pasti perekonomian global akan jauh lebih kompetitif. Bagaimana Negara ini menjadi lebih maju adalah tugas kita, kurangi resistensi terhadap perubahan untuk kemajuan. AEC bukanlah hantu yang akan menakuti kita dengan ketidakberdayaan dalam menghadapi persaigan ini, tetapi AEC adalah sebuah batu loncatan untuk Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang lebih bisa menyatu dan saling berintegrasi.
“Never Complain with other country competitiveness, but make us, the youth and your country to be more competitive”.

Mountainomics

Source Pict.: yogainmyschool.com
Oleh: Ahmad Munadi
Teori pertama dalam belajar ekonomi adalah The Law of Scarcity (Kelangkaan). Teori yang mengatakan bahwa sumberdaya itu terbatas dan kebutuhan tidak terbatas. Alhasil ada harga lebih atas kelangkaan tersebut. Sesama pendaki gunung akan rela berbagi segalanya. Jelas-jelas logistik semacam makanan maupun minuman disana sangat langka. Kenapa mereka mau membaginya, gratis lagi! Teori ekonomi macam apa yang bisa menjelaskan ini?
Manusia adalah Homo Economicus
Manusia adalah seorang homo economicus atau bahasa gampangnya manusia adalah makhluk ekonomi. Manusia makhluk ekonomi karena dalam berbuat mereka umumnya didorong oleh sebuah kepentingan ekonomi. Sebagai homo economicus manusia selalu bertindak rasional, rasional disini diartikan bahwa mereka akan mengejar keuntungan baik itu moneter maupun non-moneter dalam setiap tindakannya. Kira-kira itulah hasil terjemahan dari investopedia.
Kenapa manusia bisa disebut sebagai homo economicus? Hipotesis saya menyebutkan manusia menjadi seorang homo economicus sejak manusia mulai belajar mengenai keinginan dan kebutuhan (needs and wants). Ketika manusia belajar bahwa di dunia ini mereka tidak bisa berdiri sepanjang hari dibawah terik matahari karena akan mati, maka mereka bergerak. Bergerak mencari makan, pakaian, rumah dan lain sebagainya. Mereka mengenal makhluk lain dan juga sesama spesiesnya. Mereka mengerti bahwa mereka butuh (needs) makan dan minum serta pakaian, dan mereka juga memiliki keinginan (wants) memiliki makanan yang enak pakaian yang banyak dan rumah yang besar.
Homo sapiens diduga adalah spesies manusia modern pertama. Mereka jadi manusia modern alasannya karena besarnya otak mereka seperti manusia modern sebesar 1300-1400 cm kubik. Alasan lainnya adalah karena mereka berbeda dari spesies sebelumnya, mereka mulai mengenal bercocok tanam dan mengurangi berburu dan menggunakan alat-alat yang terbuat dari selain batu. Maka kita bisa juga mengambil sebuah hipotesis bahwa semakin modern manusia maka dia akan semakin sadar bahwa dirinya adalah seorang homo economicus. Hal ini melihat perkembangan homo sapiens dibandingkan spesies-spesies sebelumnya.
Kenapa saya berhipotesis makin modern manusia makin homo economicus? Ya jelas karena perkembangan manusia didasarkan pada kepentingan ekonomi. Manusia menggunakan logam dibandingkan batu karena logam lebih mudah memotong-motong daging sehingga daging yang dapat digunakan menjadi lebih cepat dan banyak. Manusia bercocok tanam agar tidak tergantung pada alam dan dapat mengatur sendiri pangan mereka. Mereka memilih berkelompok agar lebih kuat dan dengan berkelompok mereka mulai bertransaksi ekonomi.
Berinteraksi dengan Alam
Ketika Adam pertama diciptakan, ia tidaklah berada di bumi, ia di surga. Ia kemudian ditemani oleh Hawa. Kemudian disebabkan karena mereka memakan buah apel terlarang akhirnya mereka diturunkan ke bumi. Jangan tanyakan saya apakah itu apel malang ? apel fuji? Atau apel washington? Karena saya juga tidak bisa menjawab kenapa buah terlarang itu harus apel tidak jeruk atau buah yang lain…
Kembali ke topik Adam, jadi Adam turun ke bumi. Apa yang pertama dilakukan Adam ke bumi, dia berinteraksi dengan alam. Di surga ia mendapatkan segalanya tanpa susah payah, tapi di bumi? Ia harus berusaha. Berusaha memenuhi kebutuhan manusianya berupa makan, minum, tidur dan lain sebagainya. Semua itu didapatnya dari alam, menurut saya inilah pertama kali manusia berinteraksi dengan alam.
Ketika manusia di dunia hanya Adam dan Hawa, kita rasanya tidak bisa menyebut bahwa mereka seorang homo economicus. Karena ketika mereka hanya berdua saja di bumi yang luas ini, rasanya alam menjadi milik mereka berdua. Mereka berdua tidak perlu bertransaksi sesama mereka untuk mendapat keuntungan karena mereka bertransaksi dengan alam. Mereka tak perlu membagi bumi menjadi dua daerah kekuasaan barat untuk Adam dan timur untuk Hawa, mereka tak perlu. Mereka tau alam yang mereka pijak, bahwa mereka bertransaksi dengan alam. Alam telah menyediakan segala kebutuhan mereka secara gratis. Mereka menerima dari alam, memakan tanaman dan hewan dan mereka menjadikan batu-batuan sebagai rumah perlindungan.
To the point aja, yang ingin saya sampaikan bahwa ketika manusia hanya Adam dan Hawa atau ketika manusia dilahirkan mereka bukanlah seorang homo economicus. Manusia terlahir bukanlah sebagai seorang homo economicus, bukan dengan selalu berfikir untuk mengambil keuntungan dari setiap transaksi atau interaksi. Ia terlahir ke bumi karena kekhilafan moyangnya Adam memakan apel terlarang sehingga diturunkan ke bumi, maka manusia semestinya berinteraksi dengan alam untuk dapat menaikkan derajatnya ke atas bumi, mungkin.  
Mountainomics
Terus apa hubungannya bacaan diatas sama mountainomics? Ngapain juga bicarain homo sapiens sama kisah Adam dan Hawa itu kan berlawanan. Sama istilahnya bicarain teori evolusi yang selalu ditolak sama agamawan. Trus homo economicus apaan? Manusia itu terlahir sebagai homo economicus atau enggak sih? Dasar emang penulisnya muter-muter, pantes aja lulusnya lama :P
Ngapain orang naik gunung? Seorang teman saya di Wonosobo sangat expert dalam menjawabnya. Dia akan menyediakan jawaban banyak, mau jawaban dari sisi mana? Agama? Lingkungan? Ekonomi? Sosial? Budaya? Sejarah? Tinggal pilih aja. Agama, bahwa wahyu pertama turun di gua hira di dataran tinggi, maka orang naik gunung biar dapet wahyu. Lingkungan, orang naik gunung untuk menghirup udara segar, merasakan indahnya alam tempat pijakannya. Budaya, bahwa banyak peninggalan budaya juga ditemukan dan terjaga keasliannya di pegunungan. Sosial, orang naik gunung untuk mempererat perkawanan atau ingin lepas dari hiruk pikuk manusia. Ekonomi? Mau nyari tambang emas, enggak lah saya becanda, ini yang kita coba dalami.
Ketika seorang manusia hendak mendaki gunung, banyak yang dipersiapkannya, makanan minuman pakaian dan cara buat tidur. Semua itu hampir sama dengan Adam ataupun homo sapiens yaitu mencari makan, menyediakan pakaian dan mencari tempat tidur, bedanya hanya zaman dan teknologi. Jika dahulu makan cari buah dan hewan untuk diburu, sekarang makanan dibawa dari daging kalengan dan sayu dari pasar. Jika dulu pakaian dari hewan, kini pakaian bawa saja secukupnya. Jika dulu tempat tidur dari batu dan berada di gua, pendaki gunung tidur di sleeping bag di gua atau dalam tenda. Hampir sama kok sama dahulu-dahulu. Jadi mountainomics itu gabungan pengertian homo economicus dari homo sapiens dan Adam gitu? Oh sebentar tunggu dulu, setelah iklan yang lewat ini.
.
.
.
Saya mencoba berasumsi bahwa ekonomi yang kita anut sekarang sebagian besar adalah ekonomi ala homo sapiens. Ekonomi yang benar-benar meyakini ilmu evolusi. Sistem ekonomi yang kita kenal sekarang berawal dari Bapak Adam Smith dan terus berkembang hingga saat ini. Mengenal law of scarcity, utility, gossen theory, Nash equilibrium, SWAP, option, accounting, competitive advantage, dan lain-lain. Teori ekonomi terus berkembang mengikuti keinginan zaman dan kebutuhan manusia. Dan sekarang ekonomi tersebut mengarah ke green economics, yang menyertakan alam dalam berekonomi. Green economics juga dilandasi global warming dan kesadaran manusia terhadap perbuatannya terhadap alam.
Ada juga ekonomi bukan mainstream yang sedang berkembang yaitu ekonomi ala Adam dan Hawa. Ekonomi yang bersumber dari Tuhan. Bahwa hukum-hukum ekonomi sudah ada sejak dahulu dan telah diberikan Tuhan pada manusia. Manusia hanya perlu mendekatkan diri pada Tuhan, baca firman-Nya maka Anda akan tau teori ekonomi bahwa kita hidup tidak di dunia tapi juga di akhirat. Ini dia ekonomi yang sekarang kita kenal dengan sebutan Ekonomi Syariah atau Ekonomi Islam.
Terus ada dimana mountainomics sendiri. Dia mungkin akan menyerempet pada ekonomi homo sapiens atau ekonomi evolusi. Hal ini karena ekonomi tipe ini sekarang lebih mengarah ke green economics, ekonomi yang mengarah pada perhatian pada alam. Hal ini sejalan dengan jiwa para pendaki gunung, untuk menikmati alam dan juga melestarikannya. Sayangnya mountainomics hanya menyerempet ekonomi sekarang, karena meskipun tujuan dan niatnya sama tapi caranya beda. Bagaimanapun ekonomi homo sapiens tetap kekeuh pada paradigma manusia adalah homo economicus yang suka mencari keuntungan tapi tidak untuk mountainomics. Berbeda dengan sikap para pendaki gunung adalah berbagi segala yang dimilikinya untuk alam sekitarnya yang membutuhkan secara tulus.
Mungkin juga mountainomics mengarah pada ekonomi ketuhanan. Mereka rela berbagi logistik secara gratis untuk sekitarnya yang membutuhkan dengan tulus. Apalagi artinya tulus tersebut kalo bukan telah mencapai tingkat spiritualitas yang amat tinggi. Melakukan sikap berbagi kepada sesama secara tulus padahal logistik disana langka hanya karena Tuhan. Ah tapi kembali lagi, menurut saya mereka berbagi karena ingin ke puncak gunung bersama-sama. Ingin ke puncak bersama-sama, tidak semua pendaki gunung selalu ingat Tuhannya.
Jadi apa itu mountainomics kalo bukan ekonomi homo sapiens juga ekonomi ketuhanan. Kembali pada para pendaki gunung, mereka mendaki gunung supaya naik puncak ya iyalah. Tapi inilah pendaki gunung, orang yang mendaki ke gunung untuk menikmati alam dan melestarikannya. Mereka orang yang mungkin di gunung rela berbagi segalanya pada sesamanya tapi ketika tidak di gunung ia mungkin tidak sebaik ketika di gunung. Jadi perilaku mereka amat dipengaruhi oleh alam. Mountainomics bukan berasal dari pemikiran-pemikiran atas evolusi manusia dan kepentingannya. Bukan juga sepenuhnya dari Tuhan. Mountainomics lebih mengarah pada perilaku ekonomi manusia yang dipengaruhi langsung oleh alam. Alam yang mengajarinya apakah ia harus ber-homo economicus atau tidak.
***

Kemenangan Obama, Kemenangan Keynesian

Oleh: M Syarif Hidayatullah

Barack Obama memenangi Pemilu USA 2012 dengan perolehan 303 kursi Electoral College, sedangkan Romney hanya meraih 206 Electoral College. Kemenangan ini sebenarnya sudah dapat diprediksi, karena pada hakikatnya seorang incumbent lebih mudah dalam memenangi pemilihan karena masyarakat lebih menyukai calon incumbent daripada alternatif (Laver, 2009, Ashwort, 2006). Kemenangan ini juga mencerminkan kemenangan suatu mazhab ekonomi, yaitu Keynesian.

Satu hal yang paling menarik dari perdebatan yang terjadi selama masa kampanye adalah perbedaan pandangan ekonomi kedua calon Presiden. Dalam konteks ini, seperti yang sudah diketahui secara umum, Obama dari partai demokrat cenderung kepada mazhab ekonomi Keynesian, sedang Romney dari partai Republik cenderung pada neoklasik.

Saat ini, ada dua mazhab utama ekonomi, yaitu Keynesian dan Neoklasik. Perbedaan mencolok dari kedua mazhab ini adalah pada besar peran pemerintah dalam perekonomian. Mazhab Keynesian mendukung peran pemerintah dalam mengatur dan menstimulus perekonomian. Sedangkan neoklasik mendukung berjalannya mekanisme pasar dengan intervensi minim dari pemerintah.

Menurut Mankiw (2003), Presiden dari Partai Republik tidak menyukai inflasi, sehingga bersedia menahan resesi untuk menurunkan inflasi serta menjalankan kebijakan kontraktif. Berbeda dengan para Presiden dari Partai Demokrat yang cenderung ekspansif untuk menurunkan pengangguran dan bersedia menahan inflasi. Hal ini terlihat dari data tren GDP riil USA dari tahun 1948. Rata-rata GDP riil USA pada pemerintahan Presiden Partai Demokrat pada tahun kedua mencapai 5,9%. Hal ini berbanding terbalik dari GDP Riil presiden partai Republik yang hanya 0,6%. Hal ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan kebijakan Presiden Partai Republik untuk menahan pertumbuhan guna menekan angka inflasi (Mankiw, 2003).

Perbedaan pandangan ini sangat terlihat dari kebijakan pajak yang diajukan oleh Obama dan Romney. Corak dari kebijakan pajak Roomney adalah pemotongan pajak, perorangan dan bisnis untuk mendorong perekonomian.  Kebijakan utama Romney adalah memotong pajak penghasilan korporasi dari 35% menjadi 25%. Selain itu, pajak penghasilan akan dikurangi sebesar 20%, dimana pajak pada penghasilan tertinggi akan dari 35% menjadi 28%, sedangkan pada penghasilan terendah dikurangi dari 10% menjadi 8%. Romney memiliki visi pada penerapan keadilan pajak, sehingga tax cut akan diarahkan untuk semua pembayar pajak.

Berbanding terbalik dengan Romney, kebijakan Obama justru akan mempertahankan pajak korporasi dan pada warga berpenghasilan tinggi. Tax rate pada Obama adalah sebesar 10% pada penghasilan terendah dan 35% pada penghasilan tertinggi. Selain itu, Obama memiliki kebijakan untuk menetapkan pajak sebesar 20% untuk long term capital gains dan 39,6 % untuk deviden, dan tambahan pajak 3,8% untuk capital gains dan deviden pada rumah tangga berpenghasilan tinggi. Obama memiliki visi untuk memberikan tax cut hanya pada golongan berpendapatan rendah, yang berpendapatan US$ 200.000 (US$ 250.000 untuk pasangan), tidak akan mendapat potongan pajak. Semua kebijakan yang diajukan oleh Obama tersebut, dijanjikan oleh Romney akan dicabut.

Kedua kebijakan pajak tersebut mencerminkan perbedaan pandangan yang sangat mencolok. Kebijakan Romney sangat melindungi korporasi dan masyarakat berpenghasilan tinggi. Diharapkan, dengan adanya pemotongan pajak, maka korporasi akan lebih leluasa untuk berkembang dan pada akhirnya akan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Sedangkan Obama lebih condong untuk meningkatkan pajak untuk korporasi dan masyarakat berpenghasilan tinggi, karena dibutuhkan untuk mendukung program jaminan sosial dan kesehatan, serta menjaga defisit anggaran pada level rendah.

Kebijakan pajak di atas menjadi contoh pertentangan mazhab neoklasik dan keyenesian yang terjadi di Amerika. Masyarakat Amerika ditawarkan dua jenis obat mujarab bagi Perekonomiannya. Dari sinilah warga Amerika memilih pendekatan mana yang lebih dipercaya untuk meningkatkan kesejahteraan.

Kemenangan Obama

Kemenangan Obama memperlihatkan kemenangan Keynesian. Kemenangan ini menunjukkan bahwa rakyat Amerika membutuhkan Pemerintah dalam perekonomian. Krisis ekonomi yang melanda Amerika menyebabkan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan. Fenomena tersebut menyebabkan semakin banyak warga Amerika yang membutuhkan bantuan Pemerintah (berupa subsidi) untuk menjaga tingkat konsumsinya. Obama menjanjikan hal tersebut melalui kebijakan jaminan kesehatannya, disisi lain Romney justru “mengancam” akan mencabut semua hal tersebut. Hal ini yang menyebabkan warga Amerika lebih menyukai kebijakan ala Obama daripada Romney.

Pemerintahan periode kedua Obama diharapkan dapat menyelesaikan berbagai persoalan Amerika Serikat. Menurut penulis, kebijakan fiskal yang ditawarkan oleh Obama sudah tepat. Obama menjanjikan akan mengurangi belanja negara dan meningkatkan pajak untuk masyarakat berpenghasilan tinggi. Kebijakan tersebut berimplikasi pada peningkatan tabungan nasional (S), sehingga akan meningkatkan persediaan dana pinjaman. Semakin besar dana pinjaman yang ada, maka tingkat bunga equilibrium (r) akan menurun, dan pada akhirnya investasi domestik akan meningkat. Peningkatan investasi domestik inilah yang dibutuhkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga Amerika Serikat.

Kemenangan Obama ini menjadi cerminan bahwa ide-ide ala keynesian menjadi preferensi di hati masyarakat di saat krisis. Hal ini sangatlah normal, karena ketika krisis terjadi, masyarakat akan sangat bergantung pada Pemerintah. Bertolak belakang, ketika ekonomi sedang tumbuh pesat, maka ide anti intervensi pemerintahlah muncul.

Bagaimana dengan Indonesia

Pemilu Amerika Serikat menunjukkan kuatnya identitas dari Partai Politik. Bagaimana dengan Indonesia. Penulis dapat mengatakan bahwa partai politik di Indonesia tidak memiliki identitas dan mazhab ekonomi yang jelas. Kebijakan yang diambil tidak lebih dari pertimbangan politik semata. Contohnya adalah pada kebijakan bailout. Di Amerika, para kaum liberalis sangat menentang kebijakan bailout, karena mempercayai market akan memperbaiki kondisinya sendiri tanpa perlu campur tangan pemerintah. Di Indonesia, Partai Politik berhaluan Sosialis dan anti kapitalis, justru berbondong-bondong menolak kebijakan bailout. Kondisi sangat mencerminkan inkonsistensi ideologi yang dialami partai politik di Indonesia.

Pemilihan di Amerika Serikat dapat dijadikan pelajaran bagi Partai Politik di Indonesia. Platform dari setiap kandidat jauh lebih jelas daripada yang ditawarkan di Indonesia. Mazhab yang dianut tegas, pro pasar atau pro intervensi pemerintah, tanpa perlu takut dikatakan tidak pro rakyat. Partai Politik Indonesia terjebak dalam politik pencitraan yang semu sehingga kehilangan identitias pemikirannya. Hal ini yang harus direvisi dalam menyongsong Pemilu di 2014 nanti. Masyarakat menunggu Partai Politik yang memiliki identitas dan platform yang jelas.