Punk Economics [part 1]

Oleh: Bhima Yudhistira*

Keberadaan anak punk di pinggir jalan, mengemis, mengamen, mencium lem ‘aibon’ dosis tinggi, sesekali terlihat fly mungkin bukan pandangan yang menarik bagi masyarakat umum. Mereka sering dianggap sampah masyarakat, kelas buangan, datang dari keluarga broken home, tidak punya masa depan. Anda salah! mereka yang Anda lihat di pinggir jalan tidak semua mencerminkan punk sesungguhnya. 
Sejarah panjang komunitas punk bermula dari The Ramones (1974), sebuah band Punk berambut The Beatles wanna be versi gondrong yang membuat hentakan baru di Amerika Serikat. Lirik dari The Ramones menunjukkan anti-kemapanan, dan kritik terhadap FBI yang dinilai membiarkan rasisme serta sentimen agama muncul di tahun 1970-an.  
Gerakan Punk kemudian berlanjut dengan idealisme yang lebih tinggi di Inggris. Sekelompok anak muda yang menentang gereja, dan menentang sistem otoriter pemerintah berkumpul dan membuat sebuah band punk pertama, Sex Pistols pada tahun 1976 di Inggris. Ide awal pembentukan band ini diawali dengan diskusi-diskusi seputar ekonomi-politik di Inggris saat itu. Gereja bersekutu dengan Pemerintah untuk mendukung liberalisasi ekonomi. Coba dengar lirik ‘God Save the Queen’ yang terkenal. Isinya bukan masalah cinta-cinta-an seperti band punk hari ini, sebaliknya dalam lirik tersebut mengkritik kerajaan sebagai komoditas pariwisata murahan serta Pemerintahan yang korup dan munafik, maka Tuhan selamatkanlah Inggris.  ‘God save the Queen, Cause tourists are money, And our figurehead, Is not what she seems’. 
Musik yang dimainkan Sex Pistols menimbulkan masalah besar bagi publik Inggris yang saat itu terlalu nyaman dengan nilai-nilai kemapanan masyarakatnya. Gelombang awal punk ini kemudian melahirkan corak pemikiran ekonomi Anarkis baru yang sebelumnya telah lama tenggelam sejak kematian Mikhail Bakunin, Prince Peter Kropotkin dan Proudhon. Dibentuklah komunitas-komunitas punk dengan dasar perekonomian Anarkisme, sebuah sistem dimana anggota komunitas hidup tanpa membayar pajak, kembali ke alam dengan menanam tanaman organik, menolak eksploitasi kelas, bekerja secara bebas untuk kebutuhan kommune, dan tidak terdapat hirarki, sehingga kebebasan sempurna dapat dicapai dengan cara anarkis tersebut.
 Gerakan ini mendapatkan inspirasi dari peristiwa sejarah, Paris Commune 1871 ketika kota Paris di Prancis di blokade oleh kelas pekerja yang kemudian segala kebutuhan pangan diputus dari kota lainnya (karena warga Paris dianggap berkhianat terhadap Negara). Mereka melakukan gerakan kommune dengan menanam sendiri dan tidak terikat pada bantuan orang diluar komunitas-nya. Faktor produksi dikuasai bersama, tidak ada seorang borjuasi kapital yang memerintah seperti Raja baru. Itulah yang menjadi inspirasi gerakan Punk, terputus dari ketergantungan industrialisasi borjuasi.  
Salah satu anggota Sex Pistols yang paling politis selain Johnny Rotten adalah Sid Vicious (basis) dengan nama asli John Simon Ritchie. Lahir dari ayah yang bekerja sebagai penjaga Istana Kerajaan Buckingham Palace. Latar belakang ayah Sid Vicious yang sangat mendukung monarki membuat Sid kemudian memutuskan untuk bergabung dengan kelompok band anarki London, Sex Pistols di tahun 1977. Keberadaan Sid Vicious membuat nama band Sex Pistols kian berpengaruh di kancah musik maupun gerakan sosial di Inggris. 
Bersambung Punk Economics part 2

*Penggiat Obrolan Jumat- Menolak Mapan

Ekonomi Indonesia Ga Perlu di Apa-Apain, Apalagi Dibangun!

Oleh: Bhima Yudhistira*, 555 kata
Buat apa susah-susah menulis panjang lebar soal membangun ekonomi Indonesia yang sudah bagus ini? Coba kita lihat pake data statistik, pengangguran Indonesia 10,4% alhamdulillah Amerika cuma 9.1%, bunga bank Indonesia sampai 13% itu kan anugerah Tuhan juga. Belum lagi bicara  soal pertanian, Indonesia kan negara agraris kata nenek-nenek jaman dulu, betul, memang begitu. Buktinya, kita ga level makan beras dari Indonesia, terlalu makmur orang Indonesia, maunya impor beras terus. Ini kan potret negara yang berada dalam tingkat kemakmuran super tinggi, terus mau diapain lagi? Yah.. bukannya om Adam Smith pernah bilang, istilah ribet di buku ekonomi jadul, Laissez-Faire, mungkin maksudnya Leisure Fair semacam Fair ato Festival. Kan ada tuh Jakarta Fair, isinya festival dagang dan konser. Om Adam mikir ke arah itu juga, masa depan ekonomi dunia itu ya Santai (Leisure) dan ga perlu diurusin karena isinya cuma party-party aja (Fair). Jadi mikirin perekonomian Indonesia ga perlu menggunakan grafik biar dibilang pinter, atau angguk-angguk sok paham ikutan seminar internasional buat bahas ekonomi di negeri sendiri.
Om Adam aja bilang kita serahkan ke pasar biar ekonomi tetep jalan, jangan di utak-atik lah. Indonesia akhir-akhir ini tambah gencar membiarkan pasar bekerja walaupun di tuduh neo-lib (mereka yang nuduh sebenarnya ga paham), kalo ada petani garam nangis-nangis protes masuknya garam impor, biarin aja. Kalo ada petani di desa Mesuji di tembak gara-gara rebutan lahan sama juragan kelapa sawit, ya Biarin aja. Kenapa kita harus repot mengurusi gelapnya ekonomi negeri ini? Cuma satu kata jawabannya, Biarin aja.
Jadi kata-kata “Biarin aja!” jadi nge-trend gara-gara Om Adam. Emang dia jagoan ekonomi, salut sama Om Adam.
Nah yang lebih aneh lagi lulusan ekonomi jiplakan Om Adam turut jadi penggembira di negeri makmur ini. Mereka jauh-jauh berkelana sampe ke Amrik, buat belajar teori Om Adam, dimana gitu, Berkeley kalo ga salah. Pulang-pulang main ngatur ekonomi jadi sok jagoan. Mentang-mentang ijazah pake bahasa inggris, jadi bisa bikin rencana ekonomi Indonesia macem-macem. Ga baik itu untuk bangsa ini, Ekonomi ya di “Biarin aja”.
Belum cukup puas memang mengutak-atik ekonomi Indonesia yang sudah sangat bagus ini (berapa kali saya harus bilang kalo Ekonomi Indonesia memang top). Ada lagi professor macam Pak Mubyarto yang sibuk bikin buku tebel-tebel tentang ekonomi Kerakyatan, “udah pak ekonomi Kerakyatan ga laku di Indonesia kan semuanya berbasis rakyat”. Kapitalis juga rakyat, Koruptor juga rakyat, sama aja kayak Petani miskin rakyat juga. Jadi perumusan pembangunan ekonomi Indonesia pake sistem koperasi, dsb sebenarnya konsep kuno, karena Indonesia sekarang punya yang lebih bagus, KORPORASI. Kalo ga salah ini bentuk terbaru dari Koperasi. Luar biasa bukan negeri Indonesia. Sudahlah pak Mubyarto, mungkin sudah saatnya Om Adam dan kroco-kroco nya yang memimpin ekonomi kita, “Biarin aja” pasar yang kerja keras, kita tinggal menikmati. Itu kan persaingan, ngapain capek-capek membela hak buruh, dan petani yang jelas-jelas kita punya urusan perut sendiri yang lebih penting.
Mungkin dulu waktu jadi mahasiswa pemegang kebijakan kita berkoar-koar mari bangun ekonomi Indonesia, dan ketika status mereka naik jadi pejabat tinggi di BUMN, mereka sempat ga keluar kamar 1 hari buat merenungi nasib, “Goblok banget dulu pas jadi Mahasiswa ngapain gw ikutan demo ga mutu, panas-panasan lagi, seharusnya dulu bukan memperjuangkan “bangun negeri ini”, tapi gw harusnya teriak-teriak ‘Rampok negeri ini!’ Indonesia udah terlalu kaya soalnya, kasian orang-orang kayak gw ini yang hari tua nya masih dibayarin negara (baca: Pensiun).”
Masih pusing soal membangun ekonomi Indonesia, kalo buat saya sih nggak, karena solusinya udah jelas “Biarin aja!”.
*Profil Penulis:
Nama: Bhima Yudhistira Adhinegara
TTL: Pamekasan-Madura, 03 11 1989
Jabatan: Ex- Menteri Riset BEM KM UGM (Pensiun 2011)
             Ex- Ketua Shariah Economics Forum UGM 2010
             Sekretaris Umum HMI komisariat FEB UGM
             Anggota dewan ASONe (ASEAN Student Organization Network)
Artikel:
Rekayasa Anggaran Akhir Tahun (Harian Nasional Republika)
Gerakan Mahasiswa di ASEAN (Harian Nasional Republika)
Gerakan Mahasiswa Islam di Asia Tenggara (Harian Kedaulatan Rakyat).