4R of Social Modeling

Oleh: Yoga PS
Apa yang mempengaruhi prilaku seseorang? Bagaimana cara mengubah prilaku manusia? Apakah manusia bisa berubah menjadi lebih baik? Bagaimana cara mengubah masyarakat? Apakah rekayasa social bisa dilakukan?
Pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantui benak saya. Dilatar belakangi rasa penasaran dan tuntutan pekerjaan yang memaksa saya untuk belajar mempengaruhi kerumunan massa. Kebetulan saya berada di dunia advertising-marketing. Sebuah wilayah persilangan antara marketing brand dan culture evolution.

Continue reading

Karpet

Hari pertama menjelang puasa. Seperti pada umumnya, shalat taraweh akan dibuka. Disebuah masjid di selatan Jakarta, dibelakang salah satu hotel bintang lima. Setelah sholat isya berjamaah, ada seorang bapak takmir memberikan pengumuman. Saya kira  siraman rohani atau semacamnya. Tapi ternyata:
“Karpet ini baru diganti sebulan yang lalu. Harap jamaah menjaganya. Sumbangan seorang donatur hamba Allah. Yang anak2 jangan sampai ngompol di karpet. Jangan tidur-tiduran di karpet. Kita mbersihkannya susah, dicuci setelah sholat isya”.
Setelah pengumuman itu hening. Tidak ada sambutan lain. Langsung menuju taraweh.
Awalnya saya kaget, akhirnya saya tertawa. Sungguh “tausyiah” yang luar biasa. Tidak ada siraman tentang makna puasa seperti biasa. Imbauan tentang pentingnya meningkatkan amalan ibadah, atau petuah2 wajib semacamnya. Tak ada pula ajakan untuk mencintai fakir miskin, menyantuni anak yatim, atau bagaimana cara membantu mereka yang kekurangan. Pengumuman yang out of the box.
Kata pengamat2 soleh, kita sekarang berlomba-lomba mempercantik masjid, tapi lupa untuk mengisinya. Permasalahan klise modernisme. Ditengah banyaknya pengumuman pembangunan/renovasi masjid. Kotak sumbangan terus diedarkan. Dana terus dikumpulkan. Tapi jumlah jamaah belum tentu penuh memuaskan.
Pantas saja tidak penuh, karena mengikuti teori ekonomi, jumlah supply masjid terus bertambah. Sekarang setiap lingkup RT atau perkantoran punya masjid sendiri. Minimal ada musholla. Sehingga subsitusinya semakin banyak. Distribution point menjadi tersebar, dengan konsekuensi turunnya konsentrasi jamaah pada titik tertentu.
Pingin masjid rame? Gampang aja. Berikan direct material benefit kepada Jemaah. Selain menyediakan fasilitas yang aman dan nyaman (karpet empuk, AC dingin, free wifi), Adakan operasi sembako, pembagian daging kurban, kalau perlu sholat dapat door prize! Hahaha (meskipun pada dasarnya setiap sholat kita mendapat doorprize dari Allah swt- kalo keterima loh yaaaa hihi :p).
Tapi apa salahnya mempercantik rumah Tuhan? Di Mekah sekarang berdiri megah Abraj al Bait, kompleks hotel dan mall setinggi 600 meter dengan jam raksasa terbesar mengalahkan Big Ben London. Bangunan tertinggi kedua didunia dengan 800 kamar ini punya floor area seluas 1,5 hektar dan mampu menampung 1000 mobil. Kita juga bisa memarkir helicopter pribadi jika sedang bosan naik onta.
Memang salah satu tanda akhir zaman selain banyaknya kemaksiatan adalah jumlah umat yang banyak tetapi asyik bermegah-megahan dan cinta dunia. Tapi mari berpikiran positif. Islam mengajak umatnya cinta keindahan. Tidak jorok, ogah membuang sampah sembarangan, dan menjaga kebersihan. Termasuk keindahan masjid dan karpet.
Lagipula Paulo Coelho, pengarang Brazil yang tersohor itu, mendapatkan pelajaran hidup dari karpet.
 “Saat bangun pagi hari, masih di tempat tidur, saya bertanya kepada diri sendiri. Apa rahasia sukses? Saya menemukan jawabannya di kamar ini. AC berkata: DINGIN, hati kita harus sabar. Atap berkata: TINGGI, tetapkan cita-cita setinggi awan. Jendala berkata: Mari melihat dunia LUAR. Jam berkata: Setiap menit adalah HARAPAN. Cermin berkata: Sebelum bertindak, lihatlah DIRI sendiri. Karpet berkata: BerSUJUDlah! Pengetahuan suka bicara, kearifan cenderung mendengarkan”.

Segelas Air Seharga 15 Juta

Oleh: Yoga PS
Sepulang dari meeting, saya menumpang salah satu angkot warna biru. Dan seperti biasa, macet menjadi paket tambahan yang tak terelakkan lagi. Tapi macet tidak selamanya menjadi bencana. Terkadang, ia justru membawa berkah didalamnya.

Didalam macet dimana gerak terbatas sekali. Waktu seakan berhenti. Jarak menjadi tak ada lagi. Ia membawa kembali nuansa kemanusiaan yang selama ini pergi. Lewat dialog sederhana tentang kehidupan sehari-hari. Teman dialog kali ini namanya Setiawan Jodi. Sang pengemudi taksi.
Saya memulai pembicaraan tentang macet. Obrolan lalu mengalir menjadi kehidupan berbangsa bernegara, pembangunan, pertumbuhan kendaraan, cerita sehari-hari, suka duka narik taksi, dan entah kenapa menjadi topic rezeki.
Awalnya hanya soal voucher taksi. Saya bercerita tentang salah satu supir taksi di kantor salah satu klien saya yang pernah mendapat durian runtuh dari langit: cek voucher 7 juta rupiah untuk argo seratusan ribu!
Jadi ceritanya supir taksi yang beruntung ini adalah langganan seorang manager di perusahaan FMCG multinasional itu. Kebetulan saat itu menjelang hari raya. Puasa. Menjelak mudik ke kampung halaman kita. Entah malaikat apa yang ada, sang manager dengan baik hati ingin berbagi tunjangan hari raya. Ia menuliskan angka 7 juta di voucher cek taxi. Sang supir tentu langsung terkejut dan berkaca-kaca dalam hati.
“Tapi ada teman saya yang dapat voucher 15 juta Mas”
“Wow, langganan juga pak?”
“Bukan”.
“Loh, koq bisa Pak?”
Segelas Air
“Jadi waktu itu ceritanya bulan puasa. Temen saya ini sedang nganter tamu. Terus kena macet. Karena udah maghrib, dia tanya ke tamunya: ‘maaf Bapak, sudah maghrib, Bapak mau sholat maghrib dulu mungkin?’ tawar teman saya itu”.
“Karena merasa sudah dekat, tamu ini nolak. Terus teman saya ngomong lagi: ‘Maaf Bapak, karena sudah waktunya buka, dibatalkan sama air ini dulu ya’ sambil menawarkan air dalam kemasan gelas.”
Mungkin karena tersentuh, saat sampai di tujuan, tamu yang ternyata seorang pengusaha ini menuliskan angka fantastis di voucher taksi itu: 8 juta rupiah!. Tentu sang supir terperanjat dan berterima kasih sedalam-dalamnya. Masalah belum berhenti disitu. Saat hendak mencairkan voucher di pool, voucher itu ditahan.
“Kita harus klarifikasi ke pemberi voucher”. Itu sudah peraturan perusahaan. Ditelponlah pemberi voucher. Meminta kejelasan. Jangan-jangan supir taksinya yang berbohong dan memanipulasi voucher.
“Loh itu hak saya donk mau ngasih berapa. Itu kan uang-uang saya” kata pengusaha tadi. Dan lebih hebatnya lagi, ia datang ke pool dan menuliskan satu voucher tambahan senilai 7 juta rupiah!. Sehingga total 15 juta.
Empati
Sekecil-kecilnya kebaikan, pasti akan dibalas kebaikan. Itu prinsipnya. Tapi entah kenapa, kita sering lupa, terlalu berfocus pada hal-hal besar. Kita beranggapan jika berbuat baik itu berarti menyumbangkan sekian juta rupiah, membantu sekian puluh anak yatim, menyantuni sekian ratus fakir miskin. Seolah-olah dunia hanya bisa berubah dengan kekuatan besar.
Padahal dunia bisa menjadi lebih baik lewat tindakan sederhana. Menyebut nama Tuhan ketika bangun di pagi hari, menyiram tanaman, memberi makan hewan kelaparan, menyapa tetangga, tersenyum kepada satpam, ceria ketika bertemu sejawat, atau berbagi sedikit rezeki yang kita miliki. Kebaikan-kebaikan kecil yang terakumulasi akan sama dengan kebaikan besar yang terfluktuasi.
Dan kebaikan yang disampaikan dari hati, akan sampai kedalam hati. Apa yang dilakukan pengemudi taksi tadi adalah tindakan yang sudah semakin jarang kita temui: melayani sesama dengan hati dan empati.
Daniel Pink dalam To Sell is Human menyebut bahwa empati akan semakin penting di dunia modern ini. Seorang negosiator yang memiliki empati terbukti memiliki kemungkinan untuk mendapatkan win-win negotiation. Penjual yang memiliki empati memiliki kemungkinan melakukan closing dan menjaga hubungan personal.
Saat hubungan antar manusia sudah menjadi hubungan penjual dan pembeli. Semua menjadi transaksi untung dan rugi. Kehadiran empati berarti kembali memanusiakan manusia. Menempatkan diri kita didalam posisi orang lain. Merasakan apa yang mereka rasakan. Dan membantu apa yang bisa kita bantu. Tanpa pernah memikirkan apa yang kita dapatkan sebagai balasan. Termasuk, hanya dengan memberikan segelas air.
Karena jangan pernah remehkan segelas air. Konon, Harun Al Rasyid bersedia menukar segelas air dengan separuh kerajaannya.

“Mewaspadai” Tiket "NOL" Rupiah

Oleh: Yoga PS
Minggu-minggu ini ada beberapa airlines yang sedang gencar-gencarnya promo. Lebih tepatnya hanya dua: “Air Merah” dan “Si macan”. Bagaimana dengan “Singa airlines” yang baru saja terkena musibah di Denpasar? Untuk yang itu harga tiketnya sudah over priced. Sehingga sering saya coret dari daftar wajib LCC saat mencari tiket.
Si “Air Merah” baru saja meluncurkan promo Karnaval nol rupiah. Sedangkan “Si macan” memberikan promo “1 Rupiah” untuk tiket return. Kebetulan, saya membeli kedua airlines itu. Untuk “Air Merah” saya dapat ke Singapura 66 ribu dan Johor Bahru pp 400 ribu. Sedangkan “Si macan” akan mengantarkan saya ke Bali dengan biaya 600 ribu pulang pergi. Semuanya dari Jakarta.
Loh katanya nol rupiah? Koq masih bayar ratusan ribu?
Yang Gratis Itu Seat-nya

“Mana nol rupiahnya?”

“Gw udah select Nol, pas di proceed ke next step koq jadi ratusan ribu?”

“Nih airlines mau boongin konsumen ya?”

Komentar seperti ini sering dikemukakan ticket hunter. Semata-mata karena kita sebagai konsumen tidak tahu bahwa Airlines akan memisahkan biaya tiket dengan fuel surcharge, tax, dll. Kita bisa lihat contoh gambar dibawah.
cost breakdown tiket JB
Tertulis jika biaya tariff (seat) = NOL rupiah. Jadi Airlines tidak berbohong donk! Tapi kita harus tetap membayar fuel surcharge, dan airport tax (di Luar Negeri airport tax dimasukkan dalam biaya tiket – klo gambar diatas 200rb). Lagipula, disaat tiket normal bisa berharga ratusan ribu, maka harga diatas tergolong sangat murah. Makanya saya iseng-iseng beli hehehe.
Yang perlu dicatat, beberapa airlines memasukkan opsi asuransi, seat selection, on board meal, dan tambahan bagasi. Sebagai konsumen hemat menjurus kere, kita harus pintar-pintar “membuang” opsi-opsi tambahan itu. Konsumen yang ga ngerti, biasanya asal next-next aja. Tahu-tahu mereka kaget melihat biaya yang membengkak dan menganggap airlines melakukan kebohongan publik.
Tips gampangannya: baca semua terms & condition dan jika ingin murah, un-thick semua option tambahan.
Add on cost baggage and insurance

Motivasi Promo Seat

Btw, kenapa sih Airlines berbaik hati merelakan kursinya hingga gratis? Logikanya sederhana: meningkatkan load factor (tingkat keterisian pesawat). Sebagai informasi, dalam airlines ada beberapa “tingkatan harga tiket”. Tidak ada yang sama. Semua tergantung permintaan.
Missal ada 100 seat (tempat duduk) tersedia. Harga dimulai dari Rp 100 untuk 10 seat. Jika sudah laku, tiket merangkak menjadi Rp 120 untuk 20 seat. Jika semua terjual, harga berubah jadi Rp 150 untuk jatah 40 seat. Demikian seterusnya hingga misalnya harga menjadi Rp 200 untuk 30 seat terakhir (sekedar contoh doank. Tingkatan harga tergantung maskapai. Salah satu maskapai bisa sampai 8 tingkatan harga!).
Karena airlines business ada seasonal-nya, rata-rata load factor pesawat 70-80%. Tergantung musimnya. Pas musim liburan ya rame. Kalo ga pas liburan ya gitu deh. Banyak yang kosong. Nah, promo tiket sebenarnya adalah usaha untuk memberikan beberapa tiket dengan harga terendah di bulan-bulan low season. Bulan February-April dan sebulan setelah lebaran adalah best moment untuk mencari tiket promo. Dan jangan bermimpi ada maskapai yang memberikan promo di musim lebaran! (kecuali itu maskapai bapak kita sendiri).
Pola pikir airlines simple koq: daripada kursi dibiarin kosong, kenapa ga di diskon aja?
Jadi ya, happy hunting tiket promo! :D