Progonomics [Bagian 2]


Oleh: Pugo Sembodo*)

Progo is Hot, Flat, Crowded
Ada buku menarik bikinan Thomas Friedman (2008) yang mencoba menjelaskan fenomena dunia akhir-akhir ini. Khususnya Amerika pasca dampak dari peristiwa 9/11. Friedman menjelaskan bahwa dunia ini sedang panas (hot), datar (flat) dengan adanya perkembangan teknologi internet dan transportasi berkecepatan tinggi) dan padat (crowded) karena saking banyaknya penduduk dan perubahan iklim yang membuat dunia makin panas. Buku tersebut berjudul The World is Hot, Flat, Crowded. Sepertinya, judul tersebut analog dengan Kereta Progo dalam beberapa konteks.
Progo is hot, ini tidak bisa dipungkiri, fakta yang sangat nyata. Progo itu panasss benerrr. Jika anda melakukan perjalanan pada siang hari, saya bisa mengandaikan bahwa progo adalah spa terpanjang di dunia! 8 gerbong! 11 jam lagi. Apalagi, ada banyak aroma terapi. Aroma dari berbagai jenis ketiak penumpang percampurannya akan menciptakan aroma tak karuan. Bila kita dapat jatah berdiri, selamat berjuang-lah pokoknya. Sering saya mendengar teman-teman harus rela berdiri dari awal sampai akhir perjalanan.Bayangkeun coba.
Progo is flat. Memang, untuk tarif progo bersifat flat, semua orang harus bayar 35 ribu. Mau penumpangnya presiden sampai mahasiswa tingkat akhir, ya segitu-itu. Tapi ada fenomena flat lain: kursi yang flat. Saya nggak habis pikir semua fasilitas untuk semua kelas ekonomi di berbagai moda transportasi selalu kursi yang flat, keras dan bisa dibayangkan menjalani perjalanan 12 jam dengan kursi seperti itu. Kondisi kursi ini hampir mirip dengan kursi saya pas nonton Indonesia-Filiphina di Senayan pada Semifinal. Saya duduk yang di kursi yang flat, keras, pas El-Loco ngegolin nggak kelihatan karena semua orang berdiri. Itulah nonton ala kelas ekonomi.
Kembali ke Progo, saya agak sedikit susah menjelaskan gimana rasanya. Yang jelas pantat panas adalah output yang jelas dari kursi yang flat nir-busa dan keras di punggung, disamping lutut yang mungkin pegel-pegel akibat nggak bisa selonjoran seperti di kereta eksekutif. Kata-kata lebay teman saya, Bagaikan digebukin 5 Ade Rai!
Progo is crowded, coba imajinasikan bagaimana jika kereta yang peruntukannya untuk hanya 150 penumpang diisi hingga setiap sudut bahkan jika waktu lebaran jendela beralih peran menjadi pintu. Di saat mudik, weh, yang kayak gini jamak terjadi, coba kalo anda cukup gemuk, malah nyangkut dah di jendela,hehe. Atau mungkin sebelum berangkat mudik, apakah kita harus latihan game spider web? :
Progo’s Multiplier Effects
Ngeri kan? hehe. Atau sebenarnya nggak sesangar yang sudah saya ceritakan tadi. Saya mungkin terlalu L-B-Y. Nha, dari kondisi tersebut pasti ada yang diuntungkan dengan situasi yang ada (meskipun mereka juga adalah penyumbang kesumpekan dan kepanasan kereta) mereka mendulang rejeki dari sana. coba saya sebutkan satu persatu penjual nasi bungkus, mijon, grinti, popmie dan minuman hangat lainnya, penjual kipas angin, penjual koran bekas buat alas, penjual batere hape nokia, tukang pijet, boneka dan mainan anak, penjual lanting dan sale pisang, penjual pecel dan kumpulan penjual lainnya termasuk penjual senter yang cara nambah energinya dengan dipompa. Progo ternyata creates so many job opprtunities dalam golongan pekerjaan informal . Komentar teman saya ketika sudah naik progo pasca kami lomba di IPB adalah progo itu enak, karena dimana lagi di kereta ada penjual datang ke kita tanpa susah payah. ini Pasar Berjalan terpanjang dan itu semua dilayani.
Yang perlu disayangkan adalah benar-benar kreativitas para pedagang mandeg pada beberapa diantaranya saling bersaing dan membunuh bisnis antar sesama. Contoh, suatu kali saya naik progo ngobrol dengan lulusan FEB UGM juga. ternyata dia angkatan 2000 yang sekarang bekerja sebagai akuntan di sebuah Perusahaan Otomotif Ternama. Taklama muncul beberapa pedagang nasi bungkus. Dia bilang kepada saya, mau Nasi Paket? wah mau dalam hati, namun saya kudu jaim juga, maka saya menggeleng menggantung. “Tunggu dulu” kata dia, “nunggu penjual yang sebenarnya, kalau yang lain nggak enak”. lalu muncullah bapak berkulit hitam dengan kumis. Dia membawakan di baki sekitar 6 bungkus makanan dalam styrofoam. Setelah dibuka ternyata penyajiannya menarik dan rasanya enak. Nasi Paket itu dan dijual sekitar 11 ribu dan rasanyapun enak. Endingnya saya dibayari, jadi enak nih. Sekalian curhat, itu adalah masa-masa awal saya kerja di Jakarta, tentu tahu kondisi perekonomian saya [lha wong dari naik Progo saja sudah ketahuan :D].
Pada perjalanan saya dengan Progo selanjutnya, Eeee saya beli nasi bungkus tapi ayam-nya keras banget, asin dan nasinya kering. Saya mencobanya dua kali dan mendapatkan hal yang sama. Fenomena kayak gini yang bikin usaha nasi bungkus bapak yang tadi menjaga kualitas akan menurun bahkan bisa pailit karena image-nya turun, padahal sudah kita bahas sebelumnya bahwa penumpang Progo itu adalah penumpang yang secara rutin dan periodik. So, pada perjalanan selanjutnya akan kapok beli.
Aneka Fasilitas Tanpa Batas
Beranjak ke fasilitas, ada lho fasilitas di Progo yang yang tidak bisa didapat di angkutan lain. Akan saya bandingkan deh dengan naik pesawat. Di pesawat kita nggak boleh ngidupin hape, nggak bisa silaturahmi deengan orang luar, nggak bisa kangen-kangenan pas perjalanan. Eh, jangan salah lho, di Progo kamu bisa ngidupin hape till the end. Bahkan ada yang jualan batere! Beneran, kamu bisa online terus chatting, fesbuk, twitteran. Elo bisa update lah dan tentu saja gahol. Semua sarana buat gaul selalu ada di Progo, apakah itu bisa di pesawat? Kalo di Amerika sih denger-denger Elo ngidupin hape (kok jadi Elo Guwe :D], langsung diturunin balik ke bandara sebelum take-off karena membahayakan.
Yang lain, di pesawat semua orang terkesan jaim, diem semua. Kamu ngakak ketawa pasti diliatin. Kamu kentut (dan kedengeran] dimarahin. Kamu ngorok pada protes. Di Progo, sosialiasi atau berkomunikasi antar penumpang pun terjadi dengan lancar. Pernah suatu saat di depan toilet kereta kita bisa tertawa terbahak-bahak saling lempar guyonan ala rakyat kecil.Saya pun merenung, memang hebat bukan mainan rakyat kecil Indonesia. Mereka masih bisa tertawa di tengah derita. To sum up, saya merasakan interaksi yang luwes dan tidak ada batas.
Selain fasilitas-fasilitas tadi, perjalanan dengan Progo memungkinkan kita menikmati perjalanan secara panjang. Anda bisa menikmatinya selama lebih dari 11 jam, jika di pesawat paling banter hanya 6 jam untuk perjalan domestik. Selain itu jika kita menggabungkan semua fasilitas dari para pedagang di Progo kira-kira anda akan mendapatkan fasilitas seperti ini:
“Naik kereta dengan aroma spa, diberi pelayanan pijat sambil tetap dapat berchatting dan tetep gaul and update terus, makan pecel atau nasi bungkus dengan beralaskan koran, anak-anak kita bisa bermain boneka dan kita akan mendapatkan angin sepoi-sepoi dari kipas angin yang kita beli.”
Selamat mempersiapkan dan menunaikan Ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan dan semoga semua amal ibadah kita diterima oleh Allah. Selamat berkendara atau mudik dan semoga sampai selamat sampai tujuan :D
-Bersambung, tulisan kedua dari tiga tulisan-
Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 29 Juli 2011.
[Subhanallah……Indonesia is a Beautifullllll Country ^^V]
*)Penulis lagi jalan2 keliling Indonesia ngerjain proyek Bank Dunia