Saatnya Mobil Nasional Tancap Gas

 Mobil buatan adik-adik kita SMKN 2 Solo, SMKN 5, dan SMK Warga Solo  yang bernama “Kiat Esemka”, tiba-tiba saja jadi buah bibir pecinta otomotif. Hanya berbekal biaya produksi yang minim, anak-anak muda itu membuat mobil Sport Utility Vehicle (SUV). Jika ini merupakan tunas industri Mobil Nasional (mobnas) Indonesia, mungkin ada pertarungan yang seru di pasar industri otomotif Indonesia.

Zaman selalu berubah. Dulu tahun 90-an, anak STM (sekarang lebih dikenal SMK) bisa memperbaiki mesin mobil atau radio transistor saja sudah hebat. Mereka selalu dicari ketika mesin atau alat elektronik kita rusak. Sekarang, pelajar SMK lebih handal. Mereka merakit dan membuat mobil yang tergolong kelas SUV,  bukan hanya mesin, tetapi juga eksterior dan interiornyaInilah yang membuat banyak orang optimis, “inilah era kebangkitan mobnas kita”.
Selama ini, industri otomotif di Indonesia terutama mobil hanya dikuasai merek global seperti Honda, Suzuki, Daihatsu, BMW, Hyundai dan sekitar sepuluh merek lainnya. Industri otomotif Indonesiabelum mempunyai merek Indonesia. Kalaupun bermerek dengan bahasa nasional, itu pun hanya sekedar merakit saja. Padahal, tren penjualan dan produksi mobil yang dirakit di negara ini cukup pesatdan menggembirakan.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan, mulai tahun 2007 hingga tahun 2011 lalu penjualan mobil di Indonesia tumbuh sekitar 26 persen. Selama tahun 2011 sebanyak 837.948 unit telah diproduksi di Indonesia melalui Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) asing yang ada. Total ekspor dalam bentuk utuh (completely built up / CBU) pada tahun yang sama mencapai 107.932 unit, berbeda dengan nilai impornya yang hanya 76.173 unit.
Ini menunjukkan bahwa industri dan pasar otomotif  di nusantara sedang pada masa jaya-jayanya. Wajar jika ketika gabungan siswa SMKN 2 Solo, SMKN 5, dan SMK Warga Solo  sanggup merakit mobil “Kiat Esemka”, banyak orang angkat topi dan standing applause ketika diluncurkan. Bhakan Walikota Solo, Joko Widodo, dengan bangga memakai mobil tersebut sebagai mobil dinasnya.
Ide Mobnas memang bukan hal yang baru dibicarakan. Inpres no.2 tahun 1996 yang saat itu ditujukan kepada Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Keuangan dan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk mewujudkan proyek industri mobil nasional. Saat itu, PT. Timor Putra Nasional yang ditunjuk sebagai pionir mobil nasional Indonesia gagal mewujudkannya. Saat dilempar dipasaran, produksi mobil Timor dicibir oleh masyarakat otomotif Indonesia sebagai produk gagal, dan masih menggunakan konten lokal yang masih minim.
Memang, pemerintah saat ini tidak menyinggung proyek mobnas ini secara eksplisit dalam Perpres no.28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional dan buku putih Kementerian Perindustrian.Strategi jangka panjang industri kendaraan bermotor hinga tahun 2025 adalah memperkuat basis produksi kendaraan niaga, kendaraan penumpang kecil, dan sepeda motor, meningkatkan kemampuan teknologi produk dan manufaktur industri komponen kendaraan bermotor, memperkuat struktur industri pada semua rantai nilai melalui pengembangan klaster otomotif, pengembangan keterkaitan rantai suplai melalui klaster, pengembangan desain rekayasa, pengembangan produk komponen otomotif serta manufakturing penuh sepeda motor utuh.
Mewujudkan impian rakyat Indonesia untuk mobnas ini bukan hal yang gampang dilakukan. Sedikit melirik industri otomotif di negeri Jiran misalnya. Proton, mobil nasional buatan Malaysia awalnya pun hanya merakit dengan komponen dari perusahaan otomotif Jepang, Mitshubishi. Pada tahun 1982, Perdana Menteri Malaysia saat itu Mahatir Muhammad, menerapkan National Automotive Policy (NAP) agar industri otomotif Malaysia memulai pembuatan mobil nasional. Transfer teknologi dari Mitshibishi ke negara Malaysia pun terjadi yang berakhir dengan diluncurkan Mobil Nasional Malaysia pertama, Proton Saga.
Kita bisa belajar dari negeri seberang, hanya saja saat ini pasar otomotif Indonesia terlihat penuh sesak. “Kue” industri otomotif ini direbutkan oleh banyak ATPM. Secara ilmu ekonomi, pasar industri otomotif saat ini sepintas bisa disebut “Pasar persaingan monopolistik”. Karl E. Case dan Ray C. Fair (2002) menjelaskan dalam “Principles of Economics”, bahwa pasar ini mempunya ciri khas, banyak perusahaan yang bergerak di bidang yang sama, tidak ada rintangan masuk dalam usaha ini, dan produknya jelas terlihat berbeda. Pada pasar persaingan monopolistik, yang paling jelas terlihat adanya kemampuan produsen mempengaruhi harga. Hal ini disebabkan karena keunggulan masing-masing barang yang diproduksi (dalam hal ini mobil). Dengan demikian, konsumen tidak akan berpindah ke merek lain.
Paling tidak saat ini ada 9 (sembilan) mobnas yang tengah diproduksi selain Kiat Esemka, diantaranya Komodo, Tawon, GEA, Marlip, Maleo, Wakaba, Arina, ITI, dan Mahator. Semua produk roda empat buatan lokal ini akan masuk di persaingan monopolistik pada pasar industri mobil di Indonesia. Masuknya mobnas ini benar-benar menguntungkan konsumen otomotif. Mereka memiliki pilihan yang sangat besar untuk konsumsi produk otomotif ini. Secara otomatis, para pembeli mobil yang rasional akan membeli dengan menyesuaikan anggaran yang akan mereka belanjakan.
Perlu Kebijakan Mobil Nasional
Masuknya mobnas ke ke kancah persaingan industri mobil di Indonesia memang bukan hal yang mudah. Para produsen mobnas memang dihadapkan dengan beberapa batu sandungan yang berat. Biaya dari industri otomotif jika dilihat secara detail jumlahnya sangat besar. Mulai dari biaya tetap (fixed cost), terdiri dari investasi biaya infrastruktur dan biaya penelitian pengembangan (Research &Development). Lalu, biaya variabel, terdiri dari biaya bahan baku untuk komponen dan biaya tenaga kerja. Jika perusahaan akan meningkatkan kapasitas produksinya, menambah tenaga kerjanya, atau meningkatkan teknologinya maka muncul biaya marginal (marginal cost).
Nah, sekarang apakah mobnas sanggup bertempur di pasar industri ini jika biaya yang dikeluarkan cukup terbatas? Honda Prospect Motor, perlu mengeluarkan investasi sekitar 70 juta USD untuk membuat tipe produk mobil Honda City, Honda Stream dan Honda CRV. Sementara, Astra Daihatsu Motor, perlu merogoh kocek Rp. 300 Milyar hanya untuk membangun sebuah produk mobil segmen bawah yaitu Daihatsu Xenia. (Agustina Kurniasih, Industri Otomotif Indonesia, 2005)
Melihat kondisi seperti ini, Komisi VI DPR RI sebenarnya telah bekoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Riset dan Teknologi untuk diharapkan membantu membangun desain dan rancang bangun mobnas. Paling tidak, biaya R&D yang masuk dalam biaya tetap dan harus ditanggung perusahaan pembuat mobnas menjadi lebih ringan.
Untuk awal, memang kita akui, skala produksi industri mobil bermerek global milik ATPM masih terlalu kuat. Mereka punya dana untuk menambah skala produksi, mendiferensiasikan produk mobilnyadengan berbagai tipe, dan iklan yang ditayangkan di media massa untuk menarik konsumennya sangat hebat. Wajar bila, saat pameran otomotif terbesar di Indonesia seperti Indonesia Automotive Show tahun lalu, stan mobnas hanya terlihat kecil di sudut ruang pameran diantara stan pameran milik ATPM-ATPM ternama.
Industri mobnas ini menanti sebuah kebijakan layaknya kebijakan yang dibuat pemerintah Malaysia mengenai National Automotive Policy (Kebijakan Mobil Nasional). Kebijakan ini bertujuan menumbuhkan penciptaan nilai ekonomi secara berkelanjutan (Prof. Mudrajad Kuntjoro, “Kebangkitan Mobnas?”, Opini Kompas 6 Februari 2012).
Dalam kebijakan tersebut ada dua kunci utama yakni, pertama, Diperlukan sejumlah paket hibah (industrial adjustment fund) dan insentif agar mobnas bisa mencapai skala operasi, keterkaitan industridan pengembangan komponen lokal dan kapasitas bumiputera. Kedua, agar dapat diproduksi secara massal maka perlu partisipasi semua pihak dalam rantai nilai produksi.
Mungkin insentif awal bisa berupa pembebasan pajak untuk impor komponen yang memang tak bisa dibuat secara lokal dalam beberapa waktu. Namun secara jangka panjang, kita harus adopsi teknologi komponen tersebut agar bisa dibuat secara lokal.
Kapasitas bumiputera saat ini memang lagi booming. Pertengahan Pebruari tahun ini, media massa memberitakan mengenai uji coba penggunaan bahan bakar air oleh SMK Negeri 2 Langsa, Nangroe Aceh Darussalam. Alat yang dapat mengubah air menjadi bahan bakar kendaraan bermotor tersebut diberi nama “WaVe++SMK”. WaVe merupakan singkatan dari Water as a Vehicle’s Fuel, mengacu pada fungsi alat tersebut yang menjadikan air sebagai bahan bakar. Nama SMK sengaja dilekatkan pada alat ini sebagai bentuk apresiasi kepada SMKN 2 Langsa sebagai institusi yang telah mengembangkan dan merakit alat tersebut. Apa yang dilakukan anak-anak SMK ini bukan penemuan baru. Sebab pada 1833 telah dikembangkan oleh ilmuwan Michael Faraday dengan elektrolisa air. Di mana dalam elektrolisa air ada perubahan muatan elektron maupun atom (Harian Aceh.Com, 9 Pebruari 2012).
Disinilah kesempatan pemerintah melakukan penjembatanan antar SMK berprestasi dalam otomotif tersebut. Tidak mustahil jika pertemuan produk mobil Kiat Esemka dengan Wave++SMK akan menjadi andalan dalam Indonesia untuk memasuki persaingan dunia otomotif yang makin ketat. Inilah diferensiasi yang sanggup mengalahkan diferensiasi milik ATPM global. Tinggal bagaimana mengatur bagaimana rantai produksi ditata secara rapi dan sistematis.
Jangan sampai kita sia-siakan kesempatan memajukan industri mobnas ini. Parstisipasi dalam industri ini mempunyai multiplier effect yang cukup besar. Secara vertikal saja, industri hulu-hilirnya bisa memuat industri besi tuang, industri blok mesin, industri komponen, industri ban, dan industri aksesori mobil. Secara horizontal industri hulu-hilirnya bisa menggairahkan industri karoseri, pembiayaan pembelian mobil (leasing), bengkel mobil, bahkan kursus mengemudi.
Advertisements