Seandainya Gua Jadi: NYANGKUTERS

Sebelum lanjut, ngucap dulu,”AMIT-AMIT JABANG BAYIIIIK !!!”

Ini tu suatu pengandai-andaian yg tidak mungkin diharapkan (baru perandaian aja gk di-arepin, apalagi bener kejadian) oleh rata-rata partisipan pasar.


Gak pernah nongol di pelajaran ekonomi khususnya investasi di sekolah dan kampus,
kosa kata “nyangkut” dan “nyangkuters” dijamin bakal nongol saat para partisipan pasar ngumpul dan ngerumpi, mau di forum, seminar, investor summit, etc.

Kalo udah kesebut, maka akan menyusul sohib-sohib karibnya, seperti: 

“pucuk pohon” 

“investor dadakan”

loss-nya udah nyesek”

“saya memutuskan untuk jadi invest di situ” 
(Acap kali saat si mulut melantunkan kalimat ini, si hati kecil berkata,”mudah2an cepet naik lagi” atau “mudah2an bandarnya ngegoreng lagi”.)

Biar perandaian-nya berasa, kita bayangin, “nyangkut” ini terjadi ketika…Anda…
(jangan saya deh ya, cukup anda aja, hehehe)

*beli rumah di Jepang pas taun 72-74,
*beli saham di bursa Jepang sekitar tahun 89-90,
*beli saham di bursa Cina di medio Q4 tahun 2007
*beli saham di US medio pertengahan tahun 2007
*beli rumah di US pas taun 74-an 2004-2005 

monggo chartnya ada di sini

Udah liat chartnya ? sekarang pikir deh, kalo anda beli di harga tinggi, trus mau jual di harga berapa ?

mau sabar nunggu ampe kapan ?

mau cuan / laba / profit / (masukkan istilah favorit anda untuk suatu penambahan nilai ASET yg lebih tinggi dibanding tingkat inflasi selama anda berinvestasi) kapan ???


bingung ?

(pokoknya lo cari di chart,puncak gunung yg paling tinggi, nah trus bayangin kalo lo nongkring di puncak itu, dan lo mengidap fobia ketinggian, wakakakka, kidding… )

Kalo di Indonesia, yg sensasional ya 2 hal ini:

sama yg ini (sempat dibahas juga di blog ini) :

ada yg tau harga saham bumi sekarang ? cek di mari
apa pernah nyentuh 8000 lagi setelah tahun 2008 ?
Oiya, harga emas (LM deh, olho buat yg ahli aja) di toko emas kisaran berapa ya ? cek di sini nih
Naaah… kalo udah gini, jadi gimana ???
tenang… yg penting, tanam kalimat berikut dalam pikiran anda:
“OGAH JADI NYANGKUTERS” <<< (100x sebelum dan sebangun tidur)

 kalo udah… sebagai penyegar mata dan jiwa, boleh main2 ke link ini dan link itu.


Walau chart yg nampang kali ini nampak menyeramkan, anda tetap kudu investasi…
tapi… sebelum kesitu…
Ya ini dulu, baru itu…

to be continued…

Advertisements

Jepang & Cina: Kisah 2 Pendekar Asia Timur

Pasca PD II, Jepang mengalami fase ”economic miracle” melalui kucuran dana dari Marshall Plan
Dari 1960-1980-an taraf hidup rata2 masyarakat Jepang membaik seiring munculnya golongan salaryman
Pada 1990, seiring terjadinya bust pada harga saham dan real estate, mimpi Jepang menjadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia bisa dibilang kandas…
Pasca bust, Jepang pun mengalami delfasi berkepanjangan

Sekarang kita beralih ke Cina,

Reformasi ekonomi yang dipimpin Deng Xiaoping memberi efek nyata:
Pembatasan partisipasi asing dalam pasar saham, nampak tidak berpengaruh banyak
Efek pada rata-rata harga, menunjukkan transformasi sukses menjadi negara maju
Sekarang sedikit kita tengok “sasarannya” :p
Lalu index saham yg jadi sarapan wajib para pelaku pasar:
TKP biang krisis global 2008 kemarin:
Kaget juga ngeliat gimana chart bisa bicara jauh lebih banyak dibanding kata-kata.
Jadi… kalo Indonesia nanti maju jadi pendekar perwakilan Asia selanjutnya,
bisa belajar “do’s & don’t” dari 2 pendekar di atas :)
Sumber gambar: google
Sumber chart   : http://www.tradingeconomics.com/


"Kaisar" Deming Dalam Kebangkitan Industri Jepang

Oleh: Ardiwansyah
Jalan-jalan macet dan kendaraan-kendaraan padat merayap bak ular menyelimuti beberapa kota. Sebagian besar kendaraan tersebut terlihat jelas buatan dari negeri sakura sana. Negeri sakura dan samurai tersebut memang dikenal sebagai produsen produk-produk otomotif dengan teknologi dan kualitas berkelas. Disamping bidang otomotif, ketika anda memasuki pusat-pusat perbelanjaan peralatan elektronik, jepang juga digdaya dengan produk elektronik dan mesin-mesin peralatan rumah tangga dan pertanian. Hampir sebagian produk bidang tersebut tercantum jelas aksara made in japan sebagai simbolisasi keperkasaan dan kebanggaan dalam arena industri. Dengan itu produk dan brand dari jepang makin mengokohkan dirinya sebagai Leader market dan king of manufacturing. 
Sehingga tak dapat dipungkiri jika jepang saat ini merupakan salah negara yang sangat maju dalam industri terutama dalam bidang otomotif. Beberapa orang mengatakan bahwa majunya industri jepang karena mental dan etos kerja masyarakatnya yang sangat tinggi. Tapi terlepas dari budaya bangsa jepang yang sangat disiplin dan konsisten dalam bekerja, ada tokoh yang sangat berjasa dalam proses revolusi industri di jepang. Tentu sangat mencengankan bagaimana sebuah negara yang baru saja hancur lebur akibat bom atom dalam perang dunia II bisa begitu cepat bangkit dan tampil terdepan dalam bidang industri. Tokoh yang membangkitkan semangat industri di jepang akibat kekalahan pada perang dunia II itu adalah William Edward Deming.
 Deming yang dilahirkan di Sioux City, Lowa ini dikenal sebagai salah satu ‘Great Quality Pioneer’ atau “the father of the quality evolution”. Ia adalah seorang ahli statistik, Deming mendapatkan gelar sarjananya dari Universitas Wyoming, lalu melanjutkan masternya di Universitas Colorado dan memperoleh Doktornya di Yale. Deming sukses menerapkan pendekatan statistikal dalam pengaplikasiannya dalam bidang industri, hingga pada konsep Total Quality Management (TQM) yang masyhur itu dalam korporasi industri.
William Edward Deming
Sumbangsih besar Deming bagi Jepang, ketika Jepang lulu lantah akibat serangan bom atom yang melumpuhkan jepang. Ketika pada Tahun 1950, Dr Deming berbicara di depan para manajer puncak Jepang tentang peningkatan mutu, sejak saat itu organisasi-organisasi jepang mempelopori dan mengadaptasi gagasan-gagasan Deming. Sebagai hasil dari seminar-seminarnya, sejak tahun 1951 Jepang memiliki kompetisi nasional tahunan peningkatan kualitas (Deming Prize). Jepang juga mempunyai sejumlah jurnal dan buku yang dikhususkan untuk mempelajari dan memajukan implikasi-implikasi teori Deming. Kiprahnya dalam membangkitkan kembali industri jepang membuatnya dikenal sebagai orang yang bertanggung jawab atas teori manajerial yang berpengaruh atas transformasi Jepang menjadi bangsa terdepan dunia dalam produksi barang-barang bermutu tinggi. Dalam sebuah wawancara dengan NBC, Deming berkata “If Japan can, Why can’t we”, karena itulah kemudian Deming dilirik untuk membantu beberapa perusahaan besar seperti General motors dan Ford untuk meningkatkan kinerja dan kualitas produknya. 
Salah satu teorinya dalam produksi adalah tentang Variabilitas, bahwa bagaimana mengurangi produk cacat atau gagal seminimal mungkin yang terkenal dengan nama “eksperimen manik-manik merah” dalam kontrol statistik. Buku terkenalnya adalah Out of the Crisis yang menjelaskan (14 point for management) 14 langkah yang harus ditempuh manajemen untuk transformasi organisasi. Selain itu Deming sering menganjurkan bahwa Top Management dan karyawan adalah setara dalam dalam mendapatkan situasi kerja yang nyaman. “Top Management penting, namun karyawanlah yang membuat bisnis produksi tetap berjalan” ujarnya.
Entah apa jadinya jika pasca perang dunia II, William Edward Deming tak berkunjung ke jepang dan menularkan mantra keilmuannya . Mungkin jepang masih akan tertatih membangun negerinya dari sisa-sisa puing perang dunia II dan terlempar jauh dari pusaran industri. Deming telah meniupkan roh produktivitas dan mutu dalam bangsa jepang sehingga hari ini bisa bertarung dalam medan industri yang sarat technological, valuable dan inovatif. Teringat pesan seorang kaisar jepang sesaat setelah jepang hancur oleh bom atom, sang kaisar berpesan kumpulkan para guru dan ahli yang masih hidup. Edward Deming mungkin salah satu guru yang dipanggil oleh kaisar untuk membantu membangun kembali kejayaan jepang menjadi “kekaisaran industri”. Tidak salah kiranya jika Edward Deming berhak dijuluki ‘Kaisar’ industri jepang. 
17 februari 2013 
Ba’da isya, gubuk ‘berhati nyaman’

Ekonomi Mimpi

Oleh: Meikha Azzani

Rasanya seperti mimpi tinggal di Jepang. Bukan, bukan yang saya merasa wow tinggal di Jepang, bukan. Tapi karena semua yang ada disini seperti ada di alam mimpi. Entah saya kebanyakan nonton film kartun dari Studio Ghibli atau Cartoon Networks, tapi inilah imajinasi. Kekuatan Ekonomi bangsa Jepang.

Film-film anime yang dibuat oleh banyak komikus Jepang menjadi trend di banyak Negara seperti di Indonesia. Contohnya Gundam, Naruto, bahkan banyak film-film dari Studio Ghibli yang didubbing dengan menggunakan bahasa Inggris.

Menurut saya ini adalah hal yang luar biasa. Karena apa yang diproduksi oleh banyak orang Jepang bermula dari imajinasi dan kreativitas. Baiklah pertama mereka memang banyak meniru, tapi kemudian berkembang sedemikian rupa hingga menjadi industry yang sangat menjanjikan.

Kebayang apa yang saya maksud?

Saya berjalan-jalan ke Fujikyu, seperti Dufan, tapi 10 kali lebih hebat. Di sana saya masuk ke rumah Gundam Crisis. Di dalamnya saya bermain seperti basecampnya Gundam. Imajinatif. Lalu saya masuk ke toko mainan Yamashiro-ya dan menemukan berbagai macam mainan yang sangat kreatif. Berbeda sekali dengan banyak toko mainan yang saya datangain di Indonesia (biasanya menjemukan, hanya robot, mobil-mobilan, boneka, fiuh).

Lalu, saya juga menonton anime-anime dan film-film Jepang yang temanya, beberapa, mendorong anak-anak untuk mencintai lingkungan, sesama, dan berjuang keras. Yang paling wow dari Jepang adalah Tokyo, a great integrated city. Saya ke Shinjuku dan merasa wow dengan stasiun bawah tanah yang besar sekali namun terhubung dengan banyak gedung. Yang lebih keren banyaknya jembatan layang untuk pejalan kaki yang centernya adalah stasiun.

Saat itu saya jadi kebayang kartun dari cartoon network (lupa judulnya apa tapi tentang kehidupan di masa depan). Dari situlah kemudian saya berpikir bahwa salah satu “energy” yang menghidupkan Jepang adalah kekuatan imjainasi. Di Indonesia kemudian menjadi industry kreatif.

Lalu bagaimana nasib industry kreatif di Indonesia ke depan? Apa bisa menjadi energy baru bagi perekonomian Indonesia?

Melihat Jepang, saya tebak pasti mereka memerlukan waktu bertahun-tahun dan dukungan dari berbagai kalangan masyarakat. Nah, kira-kira Industri Kreatif Indonesia bisakah berkembang dalam waktu yang cepat (sebelum abis dibabat produk tiruan Cina) dan didukung oleh berbagai macam lapisan masyarakat?

Bayangkan ini, jumlah penduduk Indonesia yang luar biasa banyak dengan gen konsumtif merupakan pasar yang sangat potensial untuk berbagai macam produk. Nah, bayangkan, seandainya Indonesia memiliki produk asli buatan sendiri yang dipakai oleh masyarakat Indonesia, bukankah akan menjadi luar biasa ya? India saja sudah punya Bajaj, Indonesia bahkan belum sama sekali.

Sejujurnya tema seperti ini memang klasik. Dan lagi-lagi solusinya kembali pada system. Kemajuan Jepang karena system kenegaraan yang terintegrasi antar semua sector sosioekpolbudhankam, yang gagal dijalankan Indonesia. Kini, sejujurnya, saya agak merasa ketar-ketir dengan kemajuan Indoensia. Dibandingkan Cina saja kita sudah mulai tertinggal (neraca perdagangan kita dengan Cina disalip boi) dan pemuda-pemudi kita copas artis/film Korea plus West minded.

Saat ini kita sedang berburu waktu. ASEAN pada tahun 2015 akan semakin bebas. Perusahaan-perusahaan akan didorong untuk semakin efisien dan seiring dengan semakin berkembangnya teknologi maka penggunaan human resources bias berkurang yang berarti pengangguran di Indonesia. Untuk perekonomian Indonesia, perpaduan itu semua jelas disaster.

Ekonomi Imajinasi
Solusinya, buat saya, adalah ekonomi gila, salah Ekonomi Imajinasi. Apa itu? Saya juga ga tau gimana tapi yang saya bayangkan adalah suatu gerakan massif dimana pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat menggunakan secara gila-gilaan produk-produk karya anak bangsa. Caranya? Mari kita pikirkan. Katanya ini blog mau jadi ajang lahirnya ide-ide. Kalau ada tulisan masuk, dibaca dan dibahas donk…jangan cuman pada balapan nulis. Lebih seru lagi kalo ada balas-balasan artikel. Seru tuh.

(Lho, ko jadi ngeritik gini haha, belum apa-apa dah mulai tapi tolong diterima tulisan saya. Yoroshiku neee…).

Note: tulisan selanjutnya menyusul yaaah…^^