4R of Social Modeling

Oleh: Yoga PS
Apa yang mempengaruhi prilaku seseorang? Bagaimana cara mengubah prilaku manusia? Apakah manusia bisa berubah menjadi lebih baik? Bagaimana cara mengubah masyarakat? Apakah rekayasa social bisa dilakukan?
Pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantui benak saya. Dilatar belakangi rasa penasaran dan tuntutan pekerjaan yang memaksa saya untuk belajar mempengaruhi kerumunan massa. Kebetulan saya berada di dunia advertising-marketing. Sebuah wilayah persilangan antara marketing brand dan culture evolution.

Continue reading

"Pause" Paus

*pencet* tombol “pause > *bunyi -klik-* >  pause


*Tarik napas…*
*rasain alirannya,-*
*buang napas…*

Hehehhe… saya belum tau (lebih tepatnya, malas mencari tahu) padanan kata yang tepat untuk kosa kata dari bahasa Inggris, yaitu: “pause“, dalam bahasa Indonesia.

*Tarik napas lagi…*
*rasain alirannya,-*
*buang lagi napasnya…*

Lalu berhubung kata “pause” mirip dengan model pengucapan nama hewan “paus”, 
Saya malah merasa 2 kata ini memang ditakdirkan untuk bersanding & saling menemani dalam kolom judul tulisan ini.

*Tarik napas lagi…*
*rasain alirannya,-*
*buang lagi napasnya…*

— selanjutnya lanjut sendiri ya, gak perlu saya komando, yg penting rasain dengan sadar aliran napasnya… —


Kenapa Paus ?

Tentu bukan karena Saya suka Paus, tapi lebih tepatnya karena suatu momen yg mirip jawaban,
 atas pencarian Saya akan ide untuk ditulis dalam blog ini dalam beberapa hari terakhir, berkaitan erat dengan pemicu awal mula rasa suka saya terhadap paus ini

^^^ sumpah, kalimat di atas itu, bener2 rumit, gw sendiri heran kok bisa muncul berentet gitu, mungkin itu efek suasana jam 3 pagi…

>>> Kuncinya: “London Whale“, selanjutnya, biar komik yg berbicara:



Paus ini berasal dari salah satu awak Big Boys terbongsor yang bahkan CEO sekaligus Chairman-nya sering dianggap sebagai “perwakilan” dan “juru bicara” tak resmi dari kaum sejenisnya.

Naaah, yang seru (Saya tadi nyebutnya “momen”)kemarin pagi muncul berita kalau Bank peternak paus ini (ingat, kerugian yg diceritakan di komik itu disebabkan dari 1 trader) berencana untuk menerapkan “pause” sejenak dari suatu unit operasinya…

Berikut beritanya:

J.P. Morgan Aims to Trim Ties to Foreign Banks

“It’s important for us to pause and assess our business, particularly in select markets, to ensure we are well-positioned to meet our responsibilities for the long term,” a spokesman said.

 Sumber WSJ

Menarik sekali menurut Saya, bagaimana organisasi yang bergerak di suatu bidang yang terbilang amat riuh, sibuk dan juga (dibikin) vital bagi perekonomian dunia masih berniat atau menyempatkan diri untuk “pause“.

Soal kenapa riuh?
karena Peternak paus ini bukan bank biasa, mereka punya divisi brokerage, M&A, Asset Management, dan Trading juga. Liat aja keadaan di trading floor NYSE, gk kurang riuh tuh…

Soal sibuk, ya orang si kalo udah kerja nyari duit pasti sibu tong…

Soal kenapa sektor perbankan vital, Saya juga belum bisa mengolah jawabannya, tapi ngeliat gimana hebohnya BLBI
(kehebohan di tanah air sendiri gk cukup cuma 1sumber, nih ane tambahain:
definisi asli BLBI
kronologi BLBI
berita2 BLBI ;
Pak Kwik bahas BLBI ;
bonus bacaan soal TARP di USA)
nampaknya sektor perbankan ini dipandang berisiko tinggi dan amat dilindungi
(bank gak jelas aja ditombokin Pemerintah pake duit pajak rakyat, apalagi Bank gede…;)

Nah,kenapa “pause” ?
Tebakan Saya si, bisa jadi sang Penangkar Paus ini merasa malu karena masuk daftar tombokan Pemerintah negaranya, sehingga mutusin untuk “pause” sejenak dan melihat ke dalam diri, yang tujuannya menurut jubirnya:
meraih penempatan posisi terbaik dalam usaha mencapai tanggung-jawab2 jangka panjang organisasinya.

Bicara “penempatan posisi” berarti berada di posisi / melakukan hal, yang tepat dalam suatu keadaan, demi meraih / menjadi lebih dekat dengan tujuan (semisal: profit).

Gimana taunya kita sedang di “posisi” mana / apa ?
Pastinya kita kudu tau big picturedari keadaan terkini.

Gimana caranya tau latest real big picture ?
Kita kudu selalu in-tune dengan market dan semua aspek kehidupan di dunia.

Kalo udah gini, kita jadi bisa ngeliat apa yg dibilang orang “kesempatan emas” atau “opportunity” serta “jebakan betmen” aka “thread”.

Nah, tapi kan itu kalau  “kata orang”, gimana caranya kita bisa tau mana yg “bener-bener” atau “asli” berbentuk kesempatan atau bahaya untuk diri kita ?

Ada yg bilang gak ada hal yang terjadi secara kebetulan, jadi urutan segala kejadian itu sudah terjadi secara apa adanya dan sebenarnya banyak banget artinya (kalau digali).

Pak Dosen Audit II pernah berkata:
Gak ada gunanya itu semua ilmu-ilmu dari luar, mau dari buku mau dari Ortu, mau dari Saya. Kalau kamu gak tau apa itu S&W kamu sendiri.

Ternyata gak cuma soal penginderaan akan O&T yang kurang maksimal,
melainkan input-inputbernutrisi tinggi pun bisa berisiko jadi mubazir.
Gak enak lagi kalo ngalamin yang namanya, “information overload”, dimana kita gak tau input mana yang sebenernya berguna untuk diri kita.

Nah, yang namanya belajar itu kan pake beberapa aksi, seperti:
cari, baca, dengar saring, dan tanya.

Kalau yang digali itu S&W, yang terutama ya…
kamu harus sadar sepenuhnya,
dan aksi yg dipake itu adalah:
sendiri, nutup mata, relax, fokus ke dalam (misal: napas, denyut2) dan sadar(jangan jebol tidur).

Jadi demikian dulu,
Saya udah klenger dan mau pause dulu.

Temet Nosce,-
if it isn’t wide spread into the folk
then it is not worth called as hoax

if not much cash has come from making firework
then let’s make love, even if it only were transmitted via plurk
badger hibernate, life’s escalate, human does it trough “pause”
my Mom loves noodle, so do I, but I love doodle a bit more
so go have your google, cause lots of info are false
or just sit back and relax, do feel the air & your pulse

by Petaniuang

Sinergi: It’s Real in My Team(s)

Oleh: Olivia Kamal
Ini kedua kalinya dalam hidup saya merasakan semangat bergelora yang sama dahsyatnya dalam bekerja dengan tim. It’s such a miracle!!! Nggak secetar keajaiban air mata jadi permata juga sih, walau pengalaman tentang sinergi ini cukup mencengangkan bagi saya.

Percayakah bahwa 1 + 1 = 3 alias sinergi itu bukan hanya cerita tentang “mengapa burung terbang dengan formasi sudut” belaka?
Sehati, Seperasaan, Sesemangat
Merasakan sinergi yang pertama kali terjadi dalam hidup saya dan mencengangkan bagi saya adalah saat Ulang Tahun Pertama Ekonom Gila.
Momen bahwa telah setahun kami bekerja keras dan mengalami fase keluar jalur karena kesibukan masing-masing, menghasilkan sesuatu, semakin mendeklarasikan tentang, apa, dan mengapa kami ada; adalah bagian yang paling mengharukan dan membangkitkan semangat saya. Terlebih di saat saya tidak mampu mewujudkan semuanya sendiri menjadi mampu karena saling melengkapi. Di saat yang satu berhalangan, down, letih, yang lain datang dan mengobarkan semangat. Kita menyangka semuanya akan berantakan di saat kita nggak ada, ternyata ada yang peduli. Beda banget sama bekerja sendirian. Dan saya akhirnya percaya bahwa sinergi itu ada di muka bumi ini.

Lalu ke mana saya selama ini? Saya menyangka, saya dan cita-cita menjadi seorang penulis sudah putus hubungan. Saya menyangka, terlalu banyak dunia maya dan hidup sebagai seorang netizen selama ini karena belum menemukan tempat nyata untuk mencurahkan kasih sayang. Saya memilih mengembangkan minat dalam hal lain (crafting) ketimbang aktif di tulis menulis. Saya mundur tanpa jejak. Saya berusaha tidak galau di sini, karena rasanya tulisan saya rata-rata curhat. Haizzz…

Bidang pekerjaan baru yang saya tekuni (sistem manajemen mutu) sangat berbeda dengan tema audit yang sering saya isi. Yang menyebalkan adalah, terlalu banyak problema yang menyakitkan hati. Sampai di titik saya diminta dengan hormat berpindah ke divisi yang sering saya bantu lantaran sreg dengan personil-personilnya (divisi SHE: Safety, Health, Environment).
Banyak hal yang harus kami benahi dalam waktu 3 minggu (FYI, untuk memperoleh sertifikasi telah diadakan audit stage 1 dan kira-kira 3 minggu lagi akan ada tinjuan ulang melalui audit stage 2, kemudian diputuskan sertifikasi berhasil diperoleh atau tidak). Meskipun ada kegalauan, tetapi ada “sehati, seperasaan, sesemangat” yang aku rasakan. Tiap orang punya kelebihan dan keterbatasan, menyebalkan dan patut ditertawakan, jatuh sakit dan hampir menangis, dan semuanya terasa menyenangkan, membakar semangat, sehingga membuat rasa “tidak takut lelah” muncul.

Trust Others & Believe Goal
Nah, belum nangis kan membaca sharing saya? Malam ini, saya bertanya-tanya (kayaknya sudah ada jawabannya di buku teks, tetapi saya ingin menjawab dari hati saya saja): mengapa saya begitu bersemangat dan merasakan adanya sinergi?
Trust others. Konsepnya, kita tau bahwa sendiri nggak akan mampu menyelesaikan semuanya

(keterbatasan: waktu, skill, koneksi, dsb), sehingga nggak ada salahnya dong kita percaya bahwa orang lain dapat membantu kita mencapai tujuan yang sama. Nggak ada yang ditutup-tutupi, mempermudah orang lain bekerja sama dan memperoleh informasi dari kita, membantu nggak setengah hati dan nggak mikir cost-benefit ngebantuin.

Believe goal. Kalau kita fokus sama tujuan, nggak akan mengungkit tentang kesalahan kecil atau besar yang orang lain pernah buat dan kita bisa perbaiki, nggak akan menjatuhkan rekan satu tim, nggak akan menginginkan HANYA kita yang terbaik. Yang paling penting adalah: tujuan tercapai, caranya bisa macam-macam asal not harmed anyone.
Masalah pasti tetap apa. Mengutip seseorang: “Ubahlah masalah yang besar menjadi masalah kecil, ubahlah masalah yang kecil menjadi tidak ada masalah.”
The simplest way, do your best and coorporate :)