Hallyu: Demam Korea, Wabah Cute

Girls Generation

Annyeonghaseyo!!!!

Hallyu atau Korean Waves (gelombang Korea, atau lebih ekstrimnya demam Korea) sedang menghipnotis jagat raya. Term “Korea” yang dimaksud adalah negara Korea Selatan, dengan pesona ke-cute-an artis-artisnya. Saya bukan seorang penggemar berat apalagi pengamat hallyu, hanya lagi iseng aja pengen tau dan kebetulan sudah ada 2 kali perdebatan terkait topik ini di grup Ekonom Gila, jadi hanya mencoba memadukan.

Hallyu dimulai dengan kesuksesan drama korea, seperti: Winter Sonata, Dae Jang Geum, Stairway to Heaven, Beautiful Days dan Hotelier. Di Indonesia, diawali dengan pemutara Endless Love. Dan selama 2008-2008 serial BBF (Boys Before Flowers) banyak menyita perhatian. (wikipedia)

Hallyu dan kontribusinya 

Ekspor berupa budaya Korea (makanan, pakaian, games, bahasa) pada tahun 2011 diperkirakan mencapai USD 3,8 M atau meningkat 14% dari tahun lalu. (wikipedia)

Seleb cowok Korea dibayar paling mahal di dunia, setelah artis Hollywood. Contoh: Bae Yong Joon rate-nya USD 5 M untuk 1 film. Rate ini tertinggi di Asia. (wikipedia)

Kedua fakta ini cukup membuat tercengang. Kebudayaan bisa dianggap sebagai sesuatu yang abstrak, meskipun dijewantahkan (diwujudkan) dalam suatu bentuk fisik seperti: makanan khas, tren pakaian, buku bahasa, games, dll. Mungkin secara common sense kita dapat mengklasifikasikan barang tersebut adalah kebutuhan tersier, namun ekspornya meroket berkat demam Korea. Yang dapat diidentikkan dengan fenomena ini adalah penjualan manga Jepang, kira-kira begitu.

Boyband/girlband = labor, product, marketing?

Maraknya girlband/boyband asal korea, sebut saja: Girls Generation, Bigbang, 2ne1, Kara, dll dan diikuti dengan menjamurnya di negeri kita dengan berbagai style, seperti: SM*SH, Cherry Belle, 7icons, dll nggak membuat para pendatang baru merasa pasar musik K-Pop sudah penuh sesak. Ada supply, ada demand. Banyak yang suka, gitu simple-nya. Saya sendiri suka Cherry Belle (ya nggak sampe nge-fans) walopun kalo didenger-denger liriknya, apaan seh ini x_x

Enak didengar, ceria, sarat modernitas. Apalagi kalau dilihat di layar kaca, meskipun lip-sync, tapi bikin gemes. Yah lama-lama eneg juga sih… xixixi… nah, yang pernah jadi topik pembahasan kita di grup (buset ternyata tuh bahasan taon lalu). Begini: 

Dalam konsep ekonomi, boyband atau sejenisnya itu dipandang sebagai labor intensive atau padat karya. Kalau band itu capital intensive atau padat modal. Jadi boyband dan sebangsanya itu lebih baik bagi bangsa kita karena akan menyerap banyak tenaga kerja ~ by Sandy

Bagaimana menurut kamu??? Boyband itu produk atau input? Atau keberhasilan marketing?

Boyband di korea mereka diperlakukan sebagai produk dengan persiapan peluncuran mereka ke pasar (sampai membutuhkan 3-4 tahun) bahkan ada sekolah khusus untuk mereka. Dan para anggotanya adalah input terbesar, karena mereka yang bernyanyi dan menari.

Apakah seide dengan saya dan Desty?


“Menjual” Hallyu

Kepopuleran Hallyu menjadi daya pikat tersendiri untuk memasarkan barang, tapi adakalanya harus diperhatikan dengan seksama. Seperti yang pernah EG bahas, memasang tampang Korea saja nggak cukup menjamin kesusksesan peningkatan penjualan melalui promosi lewat iklan. Simak celoteh tentang Won Bin dalam iklan LG di sini.

Lantas, apakah Indonesia dapat mengikuti jejak Korea dengan menggunakan boyband/girlband dan drama sebagai ujung tombak? Atau kita harus menjual: batik, tempe, reog yang sudah dipromosikan di negeri lain? Atau mau konsen jualan film horor???

Ada yang pernah nulis: senjata ampuh Indonesia itu adalah UMKM (di sini), apa kita mau jadikan UMKM sebagai tren dan mengekspor hasil UMKM keluar negeri (ini berarti mengangkat muka bersaing dengan China bukan sih?) Ataukah dengan kekayaan alam kita mau mengembangkan tourism (bersaing dengan Malaysia, simak keberhasilannya dalam Country Marketing)

Yang jelas, Korea telah sukses menjual Hallyu, kitapun ikut “menjual” Hallyu versi Indonesia tanpa memikirkan menjual yang lain #miris

Menjadi Seorang Akuntan Publik

Banyak hal yang membuat orang “mengambil jurusan Akuntansi”. Kalau merenung-renungkan obrolan dengan teman-teman masa kuliah dulu, ada yang karena orang tuanya akuntan, karena ingin mendapat pekerjaan di bidang Akuntansi, karena memang cinta akuntansi sewaktu SMA (nyata loh ini, pas SMA udah baca Warren yang tebelnya ampun-ampunan itu), ada yang bingung mau ngambil jurusan apaan, ada juga yang beralasan ga logis (ya, saya!). Apapun alasannya, setiap hari kita akan disuguhkan menu bacaan akuntansi-akuntansian, jadi pasrah aja. Hahaha…

Seiring berjalannya waktu, kita nggak hanya sekedar belajar ilmu Akuntansi — yang kadang menyenangkan dan kadang menyedihkan, tergantung yang ngajar, beserta serba-serbinya. Salah satunya tentang profesi yang dapat kita pilih untuk jalani nantinya, selengkapnya sudah pernah dibahas di EG (promosi :p), here’s the link.

Menjadi Seorang Akuntan Publik: Curhat dan Tips

Akhirnya saya bercita-cita betulan juga di semester III, saat kuliah pertama Auditing. Auditor tampak sebagai pembela kebenaran dan keadilan, keren gitu lah. Jadi agak rajin belajar deh demi meraih cita-cita (mahasiswi macam apa saya ini sebenarnya?) Namun kenyataan yang tampak saat tes-tes masuk KAP (Kantor Akuntan Publik) di depan mata, ikut tes dan lulus adalah sebuah “cadangan” kalau-kalau nggak bisa masuk dalam perusahaan TOP. Seolah-olah ya, bekerja sebagai akuntan publik (auditor) adalah sebuah pilihan terakhir daripada mengganggur.

Selain tes massal yang diadakan KAP bersangkutan di universitas, bisa apply juga kok untuk dites. Biasanya yang menjadi KAP incaran orang-orang (dan pengincar orang-orang?) adalah 4 KAP terbesar di dunia, yang dikenal dengan BIG 4: PWC, EY, KPMG, Deloitte. Googling aja untuk nemu situs masing-masing, dan cari cara bergabung, misalnya: untuk apply menjadi auditor KPMG.

Setelah dinyatakan lulus tes tertulis (Akuntansi, Bahasa Inggris, Logika), ada 2 tahapan interview yang akan dijalani: interview user dan interview partner. Interview user maksudnya: interview oleh upper-line (atasan) kita nantinya (level supervisor dan manager). Tipsnya: berpakaian dan bertutur kata seperti auditor supaya lulus. Setelah lulus, masuk ke interview partner (posisi puncak dalam KAP) dan biasanya sekaligus tandatangan kontrak kerja.

Start and Survive

Sebagai anak baru di KAP, bisa bernafas lebih lega karena banyak teman senasib. Dalam masa probation (percobaan) selama 3 bulan, datang tepat waktu, rajin-rajin belajar, rajin-rajin berteman. Bersyukurlah kalau belum ada kerjaan.

Selain training, untuk dapat gambaran dalam pekerjaan nantinya bisa liat-liat kertas kerja yang pernah ada. Yang dimaksud dengan kertas kerja di sini adalah kertas kerja auditor, berbeda dengan kertas kerja dalam proses akuntansi. Simple-nya kertas kerja itu adalah hasil kerjaannya auditor, berisi: tujuan audit, analisis dan temuan. Dan kertas kerja nggak harus berbentuk lembaran kertas, pada umumnya dalam excel file.

Umumnya pada antusias kalau dapat kerjaan, meskipun ujung-ujungnya stress… hehehe… Nggak serem kok, bisa dibilang kerjaan itu seperti: ngisi kuesioner, bantuin bawa barang, bantu fotocopy/scan, request stationary, bantu angkat telpon, bikin worksheet, atau footing. Worksheet itu semacam perbandingan semua accounts (items), yang dibandingkan adalah angka current dengan periode tahun lalu. Perbandingan tersebut dibuat persentase kenaikan dan penurunannya. Footing adalah menjumlah dengan kalkulator, mengecek ulang (memastikan) gitu penjumlahan Audit Reports udah bener, lah terus kalau salah? Lapor sama yang nyuruh bagian yang salah.

Itu bagian awal, setelah masa-masa indah itu berlalu… tepatnya setelah fieldwork (kerja lapangan), maksudnya ke klien, minta data, dan melakukan audit, sampai kertas kerja jadi dan direview; barulah terasa “menjadi seorang auditor” itu gimana. Untuk survive dan merasa betah, selain adaptasi dengan tim audit (sehingga suasana kerja menyenangkan dan bukannya tambah tertekan), butuh kecepatan belajar dan kecakapan membaca situasi (interpersonal skill). Most of all, harus bisa dapatin data, segera cek validasinya, dan sebisa mungkin di klien (saat fieldwork) semua persoalan clear. Beres-beres hal kecil seperti rapi-rapi bisa dilakukan belakangan.

Kapan saat yang tepat untuk berhenti?

Yang biasanya menjadi keluhan adalah jam kerja yang tinggi, beban kerja yang berat, situasi yang nggak bersahabat sehingga merasa seperti di neraka. Namun demikian alasan resign paling tepat adalah: menemukan pekerjaan dengan payout dan popularitas yang (lebih) bergengsi, menjalankan bisnis ortu, lanjut sekolah lagi (di luar negeri), dan alasan pribadi (seperti: menikah).

Namun demikian, kalau menuruti logika dan bukan emosi atau perasaan sesaat, ada waktu yang tepat untuk resign:

  • Setelah 1 tahun bekerja. Dengan demikian merasakan 1 siklus penuh, hingga saat evaluasi dan ikutan outing. Tapi kalau ada tawaran yang lebih menggiurkan, boleh dipikir-pikir bagusnya gimana.
  • Paling umum adalah setelah “promote”, sehingga kalau-kalau nanti akan join lagi (rejoin) akan masuk ke posisi terakhir. Logikanya terhitung sudah naik kelas gitu pas berhenti.
  • Akhir tahun. Keuntungannya: dapat THR (bagi non-muslim dapat THR akhir bulan Desember). Selain itu, saat akan pelaporan pajak penghasilan untuk tahun pajak berikutnya, nggak harus ngurusin pengambilan Lampiran SPT di dua atau lebih perusahaan. 
  • Secepatnya. Kalau sudah tersiksa fisik dan mental.

Biasanya, nilai tawar auditor jebolan KAP lumayan kok. Kalau memang mau menjadikan batu loncatan dan cari pengalaman, nggak rugi bekerja di KAP selama 1 atau 2 tahun. Untuk dapat langsung masuk dalam middle management dengan status jebolan KAP, usahakan bertahan lebih lama (sekitar 5 tahun), saat sudah mencapai posisi Supervisor.

Jadi, tertarik dan tertantang untuk Menjadi Seorang Akuntan Publik?

Punya Ide Bisnis yang Menggiurkan???

Alasan resign??? Kebanyakan orang sih resign karena sudah dapat “yang lebih baik”. Xixixi… itu sih urusan masing-masing yah kalau merasa dapat yang lebih baik. Kebanyakan karyawati resign dengan alasan: akan menikah. Kalau saya? Pengen coba usaha sendiri, walaupun nggak yakin-yakin amat dengan tingkat kesuksesannya. Jaman itu, saya diwanti-wanti untuk tetap bertahan kerja sampai yakin bisa berdiri sendiri. Bahkan, apa salahnya bisa dapat 2 sumber income? Tapi memang dasar pengennya nggak terikat dengan aturan 8 to 5 (atau sejenis), saya milih untuk resign setelah bertahan 2 tahun 9 bulan di kursi auditor.

Warnet: Yang pernah diobrolin, direncanain, dipikirin, dan kenyataan

Pernah saya membahas untungnya bisnis internet dalam Netnomics, kayaknya bisnis warnet (untuk game online) itu menguntungkan banget. Yup, ini kalau kita memulai bisnisnya jaman internet belum murah. Untung saja saya nggak “tercebur” dalam bisnis ini. Sempat bikin hitung-hitungan, yang sampai sekarang nggak kelar-kelar. Hahaha… niat nggak sih ini?

Kalau boleh curcol :D awalnya saya ingin punya bisnis karena warnet-warnet yang saya jelajahi. Ada yang tempatnya enak, tapi lemot. Ada yang murah, tapi jorok. Ada yang enak dan murah, tapi jauh. Ada yang berisik, ada juga yang key-nya nggak enak, ada yang kursinya somplak kayak digigit tikus, ada yang OP-nya sadis, ada juga yang AC-nya dingin banget sampe menggigil dan ada juga yang remang-remang. 

Ada salah seorang rekan kerja yang menjadi tertarik dengan investasi dalam bisnis warnet ini, tapi ada satu permasalahan yang membuat saya angkat tangan pula, soal tempat. Mau cari tempat di mana? Akhirnya tetap saja bisnis valas dan emas yang merupakan primadona rekan saya tersebut menjadi tak terkalahkan keuntungannya.

Kenyataannya, setelah saya boleh berbincang informal dengan salah satu pemilik warnet yang memulai di tahun 2009, selama 2 tahun memang diakui modal telah kembali. Tapi ya kondisinya sekarang ini nggak terlalu menguntungkan. Sedikit pendapatan yang melebihi biaya operasional. Banyak konsumen yang sudah beralih dengan memasang internet pribadi. Bahkan kalau memulai bisnis warnet sekarang sudah terlalu terlambat.

Warung Kopi: mini food court

Fenomena bisnis warung kopi (warkop) mulai saya amati sejak berada kembali di pulau Sumatera. Selama di Jakarta sih, nggak ada kepikiran untuk punya warung kopi. Nongkrong sambil jajan ya di JCo, Sour Sally, Dunkin, Pizza Hut, Ichiban Crepes, Hop Hop. Kalau nongkrong sambil makan ya tetep aja di mall atau pinggiran mall. Sangat jarang dan hampir nggak nemuin yang namanya warkop, adanya warteg, warung burjo dan penjual bergerobak.

Bisnis warkop umumnya menyediakan minuman yang general (teh, kopi, susu, teh kembang, teh susu, kopi susu, milo). Soal makanan, ada bermacam variasi, paling umum mie pangsit, mie-nasi-bihun-kuetiaw goreng. Ada juga yang menyediakan menu-menu khusus seperti soto, bubur, lontong, sate, gado-gado, nasi hainam, ketoprak, nasi uduk, dan kue-kue atau cemilan lainnya. Warkop nggak terlalu mahal, makanannya standar, pelayanannya standar, dan esensi utamanya adalah makan di tempat yang lumayan bersih. Untuk ngobrol, selama nggak ada yang merokok di sekitar kita sih oke-oke aja.

Menurut pandangan saya, bisnis warkop ada foodcourt dalam skala mini. Kalau saya akan berbisnis warkop, maka saya akan memilih sebagai penyedia tempat dan minuman, sementara untuk makanan sih mendingan juga bagi hasil. Misalnya dari semanggok mie yang dijual oleh penjual lain yang numpang jualan di warkop saya, maka saya dapet 1000 rupiah. Just as simple like that, nggak mau pusing masak-masak.

Suvenir dan undangan: estetik dan fungsi

Sering nggak sih kita mendapat suvenir acara atau pernikahan yang bukan barang jelek tetapi nggak mau juga kita pakai? Begitu juga undangan pernikahan, banyak yang bagus-bagus sehingga sayang saya buang, tapi nggak tau juga kalau disimpan buat apaan. Masih memikirkan tetang suvenir dan undangan yang dapat digunakan kembali dan bukan sekedar pemborosan yang nggak berarti.

Pertama, tentang suvenir. Kebanyakan handmade. Bisa sih digunakan, seperti gantungan kunci atau tempat handphone, tapi yaaaaaa nggak setiap menerima yang begituan kita akan menggunakannya bukan? Barang yang mass product sih lebih terpakai oleh penerimanya, seperti: pengharum ruangan, botol Tupperware, centong nasi, sumpit. Tinggal pengemasan yang menarik agar barang yang mass product itu dapat cantik sebagai suvenir. Estetik dan fungsi yang berimbang bukan. Kira-kira sih kalau akan terjun ke bisnis ini maka saya nggak menggunakan barang handmade yang fungsinya hanya estetik belaka, tapi kalo pengemasan mass product doang, terlalu mudah untuk ditiru.

Kedua, tentang undangan pernikahan. Undangan yang sederhana menyiratkan pesta yang biasa saja, tetapi undangan yang super bagus (dengan karton tebal, kertas wangi, puisi cinta, bahkan print-out foto kedua mempelai) adalah sesuatu yang berguna untuk mengesankan saja. Lebih dari itu, adalah sebuah pemborosan yang terselubung. Sebenarnya ya, di era digital ini, apa sih salahnya mengundang dengan media sms, bbm, pm ke fb, atau meng-create event di fb. But somehow, saya juga nggak mau datang tuh kalau nggak terima undangan yang printed-out. Nah loh???

Menikah adalah salah satu momen yang paling bahagia sepanjang hidup manusia, sehingga keberadaan undangan dan suvenir adalah hal yang mutlak agar nggak jadi pernikahan yang menyimpang. Dari sisi sustainability, bisnis undangan dan suvenir adalah bisnis yang dapat berlangsung terus menerus hingga ada suatu ide yang dapat menggantikan secara fungsional undangan tercetak dan suvenir yang mementingkan estetika.

Apa kamu punya ide bisnis yang menggiurkan?

Tribute: Perkembangan GILA dalam 1 tahun Ekonom Gila

Siapa sih yang nggak tau sama Ekonom Gila? Buanyakkkkkkk tuh… Bwahahaha… sok eksis banget ya EG :p Tapi, coba deh pembaca yang budiman dan cantik/ganteng (duileee ada maunya!) googling dengan kata kunci “ekonom”, lalu apa yang terjadi? Tang traaaaa raaaaa… diurutan ketiga ada ekonomgila.blogspot.com! Percaya atau tidak ini adalah kenyataan di dunia maya!!! Siapa sih diantara kita (atau kami tepatnya???) yang bakal menyangka juga bakalan bisa berkembang sejauh ini? Menyangka sih nggak, tapi ngarep iya… hahahaha…

Setahun yang Lalu

Sumpah deh, sampe sekarang ya saia nggak pasti tau tentang dua sejoli Om Yoga dan Mas Aul, pencetus ide dan pemrakarsa blog ini. Entah iya atau tidak saia seangkatan sama dua makhluk itu (tuaan siapa gitu maksudnya :p), wajahnya seperti apa (yang belakangan saia akhirnya tau juga dari fb dan publikasi maya lainnya), yang jelas nggak asing sih sama kedua nama tersebut. Chemistry nggak harus dari pertemuan nyata kan? Dengan kesamaan visi dan keinginan menjadi gila, maka tanpa pandang usia dan wajah bergabunglah kami.

Saia menemukan sendiri Ekonom Gila, yang kala itu kira-kira berisi 10 postingan, berkat facebook notes Yoga yang berujung ke blog ini. Lantas saia memutuskan nyebur menjadi orang ketiga di hubungan gila mereka, mempublikasikan EG dan menjerat (untung nggak memelet) orang-orang yang berpotensi untuk menjadi penulis ikut bergabung. Setelah 1 bulan koar-koar soal EG, ditodong deh untuk nulis dan menelurkan postingan pertama penuh rasa bersalah dengan kegamangan — ditolak nggak nih yaaa.

Jadilah tiga makhluk yang bener-bener nggak sama sebagai icons EG kala itu (ngarang ne :p)Trio gelo ini mewakili banget cakupan tiga ilmu utama yang di Fakultas Ekonomi (dan Bisnis) di Indonesia: Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Ekonomi. Mengusung brand Ekonom Gila yang tak perlu diubah menjadi Dodolnomics (saia sudah pernah membahasnya secara logis di sini), yang cukup pas mewakili ramuan-ramuan pemikiran gila, bergeraklah kami menulis dengan target 1 bulan 1 artikel per 1 orang sambil menjaring dan menerima penulis-penulis baru yang gila dan juga yang ingin menjadi netralisir.

Supply vs Demand

Ada masanya kita kelimpungan banget, waktu penulis belum mencapai 10. Belum lagi ada kesibukan masing-masing: ada yang serius skripsi, hectic dikejar deadline kerjaan, depresi ngelamar kerjaan sampai takut nasibnya berujung jadi supir, ada yang persiapan mau pendadaran, sampai ada juga patah hati dan galau. Saia pribadi rasanya khawatir akan kehilangan fans EG karena konten yang nggak tiap hari bisa di-update. Nggak mau banget jadi blog yang mati suri (lebay deh ah :p)

Memang sih, tawakal itu adalah golden rule untuk dapat bertahan di dunia yang kejam ini: berusaha maksimal dan berserah pada Tuhan. Kalo bahasa gelonya: “Hidup itu seperti diperkosa, hanya dua cara untuk menghadapinya, enjoy aja atau melawan!” Jadi, dengan menyusup ke jaringan internet kantor sebisa mungkin (ngaku dosa), eksistensi EG diperjuangkan. Sebaliknya, ada kondisi harus melepaskan pandangan dari EG ya tawakal aja.

Tuhan itu baik, satu demi satu malaikat datang ke sarang penyamun EG. Tiba-tiba saja, yang dulunya diajak dan minta waktu untuk pikir-pikir, datang untuk mengiyakan lamaran. Ada juga komentator yang tertarik untuk menjadi penulis. Ada pula yang berbaik hati membuatkan logo. Itu dari sisi supply, maksudnya penyediaan konten dan sebagainya. Dari sisi demand, kita dibantu oleh teman-teman yang berbaik hati mau share lewat media-media sosial, hingga sekarang seperti bermimpi 100.000 hits juga sudah tembus. 

Atmosfir EG

Uniknya di EG, ada atmosfir yang beda banget dari tempat bekerja yang lain. Ya, tentu saja di EG ini kita bekerja dan bayarannya kapan-kapan taon dan nggak ada yang tau kejelasannya (ingat tawakal!) Di EG itu: nggak tingkatan keanggotaan (semua penulis memiliki hak dan kewajiban yang sama), nggak ada keharusan mencapai target (1 postingan setiap 1 bulan), nggak ada saling gusur dan bentrok. Adanya yaaaaa orang gila semua dengan ide dan gaya yang di luar lingkaran normal.

Kebebasan tersebut malah menjadi culture yang membuat semua kita kompak. Inisiatif saja untuk melakukan sesuatu atau melontarkan ide, dan niscaya dihargai. Ada yang memaparkan permasalahan di grup, lalu yang lain kasih komen. Kalau ada orang yang agak rese, ya itu mungkin cuman satu biji aja, saia: si tukang palak postingan dan pentarget hits blog, jumlah like page, jumlah postingan (nggak serem kok tapi :D)

Sampai sekarang saia belum bisa mendefinisikan jenis sindikat apa EG ini. Yang pasti, EG menjadi salah satu bagian hidup saia dan personil EG lainnya menjadi sahabat dunia maya saia *sambil berkhayal tentang kopdar*. EG membuat saia bisa menulis sesuatu yang bertema lebih serius dengan keadaan saia yang nggak bisa terlalu serius, plus memaksa saia untuk membaca sebelum membagikan atau mengomentari sebuah postingan (otomatis menambah wawasan), dan bersama-sama belajar membuat tacit yang ada di kepala menjadi sesuatu yang berguna bagi orang banyak.

Happy Birthday Ekonom Gila! Happy 100.000 hits!!!

Wedding Party: Faktor U, Stakeholder Satisfaction, Gengsi Center, BEP tak terukur

Katanya orang sih hari istimewa, sekali seumur hidup, menjadi raja dan ratu sehari. Saking hari spesial, banyak banget upacara yang harus dilalui untuk peneguhan pernikahan. Untungnya ya, saya punya badan yang sehat dan kuat (alias banyak sediaan lemak :D hahahaha…) sehingga nggak tumbang ngurusin ini dan itu. Kalau dipikir-pikir, padahal ya, yang paling penting itu kan kedua pihak menjalin kesepakatan untuk mengarungi kehidupan ini bersama (benerrrrrr kannnnn????), tapi yang ada harus ribet gini dan gitu, seperti yang pernah saya ulas sebelumnya di postingan berjudul Wednomics.

Faktor U

Faktor U? Umur, masa iya ga cukup umur mau menikah ya… hehehe… Faktor U biasanya sih jadi patokan yang pantas untuk siap nikah, dan selain cukup umur, berdasarkan mitos gitu selisih umur tertentu berdampak baik atau buruk terhadap pernikahan (skippp laaaaaa, ga usah bahas mitos… hehehe).

Yang pasti, faktor U yang berperan sangat penting adalah UANG. Gilak, mau pesta sekecil dan sesederhana apapun ya UUD, ujung-ujungnya duit, ya nggak??? ya kan??? (maksa ihhhh!) Faktor uang ini kadang kurang dipikirkan kalau belum punya pasangan, mendingan juga hepi-hepi dengan rekan-rekan kerja, ya nggak?!?

Tapi dipungkiri atau tidak, sangatlah penting loh untuk menabung sejak dini atau paling tidak pastikan ada yang mau menjadi penyandang dana untuk pesta pernikahan Anda nantinya! #solusi dari Ekonom Gila

Stakeholder Satisfaction

EG kan udah pernah bahas nih tentang stakeholder, boleh baca yang case motor di Jogja “Stakeholder Oh Stakeholder”, nah kalau case-nya wedding party, bisa dikatakan ya stakeholder itu sangat luas cakupannya dan how to maximaze stakeholder value belum ada ukuran pastinya.

Yang bisa digolongkan sebagai stakeholder: yang pasti keluarga/kerabat; supplier makanan, kue, kostum, hiburan, dokumentasi, dsb ; undangan yang terundang, lupa diundang, sengaja nggak diundang, nggak sengaja diundang, diundang tapi ga bisa datang karena jauh, sebut saja lagi yang ada kaitannya dengan pesta perkawinan, pada intinya adalah: ga satupun stakeholder termasuk yang punya pesta sendiri merasa pesta pernikahan yang digelar memberikan kepuasan melebihi standar masing-masing, ada saja yang menjadi kekurangan (cieeee curcollll… ahahahay :p). Masih ada lagi faktor yang sangat menentukan tetapi tidak dapat kita kendalikan, yaitu: cuaca! Maka, banyak-banyaklah berdoa agar selama pesta dilangsungkan cuacanya cerah ceria.

Jadi, solusi dari Ekonom Gila adalah: pastikan Anda puas dengan pesta pernikahan Anda meskipun stakeholder Anda tidak puas! #solusi dari Ekonom Gila

Gengsi Center 

Menurut saya pribadi (atud nih kalo bilang menurut EG ntar EG bisa di-sue :D), pesta pernikahan adalah ajang yang bergengsi, bukan hanya untuk penyelenggara tetapi juga untuk undangan yang datang, meskipun nggak ada juri seperti acara idol-idolan. Kalau dalam ilmu Akuntansi Manajemen ada yang disebut Profit Center, Cost Center, dsb. maka wedding party saya sebut “Gengsi Center”.

Kemewahan, kata yang bisa mewakili Gengsi Center ini. Berapa megah dan mewah pesta yang digelar menjadi faktor utama penentu kemeriahannya, juga prestise buat penyelenggaranya, setuju? Tamu undanganpun tak kalah mewah penampilannya (juga gede angpao-nya) supaya nggak kalah pamor. Eits, tapi jangan salah loh, kita nggak harus terpuruk dalam ukuran mono “Gengsi Center” ini untuk punya pesta yang meriah.

Aktif dalam kehidupan sosial adalah salah satu faktor pesta pernikahan jauh dari sepi, pastinya ada yang mau bela-belain datang. Selain itu, bisa dengan kiat menyelenggarakan pesta yang unik (kalau akad yang unik sih ada seorang teman saya yang akad di dalam Museum Kereta Api Semarang) #solusi dari Ekonom Gila

BEP tak terukur

Banyak hitung-hitungan dan kalau-kalauan kalau yang menikah itu ekonom ya? Bukan hanya masalah pesta pernikahan yang mencapai BEP tentunya, tapi dipikirin sampai “jika mereka akhirnya jadi pejabat ekonomi“. (banyak amat promo link dari tadi yak? hehehehe…)

Layaknya sebuah event, sebagai EO tentunya kita nggak mau rugi, tapi apa mau dikata wedding party bukanlah bisnis, ini adalah pesta untuk merayakan hari yang bahagia, dengan berbagai prosesi yang bikin pusingggggggggg tapi sekali seumur hidup untuk dikenang selama-lamanya, amin.

Maka, selenggarakanlah pesta pernikahan yang sesuai budget dan kepuasan kita pribadi, pikirkan faktor U, tapi abaikan stakeholder satisfaction (yang nikah kan kita ini bukan tamu undangan), jangan terpuruk dalam “Gengsi Center”, dengan demikian cucok dengan BEP pribadi kita yang tak terukur oleh siapapun! :)

Happy planning a personally perfect wedding party!