Spousonomics: Solusi untuk Keretakan Rumah Tangga Anda!

Gara-gara dulu Mas Gilang pernah suggest buku yang kayaknya bagus ini (pas zaman-zamannya Para Ekonom Gila Cinta masih pada mabuk kepayang sekian tipe: galau jomblo, galau nggak laku-laku, galau mau nembak, sampai galau mau nikah) akhirnya saya bela-belain juga membaca ini buku dengan harapan buku ini akan menyelesaikan masalah galau skripsi saya (loh?!? Hahaha~). Buku ini berjudul “Spousonomics: or How to Maximize The Biggest Investment of Your Life” karya Paula Szuchman dan Jenny Anderson. Tulisan ini akhirnya sengaja dibuat khusus untuk kakak seperguruan Ekonom Gila, Mas Syarif, dan kakak pemandu AAI saya zaman dulu, Mbak Kiki. Tapi jangan salahkan saya kalau setelah membaca tulisan ini, aka nada dua kubu pembaca: Kubu yang merasa masalah-masalah rumah tangganya terpecahkan DAN Kubu yang merasa menikah itu kok ya rada merepotkan ya (pendapat pribadi, hahaha~).

Dalam tulisan ini, percaya atau tidak, dalam sebuah survei pada sekian banyak keluarga yang ada di US tentang permasalahan apa yang bisa mereka selesaikan sehingga akhirnya pernikahan mereka bisa awet, top 3 jawabannya adalah: Uang, Anak-Anak, dan yang terakhir… Pekerjaan Rumah Tangga (dan segala tetek-bengeknya). Jadi, lagi-lagi percaya atau tidak, saya akan menuliskan sekian banyak teori ekonomi yang dipakai di buku ini untuk menyelesaikan masalah-masalah rumah tangga tadi (dengan sedikit penyesuaian dengan keadaan di Indonesia dan Teori Comparative Advantage, Teori Efisiensi Pareto (Pareto Efficiency), sampai pada Teori Kegagalan Pasar (Market Failure). Penasaran? Kita lihat pesan-pesan sponsor berikut ini, wehehehe~

Keretakan Rumah Tangga #1

Gara-gara sebegitu banyaknya pekerjaan rumah yang ada, Ani dan Budi (bukan nama sebenarnya) pasangan yang baru menikah 3 bulan memutuskan untuk membagi pekerjaan rumah sama rata berdasarkan bagian rumah depan-belakang. Ani mendapatkan segala pekerjaan yang berhubungan dengan rumah bagian belakang (memasak, mencuci baju, mencuci piring), dan Budi mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan rumah bagian depan (memotong rumput, mencuci mobil, membersihkan lantai rumah dan halaman). Sekilas tampak sama jumlahnya kan? Tapi mereka tidak bahagia. Kenapa? Karena Ani merasa bebannya lebih berat karena dia memerlukan waktu lama untuk menyelesaikannya, sedangkan Budi dilihatnya selalu cepat selesai dan santai-santai sambil minum kopi.

Teori Comparative Advantage

Setelah Ani menemui pakar “Ekonom Cinta”, Sang EC pun memberikan saran menggunakan Teori Comparative Advantage. Jadi, Ani dan Budi tidak membagi pekerjaan berdasarkan “bagian rumah depan-belakang” tapi dengan “siapa yang bisa selesai lebih cepat”. Katakanlah untuk pekerjaan memasak ternyata Budi bisa menyelesaikannya dalam 20 menit sedangkan Ani baru bisa selesai dalam 40 menit (tentu dengan hasil sama enak loh ya!). Dan ternyata Ani bisa menyelesaikan pekerjaan membersihkan lantai rumah dan halaman dalam waktu 25 menit saja dibanding Budi yang memerlukan waktu 55 menit untuk menyelesaikan semuanya. Hal ini berarti, bahwa mereka bisa membagi pekerjaan berdasarkan kelebihan masing-masing (comparative advantage) untuk mendapatkan hasil yang paling efisien. Bahkan, jika ternyata Ani bisa menyelesaikan banyak pekerjaan dengan waktu lebih sedikit dari Budi, tetap saja ada sesuatu yang bisa mereka “perdagangkan”. Caranya? Budi bisa menawarkan untuk memilih pekerjaaanp-pekerjaan yang rasio waktu penyelesaiannya lebih kecil. Bingung?

Memotong Rumput

Mencuci Mobil

Ani

15’

20’

Budi

20’

35’

Rasio

0,75

0,57

Dari rasio di atas, Budi bisa memilih untuk mencuci mobil dan Ani yang memotong rumput. Tidak efisienkah? Bukankah semuanya lebih cepat jika Ani yang mengerjakan sendiri? Ouch! As if she would like to do that! Tapi karena Budi memang lambat di semuanya, benefit yang bisa diperoleh Ani dari skenario di atas adalah dia bisa saving waktu lima menitnya daripada dia yang mencuci mobil dan Budi yang memotong rumput. Yak! Mudah kan? Tapi ya itu… siap-siap stop watch untuk menghitung seberapa cepat siapa melakukan apa! :)

Keretakan Rumah Tangga #2

Ino dan Bidi (lagi-lagi bukan nama sebenarnya) baru saja menikah. Dan seperti pasangan lainnya, mereka berdua sama-sama bekerja –Ino bekerja sebagai dosen dan Bidi bekerja sebagai salah satu karyawati sebuah perusahaan IT. Tahun-tahun awal pernikahan mereka sangat membahagiakan, setiap hari mereka mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama, bersepeda saat weekends, menonton film baru, dan berbagai hal lainnya. Dan setelah sekian lama berlalu, sebuah hal membahagiakan datang: Bidi pun hamil. Setahun setelah dia melahirkan anak pertamanya, dia melahirkan sepasang anak kembar lagi (produktif sekali mereka, hehehe~). Dan akhirnya Bidi memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengurus rumah tangga. Akan tetapi, dia mulai uring-uringan ke Ino karena menurutnya Ino hanya bekerja mencari uang dan tidak pernah membantunya mengurus rumah. Sedangkan menurut Ino, saat dia menawarkan diri untuk membantu, Bidi selalu menolak dan melakukan semuanya sendiri untuk hasil yang terbaik baginya.

Teori Pareto Efficiency

Ada beberapa pilihan untuk pasangan ini, (1) Ino dan Bidi seharusnya bisa mempekerjakan pembantu sehingga Bidi bisa bekerja lagi –yang membuatnya bahagia, (2) Bidi bisa memaksa Ino untuk melakukan setengah pekerjaan rumah tangga yang dibebankan padanya –yang akan membuat Ino merasa keberatan tentu saja. Dan mereka tidak akan menyetjui semua itu. Jadi, mereka bertanya pada Ekoom Cinta dan lagi-lagi sang EC menjelaskan pilihan terbaik mengikuti Teori Pareto Efficiency.

Saat ada delapan potong pizza, aku dan adikku membaginya sama rata –masing-masing mendapat 4 potong. Tapi aku sudah kenyang hanya dengan memakan 2 potong (pencitraan biar aku kelihatan kurus) dan adikku masih lapar walau sudah memakan 4 potong. Jadi aku memberikan dua potongku kepadanya, tanpa aku merasa kurang puas karena bagianku berkurang dan dia merasa puas dengan tambahan bagian itu. Itulah Pareto Efficiency.

Jadi, dengan teori itu, Bidi mulai mengubah pemikirannya. “Jika aku mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga selama semingguan ini, maka aku berhak mendapatkan satu malam free untuk diriku sendiri,” tuturnya. Jadi, setiap sabtu malam, Ino harus pulang cepat dan mengambil alih semua pekerjaan rumah sehingga Bidi bisa mendapatkan waktu luang untuk pergi bersama teman-temannya atau apapun yang dia suka. Ino sangat menyetujuinya, dan Bidi lebih dari puas untuk mendapatkan waktu pribadi untuknya sendiri.

Keretakan Rumah Tangga #3

Setiap pasangan perlu mulai berhati-hati jika menemukan beberapa hal di bawah yang masuk dalam kategori ini:

Karakteristik Market Failure

  1. Jika Sang Istri selalu masak makanan yang terlalu asin, terlalu asam, terlalu pedas, atau terlalu manis.
  2. Jika Sang Istri/Sang Suami mengadakan aksi tutup mulut selama tiga hari berturut-turut.
  3. Jika piring terbang selalu menghiasi setiap pertengkaran kecil/besar yang terjadi di rumah.
  4. Jika Sang Istri/Sang Suami serasa hidup sendiri di bulan dan mengacuhkan yang lainnya.
  5. Jika Sang Istri/Sang Suami memilih tidur di sofa.
  6. Dan silakan ditambah sendiri…

Yak! Memang masih banyak sekali masalah yang muncul di mahligai rumah tangga (padahal aku sendiri belum ngerasain juga, hahaha~) dan banyak teori-teori lain yang bisa dipakai untuk menyelesaikannya (misalnya, Sunk Cost! Ini diahas di lain kesempatan yaaa~).

Nah! Ada yang mau coba mengaplikasikan teori-teori Spousonomics (alias teori couple) ini bersama Sang Penulis artikel? Silakan kirim CV atau Short Profile ke andihime@gmail.com under the subject of “Spouse Application” no longer than August 31st, 2012. Only shortlisted candidates notified for further interview. Any inquiries, feel free to send to the same email :)