Dua Kecacatan Logika Keuangan pada Kredit Dana Cepat

Oleh: Ahmad Munadi
Meneruskan tulisan saia mengenai kredit dana cepat di “Cermat Sebelum Ambil Kredit Dana Cepat”. Jika tulisan sebelumnya lebih kearah populis, maka tulisan ini saia coba dalami dengan logika bodoh saia. Dari tulisan sebelumnya didapati dua ciri yang juga saia artikan cacat dalam pengertian keuangan. Contoh yang digunakan tetap menggunakan skema kredit dari BF* Finance sehingga cirinya sama.
1. Semakin Lama Jangka Waktu maka Semakin Besar Bunga (?)
Dalam mempelajari manajemen keuangan terdapat dua pijakan dasar yang harus dipahami benar. Pijakan pertama adalah teknik analisis rasio-rasio keuangan. Pijakan yang kedua adalah time value of moneyTime value of Money (nilai waktu uang) mengartikan bahwa uang pada masa sekarang lebih berharga dari uang di masa mendatang. Beragam alasan dapat dikemukakan mulai dari inflasi, investasi, denominasi dan lain sebagainya. Pada intinya waktu dapat menggerus nilai uang menjadi lebih kecil di masa mendatang.
Apabila seseorang atau perusahaan mengeluarkan hutang, umumnya mereka akan menyertakan interest(bunga) agar hutang mereka dapat menarik. Besaran interest umumnya ditentukan berdasarkan risiko yang ada. Hutang jangka panjang cenderung lebih berisiko dibandingkan hutang jangka pendek. Hal ini disebabkan karena ada risiko waktu atau ketidakpastian waktu yang lebih panjang bahwa si peminjam dapat mengembalikan hutangnya secara lunas.
Dalam praktik bisnis umumnya perusahaan akan memberi semacam diskon bagi peminjam apabila melunasi lebih cepat dari waktunya. Selain itu juga, apabila sebuah perusahaan mengeluarkan 2 obligasi (surat hutang) pada saat bersamaan dengan jangka waktu yang berbeda, maka umumnya obligasi dengan jangka waktu lebih lama memiliki Bunga yang lebih besar. Hal ini karena didasari adanya nilai waktu uang dan risiko waktu atau juga sering disebut risiko default.
Kembali ke Dana Cepat, sekilas maka akan terlihat benar bahwa semakin panjang waktu maka bunga yang dikenakan semakin besar. Tetapi pemahaman keuangan tidak berhenti cukup sampai disitu, kita harus bisa membandingkan bunga tersebut pada standar yang sama. Maka saia akan ambil contoh pada pinjaman 1 juta pada jangka waktu 6 bulan (81%), 12 bulan (87%) dan 18 bulan (119%).
Dengan jangka waktu 6 bulan, maka bunga yang diikenakan adalah 81% per 6 bulan, maka perbulannya bunga yang dikenakan adalah 81%/6 = 13,5 % per bulan. Untuk jangka waktu 12 bulan bunga tahunannya adalah 87%, maka bunga perbulannya sebesar 87%/12= 7,25% per bulan. Untuk jangka waktu 18 bulan, bunga yang dikenakan adalah 119% sedangkan bunga perbulannya adalah 119%/18 = 6,6% per bulan. Secara bulanan maka pinjaman 6 bulanan kena bunga paling besar sebesar 13,5% perbulan. Selanjutnya 12 bulanan 7,25% dan 18 bulanan 6,6% per bulan.
Dengan kata lain jika disetarakan berdasarkan bunga yang dikenakan perbulan, justru pinjaman dengan jangka waktu lebih cepat dikenakan biaya lebih besar dibandingkan pinjaman dengan jangka waktu yang lebih lama. Dimana logikanya? Padahal logika keuangan seharusnya pinjaman lebih cepat dikenakan biaya bunga yang lebih rendah!!! Disinilah para rentenir itu bekerja.
2.       Semakin Besar Pinjaman maka Semakin Kecil Bunga yang Ditanggung (?)
Logika aneh macam mana yang menyebutkan jika pinjaman yang diberikan semakin besar maka bunga yang diberikan semakin kecil? Aneh bukan? Misalkan saja seseorang digaji oleh bosnya 1 juta untuk bekerja selama 8 jam, kemudian esoknya bos memberikan gaji 2 juta, pertanyaannya maka karyawan akan bekerja diatas 8 jam atau justru dibawah 8 jam?
Dari contoh diatas seharusnya karyawan tersebut bekerja diatas 8 jam karena menerima uang lebih banyak. Sama seperti pinjaman, seharusnya semakin besar pinjaman yang diberikan justru semakin besar juga bunga yang dikenakan. Anehnya pada contoh BF* Fianance ini, dan juga mayoritas lembaga keuangan lainnya semakin besar kredit yang diberikan maka semakin kecil bunga yang dibebankan.
Jika hal ini ditanyakan pada para bankir maka jawaban yang mereka berikan akan seragam. Jawabannya adalah karena yang menerima kredit kecil adalah umumnya para UMKM yang tidak akuntable. Selain itu mereka juga toh sanggup membayarnya karena UMKM memiliki penghasilan yang lebih besar dibandingkan perusahaan besar secara persentase. (inilah alasan terbesar kenapa mahasiswa ekonomi seharusnya jangan masuk bank)
Memang benar pernyataan bankir tersebut. Jika kita ke pasar dan melihat bapak/ibu/mbok/mbah penjual makanan atau barang-barang, mereka memiliki margin keuntungan yang besar. Jika sehari mereka bermodal misal 20.000 untuk membeli bahan makanan, maka pada hari itu juga saat tutup mereka sudah mengantongi 30.000 atau mendapat keuntungan 10.000 dengan kata lain Return on Equity (ROE) sebesar 50% hanya dalam sehari. Beda dengan perusahaan besar, umumnya ROE mereka berkisar pada angka 15% setahun. Dalam keuangan hal ini sering disebut size effect.
Dengan ROE yang berbeda dan adanya size effect tersebut bukankah seharusnya normal jika pinjaman kecil dikenakan bunga yang lebih besar dibandingkan pinjaman besar? Tetap tidak normal. Sepintas memang dapat diterima, namun jika coba memahami lebih luas dan jauh justru inilah yang disebut kapitalisme. Cara ini akan mengikat UMKM kecil untuk sulit menjadi besar karena keuntungan mereka sebagian besar digunakan untuk membayar hutang, hasilnya mereka akan tetap stagnan dan susah berkembang. Lain halnya perusahaan besar dengan bunga rendah mereka semakin mudah untuk menjadi besar dibandingkan para UMKM tersebut. Jika begini terus adanya maka yang pemodal kecil yang ingin besar selalu tertekan dan pemodal besar yang sudah besar akan semakin besar. Kapitalis sempurna.
Seperti sebuah perangkap yang tiada henti, usaha kecil jika sudah tersentuh kredit bank maka akan semakin sulit untuk berkembang. Alasannya, karena umumnya dari mereka tidak terlalu pandai berhitung dan dikecohkan oleh sistem kredit ini sehingga secara tidak sadar uang mereka selalu tersedot ke arah bank. Sedangkan yang menerima keuntungan dari semua itu adalah bank dan pemilik bank tentunya. Maka bukankah fungsi utama kredit usaha untuk membangkitkan usaha justru akan berlaku sebaliknya, mereka menjadi benalu pada para pengusaha kecil.

Cermat Sebelum Ambil Kredit Dana Cepat

Oleh: Ahmad Munadi
Perlu Pembiayaan Cepat?!? Pasti setiap dari kita pernah ditawari hal ini. Bisa lewat salesnya langsung datang menghampiri. Dateng lewat SMS berbunyi “Dana Cair .. .. .. *blabla* maaf jika mengganggu”. Juga lewat selebaran yang berseliweran di jalan-jalan. Pasti pernah kan? Setidaknya separah-parahnya pasti pernah beli motor cuma pake uang muka doang.
Beruntung kalo sales yang dateng langsung diusir, sms yang masuk langsung didelete, selebaran yang ada langsung dibakar,dibuang atau jadi bungkus gorengan. Karena dengan melakukan hal tersebut, psikologis kita akan mengabaikan hal tersebut. Masalahnya jika kita membiarkan sales masuk, sms dibaca terus dan selebaran dibawa pulang, pasti kepikiran. Gimana gak kepikiran? Terima duit tunai cash hanya dengan jaminan? Betapa tidak menggiurkan.
Taukah kita bahwa pinjaman-pinjaman tersebut sangat-sangat berisiko jika dilihat dari sisi keuangan? Lebih lagi praktik tersebut (dalam pandangan saia) melawan logika keuangan. Praktik tersebut sering kali dilakukan oleh lembaga keuangan yang terlihat mapan, padahal mungkin mereka sama saja kayak rentenir yang berdasi, bersepatu mengkilap dengan kantor full AC.
Langsung aja ke contoh. Berikut adalah hasil penghitungan kredit dana cepat yang saia ambil dari selebaran BF* Finance. Pinjaman berkisar dari 1-10 juta dengan pembayaran terdiri dari 6,12,18, dan 24 bulan. Syarat kredit yang tertulis cukup mudah, usia 21-60 tahun, fotokopi KTP & KK, Fotokopi PBB dan Rek Listrik, serta Fotokopi STNK dan BPKB. Saia mengambil nilai ekstrim dan tengah yaitu, 1 juta, 3 juta, 5 juta, 8 juta dan 10 juta.
Apa artinya? Artinya adalah uang yang dipinjam lebih kecil dari uang yang harus dibayar. Bayangkan aja ambil contoh yang 1 juta, pinjam cuma 1.100.000 tapi dalam 6 bulan harus balikin 1.995.000 atau membayar lebih mahal 81%nya yaitu sebesar 895.000. Hanya dalam 6 bulan pinjaman kita sudah membengkak hampir 2x lipatnya!
Lain pinjaman lain bunganya (lihat sendiri di tabel ketiga). Apa yang dapat dipahami lainnya? 1. Semakin lama pinjaman maka bunga yang dikenakan semakin besar. Dengan jumlah pinjaman yang sama, maka pinjaman dengan jangka waktu 12 bulan kena bunga lebih besar dari yang 6 bulan begitu juga yang 18 dan 24 bulan, bunganya semakin besar; 2. Semakin besar pinjaman maka semakin kecil bunga yang dikenakan. Bandingkan untuk angsuran 6 bulan pada beragam jumlah pinjaman, jelas terlihat bahwa bunga semakin lama semakin kecil bukan???
Apa yang perlu diwaspadai dalam meminjam dari dana cepat ini? Pertama kita buang jauh-jauh jika meminjam lebih sedikit maka bunganya biayanya juga rendah. Nyatanya semakin kecil pinjaman maka bunga yang dikenakan semakin besar. Kedua, Pahami benar bahwa semakin lama kita mengangsur maka semakin besar biaya yang harus kita bayar. Jangan kita beranggapan karena tertulis di brosur biaya perbulan jika angsuran lebih lama lebih murah, justru semakin lama jangka waktu yang kita ambil, biaya bunga yang kita bayar juga semakin besar.
Bagi saia pribadi, dana cepat ini adalah evolusi dari rentenir. Para rentenir ini belajar memahami pasar dan mereka mulai tampil lebih menarik. Dengan badan hukum, pakaian rapi dan ruangan full AC mereka mencoba memperdaya masyarakat. Jelas-jelas bunga yang dikenakan sangat tidak manusiawi. Dengan bunga yang tidak manusiawi tersebut menjadikan peluang lebih besar bagi peminjam untuk gagal bayar. Apabila gagal bayar? Apa jadinya nanti agunan/jaminan barang yang kita titipkan mungkin akan ludes. Belum lagi apabila telat bayar, bisa kedatangan preman ditambah denda keterlambatan yang pastinya menjadikan biaya tidak manusiawi. Pikirkan kembali sebelum mengambil dana cepat dari lembaga keuangan, masih ada banyak sumber dana yang lebih terpercaya dan aman, keluarga misalnya… 

Mountainomics

Source Pict.: yogainmyschool.com
Oleh: Ahmad Munadi
Teori pertama dalam belajar ekonomi adalah The Law of Scarcity (Kelangkaan). Teori yang mengatakan bahwa sumberdaya itu terbatas dan kebutuhan tidak terbatas. Alhasil ada harga lebih atas kelangkaan tersebut. Sesama pendaki gunung akan rela berbagi segalanya. Jelas-jelas logistik semacam makanan maupun minuman disana sangat langka. Kenapa mereka mau membaginya, gratis lagi! Teori ekonomi macam apa yang bisa menjelaskan ini?
Manusia adalah Homo Economicus
Manusia adalah seorang homo economicus atau bahasa gampangnya manusia adalah makhluk ekonomi. Manusia makhluk ekonomi karena dalam berbuat mereka umumnya didorong oleh sebuah kepentingan ekonomi. Sebagai homo economicus manusia selalu bertindak rasional, rasional disini diartikan bahwa mereka akan mengejar keuntungan baik itu moneter maupun non-moneter dalam setiap tindakannya. Kira-kira itulah hasil terjemahan dari investopedia.
Kenapa manusia bisa disebut sebagai homo economicus? Hipotesis saya menyebutkan manusia menjadi seorang homo economicus sejak manusia mulai belajar mengenai keinginan dan kebutuhan (needs and wants). Ketika manusia belajar bahwa di dunia ini mereka tidak bisa berdiri sepanjang hari dibawah terik matahari karena akan mati, maka mereka bergerak. Bergerak mencari makan, pakaian, rumah dan lain sebagainya. Mereka mengenal makhluk lain dan juga sesama spesiesnya. Mereka mengerti bahwa mereka butuh (needs) makan dan minum serta pakaian, dan mereka juga memiliki keinginan (wants) memiliki makanan yang enak pakaian yang banyak dan rumah yang besar.
Homo sapiens diduga adalah spesies manusia modern pertama. Mereka jadi manusia modern alasannya karena besarnya otak mereka seperti manusia modern sebesar 1300-1400 cm kubik. Alasan lainnya adalah karena mereka berbeda dari spesies sebelumnya, mereka mulai mengenal bercocok tanam dan mengurangi berburu dan menggunakan alat-alat yang terbuat dari selain batu. Maka kita bisa juga mengambil sebuah hipotesis bahwa semakin modern manusia maka dia akan semakin sadar bahwa dirinya adalah seorang homo economicus. Hal ini melihat perkembangan homo sapiens dibandingkan spesies-spesies sebelumnya.
Kenapa saya berhipotesis makin modern manusia makin homo economicus? Ya jelas karena perkembangan manusia didasarkan pada kepentingan ekonomi. Manusia menggunakan logam dibandingkan batu karena logam lebih mudah memotong-motong daging sehingga daging yang dapat digunakan menjadi lebih cepat dan banyak. Manusia bercocok tanam agar tidak tergantung pada alam dan dapat mengatur sendiri pangan mereka. Mereka memilih berkelompok agar lebih kuat dan dengan berkelompok mereka mulai bertransaksi ekonomi.
Berinteraksi dengan Alam
Ketika Adam pertama diciptakan, ia tidaklah berada di bumi, ia di surga. Ia kemudian ditemani oleh Hawa. Kemudian disebabkan karena mereka memakan buah apel terlarang akhirnya mereka diturunkan ke bumi. Jangan tanyakan saya apakah itu apel malang ? apel fuji? Atau apel washington? Karena saya juga tidak bisa menjawab kenapa buah terlarang itu harus apel tidak jeruk atau buah yang lain…
Kembali ke topik Adam, jadi Adam turun ke bumi. Apa yang pertama dilakukan Adam ke bumi, dia berinteraksi dengan alam. Di surga ia mendapatkan segalanya tanpa susah payah, tapi di bumi? Ia harus berusaha. Berusaha memenuhi kebutuhan manusianya berupa makan, minum, tidur dan lain sebagainya. Semua itu didapatnya dari alam, menurut saya inilah pertama kali manusia berinteraksi dengan alam.
Ketika manusia di dunia hanya Adam dan Hawa, kita rasanya tidak bisa menyebut bahwa mereka seorang homo economicus. Karena ketika mereka hanya berdua saja di bumi yang luas ini, rasanya alam menjadi milik mereka berdua. Mereka berdua tidak perlu bertransaksi sesama mereka untuk mendapat keuntungan karena mereka bertransaksi dengan alam. Mereka tak perlu membagi bumi menjadi dua daerah kekuasaan barat untuk Adam dan timur untuk Hawa, mereka tak perlu. Mereka tau alam yang mereka pijak, bahwa mereka bertransaksi dengan alam. Alam telah menyediakan segala kebutuhan mereka secara gratis. Mereka menerima dari alam, memakan tanaman dan hewan dan mereka menjadikan batu-batuan sebagai rumah perlindungan.
To the point aja, yang ingin saya sampaikan bahwa ketika manusia hanya Adam dan Hawa atau ketika manusia dilahirkan mereka bukanlah seorang homo economicus. Manusia terlahir bukanlah sebagai seorang homo economicus, bukan dengan selalu berfikir untuk mengambil keuntungan dari setiap transaksi atau interaksi. Ia terlahir ke bumi karena kekhilafan moyangnya Adam memakan apel terlarang sehingga diturunkan ke bumi, maka manusia semestinya berinteraksi dengan alam untuk dapat menaikkan derajatnya ke atas bumi, mungkin.  
Mountainomics
Terus apa hubungannya bacaan diatas sama mountainomics? Ngapain juga bicarain homo sapiens sama kisah Adam dan Hawa itu kan berlawanan. Sama istilahnya bicarain teori evolusi yang selalu ditolak sama agamawan. Trus homo economicus apaan? Manusia itu terlahir sebagai homo economicus atau enggak sih? Dasar emang penulisnya muter-muter, pantes aja lulusnya lama :P
Ngapain orang naik gunung? Seorang teman saya di Wonosobo sangat expert dalam menjawabnya. Dia akan menyediakan jawaban banyak, mau jawaban dari sisi mana? Agama? Lingkungan? Ekonomi? Sosial? Budaya? Sejarah? Tinggal pilih aja. Agama, bahwa wahyu pertama turun di gua hira di dataran tinggi, maka orang naik gunung biar dapet wahyu. Lingkungan, orang naik gunung untuk menghirup udara segar, merasakan indahnya alam tempat pijakannya. Budaya, bahwa banyak peninggalan budaya juga ditemukan dan terjaga keasliannya di pegunungan. Sosial, orang naik gunung untuk mempererat perkawanan atau ingin lepas dari hiruk pikuk manusia. Ekonomi? Mau nyari tambang emas, enggak lah saya becanda, ini yang kita coba dalami.
Ketika seorang manusia hendak mendaki gunung, banyak yang dipersiapkannya, makanan minuman pakaian dan cara buat tidur. Semua itu hampir sama dengan Adam ataupun homo sapiens yaitu mencari makan, menyediakan pakaian dan mencari tempat tidur, bedanya hanya zaman dan teknologi. Jika dahulu makan cari buah dan hewan untuk diburu, sekarang makanan dibawa dari daging kalengan dan sayu dari pasar. Jika dulu pakaian dari hewan, kini pakaian bawa saja secukupnya. Jika dulu tempat tidur dari batu dan berada di gua, pendaki gunung tidur di sleeping bag di gua atau dalam tenda. Hampir sama kok sama dahulu-dahulu. Jadi mountainomics itu gabungan pengertian homo economicus dari homo sapiens dan Adam gitu? Oh sebentar tunggu dulu, setelah iklan yang lewat ini.
.
.
.
Saya mencoba berasumsi bahwa ekonomi yang kita anut sekarang sebagian besar adalah ekonomi ala homo sapiens. Ekonomi yang benar-benar meyakini ilmu evolusi. Sistem ekonomi yang kita kenal sekarang berawal dari Bapak Adam Smith dan terus berkembang hingga saat ini. Mengenal law of scarcity, utility, gossen theory, Nash equilibrium, SWAP, option, accounting, competitive advantage, dan lain-lain. Teori ekonomi terus berkembang mengikuti keinginan zaman dan kebutuhan manusia. Dan sekarang ekonomi tersebut mengarah ke green economics, yang menyertakan alam dalam berekonomi. Green economics juga dilandasi global warming dan kesadaran manusia terhadap perbuatannya terhadap alam.
Ada juga ekonomi bukan mainstream yang sedang berkembang yaitu ekonomi ala Adam dan Hawa. Ekonomi yang bersumber dari Tuhan. Bahwa hukum-hukum ekonomi sudah ada sejak dahulu dan telah diberikan Tuhan pada manusia. Manusia hanya perlu mendekatkan diri pada Tuhan, baca firman-Nya maka Anda akan tau teori ekonomi bahwa kita hidup tidak di dunia tapi juga di akhirat. Ini dia ekonomi yang sekarang kita kenal dengan sebutan Ekonomi Syariah atau Ekonomi Islam.
Terus ada dimana mountainomics sendiri. Dia mungkin akan menyerempet pada ekonomi homo sapiens atau ekonomi evolusi. Hal ini karena ekonomi tipe ini sekarang lebih mengarah ke green economics, ekonomi yang mengarah pada perhatian pada alam. Hal ini sejalan dengan jiwa para pendaki gunung, untuk menikmati alam dan juga melestarikannya. Sayangnya mountainomics hanya menyerempet ekonomi sekarang, karena meskipun tujuan dan niatnya sama tapi caranya beda. Bagaimanapun ekonomi homo sapiens tetap kekeuh pada paradigma manusia adalah homo economicus yang suka mencari keuntungan tapi tidak untuk mountainomics. Berbeda dengan sikap para pendaki gunung adalah berbagi segala yang dimilikinya untuk alam sekitarnya yang membutuhkan secara tulus.
Mungkin juga mountainomics mengarah pada ekonomi ketuhanan. Mereka rela berbagi logistik secara gratis untuk sekitarnya yang membutuhkan dengan tulus. Apalagi artinya tulus tersebut kalo bukan telah mencapai tingkat spiritualitas yang amat tinggi. Melakukan sikap berbagi kepada sesama secara tulus padahal logistik disana langka hanya karena Tuhan. Ah tapi kembali lagi, menurut saya mereka berbagi karena ingin ke puncak gunung bersama-sama. Ingin ke puncak bersama-sama, tidak semua pendaki gunung selalu ingat Tuhannya.
Jadi apa itu mountainomics kalo bukan ekonomi homo sapiens juga ekonomi ketuhanan. Kembali pada para pendaki gunung, mereka mendaki gunung supaya naik puncak ya iyalah. Tapi inilah pendaki gunung, orang yang mendaki ke gunung untuk menikmati alam dan melestarikannya. Mereka orang yang mungkin di gunung rela berbagi segalanya pada sesamanya tapi ketika tidak di gunung ia mungkin tidak sebaik ketika di gunung. Jadi perilaku mereka amat dipengaruhi oleh alam. Mountainomics bukan berasal dari pemikiran-pemikiran atas evolusi manusia dan kepentingannya. Bukan juga sepenuhnya dari Tuhan. Mountainomics lebih mengarah pada perilaku ekonomi manusia yang dipengaruhi langsung oleh alam. Alam yang mengajarinya apakah ia harus ber-homo economicus atau tidak.
***

Pesona Tambal Ban

Oleh: Ahmad Munadi
“Mun.Mun Bangun Mun” suara kawan membangunkan. Hari sudah pagi, terasa sekali sang surya memancarkan sinarnya di setiap sudut kamar dengan begitu indah. Aroma di pagi hari kota Yogyakarta begitu membakar semangat untuk beraktivitas. Pagi ini begitu menyegarkan hanya kurang kicauan burung sehingga menjadi awalan cerita di setiap cerita dongeng.
Cerita ini bercerita pesona seorang tambal ban. Pesonanya sudah terlihat dari kejauhan, seorang wanita berparas cantik, berkulit putih, dengan rambut dan tubuh yang terawat, mata yang indah serta senyum yang hangat.(Maaf saia ngibul, Mana mungkin ada seorang penambal ban seperti itu). Cerita ini adalah kisah nyata betapa takjubnya saia melihat pesona pria tambal ban yang menjalankan prinsip-prinsip manajemen.
Tepatnya setelah saia mengantar teman ke kampus dan berniat untuk menambal sepeda. Sepeda saia adalah sepeda pinjaman WANA yang tidak ingin disebutkan namanya. Bermerk wimcycle roadchamp berwarna hijau muda dengan ukuran ban 26. Sekilas melihat sepeda ini orang langsung tau bahwa ini sepeda lama sekitar 5 tahunan yang garansi rangkanya sudah habis. Sepanjang body sepeda ini terdapat banyak stiker seperti WADEZIG, sate kacang, dan brownies lukis 89, sepeda ini jelas telah memiliki banyak pengalaman hidup dengan para penunggangnya. Meskipun sudah tua dan old fashion dan dari fisik yang sudah banyak tempelan, dari jauh sepeda ini mengkilap karena 2 hari yang lalu baru dicuci dengan sunlight sehingga tampak awet muda.
Dengan ban belakang yang sudah bocor kemarin tanpa sebab yang jelas saia membawa wadezig(panggilan untuk sepeda ini) menemui penambal ban. Sesampainya di penambal ban, kutanya:
“bisa nambal sepeda pak?”
“g bisa saia tidak punya.”
mungkin bapak ini tidak dengar, maka saia ulangi
“Bisa nambal sepeda pak?”
“G bisa mas, yang untuk nambal bannya saia sudah habis”
Oh ternyata bahan untuk nambalnya habis sehingga ia tidak bisa nambal. Kuucapkan terima kasih dan kemudian mencari tempat tambal lain. Sepertinya ia bukan penambal ban dalam cerita ini dan memang ia bukan. Kuteruskan perjalanan sambil menarik stang wadezig. Wadezig begitu penurut, dia bukan anjing atau ayam ataupun kucing yang ditarik kepalanya akan mundur ke belakang.
5 menit kemudian saia menemukan tambal ban tersebut. Dia adalah penambal ban dalam cerita. Pria muda berambut lurus berkaos hitam agak junkies bercelana pendek coklat kotak kotak sampai lutut dan bersandal jepit hitam dengan merk sun swallow, sekali melihatnya saia langsung tau bahwa dia belum mandi. Selain belum mandi saia tau dia tukang tambal ban karena disebelahnya ada mesin angin yang saya sebut LPG 12 kg dengan embel-embel warna orange beserta roda dan mesin. Kutanya padanya “Bisa nambal sepeda mas?” “BISA!”
Dibaliknya wadezig agar dia bisa membuka ban. Dicongkelnya ban belakang bagian luar wadezig. Diambilnya baskom berisi air. Diambil ban dalam dan diisi angin. Dimasukkanlah ban tersebut kedalam baskom air untuk mencari bagian yang bocor hingga terlihatlah bagian yang bocor. Bagian yang bocor itu berupa robekan, di daerah bagian dalam ban dekat dengan pentil sepeda.
# Capability
sebentar ia melihat robekan itu. Ia langsung berkata “Ban baru ya mas?”. Benar sekali, yang ia katakan benar. Ban dalem tersebut adalah ban baru merk swallow, ban tersebut baru 3 hari kugunakan karena sebulan ini ban belakang sudah bocor 3x dan ini yang keempat. Bocor ketiga kuputuskan kuganti dengan ban baru karena keseringan bocor. Salut sekali dengan kapabilitasnya dalam melihat. Mungkin ini yang dikatakan oleh Malcolm Gladwell sebagai Blink.
#Extra Service
” Mas ini robekan bukan lubang, penyebabnya bukan karena jarum atau benda tajam mungkin ada jari-jari yang menusuk” kemudian ia melihat jari-jari dan mengatakan ” ohh mas ini penutup jari-jarinya terlalu tajam pantas robek, ini masih terlalu tajam apa mau saya ganti?” Luar biasa. Selain kemampuan pemahaman yang cepat ia juga menawarkan jasa lebih. Dia adalah tukang tambal ban bukan tukang sepeda tapi kemampuannya lebih. Apa yang dikatakannya lagi-lagi benar. Penutup jari2 tersebut terbuat dari tali meteran kuning yang biasa digunakan tukang bangunan. Setelah dirobeknya kulihat2 dan benar bahwa bagian yang tajam persis sama dengan lokasi robekan.
#Multi Tasker
Dibuatnyalah penutup jari-jari dari bahan sepeda dan memulai menambal ban. Ia putar alat tambal ban, menyiram bensin dan api menyala. Menunggu tambalan selesai ia membuat penutup jari2 sepeda. Ia kemudian berhenti sejenak untuk memasukkan ban dalem motor sebelah saia yang baru saja selesai ditambal. Selesai nambal ban, ia meneruskan membuat jari2 sambil memperhatikan proses tambal ban. (Ia benar2 seorang multi tasker dan memiliki time efisiensi yang baik)
#SOP
penutup jari2 dipasangnya, kemudian ban yang selesai ditambal dicek kembali dalam baskom air. Setelah yakin ia kemudian memasukkannya kedalam sepeda. Ia masukkan ban dalam dan memperbaiki posisi ban, kemudian ditutup dan diisi angin. Setelah kupikir selesai, ia memutar ban tersebut, saya melihatnya dan terlihat baik-baik saja. Namun menurutnya hasilnya belum bagus, sehingga ia kembali memperbaiki posisi ban tersebut, mengempiskannya kemudian memperbaiki posisinya dan mengsi anginnya. Semua yang dilakukannya sesuai dengan SOP pekerjaan tambal ban. Dia mematuhi SOP-nya dengan amat baik. Selain itu, ia juga berpegang terhadap quality control . Fantastis.
Selesai hal tersebut, kubayarkan 7rb untuk semuanya. Semuanya untuk sepeda yang semakin baik, service yang memuaskan, dan pada rasa kagum saia. Terima kasih mas-mas tambal ban utara pertanian ugm. Kalo ban saia rusak saia pasti kesana lagi.

Mengenal Short Selling dari Sisi Syariah

Oleh: Ahmad Munadi*)

Short Selling. “Makanan macam mana itu? Enak enggak? Beli dimana? Harganya berapa? Hewan mana itu? Anaknya siapa itu? Ngomong apa sih lo?!!” Bukan, bukan bung, short selling bukan makanan, bukan hewan dan bukan makhluk idup. Sekarang gw lagi mau ngomongin short selling. Short Selling adalah istilah yang dikenal di pasar modal.

Short selling banyak dikenal sebagai sebuah manipulasi dan kejahatan yang ada di pasar modal. Sejak berdirinya pasar modal pertama di Belanda tahun 1600-an short selling hidup ditengah belum memadainya regulasi. Meledaknya pasar pada tahun 1610-an membuat para short seller menjadi cemoohan di kalangan masyarakat. Para short seller seakan menjadi manusia dengan kasta terendah yang pernah ada. Alasan utamanya adalah sebuah pernyataan yaitu, bagaimana mungkin kaya mendadak ketika kondisi perekonomian memburuk.

Short selling secara pengertian adalah menjual saham disaat tinggi dan membelinya di waktu rendah dengan hutang. Ya, short seller adalah orang yang memungkinkan menjadi kaya ketika perekonomian atau pasar memburuk. Short seller dinilai tidak fair, ketika orang-orang menderita mereka malahan menjadi kaya. Mereka seakan dijadikan kambing hitam atas segala kerusakan ekonomi. Bagaimanapun pandangan orang, saat ini short selling tetap legal dan terjadi tiap detik jam pasar.

Salah satu “kebaikan” dari seorang short seller adalah penyeimbang pasar. Kasus Enron tahun 2000 mencatatkan sejarah “kesuksesan” short seller. Adalah James Chanos seorang pendiri perusahaan investasi Kynikos yang mencatat sejarah. Ketika semua orang memuja kenaikan harga Enron dengan keindahan laporan keuangannya, James Chanos melihat di sisi lain yaitu laporan akuntasi yang terlalu agresif dengan ROE hanya 7%. Kecurigaannyapun membuah hasil keuntungan luar biasa.

Sejarah Short Selling

Seorang short seller pertama diduga adalah Isaac Le Maire ketika melakukan short pada The Dutch East India Company. Ia mendapatkan banyak keuntungan sehingga short selling dilarang mulai tahun 1610 hingga diperbolehkan kembali pada tahun 1850-an. Selain short selling, kebalikan dari short selling adalah Cornering yang diperkenalkan oleh pria bernama John dan booming tahun 1800-1920an.

Di AS terdapat 2 short seller legendaris, yaitu Jesse Livermore dan Bernard Baruch. Jesse Livermore bukanlah lulusan keuangan, namun ia ahli dalam angka dan memiliki ingatan kuat sehingga dapat melakukan analisis saham dengan cepat. Pada tahun 1907 ia short saham Union Pacific Railroad yang kemudian terjadi gempa di San Francisco pada Oktober 1907 dan mendapatkan keuntungan 3 juta dolar. Ia adalah penulis buku Reminiscences of a Stock Operator yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di tahun 1940-an akibat tak kuat akan cemoohan masyarakat. Bernard Barch adalah ahli keuangan juga penulis buku Short Sales and the Manipulation of Securities. Setelah berhasil jadi short seller dan mendapat banyak uang ia mengejar karir jadi politikus sehingga jadi penasihat Presiden Harding, Coolidge dan Hoover.

Nah, bagaimana caranya dapet untung saat harga saham turun???

Proses Short Selling

Mari kita pahami proses short selling ini dengan sebuah cerita tentang seorang investor muda pria bernama Munadi. Munadi adalah seorang investor yang kaya raya, ganteng & tampan, dikejar-kejar banyak wanita yang ingin pacaran dengannya, dikejar-kejar anak-anak yang meminta dibelikan permen coklat gratisan, dikejar-kejar suami wanita-wanita tadi yang ingin memukulnya. Tapi yang pasti munadi tidak dikejar-kejar banci dan waria, ia adalah orang soleh, rajin solat dan maksiat, rajin nyapu dan bersih-bersih kamar mandi, tetapi tidak suka mandi. Sebagai seorang short seller hal pertama yang dilakukannya adalah:

  1. Bikin akun margin

Akun margin adalah akun yang memungkinkan investor untuk membeli saham diluar batas uang yang disetornya dengan berhutang ke perusahaan efek. Akun Margin juga mengenakan bunga bagi pemiliknya dan memiliki aturan yang lebih ketat dibandingkan akun tunai. Dalam kasus ini, Munadi-pun bikin akun margin dan menyetor uang 500 juta (bagi munadi ini tak seberapa :p). Ia memiliki broker bernama Joni untuk membantunya di pasar modal.
2. Melakukan Riset Perusahaan
Riset perusahaan adalah tahapp penting untuk membedakan seorang spekulan dan non spekulan. Riset ini dengan menganalisis secara fundamental dan teknikal. Laporan fundamental yang dapat diperhatikan adalah laba-rugi(penjualan); neraca(the burn rate, piutang tak tertagih, soft account); Arus kas(FCF, pendapatan bersih dan arus kas tak menentu). Selain itu Munadi melihat rasio-rasio keuangan beserta arsip perusahaan seperti laporan pendahuluan, formulir 4(perdagangan orang dalam), formulir k8(peristiwa penting), siaran pers dan formulir S1(IPO). Munadi juga melakukan analisis teknikal. Tapi ingat semua itu dilakukan oleh Joni si brokernya.
3. Memulai short selling
Joni adalah broker yang baik. Berdasarkan risetnya Joni menyarankan pada pria ganteng Munadi untuk melakukan short pada saham umpamanya BNBR(Bakrie and Brothers). BNBR jika diartikan dalam bahasa Arab menjadi Bakrie dan para saudara laki-lakinya :3, saat ini BNBR umpama berada di kisaran harga 100 perak per saham. Munadi berencana melakukan short sejumlah 10 juta saham BNBR atau sekitar 20ribu lot atau sekitar 1000 KOS di kisaran harga 100 perak. Total harganya adalah 1 milyar(ingat meski Munadi punya 500 juta doang tapi ini akun margin, ia bisa ngutang)
4. Meminjam saham
Joni sebagai broker kemudian mencari saham BNBR sejumlah 10 juta untuk dipinjam. Joni menghubungi broker kenalan lainnya atau dari institusi lainnya untuk meminjam saham BNBR sejumlah 10 juta. Jika Joni tidak berhasil meminjam maka Joni dan Munadi tidak dapat melanjutkan short-nya. Dan kebetulan Joni dapat pinjaman dari temannya Budi sejumlah 10 juta saham dan berjanji mengembalikannya sebulan lagi.
5. Menjual saham
Joni kemudian menjual BNBR pinjamannya sejumlah 10 juta saham dan laku di kisaran harga 100 perak sehingga Joni dan Munadi mengantongi uang saat ini 1,5 milyar(1 milyar hasil penjualan dan 500 juta modal awal).
6. Menutup posisi short
20 hari kemudian harga BNBR turun jadi 75 perak. Joni pun membeli saham sejumlah 10 juta untuk dikembalikan ke Budi dan menghabiskan uang sebesar 750 juta. Saham itu akan dikembalikan ke Budi 10 hari lagi sesuai janji. Dengan ini Joni dan Munadi mendapatkan keuntungan 250 juta dari short mereka.
Gampangannya: begitu lu tau harga bakal turun, lu pinjem saham. Jual dengan harga sekarang. Waktu yang punya saham nagih? Cukup beli saham dipasar dengan harga yang lebih rendah (kan turun harganya). Selisih harga jual saham pinjeman ama harga beli saham buat ngebalikin itu keuntungan yang masuk kantong lo.
Risiko Short Selling
Contoh diatas adalah contoh menyenangkan ketika seandainya berhasil short selling. Namun untuk menjadi short seller butuh kemampuan dan pengalaman extra karena seperti yang saya katakan diawal, short selling penuh dengan intrik dan manipulasi.
Seorang short seller mendapatkan keuntungan dari selisih antara bid(permintaan) dan ask(penawaran) harga saham. Namun disamping itu seorang short seller juga harus memperhatikan hal lain yang mengurangi pendapatannya yaitu bunga dan komisi yang harus dibayarkan dikarenakan ia menggunakan akun margin. Oleh karenanya jika kita mendapatkan bersih dari bid ask yang bernilai kecil memungkinkan kita mendapatkan rugi jika kemudian dikurangkan dengan bunga dan komisi yang harus dibayarkan.
Risiko yang kedua adalah upstick rule. Upstick rule adalah aturan yang melarang melakukan short terhadap saham-saham yang sedang jatuh. Memandangi saham yang sedang jatuh memungkinkan saham tersebut jatuh ketimpa tangga lagi. Namun kesepatan itu terhalang oleh keberadaan upstick rule.
Unlimited Loss. Mengacu pada contoh diatas, dengan membeli saham di harga 100 perak, keuntungan maksimum yang dicapai adalah ketika harga saham jatuh ke titik terendah yaitu seharga 50 perak di Indonesia sehingga penghasilan Munadi menjadi 500 juta. Namun sebaliknya jika ternyata harga saham tersebut naik, maka tidak ada batas atas dari harganya, bisa saja saham tersebut naik hingga titik tak terhingga sehingga kerugian Munadipun menjadi tak terhingga.
Tekanan Kondisi Buy-in. Beruntunglah Munadi jika saham BNBR yang dibelinya terus turun, namun bagaimana jika naik? Jika saham itu terus naik, maka Budi sebagai pemberi pinjaman akan mendorong Joni untuk segera membalikkan sahamnya. Budi akan menekan Joni untuk segera mengembalikan sahamnya karena Budi ingin segera menjual saham tersebut ketika harganya naik untuk mendapatkan keuntungan. Tekanan ini disebut buy in.
To enjoy the advantages of a free market, one must have both buyers and sellers, both bulls and bears. A market without bears would be like a nation without a free press. There would be no one to criticize and restrain the false optimism that always lead to disaster. -Bernard Baruch-
Short Selling dalam Perspektif Syariah: Saya Tidak Setuju dengan MUI!!!
Berdasar pada fatwa DSN MUI no: 80/DSN-MUI/III/2011 yang dikeluarkan Maret 2011 mengenai Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek mengindikasikan perdagangan saham sudah menjadi sesuatu yang diperbolehkan.
Ketentuan umum nomor 4 berbunyi “Pasar Reguler adalah Pasar dimana Perdagangan Efek di Bursa Efek dilaksanakan berdasarkan proses tawar menawar yang berkesinambungan(bai’ al Musawamah) oleh anggota bursa efek dan penyelesaian administrasinya dilakukan pada hari bursa ketiga setelah terjadinya Perdagangan Efek di Bursa Efek”. Berdasar ketentuan ini maka dapat diartikan pembentukan harga di Bursa adalah sesuatu yang diperbolehkan yang disebut bai’ al Musawamah.
Adapun yang menarik aadalah ketentuan khusus nomor 3 yang berbunyi:
“Pelaksanaan perdagangan efek harus dilakukan menurut konsep kehati-hatian serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi, manipulasi dan tindakan lain yang didalamnya megandung dharar, gharar, riba, maisir, risywah, maksiat dan kezhaliman, taghrir, ghisysy, tanajusy/najsy, ihtikar, ba’I al-ma’dum, talaqqi al-ruqban, ghabn, riba dan tadlis.” Dalam ketentuan ini dalam mekanisme yang berkaitan dari short selling adalah:

  1. Akun Margin: Akun margin dilarang karena mengandung riba. Hal ini benar adanya karena dalam aturan akun margin, pemilik akun margin harus membayar sejumlah uang tertentu dalam bunga yang harus disetor karena jasa pembelian dengan hutang.
  2. Cornering: Hal yang dilarang karena mengandung ikhtikar. Ikhtikar adalah bahasa lain dari menimbun yang berarti membeli barang yang dibutuhkan masyarakat dalam jumlah banyak kemudian menahannya agar harganya semakin naik untuk kemudian mengambil keuntungan.
  3. Short selling: Short Selling mengandung bai’ al maksyuf. Bai’ al maksyuf adalah sesuatu yang mengandung gharar(ketidakjelasan), yaitu jual beli barang secara tunai namun penjual bukan pemilik barang atau diizinkan untuk dijual.

Jika merunut pada aturan diatas, jika seseorang melakukan proses short selling atau cornering, maka dia bukan hanya melakukan 1 hal saja yang berlawanan oleh fatwa, tapi 2 yaitu akun margin dan short selling atau cornering. Tapi mari sekarang kita kritisi apakah benar bahwa ketiga hal tersebut dilarang oleh syariah.
Akun Margin dinyatakan dilarang karena mengandung riba. Hal ini harus kita yakini dan benar adanya. Kita meminjam uang tertentu dan mengembalikannya dengan tambahan bunga, hal ini tidak lain dan ridak bukan adalah riba yang dilarang oleh agama. Tapi kemudian apa jadinya kalo ada perusahaan efek syariah? Tawaran pinjamannya adalah bagi hasil(mudharabah). Mungkinkah selanjutnya diperbolehkan? Tentu saja tetap berpegang pada aturan yang lain yaitu tanpa spekulasi. Mungkin jika boleh selanjutnya kita akan mengenal PES(Perusahaan Efek Syariah)
Cornering dinyatakan mengandung ikhtikar(menimbun). Proses cornering adalah ketika seseorang meminjamkan sahamnya kepada para short seller. Ia tau hal tersebut dan ketika ia tau para short seller telah menjual sahamnya ia kemudian meggunakan powernya untuk menaikkan harga saham tersebut sehingga harga saham naik dan mendapatkan untung dari periode buy in. Rasanya jika dikaitkan dengan menimbun, saham bukanlah kebutuhan utama untuk hidup, jadi menurut saya agak kurang tepat tapi masih dapat diartikan sedikit demikian. Namun bagaimanapun juga dalam proses ini terdapat indikasi menzalimi atau merugikan orang lain, jadi benar rasanya jenis transaksi ini dapat dilarang.
Short selling dinyatakan mengandung bai’ al maksyuf yang berarti menjual barang yang bukan miliknya. Memahami hal ini berdasar proses short selling yang telah saya gambarkan diatas, nampaknya hal ini kurang tepat. Dalam proses diatas, seorang broker tidak dapat melakukan short jika ia belum mendapatkan pinjaman saham. Si pemberi pinjaman pun tau jika sahamnya akan dipinjam maka berarti akan dilakukan short. Oleh karenanya saya sedikit sanksi jika short selling mengandung bai’ al maksyuf.
Pemahaman dan analsisi saya memungkinkan pengenaan bai’ al maksyuf dikarenakan karena pengertian dari short selling menurut bursa efek Indonesia yang berbunyi: “adalah transaksi penjualan Efek dimana Efek dimaksud tidak dimiliki oleh penjual pada saat transaksi dilaksanakan”. Bandingkan dengan pengertian short selling menurut SEC(Securities and Exchange Commision)AS atau investopedia: “penjualan surat-surat berharga yang tidak dimiliki oleh penjualnya atau yang dimiliki oleh penjualnya namun tidak dipindahtangankan. Agar surat-surat berharga ini bisa disampaikan kepada para pembeli, para penjual short akan meminjam surat-surat berharga, biasanya dari para broker-dealer atau investor institusi.”
Dari perbedaan ini saya berpendapat bahwa pengenaan bai’ al maksyuf dikarenakan pemahaman pengertian transaksi short selling dari Bursa Efek Indonesia yang tidak selengkap di SEC. Oleh karenanya mungkin ini mengakibatkan tidak dilakukannya pengamatan lanjutan pada proses short selling yang mewajibkan memiliki pinjaman sebelumnya.
Dari perbedaan pengertian diatas, bukan berarti saya mengatakan short selling mestinya halal. Jika melihat ciri dari short seller, ia adalah orang yang dapat mengambil keuntungan ketika harga saham turun. Kemungkinan pertama adalah terjadi kezaliman yang dilakukan, tetapi short seller melakukan kezaliman pada siapa? Turunnya harga saham jika memang disebabkan oleh aktivitas pasar, short seller hanyalah orang yang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi di masa mendatang, sehingga jika mengaitkannya dengan kezaliman, short seller tidaklah menzalimi siapapun.
Tepatnya kita melihat ini adalah sebuah masalah etika. Ketika banyak orang merugi dan kita meraup keuntungan adalah sesuatu yang masih belum diterima masyarakat secara sehat. Ini adalah hal yang kurang biasa, masyarakat tidak bisa menerimanya. Sehingga short selling lebih tepat dikatakan sebagai hal yang bertentangan dengan etika atau norma yang berlaku di masyarakat. Sehingga saya akan menyimpulkan sementara bahwa short selling mungkin mesti dimasukkan ke hukum yang bersifat makruh.
Tulisan ini bukan untuk membenarkan atau menyalahkan short selling. Tulisan ini bermaksud mengajak kita berpikir dan bertukar pikiran. Jadi bagaimana menurut antum? (bahasa gaul sholeh dari kata Anda :P)

*)Penulis adalah pengamat pasar modal syariah. Sekjen Media FOSSEI (Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam) Nasional. Sedang menulis skripsi tentang Ramadhan Effect di Bursa Efek Indonesia.