Financial Freedom Katenye…


Oleh: Priyok

Saya sedikit terusik ketika kemarin saya mengikuti sebuah training dan trainer pada saat itu bertanya kepada para peserta. What do you want to be, What is your target, pertanyaan khas trainer. Yang menarik bukan pertanyaannya, karena sudah sangat umum sekali. Yang menarik adalah jawaban dari pesertanya. Saya cukup mengenal siapa-siapa yang ikut dalam training itu, sehingga saya bisa mengadakan analisis singkat dan tak akurat dengan membandingkan antara keseharian dengan cita-citanya. Karena saya sangat percaya bahwa cita-cita berbanding lurus dengan apa yang kita lakukan hari ini. Cita-cita hanya akan menjadi mimpi kalau hari ini kita “bertolak jalan” dengan cita-cita kita.

 Apa sih jawaban mereka?sehingga mengusik saya untuk menulis.

Sebagian dari mereka menjawab. Bahwa mereka akan/ingin menjadi seseorang yang kaya dan juga financially freedom nantinya. Sepintas tak ada yang salah dengan jawaban tersebut. Ya, karena memang semua orang juga ingin menjadi seperti itu. Jadi, jawabannya terlalu umum. Bukan juga. Saya hanya terusik apakah benar financial freedom yang dipahami orang memang benar-benar konsep yang seharusnya, tidak salah kaprah. Karena saya agak sedikit ngeri juga, tren kata-kata financial freedom telah nyangkut ke otak-otak manusia tanpa paham konsep yang sebenarnya. Jadi ya itu financial freedom tren, bukan mind set financial freedom yang sesungguhnya. It is not that simple, pals.

Saya disini bukan meluruskan pemahaman financial freedom, saya hanya mencoba menafsirkan financial freedom yang sesungguhnya versi saya sendiri berdasarkan pengalaman-pengalaman saya bergaul dengan Rich Dad dan Poor Dad. Saya sangat terbuka sekali apabila tulisan ini ditanggapi dengan komentar yang banyak.

Yang harus jadi garis bawah adalah jalan menuju financial freedom itu tidak enak. Bangun harus pagi-pagi, harus rajin, tidur sedikit, sedikit waktu bermain/hang out, kurang bisa punya barang bagus, stop belanja berlebih, dll. Itu yang sifatnya kesenangan, belum lagi yang sifatnya fisik. Motor jelek (shogun keluaran 2001), makan bawa dari rumah, ngampet beli mobil bagus, dll. Bukan masalah tidak mampu beli sebenarnya, tapi terlebih penting melatih mental. Kenapa harus seperti itu. Cobalah tengok pengusaha-pengusaha papan atas yang meraih hidup sukses. Mark Zuckerberg, rumah aja masih ngontrak. Warren Buffet, sebagai orang terkaya, hidupnya termasuk biasa-biasa saja. Apalagi Bill Gates, terbiasa naek subway ke kantornya.

Kuncinya bukanlah memperoleh pekerjaan dengan penghasilan besar, seperti bekerja di perusahaan minyak. Bukan pula memulai bisnis, jd entrepreneur seperti yang selama ini didengung2kan orang-orang. Tapi mengelola berapapun pendapatan yang kita terima. Tidak saja berhenti di menabung, tapi lebih dari itu. Menurut saya, lebih baik penghasilan 2.500.000 tp bisa menabung 1.000.000 drpd pengasilan 10.000.000 tapi habis 9.999.999.

Saya teringat sekali pesan dosen saya di kelas Perekonomian Indonesia. Menjadi kaya, kata beliau, bukan dari berapa harta yang dikumpulkan. Namun dari seberapa kita meminimalisir realisasi keinginan kita. Percuma saya kalau kita punya banyak uang, tapi realisasi keinginan kita melebihi apa yang kita miliki. Misalnya anda punya tabungan 50 juta, tapi ingin sekali membeli mobil. Bagi sebagian orang yang memang butuh mobil uang tersebut sudah bisa untuk membeli mobil yang layak. Akan tetapi anda ingin sekali membeli Avanza, alhasil uang 50jt tersebut menjadi DP dan sisanya anda cicil. Anda tak mampu menahan keinginan anda. Maka anda jauh dari financial freedom.

Financial freedom adalah meraih hasil dari aset yang anda miliki, bukan menambah kos dan expense dari aset yang anda miliki. Kalau anda masih berdiri pada deretan orang yang tidak bisa menahan keinginannya, jangan harap anda bisa financial freedom. Financial freedom adalah masalah perilaku, bukan hanya sekedar materi. Dia mempengaruhi pola konsumsi kita untuk tetap humble namun tidak pelit. Saya tidak bilang anda tak boleh tas Hermes, hanya saja ada tapinya.

Financial freedom memang butuh modal penghasilan yang besar. Tapi lebih dari itu, ia hanyalah manajemen keinginan. Suatu hari Pak Jalal menanggapi pertanyaan Udin dan Asrul “Doain saya Pak Jalal biar punya pemasukan banyak kaya Pak Jalal”. Statement itu dibalas dengan ketus oleh Pak Jalal. “Eh gw tuh ga jago nyari duit, gw tuh jadi kaya begini gara-gara bisa ngelola duit, gw mah nyuruh orang aja buat nyari duit”.

Advertisements