Hotel Muliaccounting (A Paradox Answer to Pugo’s Article “Progonomics”)

Oleh: Priyok

Membaca cerita Pugo, membuat saya kembali ke masa muda saya. Bukan bermaksud sombong, tapi sebenarnya saya bisa saja naik pesawat kelas bisnis untuk pulang kampung ke Jakarta. Tapi waktu itu saya memilih Progo, 38.000 yang menyelesaikan masalah. Meski saya harus berdiri mulai dari Yogyakarta sampai Cirebon. Agar tidak terkesan curcol, saya akan mencoba sedikit-sedikit (lebih tepatnya belagu) menggunakan beberapa teori-teori yang pernah saya pelajari. Pengamatan ini saya alami berkebalikan dengan apa yang Pugo alami yang proletar.

Beberapa bulan setelah saya bekerja di perusahaan gali sumur, saya diajak oleh supervisor saya untuk makan-makan merayakan masa kerjanya yang sudah 20 tahun. Tidak tanggung-tanggung, saya diajak makan ke Hotel Mulia. Semula saya tidak terbayang apa-apa, hanya makan biasa. Tak dinyana, saya dibawa ke restoran mewah penuh glamour. Saya shock!!!Baju saya dibeli di Ramayana seharga 99.000, celana saya jebolan Pasar Senen 40.000, sepatu saya sepatu Cina beli di Atrium Senen 125.000..Tapi, saya diajak makan seharga 399.000++ (bagi yang g tau arti ++, itu artinya masih ada biaya tambahan seperti pajak atau service fee). Benar-benar luar biasa, 399.000 hanya untuk dibuang di jamban!!!Memang bukan makanan sembarangan, disana saya pertama kali makan kepiting alaska yang segede gambreng, makan kerang yang dalam film Mr. Bean, bahkan ikan salmon utuh dengan berat 2kg!!!(kalo mama saya beli diskonan di giant). Saya, orang katro, ndeso, udik, kampungan, benar-benar tidak tahu bagaimana behave di tempat tersebut. Saya benar-benar mati kutu!!!Tak tahu harus gaya apa, saya ambil makanan apa saja. Nyicipi. Terlihat sekali saya katronya.
Bagi kita yang kere-kere ini, tak pernah kita bayangkan untuk makan semahal itu atau beli tas yang harganya 1 juta. Dulu saya pernah berpikir bahwa cara memenangkan kompetisi yang terbaik adalah dengan memberikan harga terendah dengan value maksimal walau mengorbankan marjin. Cara pembentukan harganya pun mudah saja, berapa kos untuk membuat bahan tersebut lalu ditambahkan marjin sekian persen. Kalau saya dulu jualan sotomie dengan modal 3000 lalu saya jual 5000, yasudah untung saya 2000 titik. Saya benar-benar menggunakan basic dari akuntansi kos. Menentukan kos dengan tepat agar kita tidak sampai jual kemahalan atau jual kemurahan. Kalau kemahalan ga laris, kalo kemurahan ga miris.
Namun bisnis hari ini mengenal cerita yang lain. Ada value tak kasat mata, intangible, yang membuat teori katro di atas tak berlaku. Mungkin saya bisa bilang kematian akuntansi kos, the death of cost accounting (dengan catatan menggunakan paradigma yang lama). Karena faktanya ada kos yang tak bisa diukur namun tak membuat barang tersebut tidak laku walau kita pikir itu mahal harganya. Sebenarnya, selain makanan aneh-aneh tersebut, makanan yang tersedia adalah makanan-makanan biasa saya temui. Namun Hotel Mulia menawarkan prestise, gaya hidup, dan terangkatnya derajat apabila makan di sana. Sama halnya dengan merek-merek seperti ferrari, Victorinox, Raymond Well, Guess, YSL, Louis Vitton, D&G. Saya akui, kualitas mereka memang sangat baik, tapi kos intangiblenya jauh lebih mahal dari bahan bakunya. Sehingga semakin mahal harganya, semakin orang mau beli.
Aneh kan?saya juga aneh ketika melihat promo sendal Crocs di Sency yang antri sampai lantai 1, padahal tokonya di lantai 7!!!Come on, itu cuma sendal karet. Apa bedanya ma swallow, cuma kaya selop doang kalee. Harganya pun tak murah. Kini, harga tak lagi ditentukan oleh kos produksi ataupun perolehan. Pasar lah yang menentukan harganya sendiri. Lo aja mau bayar gw 100.000, kenapa harus gw jual 50.000…begitulah kira-kira.
Lantas bagaimana nasib cost accounting?tampaknya para ahli cost accounting harus berlaga di serie B. Walaupun tetap penting, keberadaan cost accounting tak lagi sevital dulu karena datanya sangat dibutuhkan oleh manajemen dalam mematok harga. Cost accounting kini hanya menjadi alat kontrol agar marjin yang diinginkan oleh manajemen berjalan dengan baik dan lancar jaya, kalaupun sebagai dasar penentuan harga, hanya menjadi pertimbangan sekunder dibanding data perilaku konsumen. Kalau dulu “Berapa nih kosnya?yaudah naikin 20% kita jual sekian”…kalau sekarang “Berapa kosnya?ah aman kita masih untung kok”.