Solusi Gila untuk Kemacetan Jakarta

Oleh: Yoga PS

Jika Anda sedang berjalan-jalan di Jakarta, saat ini pasti Anda akan sangat mudah menemukan poster calon pemimpin Jakarta.

Dan lucunya “jualan” mereka rata-rata hampir sama. Gaya foto mereka sama-sama tersenyum cengengesan sok cool, sama-sama ingin membawa perubahan menuju Jakarta yang lebih baik, dan sama-sama menjanjikan solusi untuk tiga dosa utama ibukota Jakarta: macet, banjir, dan permasalahan social.

Untungnya saya bukan orang Jakarta (untungnya juga saya bukan orang utan). Tinggal disini juga baru sekitar 3 bulan setelah lulus kuliah. Jadi saya kurang peduli dengan kondisi politik kota ini. Tapi saya ingin mencermati solusi yang ditawarkan para calon pemimpin Jakarta. Tentang cara mengatasi kemacetan.

Macet

Tiada hari tanpa macet di Jakarta. Apalagi saat jam berangkat dan pulang kerja. Tampaknya hanya saat libur saja Jakarta bebas macet: libur hari raya, dan saat libur hari kiamat. Hari biasa? Mana mungkin… apalagi sedang musim demo seperti sekarang.

Terkadang saya lebih memilih jalan kaki untuk menghadiri meeting dengan client daripada naik roda empat yang menghabiskan waktu 30 menit perjalanan hanya untuk menempuh jarak 2 km. itung-itung pelangsingan gratisan juga sih. Yang penting nggak jalan ditempat.

Mau naik busway? Pasti lama ngantri dan jalurnya sering diserobot pengendara lain. Belum lagi risiko terkena pelecehan seksual (atut kakak…) karena dempet-dempetannya minta ampun. Kita bisa mendapatkan pelajaran empati bagaimana rasanya menjadi ikan sarden. Naik ojek? Mending bawa motor sendiri lah. Karena ongkos ojek lebih mahal daripada taxi. Naik kereta? Kurang fleksible kalau tujuannya dalam kota.

Naik kopaja? Kudu banyak dzikir. Naik bajaj? Uda dilarang masuk tengah kota. Naik becak? Ntar dirazia satpol PP. Naik haji? Kelamaan ngantri. Pokoknya, naik apapun, ujung-ujungnya naik pitam. Macet dan crowded.

Lalu datanglah para “messiah” calon pemimpin DKI yang membawa solusi mengatasi kemacetan. Karena ini bukan tulisan promosi salah satu calon, pokoknya rata-rata ingin melakukan perbaikan transportasi umum agar pengendara kendaraan pribadi beralih menggunakan kendaraan umum.

Tapi seperti kata Andre Taulany Stinky, “Mungkinkahhh?”

Intangible Benefit

Logikanya sederhana. Manusia dianggap rasional. Semakin baik transportasi umum (murah, cepat, aman dan nyaman), maka seseorang pengendara kendaraan pribadi akan melakukan cost benefit analysis dan pada akhirnya memutuskan memarkir kendaraan pribadinya di garasi rumah untuk beralih menggunakan transportasi umum.

Tapi sayangnya manusia tidak rasional. Ia adalah makhluk yang “terkadang” irasional, dan melakukan pengambilan keputusan secara emosional. Termasuk soal pemilihan moda transportasi. Contoh gampangnya gini:

Anda punya mobil. Untuk kekantor, Anda harus merogoh kocek untuk bensin, tol dalam kota, biaya penyusutan mobil, dan tentunya parkir. Anggap saja sekitar 50rb sehari. Lalu ada pilihan lain. Anda naik busway yang sekali jalan kemana aja cuma Rp.3.500 saja. Mana yang Anda pilih?

Jika waktu tempuhnya hampir sama, saya yakin Anda tetap memilih mobil pribadi. Kenapa? Karena adanya intangible benefit. Keuntungan yang tidak terlihat secara ekonomis. Dengan membawa kendaraan pribadi Anda akan memiliki fleksibilitas, kekuasaan menentukan tujuan, dan feel good factor terhadap kepemilikan sebuah komoditas bernama kendaraan pribadi.

John Locke pernah mengemukakan teori stratifikasi social. Dan dari zaman revolusi industry sampai reformasi selalu ada stratifikasi social. Manusia dikelompokkan menjadi tingkatan-tingkatan tertentu. Penentu status social. Dan ternyata penandanya selalu sama: kekayaan pribadi. Jika zaman dahulu kekayaan Anda dilihat dari seberapa luas tanah Anda, maka sekarang dilihat dari jumlah rekening bank, merk baju, type handphone yang ditenteng, dan kendaraan yang dikemudikan.

Saya ingin berkata, membawa kendaraan pribadi akan mengangkat status sosial Anda daripada naik kendaraan umum. Dan masyarakat urban hidup dalam citra. Mereka sangat memuja pencitraan materialistis, sehingga diperlukan sebuah “rekayasa social” untuk mengubahnya.

Bagaimana cara mengubah mindset masyarakat agar merasa jika menaiki kendaraan umum lebih “bergengsi” daripada kendaraan pribadi?

Suri Tauladan

Suatu hari Gandhi didatangi seorang Ibu. Ia mengeluhkan kebiasaan anaknya yang tidak dapat berhenti makan permen. Ia meminta orang bijak ini untuk menasihati anaknya dan menyuruhnya berhenti makan permen.

Bukannya menasihati, Gandhi menyuruh sang Ibu kembali beberapa hari kemudian. Sang Ibu yang kebingungan bertanya-tanya mengapa untuk menasihati anaknya saja Gandhi harus menunggu beberapa hari akhirnya menurut. Beberapa hari kemudian ia kembali.

Akhirnya Gandhi menasihati sang anak untuk berhenti makan permen. Setelah itu, Ibu ini bertanya kepada Gandhi, mengapa ia harus menunggu berhari-hari untuk menasihati anaknya? Jawaban Gandhi sederhana.

Untuk menasihati anak agar berhenti makan permen, maka orang yang menasihati juga harus berhenti makan permen. Karena itulah, Gandhi mencoba berhenti makan permen agar bisa menasihati sang anak untuk tidak memakan permen lagi.

Pelajarannya? Pemimpin harus memberi contoh. Pemimpin tidak akan berhasil membujuk warganya menggunakan transportasi umum jika ia sendiri tidak pernah menggunakan transportasi umum untuk kegiatan sehari-hari. Bagaimana mungkin pemimpin berniat melakukan perubahan system transportasi umum jika ia sehari-hari duduk nyaman dalam kawalan vorijder polisi didalam mobil pribadi?

Jika misalnya ada gerakan “pejabat naik trans Jakarta”, maka suatu saat mungkin akan diikuti oleh public figure lainnya. Jika public figure dan tokoh masyarakat berlomba-lomba menggunakan transportasi umum, baru saya percaya jika “hasrat kepemilikan” kendaraan pribadi dapat ditekan.

Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang memberi contoh. Jika Anda ingin orang lain tidak korupsi, maka partai Anda sendiri jangan sampai korupsi. Jika Anda ingin orang lain bersikap baik kepada Anda, maka Anda sendiri harus bersikap baik kepada orang lain. Karena satu tindakan lebih menggema dari seribu pernyataan.

Well done is better than well said.

Ingat pesan Hilel yang mendapat pertanyaan dari seorang kafir tentang pelajaran kebijaksanaan dalam cerita klasik Yahudi. Kaum pagan ini berjanji untuk masuk agama Yahudi jika dia bisa membaca seluruh Taurat sementara dia berdiri di satu kaki. Hilel menjawab:

“Apa yang tak engkau sukai untuk dirimu sendiri, jangan lakukan kepada sesamamu. Itulah seluruh Taurat dan sisanya hanyalah komentar. Pelajarilah.”

Genba (A Silaturahim Based Leadership)

Oleh: Priyok

Katanya silaturahmi memperpanjang umur/rezeki. Sudah banyak rentetan hujjah teologis tentang kalimat tersebut. Saya harus meyakininya karena memang itulah ucapan kanjeng nabi SAW. Beberapa dari kita mungkin lebih dari meyakininya, tapi telah melakoninya dan merasakan manfaatnya. Bertemu orang baru atau kawan lama, bertukar cerita dan pikiran, mempelajari kehidupannya, dan saling memberi inspirasi. Maka tidak heran, kalau orang yang maju tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya tapi juga jaringan (silaturahminya). Seperti halnya Nazaruddin, dia bukan lulusan luar negeri, apalagi UGM. Namun berkat jaringan silaturahmi yang dimilikinya Nazaruddin menjelma sebagai pengusaha muda yang sukses karena mendapatkan order dari ”relasi-relasi” silaturahminya.

Saya ingin bicara kepemimpinan, lebih jauh tentang kepemimpinan berbasis silaturahmi atau bahasa gaulnya Genba. Genba (現場, genba)dalam bahasa Jepang secara umum bermakna “lokasi kejadian” atau “lokasi sebenarnya”, sedangkan dalam manajemen istilah ini mengacu pada “lokasi produk atau jasa layanan dibuat”. Genba adalah upaya manajemen (terutama manajemen level atas) untuk memahami masalah-masalah akar dengan turun langsung ke lokasi produk. Bahasa simplenya silaturahmi ke cabang dan karyawan-karyawan. Berbicara dengan mereka tentang masalah-masalah aktual, menjadi pendengar keluhan-keluhan mereka dalam menjalankan bisnis, dan memberi motivasi untuk perbaikan. Diskusi, melihat, dan solusi. Genba adalah senjata ampuh bagi eksekutif untuk menembak inti permasalahan yang menggerogoti operasional perusahaan yang jauh lebih efektif daripada menyewa konsultan.

Genba tak hanya berarti kunjungan fisik bos ke pada bawahannya dengan sambutan meriah dan pola ABS (asal bapak senang). Hal tersebut malah mengaburkan tujuan genba yang ingin mendapatkan gambaran sebenernya tentang kondisi actual. Dalam perusahaan modern, konsep genba diadopsi dengan cara membuka keran-keran informasi, membuka jarak atasan-bawahan, mendengarkan karyawan sehingga dari sana tercipta suasana terbuka, tak sungkan memberi masukan, kultur respek, dan ujung-ujungnya jelas peningkatan produktifitas. Caranya banyak dan simple, townhall meeting (pertemuan dengan seluruh karyawan untuk memberi info dan mendengar unek2, bahkan pernah saat townhall meeting di kantor saya. Ada yang pgn naek gaji, dan CEO saya langsung menanggapi dengan menjanjikan kenaikan yang layak), sidak, bulletin internal, bahkan dengan tulisan.

Lantas apa yang akan terjadi tanpa Genba?Saya pernah memasuki perusahaan farmasi milik Negara yang memiliki tradisi miskin genba. Yang saya rasakan ruangan-ruangan begitu hening, kalau ada bos. Dan berubah menjadi liar (gossip dan perilaku) apabila tidak ada bosnya. Kerja-kerja mereka berorientasi ABS, menutupi keborokan, dan takut salah. Saya pernah mendengar cerita dari orang dalam, mereka pernah menyewa konsultan untuk mengatasi masalah ini. Dan usul dari konsultan itu adalah Genba, dengan cara menutup toilet eksekutif untuk bos-bos dan menjadi satu dengan toilet umum. Harapannya para petinggi tersebut masalah karyawannya.

Ada 2 contoh pemimpin yang begitu masyhur karena kegiatan genba yang dilakukannya dan sangat saya kagumi. Michael D. Ruslim (alm.) & Dahlan Iskan.

Saat diberitakan meninggal, sontak seluruh karyawan PT Astra International, Tbk. mengalami kesedihan yang teramat dalam. Saya kebetulan saat itu bekerja di perusahaan besutan William Soeryadjaya tersebut. Duka itu begitu terasa setiap anda memasuki kantor-kantor Astra. Mengapa bisa demikian? Michael adalah sosok yang sangat rutin melakukan Genba. Silaturahmi ke cabang dan anak perusahaan Astra, mengadakan temu muka dengan karyawan, rantai membuka rantai-ramtai informasi yang membelenggu. Dari situ dia membangun tak hanya business relationship, namun juga relationship yang lebih personal dengan seluruh karyawan unit usaha Astra. Dengan kepemimpinan seperti itu, Michael tidak membuat jarak dengan bawahannya, karyawan pun menjadi semakin bersemangat karena ada perasaan diawasi dan senantiasa didengar.

Lain lagi Dahlan Iskan. CEO PLN ini malah sempat-sempatnya mengunjungi ranting-ranting PLN. Ranting lho saudara-saudara, tingkat kelurahan. Kalau dipikir, buat apa sampai harus mikirin sampai ke ranting untuk kelas CEO. Tapi itu yang dilakukan Dahlan. Tak jarang Dahlan pula yang harus turun tangan menentukan lokasi dimana PLTA, PLTU, atau PLT Geothermal harus dibangun. Dahlan berprinsip, genba yang dilakukannya hanya untuk melihat masalah langsung ke akarnya, karena masalah itu biasanya dimana-mana sama. Sehingga dengan mengambil beberapa sample di beberapa tempat, masalah satu perusahaan akan selesai. Masalah trafo misalnya, sebelum di-genba oleh dahlan, tak ada satupun kepala ranting, cabang, atau wilayah yang tau berapa jumlah trafo yang masih berfungsi baik, rusak, dsb. Bahkan berapa jumlah trafo pun tak tahu!!!padahal 70% mati lampu yang diakibatkan selain kurangnya daya disebabkan oleh rusaknya trafo. Dahlan tak akan tahu masalah ini tanpa Genba. Tak hanya melalui kunjungan. Dahlan mengembangkan Genba melalui tulisan yang dapat dinikmati oleh karyawannya di website PLN.

Bagi saya Genba lebih dari sekedar pengawasan. Ia adalah business interaction. Entitas bisnis adalah kumpulan dari manusia yang tentunya membawa sifat manusia. Homo homini socio. Genba adalah salah satu pengejawantahan pemanusiaan perusahaan (ngewongke wong). Dari sisi komersial, salah satunya manfaat lain dari Genba, seorang CEO dapat langsung mengambil keputusan terbaik.

Maka apabila pemimpin mengunjungi rakyatnya dengan puluhan voorijder dibelakangnya, lambaian bendera ratusan anak SD sepanjang jalan, “karpet merah” yang dibentangkan di atas jalanan becek, angka-angka statistik yang berserakan, sambutan yang meriah dari kepala daerah setempat, payung yang melindungi kepala, dan lain sebagainya. Sesungguhnya pemimpin tersebut melihat namun ia buta.

Anonymous

Oleh: Yoga PS

Apalah artinya sebuah nama? Shakespeare bertanya. Banyak, sangat banyak. Aristotle mengabdikan hidupnya untuk menghasilkan taksonomi nama-nama hewan dan tumbuhan. Para ahli pemasaran menghabiskan jutaan dollar untuk membangun sebuah nama. Merek. Brand bahasa kerennya.

Nama bukan hanya panggilan. Nama adalah penanda. Identitas. Penuh semiotika makna. Dalam kasus pemasaran, ada banyak cerita tentang sebuah nama. Toyota pernah menjadi bahan tertawaan karena masuk ke pasar AS dengan nama Toyopet. Mereka baru sukses di pasar AS setelah mengeluarkan brand dengan nama eksklusif: Lexus.

Tapi saya tidak akan berbicara tentang branding dalam marketing. Anda pasti lebih ngerti daripada yang nulis tulisan sampah ini. Saya hanya ingin menulis tentang pentingnya sebuah nama bagi manusia, dan betapa kita (terutama saya) sering melupakan makna dari sebuah nama.

Service Excellence
Ide tulisan ini lahir ketika saya mengikuti seleksi wawancara untuk menjadi tukang gali batu bara. Setelah 2x tes tulis, dan 3x wawancara (serius wawancara sampe 3x!), akhirnya saya bertemu direksi. Direktur perusahaan ini orangnya asyik, menyenangkan. Dan setelah satu jam ngobrol ngalor ngidul-kanan kiri disertai penuh tawa, tiba-tiba dia bertanya:

“Oh ya, siapa tadi nama saya?”

Mak Jleb!!!… Rasanya seperti kejatuhan kapas 100kg yang dilempar dari menara 100 lantai dengan kecepatan 100km/jam. Biarpun kapas, karena beratnya 1 ton, tetep sakit juga.

Saya lupa. Blank. Itulah kelemahan orang supel seperti saya. Sangat mudah membangun keakraban, tapi sering tidak memperhatikan detail. Sangat sering, saya disapa orang yang sudah tidak saya ingat lagi namanya. Bahkan pernah, saya bertemu seseorang ditoko buku, dia mengenal saya. Kami mengobrol dengan akrab selama setengah jam, dan setelah berpisah saya masih tidak tahu siapa dia!. Saya terbiasa terfokus pada tujuan, dan bukan hubungan. Selama tujuan terpenuhi, tidak terlalu penting hubungan dengan partner kita akrab atau tidak.

Padahal nama seseorang adalah kunci penting terciptanya service excellence. Para customer service dan marketer sangat dilatih untuk mengucapkan nama konsumennya dengan baik dan benar. Jangan sampai salah, dan harus diucapkan dengan penuh hormat sekaligus akrab.

Anda pernah dihubungi pihak bank yang menawarkan produk baru? Apakah di saluran telepon dia berkata:
a. “Halo… konsumen” (Halo polisi sekalian)
b. “Halo… cowok” (Godain kita donk?)
c. “Halo-halo Bandung” (Ibukota perjuangan…)

Pasti nama Anda! Untuk urusan ini, Melinda Dee jagonya dengan layanan private banking. Karena dalam layanan ini, pihak bank akan memberikan service yang sangat personalize.

Ibu Kue
Untuk urusan nama dan service excellent yang personalize, saya punya idola: Ibu kue deket kampus. Tuh kan, saya lupa namanya! Pokoknya dia jualan kue deket fakultas ekonomi (sekarang pindah ke FISIP) kampus saya dulu (sudah sebulan jadi mantan kampus).

Apa hebatnya? Weihh… jangan salah. Dia hapal konsumennya one by one! Dia tahu nama setiap pelanggannya, jurusan kuliah, daerah asal, background keluarga, sampai status relationship!. Naksir seseorang? Gampang, tanya saja ama Ibu kue. Selama si doi beli kue di Ibu kue, pasti ada databasenya. Hahaha.

Ibu kue tergolong connector. Tipe orang kedua yang dibutuhkan untuk melakukan penyebaran wabah (tipping point) ala Malcolm Gladwell. Orangnya ramah dan terbuka. Setiap saya lewat, dia pasti akan menyapa, sekedar berbasa-basi, dan ngobrol sana-sini. Bahkan saya suka beli kue ditempat dia hanya untuk cari teman mengobrol.

Yang bikin saya kagum adalah kemampuan dia mendengarkan dan mengingat apa yang ia dengar. Jika Anda bercerita sesuatu, dia pasti mengingatnya dan mampu menceritakan ulang. Padahal setahu saya, dia tidak pernah mencatatnya.

Mendengarkan
Sejak kelupaan nama interviewer tadi, saya jadi sadar. Betapa selama ini saya tidak mendengarkan. Betapa selama ini, saya tidak menghormati lawan bicara. Saya masih memberikan label profesi, dan bukan esensi kemanusiaan yang sejati.

Saya melihat anonymous, manusia yang tidak bernama. Saya hanya melihat cap: tukang parkir, direktur, teller, pelayan, manager, salesman, koki, cleaning service, supir, dll. Saya belum melihat mereka sebagai makhluk Tuhan dengan sebuah nama dan segudang cerita. Mencoba menghargai pilihan hidup mereka, belajar untuk menghormati jalan kehidupan yang diberikan Tuhan untuk mereka.

Saya teringat nasihat Vasudeva dalam novel Siddharta karya Herman Hesse. Siddharta (bukan Gotama) yang kebingungan akhirnya mendapat pencerahan setelah belajar seni mendengarkan.

Vasudeva si tukang perahu berkata:
“Sungai telah mengajarkan padaku bagaimana cara mendengarkan. Kamu juga akan belajar dari sungai. Sungai mengetahui segala sesuatu; segala sesuatu dapat dipelajari darinya. Lihat, kamu sudah belajar dari sungat tentang kebaikan memiliki tujuan sederhana, tenggelam, mencari dasar. Siddhartha yang kaya dan termasyur telah menjadi penolong tukang satang; ini juga merupakan nasihat dari sungai. Kamu juga akan belajar hal lain darinya.
Diatas semuanya engkau akan belajar bagaimana cara mendengarkan, bagaimana mendengarkan dengan hati yang damai, dengan sebuah harapan, jiwa yang terbuka, tanpa nafsu, tanpa keinginan, tanpa penilaian, tanpa pendapat.”

Sekarang saya sedang belajar mendengarkan. Manusia bukanlah anonymous. Mereka memiliki nama dan cerita. Kisah-kisah sederhana yang sarat makna. Saya sedang belajar untuk mendengarkan tanpa keinginan, tanpa penilaian, tanpa penghakiman. Saya akan menyambut semua cerita mereka dengan hati terbuka, mata bercahaya, dan senyum yang sederhana. Tak lupa, jika sempat, saya akan bertanya tentang nama mereka.
Karena saya percaya, sebuah nama adalah sebuah doa.

sumber gambar

*minta doanya donk biar pak direktur ga ngambek :D

Kepemimpinan “T”

Oleh: Yoga PS

Selain kagum pada diri sendiri, saya selalu kagum kepada perekrut “pengantin” bom bunuh diri dan aktivis gerakan radikal (tapi saya nggak kagum kepada Kagum Gumelar ketua komite normalisasi PSSI :P). Bukan karena mereka akan masuk surga (entah surga kw berapa), atau karena kemahiran mereka membuat bom dan menebar teror. Karena kalau berbicara membuat bom, pemerintah kita lebih jago menciptakan bom “3kg” dan membuat rakyatnya menderita.
Yang membuat saya ingin belajar kepada “teroris” adalah konsep kepemimpinan yang mereka tawarkan. Sebuah model leadership yang mampu mengubah orang biasa menjadi kader yang militant dan very committed, highly spirited serta fully motivated. Sorry, lagi belajar ngangkat TOEFL. Haha.
Head hunter (atau mungkin bagian Human Resource Department) teroris ini mengembangkan sebuah model kepemimpinan yang saya sebut kepemimpinan model “T”. sebuah konsep yang bisa kita tiru dan modifikasi untuk berbagai bidang kehidupan sehari-hari. Mulai dari memimpin perusahaan sampai diri kita sendiri.
Apa itu kepemimpinan model “T”?
T = Transcendental
Coba bayangkan, bagaimana mungkin seorang mau menjadi “calon pengantin” yang mati bunuh diri? Meninggalkan dunia yang indah dan lebay ini. Tanpa memungkiri fakta bahwa para pengantin rata-rata masih Ababil (ABG labil), kita harus mengakui kemampuan mereka dalam melakukan brain laundry (udah ga zaman lagi washing-washing).
Apa rahasianya? Saya menemukan secercah harapan penambal rasa penasaran setelah menonton video Daniel Pink tentang teori motivasi. Jadi menurut Pink, konsep motivasi yang hanya menawarkan insentif materi tidaklah cukup. Model reward-punishment, atau stick and carrot ini hanya cocok diterapkan bagi pekerjaan mekanis.
Untuk pekerjaan yang menuntut kreativitas dan knowledge based yang tinggi, seorang leader harus memberikan tiga hal:
1. Otonomi. Kebebasan bagi staffnya untuk berkreasi;
2. Mastery. Kemampuan seseorang untuk terus berkembang;
3. Transcendental purpose. Tujuan spiritual yang lebih tinggi. Untuk Tuhan dan kemanusiaan.


Inilah kehebatan para perekrut pengantin, mereka mampu menciptakan makna transcendental spiritual sebagai motivasi utama. Para pengantin tidak ditawarkan insentif gaji sekian ribu dollar atau golden shakes hand yang menggiurkan.

Mereka menawarkan sebuah ultimate goal yang mampu mendorong manusia untuk mengorbankan hidupnya, memberikan nyawanya, meninggalkan semua yang dimilikinya. Sebuah tujuan yang tersembunyi didalam hati tapi selalu ada disetiap sanubari insan manusia: kerinduan makhluk kepada penciptanya.

Makna 3 Batu Bata

Saya tidak mengajak Anda untuk menjadi pengantin dan melakukan bom bunuh diri. Toh, kita semua pasti akan mati. Yang pasti, mulai saat ini, sebagai pemimpin pastikan kita selalu memberikan makna transcendental dalam setiap pekerjaan kita. Kita harus memberikan vitamin “T” untuk semua hal yang kita lakukan.

Apapun pekerjaan kita, apapun yang kita lakukan, yakinlah jika semua itu adalah usaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan memberikan pelayanan terbaik untuk manusia lainnya. Karena sebaik-baiknya manusia, adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Selain itu, pada hakikatnya manusia akan selalu berusaha bertanya tentang makna kehidupannya terhadap dunia disekitarnya.

Viktor Frankl, dalam Man’s Search for Meaning mengatakan bahwa pencarian manusia akan makna merupakan motivasi utama dalam hidup dan bukan merupakan pembenaran dari dorongan instingtif. Melakukan sesuatu tanpa makna berarti hampa, mendapatkan sesuatu tanpa makna berarti tidak nyata.

Makna ditemukan saat:
1. Ketika kita menemukan diri kita sendiri.
2. Ketika kita menentukan pilihan
3. Ketika kita merasa istimewa
4. Terbersit dalam tanggungjawab
5. Makna lahir dalam situasi transendensi

Makna dalam hiduplah yang menjadi obor motivasi seniman besar, perusahaan kelas dunia, atlet terbaik, dan manusia-manusia yang mencatatkan nama mereka dalam lembaran sejarah. Makna transendensi yang lebih tinggi juga yang mendorong manusia untuk mengeluarkan seluruh potensi dan kemampuan yang dimiliki. Berusaha melakukan yang terbaik.

Setiap manusia memiliki makna hidup pribadi mereka masing-masing. Makna hidup saya berbeda dengan Anda. Dan tugas Anda sebagai seorang pemimpin adalah menciptakan nilai “T” (transcendental) guna membimbing bawahannya untuk melihat makna yang lebih luas.

Jika Anda menjadi mandor, lalu ada 3 tukang batu yang memasang batu bata dan kemudian bertanya, “Apa yang sedang kita kerjakan?”

Anda bisa menjawab:
“Kita sedang membangun tembok”

Atau:
“Kita sedang membangun rumah”

Tetapi, jika Anda seorang pemimpin dengan vitamin “T”, Anda akan menjawab:
“Kita sedang membangun peradaban!!!”

(ngomongnya sambil close up camera, mata berkaca-kaca, ada backlight sinar putih dibelakang. Jangan lupa musik ala Gregorian, burung-burung beterbangan dan bunga-bunga bermekaran…)

sumber gambar