Love Conceptual Framework

Oleh: Muh Fatchul Ulum

Sebelumnya saya mohon maaf karena lama banget gak setor , padahal dipalakin terus sama mbak oliv, tapi saya kok ndableg aja hehehe…, tapi saya bener2 lagi overload kerjaan jadi ya sebisanya aja. Selain itu, tulisan kali ini bukan merupakan murni tulisan saya, saya pernah ingat membacanya dulu waktu kuliah sambil saya poles dikit.. hehe.. Mohon dimaklumi ya EG’ers semua..

Kalau dalam akuntansi ada konsep dasar yang dalam buku-buku literatur akuntansi biasanya disajikan dalam bab “Concepts Underlying Financial Accounting”. Kalau dari buku yang saya pakai dulu itu ada di Chapter 2, nah dalam chapter tersebut dijelaskan mengenai Conseptual Framework Underlying Financial Accounting yang terdiri dari tiga level yang digambarkan dalam bentuk segitiga terbalik itu loh, haha.. Nah kali ini saya akan coba jelaskan Conceptual Framework Underlying Love yang disesuaikan dengan rerangka konseptualnya akuntansi.
FIRST LEVEL (Objectives)
1. Menyediakan informasi yang berguna dalam mengambil keputusan Investasi Cinta. Disini maksudnya adalah untuk untuk mempertahankan atau harus melepaskan investasi cinta anda.
2. Menilai arus kasih sayang masa depan.  Preetttt..
3. Memberikan informasi mengenai aset anda (kekasih anda), klaim atas hubungan anda, dan perubahan di dalamnya (mungkin perubahan sikap dan kadar perasaan kali ya…? Haha).
SECOND LEVEL
A. Qualitative Characteristics
1. Relevance
Dalam menjalin hubungan anda harus memberikan balasan (feedback value) atas kasih sayang pasangan anda secara tepat waktu (timeliness) agar pasangan memprediksi anda adalah memang pasangan yang tepat kelak (predictive value).
2. Reliability
Agar anda semakin dipercaya oleh pasangan anda, maka anda harus jujur apa adanya (representational faithfulness), termasuk saat pasangan anda bertanya-tanya anda sedang dimana, dengan siapa, dan sedang berbuat apa maka anda harus dapat memberikan verifikasi yang benar (verifiability). Selain itu anda tidak boleh egois, harus netral menilai antara kepentingan anda dan pasangan anda (neutrality).
3. Comparability
Terkadang kita harus membandingkan perjalanan cinta anda dengan pasangan yang lain, bukannya untuk mencari-cari alasan untuk minta putus, tapi untuk mengevaluasi hubungan.. (wkwk, agak maksa..).
4. Consistency
Anda harus bersikap konsiten terhadap keseriusan hubungan. Jika anda tidak konsisten tentu pasangan akan berpikir lagi untuk mejaga hubungan.
B. Elements
1. Assets (anda dan pasangan).
2. Liability (kasih sayang yang anda terima adalah hutang, karena itu anda harus membalasnya).
3. Equity (segala kelebihan dan kekurangan anda adalah modalnya).
4. Investment by Owners (saat anda memberikan sesuatu).
5. Distribution to Owners (saat anda meminta sesuatu)
6. Comprehensive Income (kebahagian kedua belah pihak)
7.        Revenue (ehem.. sesuatu yang anda harapkan)
8.        Expenses (pengorbanan dan perjuangan anda)
9.        Gains (anda menerima lebih dari yang anda korbankan dan anda perjuangkan, haha… gak segitunya kali.. yang penting anda mendapat apa yang anda harapkan)
10.    Losses (anda tekor, mungkin cinta anda berat diongkos.. atau bahkan bertepuk sebelah tangan, huhu..)
THIRD LEVEL
A. Basic Assumptions
1. Economic Entity
Berarti bahwa setelah anda dan pasangan resmi memiliki suatu komitmen, maka saya ataupun dia sudah tidak ada lagi. Kalian adalah satu entitas yang berdiri sendiri dan kalian selamanya harus menjadi kami. Ini berarti kalian memiliki hak dan kewajiban yang sama satu dengan yang lain. Satu mewakili yang lainnya.
2. Going Concern
Berarti ketika anda dan pasangan sudah berkomitmen, kalian harus memiliki anggapan bahwa hubungan tersebut tercipta untuk tujuan selama-lamanya. Bukan hanya untuk sesaat.
3. Monetary Unit
Berarti dalam menjalin hubungan, anda harus memiliki ukuran-ukuran tertentu yang dapat diukur, jadi anda dan pasangan dapat mengukur sampai sejauh mana hubungan telah dapat memenuhi tujuan dari hubungan itu sendiri. Misalnya, ukuran pencapaian target menikah pada tahun tertentu berarti dalam suatu tahun tertentu kedua orang tua sudah harus saling kenal.
4. Periodicity
Hubungan harus disusun secara periodik. Setiap tahun takwim/periode tertentu hubungan harus dievaluasi. Ini penting dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalah yang mungkin muncul pada setiap periodenya. Semua masalah harus sudah diselesaikan pada setiap akhir periodenya. Diberikan jalan keluar dan selalu diclosing ketika periode berakhir. Artinya semua masalah yang telah diselesaikan haram hukumnya untuk diungkit-ungkit lagi. Semua pertumbuhan positif dalam hubungan harus disimpan dan dijadikan saldo awal untuk hubungan periode berikut.
B. Basic Principles
1. Historical Cost
Semua peristiwa historis yang menyenangkan harus dicatat dan dibukukan (prikitiew..) serta dinilai berdasarkan nilai sebenarnya yang terjadi pada saat tersebut. Pada saat-saat genting kita bisa membuka catatan-catatan ini dan mengingatnya berdasarkan nilai historis kejadian tersebut, jangan mengurangi nilai sejarahnya akibat dari kejadian masa kini. Hohooooo….
2. Revenue Recogniton
Saling menghargai satu dengan yang lain, bahwa pasangan telah banyak memberi kepada kita apa yang kita harapkan (ehem.. tadi) dan seyogyanya kita mengakui adanya revenue yang kita peroleh akibat dari kebaikan pasangan.
3. Matching concept

merajut dua hati yang berbeda latar belakang keluarga sama artinya dengan mencampur air dengan minyak. Dua hati itu tidak akan pernah benar-benar menjadi satu. Kita harus menambahkan sabun untuk mengikatkan dua kepribadian tersebut. Artinya kita harus memiliki toleransi-toleransi untuk me-matching-kan keduanya, ihirrr…  Kedua belah pihak harus saling menyesuaikan diri dengan pasangan. Ingat SALING, berarti keduanya bukan salah satu.

4. Full Disclosure
Suatu hubungan tidak akan pernah sukses tanpa adanya rasa saling percaya diantara pasangan. Salah satu resep mujarab untuk mendapatkan kepercayaan dari pasangan adalah dengan cara membuang keragu-raguan dalam hati pasangan. Bersikaplah terbuka kepada pasangan dan jangan menutupi sesuatu yang sekiranya mencurigakan. Ungkapkan apa yang menjadi uneg-uneg anda kepada pasangan, agar tercipta saluran komunikasi sehat. Jadilah anda apa adanya di depan pasangan.
C. Constraints
1. Cost-Benefit
Jangan perhitungan terhadap pasangan. Kedepan kalian akan hidup berumah tangga (amien…) Jadi yang ikhlas dengan pasangan. Mungkin anda memang anak ekonomi tapi keterlaluan juga klo sama pasangan sendiri perhitungan. Investasi pada pasangan memang investasi paling beresiko didunia, jadi ya ga usah dihitung lah, karena hasil perhitungannya pasti menunjukkan angka negatif dan beresiko tinggi. Daripada itu semua sia-sia, mending ikhlasin ajah, biar dapet pahala (amien lagi..)
2. Materiality
Jangan mudah marah atas kesalahan yang dilakukan pasangan, karena itu mungin hanya kesalahan sepele (tidak material) atau bahkan belum tentu itu sebuah kesalahan. Bisa saja niat dia baik, hanya saja kurang sesuai caranya dengan yang kita inginkan sehingga menjadi bibit permusuhan. Pertimbangkan tingkat materialitas dari setiap permasalahan. Kalo emang ga material ya sudah biarkan saja, toh ga rugi-rugi banget buat kita. Malahan kita bisa jadi pribadi yang lebih bijak dan sabar.
3. Industry Practice
Setiap permasalahan itu unik, jadi anda harus cermat dalam menilai peristiwa-peristiwa yang terjadi. Selesaikan permasalahan anda dengan cara-cara yang cermat dan tepat, sehingga hasilnya akan sesuai dengan yang anda dan pasangan inginkan bersama.
4. Conservatism
Tanggap dalam setiap benih-benih yang mungkin bisa mengganggu hubungan. Jangan menunggu itu semua tumbuh, bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati????
Seperti itulah tulisan yang bisa saya sajikan, mungkin banyak kesalahan karena memang penulis masih hijau dalam bidang akuntansi dan bidang percintaan. Mohon dimaklumi.. yang penting udah setor.. wkwkwk
Advertisements

Portfolio of Happiness

by Thontowi Ahmad Suhada

Kebahagiaan timbul dari berbagai hal. Seringkali kita bingung melihat nenek-nenek yang hidup seadanya bahkan kekurangan namun raut wajahnya selalu memancarkan kebahagiaan. Tak jarang pula kita melihat orang yang bergelimang harta namun justru wajahnya memancarkan penderitaan dan kegelisahan. Ini hanya soal dimana anda meletakkan kebahagiaan..

Kebahagiaan seseorang biasanya terletak di orang lain, suatu benda, atau ambisi mereka. Hal ini paling mudah dipahami pada fenomena orang yang berpacaran. Biasanya orang tersebut meletakkan kebahagiaannya di pasangannya. Orang tersebut baru akan merasa bahagia bila ia dicintai pasangannya tersebut. Begitu pula sebaliknya. Ia akan sedih bila cintanya tak berbalas.

Yang kedua adalah bahagia yang dibuat oleh diri anda sendiri. Bila dimasukkan dalam konteks di atas, orang ini mencintai karena ia bahagia dengan mencintai, bukan karena ada balasan dari pasangannya. Sering kita dengar syair lagu,”aku kan slalu mencintai walaupun kau tak pernah membalasnya” .Terlihat bagus?think again..terkadang hal ini justru jadi freaks! Terlihat dari fenomena cowok yang mengejar2 cewe walaupun si cewe tidak suka dan justru merasa sangat terganggu.

Yang ketiga adalah bahagia ketika melihat orang lain bahagia. Nah ini yang biasanya sulit. Seringkali kita justru berbuat sebaliknya. Bahagia melihat kesusahan orang lain. Bila dalam konteks di atas berarti kita mencintai untuk membahagiakan orang yang kita cintai. terdengar awam? Renungkan sekali lagi apakah kita sering melakukannya?

Nah, sebenarnya ketiga kebahagiaan di atas bukan dikotak-kotakkan, namun hanya untuk mempermudah penjelasan selanjutnya. Memang cukup sulit untuk melatih diri kita mengelola kebahagiaan kita, terutama agar selalu pada poin yang ke-3. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang juga ingin diberikan kebahagiaan dari orang lain, ingin dicintai, ingin mendapat balasan, tak bertepuk sebelah tangan. Nah, yang penting adalah bagaimana kita mengelolanya. Mencomot dari Teori Portofolio dan Analisis Investasi, kita mungkin bisa melakukan portofolio kebagaiaan kita, bila anda mencintai seseorang alokasikan harapan anda akan ada return, namun bukan 100%, yah 10-20% adalah tingkat return yang wajar. Sisanya alokasikan kebahagiaan anda pada pikiran bahwa anda mencintai karena memang dengan mencintai itu anda memperoleh kebahagiaan (nothing to lose) atau mungkin bahasa financenya risk-free. Nah sisanya alokasikan bahwa anda mencintai karena ingin membahagiakan seseorang yang anda cintai. Bila yang anda cintai tidak bahagia bila anda mencintainya, anda bisa segera mundur dengan perasaan bahagia. Bahwa ini semua adalah untuk kebahagiaannya.

Teori ini juga bisa diaplikasikan pada hal-hal lain, namun untuk alokasinya mungkin akan berbeda. Selamat berinvestasi =D

Anda Tidak Jujur, pasti MISKIN


Oleh: Meikha Azzani

Berita di berbagai media di Indoenesia di warnai dengan polah pejabat yang tidak jujur. Sesekali ada pengusah-pengusaha yang terlibat dalam aktivitas ketidakjujuran tersebut. Pejabat dan pengusaha berkolusi tidak jujur. Tercipta kemudian, kegiatan perekonomian yg tidak sehat. Persaingan sempurna mimpi. Memandulkan perekonomian.
Satu dua tiga ada berita tentang dunia perbankan. Ada praktek-praktek jahat yang membakar kepercayaan masyarakat. Uang hilang. Bagaimana bisa berusaha. Bank-bank terancam, pemerintah diam mencekam. Takut terjadi rush. Lihat, betapa praktek ekonomi jahat tak sedikitpun beri ketenangan. Praktek ekonomi jahat itu selalu bermula dari keserakahan dan ketidakjujuran.
Lalu, lihatlah bahwa ternyata, tukang parkirpun bisa berbohong. Bahkan pegawai pajak rendahanpun bisa menjadi milyuner dalam hitungan tahun. Mungkin OB bisa juga menjadi orang kaya asal tahu selah main belakang. Toh pengemis di negeri ini sesungguhnya tidak sungguh-sungguh miskin, mereka bahkan mungkin lebih kaya daripada yang memberi. Dan yang lebih parah, anak-anak sekolah diajarkan berbohong melalui ujian nasional. Guru mendorong AL untuk memberikan contekan kepada kawannya. Mereka inilah kelak, dimasa depan yang diteriaki koruptor. Koruptor-koruptor inilah yang merusak tatanan perekonomian, menyuburkan monopoli, mengambil hak anak yatim dan orang fakir untuk hidup lebih baik. Mereka yang memiskinkan negeri. Dan kitalah yang mencetak mereka!
Saya percaya, ketidakjujuran itu memiskinkan. Bagaimana saya bisa memulai bisnis dengan orang yang tidak jujur? Bagaimana mungkin kejujuran menjamin sebuah aktivitas berjalan kontinyu tanpa gangguan? Ketidakjujuran adalah turbulensi. Besar-kecilnya menghancurkan. Itulah yang sedang kita alami. Negara ini miskin karena yang berkuasa tak pernah jujur. Menjunjung tingi asas tak bersalah, padahal sama sekali tidak benar. Tidak jujur. Mereka kaya. Lihat Gayus. Apa akan tercapai masyarakat adil dan makmur?
Seiji mengundurkan diri dari jabatan menteri luar negeri karena menerima 50 ribu yen dari orang asing. Nilai itu sama dengan Rp600 ribu (kompas.com). Nazarudin kabur ke Singapura dan akan kembali kalau Indonesia sudah adil padahal dia sendiri tidak pernah adil. Maka tak heran kalau PDB Jepang 2010 yang 5,391 triliun dolar AS (Rp47 ribu triliun) sedang PDB Indonesia tahun 2010 yang Rp5,613 triliun. Di Jepang banyak orang jujur, jadi bisa kaya, di Indonesia banyak munafikun, jadinya terus-terusan miskin.
Anda percaya?

Tanggung Jawab Sosial Industri Otomotif dan Segala Seluk Beluk Permasalahannya

Oleh: Rizki Arditya

Awalnya pemikiran ini lahir dari sebuah fenomena sosial Jakarta atau kota besar lainnya yang sepertinya sudah jadi bagian hidup. Ya, kemacetan di mana mana, yang seakan akan terlihat seperti parade mobil dan motor atau pameran otomotif terbesar yang pernah ada namun diadakan setiap hari atau bahasa kerennya “The Biggest Auto Show”, atau bisa juga dibilang jalan raya yang seharusnya sebagai sarana untuk “berjalan” tiba tiba menjadi “lahan parkir” karena macet tidak bergerak!.
Sisi positif dari kejadian ini adalah sebagai sarana untuk silaturahmi antar manusia, karena mobil atau motor susah bergerak kita bisa mengobrol bersama, menambah kenalan, bahkan merokok bersama atau saling menawarkan makanan kecil (Indah nya Silaturahmi). Sisi negatif dari hal ini ya saya yakin anda semua pasti bisa menebaknya. Ya betul! Ledakan eksplosif caci maki, beraneka ragam nama nama hewan bahkan bahasa imajinasi yang tidak ada kesan EYD yang pada kamus bahasa apa pun tidak akan pernah anda temukan.
Okey, sekarang saya mencoba mencurahkan isi hati, sisi positif atau mungkin sisi negatif yang berbaur menjadi sebuah pemikiran dan akhirnya menjadi “surat cinta” ini.
CSR sebagai singkatan dari bahasa Zimbabwe, Corporate Social Responsibility. Entah mengapa yang terlintas pada pikiran saya pertama adalah Industri Otomotif, produsen kendaraan bermotor bukannya pemerintah yang sudah dengan sangat susah payahnya berusaha dan menasihati warga masyarakat untuk memakai kendaraan umum (padahal yang memerintah itu pakai mobil mewah). Cukup sudah curahan hati saya, sekarang kita coba kembali ke permasalahan dan pemikiran saya tadi.
Industri otomotif, salah satu penyumbang terbesar bagi Kas negara kita ini tiap tahunnya selalu mencoba untuk menjual lebih dan lebih atas produk produk andalan mereka. Model model yang mengesankan, performa mesin atau iming iming efisiensi bahan bakar pun terus dikembangkan untuk menarik perhatian, dan menjual sebanyak banyak nya setiap tahun kepada konsumen Indonesia yang bangga disebut sebagai pasar potensial ini (bukan kah seharusnya malu atas “sanjungan” itu). Sebuah pengamatan kecil kecilan pun pernah saya lakukan sewaktu masih kuliah dulu, saya melihat bagaimana dealer dealer otomotif khususnya motor akan selalu “panen besar” atas penjualan produk produk motor di saat para petani di daerah khususnya pedesaan juga panen atas sawah mereka, selalu saja beraneka ragam dealer motor akan datang dan menawarkan kredit motor yang menggiurkan, katakanlah hanya dengan uang 300rb – 500rb rupiah para petani sudah dapat memboyong motor ke rumah. Pertanyaan yang muncul di benak saya adalah, apakah mereka mampu membayar cicilan setiap bulannya? Saya pun mencoba memberanikan diri bertanya kepada salah satu petani, dan alangkah terkejutnya mendengar jawaban mereka “Ya yang penting punya motor Mas, kaya tetangga tetangga yang lain” ada indikasi bahwa ternyata mereka membeli motor salah satunya untuk status sosial, bukan semata mata hanya untuk functional value, ya wajar sebenarnya, namun itu tadi bagaimana dengan cicilan tiap bulannya? Jawaban mereka adalah, “Gampanglah Mas, kalau ga lunas ya paling kan ditarik lagi, yang penting pernah punya motor” Dan kenyataan yang ada pun ternyata sangat banyak kredit kredit kendaraan yang macet di daerah seperti ini. Bukankah ini sebenarnya cukup merusak ekonomi dengan banyaknya kredit kendaraan yang macet? (Mungkin teman teman dari bidang Ilmu Ekonomi bisa membantu).
Saya pun berpikir, mengapa mereka tidak membeli peralatan pertanian seperti traktor atau bajak sawah, atau mungkin hewan ternak, yang jelas bisa menjadi investasi mereka, bukan dengan membeli motor tiap tahunnya yang pada akhirnya harganya pun turun. Hal ini hanyalah sedikit dari permasalahan yang ada khususnya yang berdampak pada ekonomi di daerah daerah kemudian masalah lain yang cukup membuat saya miris adalah banyaknya kendaraan di kota besar yang setiap tahunnya makin membludak. Apakah sebenarnya mereka (produsen otomotif) tidak berpikir bahwa produk mereka terus membanjiri pasar namun sarana wilayah atau jalan raya tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan produk produk hebat mereka? Lalu di sisi lain terkait lingkungan, apakah mesin high tech yang efisien bahan bakar dan menjadi andalan mereka itu pada akhirnya justru malah menjadi alat hebat mutakhir untuk membakar lapisan ozon dan justru terbuang sia sia (sangat efisien kah)?
Sekarang kita lihat tentang CSR, yang seharusnya menjadi wadah solusi atau bentuk kepedulian dan tanggung jawab perusahaan terkait lingkungan di mana mereka tumbuh besar. Kita lihat sebagai contoh, produk sabun kesehatan yang melakukan CSR atau Community Development dengan cara meng edukasi konsumen untuk melakukan gerakan cuci tangan, hal yang cukup relevan dan sangat berguna bukan? Kemudian salah satu perusahaan tambang mineral yang selama ini “merusak tanah” untuk mendapatkan hasil bumi, mereka menerapkan program untuk menanam pohon atau membuat taman dengan menutup kembali lahan garapan mereka dengan tanah yang sebenarnya sudah “dirusak”, serta memberikan penyuluhan dan pelatihan dengan mengikut sertakan warga masyarakat dan komunitas sekitar untuk turut berpartisipasi dan memberikan mereka lahan pekerjaan.
Nah, industri otomotif yang selama ini memberikan solusi transportasi nyaman dengan menjual produk produk andalan mereka, justru malah tidak membuat nyaman dan menyadarkan kita bahwa terkadang jalan kaki ternyata selain sehat juga bisa lebih cepat dan efisien bahan bakar (Yup, saya pernah membuktikannya!). Hal yang mereka lakukan dengan pemahaman CSR mereka adalah dengan membuat program touring keluarga bersama dengan mobil atau motor hasil produksi mereka (menghabiskan bahan bakar dan membuat kemacetan atau tidak menurut anda?), atau malah terkadang membuat perayaan besar dan memberikan undian atas tercapainya target penjualan mereka yang sudah berjuta juta unit (apakah ini bentuk tanggung jawab dan memberikan solusi? Ayo beli terus produk kami ya biar dapat undian lagi!).
Akhirnya saya sebagai orang awam mencoba berpikir mencari sebuah solusi dengan batas pemahaman saya yang apa adanya ini. Apakah lebih baik pada akhirnya jika produsen otomotif melakukan recycle bahan baku atas produk produk lama mereka? Okey penjelasannya adalah, anggap saja saya memiliki sebuah mobil dari produsen A, saya memiliki mobil tersebut sudah 5 tahun atau lebih, kemudian pemikiran konsumtif saya membawa saya untuk ingin membeli mobil model terbaru dari produsen A tersebut, dan pihak dealer produsen A tersebut menawarkan sebuah solusi untuk menjual mobil lama saya tersebut kepada mereka ya seperti tukar tambah dengan mobil baru, berarti saya mendapatkan mobil baru itu dengan potongan harga atas penukaran mobil lama saya, di satu sisi jelas itu cukup menguntungkan bagi saya, kemudian bagi produsen jelas menguntungkan adalah mereka dapat me recycle bahan baku dengan “menghancurkan” mobil model lama itu untuk di cetak kembali bahan baku nya menghasilkan mobil mobil terbaru mereka. Hal ini juga akan membuat konsumen loyal kepada produsen A dengan program potongan harga tersebut, dibandingkan dengan mereka menjual kepada pihak kedua, dan membeli mobil model baru yang pemikiran saya adalah justru menambah populasi kendaraan bermotor.
Pada akhirnya tulisan ini hanyalah sebuah pemikiran dari fenomena yang menurut saya meresahkan dan saya mencoba untuk mencari solusi dengan keterbatasan pikiran saya ditengah stress saya dengan keadaan ini setiap harinya. Semoga pemikiran ini pun bisa menjadi sebuah pilihan dan sedikit solusi, bagaimana pemikiran anda? Mari kita berbagi.

Why Do Men Hate Women Who “Love” Money? (A Maskulinsm Analysis of Mbak Titut’s Article “Woman Loves Money”)

Oleh: Priyok

Ehm,,bicara wanita dan uang sungguh menarik perhatian saya. Karena selain tahta, kedua hal itulah hal yang sangat menganggu kami dalam mengarungi dunia ini. Di antara ketiga hal tersebut, wanita dan uang itulah yang memiliki hubungan paling dekat, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Mbak Titut. Percuma saja apabila lelaki punya tahta, namun tak memiliki banyak uang. Misalnya sebagai Ketua Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PerSeTan), olahraga yang kering kerontang uangnya. Biar jadi ketua tingkat nasional, pasti cewek-cewek juga mikir. Beda halnya kalau dia memang tajirudin, biar hanya menjadi bagian administrasi Kedondong FC (klub tarkam di Bekasi) cewek bisa nempel kaya perangko.

Tapi menurut saya, ada alasan lain selain sekedar alasan psikologis kenapa wanita “terpaksa” harus menyukai uang. Sebenarnya ini hal yang klasik bagi wanita. Logis saja, pria menginginkan wanita sempurna. Untuk sempurna mereka butuh modal untuk merawat dirinya. Walau sebenarnya pria tak perlu mengeluarkan uang besar untuk “merawat” bunga mata mereka.
Logika ini mengingatkan saya tentang Maintenance Cycle Theory. Sebuah teori yang diajarkan salah seorang Manajer Turbomachinery di kantor saya. Orang Inggris. Pecinta mesin Roll Royce. Untuk mendapatkan hasil optimal dari sebuah mesin, kata beliau, adalah konsekuensi logis apabila menimbulkan biaya untuk merawatnya—sama seperti wanita, ente mau bini ente cakep kagak cukuplah modal masker bengkoang—Biaya perawatan yang timbul akan kecil di awal penggunaannya—baru kawin,bini masih kinclong—akan tetapi akan meningkat di suatu masa, untuk kemudian stabil lagi dititik tersebut apabila maintenance rutin dilakukan—jadi kalo bini dah kinclong kudu terus-terusan modalin—karena apabila tidak dilakukan maintenance berkala maka bersiaplah untuk maintenance boom, kondisi dimana biaya yang kita keluarkan akan jauh lebih banyak daripada ketika mesin tersebut rajin dirawat. Niat hemat malah jebol.
So boys, this fact insists us to allocate some of our revenue to this kind of expense. The choices are do the maintenance or never.hehehehe. ini satu poin dimana memang women really love money. Bukan begitu Mbak Titut.
Tapi laki-laki punya cara berpikir lain. Saya pernah membaca sebuah artikel di sebuah majalah terkenal di Amerika sana, People. Artikel tersebut dibina oleh salah satu konsultan keuangan jebolan Merryl Linch (perusahaan keuangan yang katanya mau ngutangin Indonesia 100M dollar!!!). seorang wanita di New York bertanya dalam artikel itu. Singkatnya, dia adalah wanita super cantik dengan pergaulan kelas atas, mendambakan suami dengan penghasilan $500,000 per tahun. Kok ga dapet-dapet ya? Malah si cewek itu bingung, para lelaki tajir tersebut lebih memilih cewek biasa-biasa aja. Bego amat sih tu cowok.
Sang analis kemudian menjawab (Merryl Linch Analyst mode:on)
Bagi saya, pilihan lelaki-lelaki tersebut sangatlah tepat. Pilihan yang menggambarkan kalau mereka pantas memiliki penghasilan lebih dari $500,000 pertahun. Karena secara investasi pilihannya sangatlah tepat. Sebagai wanita kelas atas, memilih anda sebagai pasangan hidup adalah pilihan investasi yang buruk. Kenapa?Memilih anda berarti menyiapkan uang yang besar untuk mengakuisisi anda (kawin). Setelah akuisisi pun, biaya operasional yang dikeluarkan tidak sedikit selain terus menerus melakukan re-invest untuk menjaga “kualitas” anda. Di sisi yang lain, secara ekonomis nilai anda akan terus menurun karena depresiasi akan terus terjadi.
Dengan menikahi orang yang menurut anda biasa-biasa saja. Lelaki tersebut mendapatkan return yang lebih besar daripada investasi yang dilakukan. Karena selain tidak memerlukan biaya operasional yang mahal, re-invest yang dilakukan pun relatif kecil karena nilai depresiasinya pun kecil mengingat nilai akuisisi yang tidak terlampau mahal.
Hahahahahaha. Kira-kira begitu terjemahannya. Mungkin agak sedikit merendahkan wanita, tapi bagi saya logis juga. Poinnya bukanlah kalau anda, para wanita, adalah mesin atau aset yang akan terdepresiasi. Sama sekali bukan. Kami sangat mengerti anda suka (mungkin lebih tepatnya butuh) uang. Konsekuensi yang logis dalam kehidupan ini. Tapi plisss, bijak menggunakan uang ini. Ga perlu kan kami sampe korupsi gara-gara dirimu menginginkan ini itu. Jadilah menteri keuangan yang baik dalam keluarga kami nanti. This is why we hate woman who “love” money.
Salam sayang untuk menteri keuanganku….mmmmmuaaaaaaccccchhh!!!!!